NovelToon NovelToon
Braja Geni

Braja Geni

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Pusaka Ajaib
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Iring-iringan pedati itu melintasi jalan sempit di pinggiran Hutan Tambak Baya. Roda kayunya berderit lirih, memecah sunyi malam yang pekat. Di kiri kanan, pepohonan tua menjulang seperti bayangan raksasa, daunnya berdesir pelan diterpa angin.

Rombongan itu terdiri dari empat orang pengawal bersenjata lengkap. Wajah-wajah mereka tegang, sorot mata waspada, seakan setiap bunyi ranting patah bisa menjadi pertanda bahaya.

Di dalam pedati utama, duduk seorang tumenggung yang gelisah tak karuan. Dialah Ki Martanu, senopati wilayah barat Mataram, tepatnya dari Karangwilis. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak muram. Tangannya sesekali mengepal di atas lutut, menahan kecemasan yang mengguncang batinnya.

Di sampingnya terbaring sang istri, tubuhnya lemah, napasnya berat. Malam itu ia sudah tak lagi mampu menahan derita. Kandungannya telah berusia dua belas bulan—suatu kejanggalan yang membuat siapa pun bergidik. Namun sang jabang bayi seakan enggan melihat dunia.

Sudah entah berapa tabib dan dukun yang dipanggil untuk membantu. Ramuan terbaik telah diracik. Doa-doa telah dipanjatkan. Mantra-mantra telah dilantunkan. Tetapi semua usaha itu tak membuahkan hasil.

Dan kini, di tengah perjalanan sunyi menuju harapan terakhir, kegelisahan Ki Martanu terasa semakin menyesakkan.

Namun tiba-tiba, di tengah hutan belantara yang sunyinya nyaris mencekik, terdengar suara tawa menggelegar.

Tawa itu bukan tawa manusia biasa. Ia bergulung-gulung di antara batang-batang pohon, memantul dari satu rimba ke rimba lain, seolah seluruh hutan ikut menertawakan malam. Tanah bergetar halus. Udara terasa berat.

Para pengawal serentak menghentikan iringan pedati. Kuda-kuda meringkik gelisah, menghentakkan kaki ke tanah. Beberapa pengawal terhuyung, tangan mereka mencengkeram dada.

Dada mereka terasa sesak—seakan gelombang tak kasatmata menghantam jantung dari dalam. Nafas memburu, pandangan berkunang.

Di dalam pedati, Ki Martanu turut merasakan tekanan itu. Dadanya berdenyut keras, namun ia segera memusatkan tenaga dalamnya. Nafasnya ditarik panjang, lalu dilepaskan perlahan. Gelombang tekanan itu berangsur surut di tubuhnya.

"Aji Gelap Ngampar…" geramnya pelan.

Matanya menyala waspada.

Ilmu tingkat tinggi. Ilmu yang tak sembarang orang mampu menguasainya.

"Siapa yang malam-malam begini berani bermain ilmu…" desisnya, suaranya rendah namun sarat amarah tertahan.

Di sampingnya, sang istri semakin gelisah. Tubuhnya yang lemah kini gemetar. Kedua tangannya mencengkeram kain penutup perutnya.

"Siapa itu, Kakang?" tanyanya dengan suara bergetar. Wajahnya pucat, mata dipenuhi ketakutan.

Ki Martanu menoleh, berusaha menenangkan, meski hatinya sendiri mulai digerogoti firasat buruk.

"Entah, Nyai…" jawabnya lirih namun tegas. "Namun firasatku tak enak. Ilmu seperti itu bukan sembarang unjuk kesaktian. Ada niat yang tak bersih di baliknya."

Angin malam mendadak berhenti.

Dan dari balik pepohonan, sepasang mata merah menyala perlahan muncul di kegelapan.

Tiba-tiba, dari dalam rimbunnya hutan, berkelebat tiga sosok bayangan.

Gerak mereka begitu cepat—seperti bayang-bayang yang terlepas dari tubuhnya sendiri. Dalam sekejap, ketiganya telah berdiri menghadang iringan pedati. Tanah yang mereka pijak seperti tak bersuara, seolah malam merestui kehadiran mereka.

Para pengawal spontan membentuk formasi. Tombak dan pedang terhunus. Nafas ditahan. Mata mereka menyapu gelap, mencoba membaca gelagat lawan.

“Hey! Siapa kau malam-malam begini berani menghalau kami? Minggir…!” bentak pemimpin pengawal, suaranya menggelegar memecah sunyi.

Salah satu dari tiga sosok itu melangkah maju. Tubuhnya tinggi, berselubung jubah hitam panjang. Wajahnya samar tertutup bayangan, namun senyumnya terdengar jelas dalam nada suaranya.

“Oh… jangan galak-galak, kisanak,” ujarnya ringan, hampir mengejek. “Aku hanya ingin bertemu Ki Martanu. Dan… aku juga menginginkan istrinya.”

