NovelToon NovelToon
Satu Wajah Dua Kehidupan

Satu Wajah Dua Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Tak ada yang menyangka bahwa seorang jenius kepolisian seperti Song Lang akan lenyap dari dunia yang pernah ia kuasai. Namun setelah sebuah peristiwa kelam yang dipicu oleh musuh bebuyutannya, ia menghilang tanpa jejak—dan muncul kembali bertahun-tahun kemudian dengan nama baru: Chen Shi, seorang sopir biasa di kota yang tak pernah berhenti bergerak.
Chen Shi hanya ingin hidup tenang, jauh dari sorotan, jauh dari masa lalu. Namun takdir seolah menolak memberinya ketenangan. Suatu malam, sebuah kasus pembunuhan mengusik hidupnya, dan semua bukti justru mengarah kepada dirinya. Dalam sekejap, orang yang berusaha melupakan dunia kriminalitas kembali menjadi pusat perhatian.
Dipaksa membuktikan bahwa ia bukan pelaku, Chen Shi bekerja sama dengan seorang polisi muda yang gigih. Namun semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa kasus tersebut bukanlah kebetulan. Ada tangan-tangan gelap yang bergerak, dan jejaknya terasa terlalu familiar bagi Chen Shi. Terlalu mirip dengan seseorang ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Kejujuran Berbuah Keringanan

Lin Qiupu menatap Chen Shi dengan sinis. Chen Shi hanya membalasnya dengan senyum tenang ketika Lin Qiupu menunjuk tulisan delapan karakter besar di dinding belakang petugas interogasi.

“Melawan diperlakukan keras, jujur mendapat keringanan. Bagaimana? Pengucapanku pas?” ujar Chen Shi santai.

“Kau bukan kriminal pertama yang duduk di kursi itu, dan bukan yang terakhir. Kau pikir—”

“Mohon perhatikan pilihan kata Anda, Kapten Lin yang ‘terhormat’,” sela Chen Shi cepat. “Saya ini tersangka, bukan kriminal. Secara hukum saya masih warga negara yang baik. Menahan saya tanpa bukti dan menginterogasi seperti ini—Anda sadar ini sendiri saja sudah melanggar hukum?”

Kalimat itu membuat murka Lin Qiupu melonjak.

“Tidak ada bukti? Baik, kalau ingatanmu tak berfungsi, aku bantu mengingatkan! Pada malam 11 September pukul dua dini hari, seorang penumpang perempuan bernama Gu Mengxing berada di mobilmu. Pesan yang ia kirim kepada pacarnya membuktikan bahwa kau melakukan pelecehan verbal. Keesokan harinya ia ditemukan tewas di tepi sungai, dengan tanda-tanda jelas pemerkosaan. Masih berani bilang kau tidak bersalah?”

Tiga pasang mata tertuju pada Chen Shi. Ada sedikit keterkejutan yang melintas di wajahnya, namun dalam sekejap ia kembali tenang.

“Pagi tanggal 11 itu memang ada penumpang perempuan cantik di mobil saya. Namun saya mengantarnya sesuai tujuan—Hotel Feng Zhilin. Catatan perjalanan saya bisa jadi bukti,” jawab Chen Shi dengan suara stabil. Ia tahu bahwa menyembunyikan kebenaran hanya akan membuatnya lebih dicurigai.

“Di mana titik penjemputannya?” tanya Lin Qiupu.

“Jalan Shi Houzi. Ada warung barbeque di dekat sana. Saya menunggu pelanggan di situ selama dua jam.”

“Kenapa selama itu?”

“Saya ketiduran.”

“Setahu saya, dari Shi Houzi menuju Hotel Feng Zhilin, rutenya melewati lokasi ditemukannya jasad korban.”

Chen Shi menghela napas, menggeleng, lalu berkata,

“Silakan cek catatan perjalanan.”

“Catatan perjalanan bisa dipalsukan,” jawab Lin Qiupu dingin.

Chen Shi tertawa keras.

“Persetan! Bukti macam apa yang kau inginkan? Aku beri jawaban—kau tidak percaya. Kubilang ada bukti—kau bilang palsu. Kau memang tidak sabar ingin mewarnai aku dengan hitam, bukan? Apa bagimu menyelesaikan kasus itu seperti kencan? Asal cocok tampangnya, langsung kau anggap jodoh?”

“Jaga sikapmu!” bentak Lin Qiupu.

“Saya adalah warga yang tidak bersalah, ditahan tanpa makan dan minum, padahal ini sudah lewat tengah hari. Anda menghina saya, memaksa saya mengaku atas kejahatan yang tidak saya lakukan. Saya cuma sedikit menunjukkan ketidakpuasan. Apa itu berlebihan?”

Tatapan Lin Qiupu menjadi seperti menatap sampah. Ia lalu mengangkat telepon di sampingnya, berbicara singkat, dan menutupnya kembali.

“Benarkah kau melecehkan penumpang perempuan itu?” tanyanya tanpa emosi.

Chen Shi menjawab seolah membaca dari buku undang-undang,

“Mengenai pelecehan verbal, hukum negara kita sangat jelas. Contoh pertama: menggunakan kata-kata cabul kepada lawan jenis. Contoh kedua: menceritakan pengalaman seksual pribadi atau melontarkan lelucon kotor. Contoh ketiga: membacakan materi erotis yang tidak diinginkan. Berdasarkan definisi itu, saya tidak melakukan pelecehan. Kami hanya mengobrol biasa.”