Beberapa pengawal saling berpandangan. Rahang mereka mengeras.

“Jangan main-main, kisanak!” hardik sang pemimpin pengawal. “Kami sedang terburu-buru. Di dalam pedati itu ada istri tumenggung yang hendak melahirkan. Kami menuju seorang dukun sakti untuk menolongnya. Dan kau berani menghalangi?”

Ia melangkah setapak ke depan, ujung pedangnya mengarah lurus ke dada si penghadang.

“Apa kau sudah gila? Kami pengawal seorang senopati Mataram! Kau hendak mencari mati, hah?!”

Tawa rendah terdengar dari balik tudung hitam.

“Hahaha… aku tak peduli siapa kalian,” balas sang ketua penghadang. “Nyai Raras akan kuambil. Ia akan kuserahkan kepada seseorang… yang telah lama menantinya.”

Angin malam mendadak berputar di sekitar mereka. Daun-daun beterbangan tanpa sebab.

“Sekarang… serahkan Nyai Raras,” lanjutnya, suaranya berubah dingin dan tajam. “Atau akan kubantai kalian semua.”

Aura kelam memancar dari tubuhnya. Dua sosok di belakangnya mulai menyebar, mengepung perlahan.

Di dalam pedati, Ki Martanu membuka tirai perlahan.

Matanya menatap lurus ke arah tiga bayangan itu.

Tenang.

Namun di balik ketenangan itu, bara amarah mulai menyala.

Pintu pedati terbuka perlahan.

Ki Martanu turun dengan langkah mantap. Tanah berderak pelan di bawah pijakannya. Wajahnya tegang. Rahangnya mengeras. Sepasang matanya membara oleh amarah yang nyaris tak terbendung.

Ia berjalan melewati para pengawalnya dan berdiri beberapa tombak dari ketiga penghadang.

“Kisanak,” suaranya rendah namun bergetar oleh wibawa. “Kau tak berhak mengancam kami. Jika kau tak memberi jalan… tubuhmu akan kucincang hingga lumat!”

Angin malam berdesir keras, seolah menyibakkan aura yang memancar dari tubuh sang tumenggung.

Ketua penghadang itu justru tertawa panjang.

“Hahaha… Ki Martanu. Akhirnya kau keluar juga. Selamat malam, Ki.”

Ia melangkah maju setapak. Tudung hitamnya tersingkap sedikit, memperlihatkan sorot mata tajam penuh siasat.

“Kami tak berniat mencelakaimu tanpa alasan. Kami hanya meminta istri dan calon bayimu.”

Beberapa pengawal menggeram.

“Aku tahu,” lanjutnya, “istrimu tengah menderita karena kandungannya yang tak kunjung lahir. Dua belas bulan… bukan waktu yang wajar bagi manusia biasa.”

Suasana hutan terasa makin pekat.

“Maka biarlah kami membantunya. Ada seorang pertapa sakti yang menanti kehadiran bayi itu. Bayi ajaib… bayi satu Suro.” Suaranya kini terdengar lebih dalam, hampir seperti bisikan gaib. “Kau tahu sendiri, Ki. Malam ini adalah malam 1 Suro. Waktu ketika tabir antara dunia terbuka tipis.”

Ia menatap lurus ke arah Ki Martanu.

“Ia akan lahir malam ini. Dan kau tentu tahu mitos itu, bukan?”

Ki Martanu tak berkedip.

“Ya,” jawabnya datar. “Konon, bayi yang dikandung selama dua belas bulan dan lahir pada malam 1 Suro akan memiliki kekuatan bagai Gatotkaca. Tulangnya sekeras baja, uratnya sekuat kawat, dan raganya tak mudah ditembus senjata.”

Ia melangkah setapak maju. Tanah di bawah kakinya retak tipis oleh tekanan tenaga dalam.

“Tapi itu hanya mitos, kisanak.”

Tatapannya berubah tajam bagai bilah pedang.

“Dan sekalipun itu benar… anak itu adalah darah dagingku. Tak akan kubiarkan siapa pun menyentuhnya. Sekarang… minggirlah.”

Hening.

Hanya suara daun yang bergesekan pelan.

Ketua penghadang itu tersenyum tipis.

“Oh… jadi kau memilih jalan darah, Ki Martanu?”

Dua sosok di belakangnya mulai merentangkan tangan. Aura hitam berputar di sekeliling mereka.

Malam 1 Suro belum mencapai puncaknya.

Dan pertumpahan darah tampaknya tak lagi bisa dihindari.

1
raigor
semangat thor...cerita nusantara
👁Zigur👁: thanks 🙏
total 1 replies
abdulR
😍👍💪ok
anggita
like👍2☝☝iklan buat novel laga lokal
👁Zigur👁: thanks kak anggit.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!