“Jangan mengelak! Aku bertanya apakah kau melecehkannya!”

“Masalahnya Anda yang belum memahami definisi pelecehan. Apa menurut Anda obrolan ringan adalah pelecehan? Bertanya nomor kontak? Menanyakan pekerjaan? Bagian mana yang secara hukum dikategorikan pelecehan?”

Lin Dongxue yang sejak tadi diam merasa tersentak. Ia berusaha mengubah arah interogasi.

“Selama perjalanan ke kantor tadi, kau tampak sangat antusias pada penumpang perempuan. Menurutku sikap itu tidak tepat untuk penumpang perempuan seorang diri pukul dua dini hari.”

“Itu hanya pendapat pribadi Anda,” balas Chen Shi. “Pertama, saya memang orang yang banyak bicara. Kedua, saya menyukai lawan jenis, saya pria lajang. Melihat penumpang perempuan muda naik mobil saya, apakah salah mengajak bicara? Bahkan tadi di mobil—apakah saya melanggar Anda?”

Lin Qiupu menoleh pada adiknya.

“Apa yang dia katakan di dalam mobil?”

Lin Dongxue memintal ujung rambutnya dan berkata pelan,

“Hanya percakapan biasa.”

Chen Shi memanfaatkan celah itu.

“Sebagai pria lajang, wajar saja berbicara dengan lawan jenis sepanjang itu tidak melampaui batas hukum. Saya bekerja mengemudi hampir dua puluh empat jam sehari. Kalau saya tidak membuka mulut bicara dengan penumpang, saya bisa mati karena bau mulut sendiri.”

Lin Qiupu menepuk meja keras.

“Hentikan perdebatan kecil! Fakta yang ada: korban berada di mobilmu, kau mengganggunya, dan ia diperkosa serta dibunuh setelah turun dari mobil!”

Chen Shi menggaruk lehernya, mulutnya tersenyum.

“Kalau kau membingkainya begitu, memang terasa masuk akal. Eh, kalian punya rokok? Pinjam satu.”

Ketiga polisi saling berpandangan. Biasanya, meminta rokok berarti pelaku siap mengaku. Mereka tak menyangka orang yang begitu banyak berdebat ini akan menyerah begitu cepat.

Lin Qiupu mengeluarkan sebungkus rokok Hongtashan. Saat hendak menyalakan, Chen Shi menahan.

“Ah, tolong. Aku tahu kalian menyimpan dua merek: satu untuk tahanan, satu untuk kalian sendiri. Jangan bodoh-bodoh begitu. Keluarkan Zhonghua-mu.”

“Kau—!”

“Hidungku bukan pajangan. Bau Zhonghua masih jelas di bajumu.”

Lin Dongxue menutup mulut menahan tawa. Dengan wajah memerah, Lin Qiupu mengeluarkan rokok Zhonghua dan menyalakan untuknya.

Chen Shi mengisap panjang, menghembuskan asap dengan kepuasan, lalu kembali diam. Hanya suara rokok terbakar.

Ketika rokok tinggal separuh, Lin Qiupu mendesak,

“Ayo. Katakan yang sebenarnya.”

Chen Shi mendongak ke langit-langit.

“Tiga puluh tahun lalu—”

“Untuk apa kembali tiga puluh tahun lalu?” tanya pencatat dengan wajah masam.

“Tiga puluh tahun lalu, pada malam musim gugur, seekor anjing di depan rumahmu mati tertabrak mobil. Keesokan harinya, kau lahir!”

“Kau!”

Lin Qiupu menggebrak meja sekeras-kerasnya. “Berani sekali menghina polisi! Pengadil Bao pasti bangga padamu!”

Chen Shi mematikan rokok.

“Saya hanya menyebut dua kejadian terpisah. Kapan saya menyebut reinkarnasi? Bagian mana yang menghina?”

Lin Dongxue lagi-lagi berjuang keras menahan tawanya. Sementara itu, pencatat tampak bingung: apakah bagian terakhir perlu ditulis dalam berita acara atau tidak.

Chen Shi menambahkan,

“Semua yang Anda sebutkan memang fakta yang berdiri sendiri. Tetapi fakta yang berdiri sendiri tidak otomatis memiliki hubungan sebab-akibat. Anda menyatukan kejadian berbeda lalu menyimpulkan keterkaitan tanpa dasar. Logika dasar pun tidak seperti itu. Sampai ada bukti konkret dan tak terbantahkan, itu semua hanya kebetulan.”

Lin Qiupu terdiam beberapa detik, wajahnya gelap.

“Bagus. Sangat bagus!”

Lin Dongxue memandang lelaki itu lekat-lekat. Orang ini berbeda dari para tersangka lain.

Setiap jawaban logis, runtut, dan tidak mengelak. Ia bahkan terasa… terlalu jernih.

Apa mungkin dia bukan pelaku sebenarnya?

Pikiran itu membuat dadanya mengencang. Ia merasa malu sempat goyah terhadap keyakinan penyelidikan.

Ketukan terdengar di pintu. Seorang polisi masuk sambil membawa berkas pemeriksaan catatan mengemudi Chen Shi. Lin Qiupu membaca sekilas, berbicara pendek pada petugas itu, lalu mengangguk menyuruhnya keluar.

Ia membolak-balik dokumen, lalu berkata,

“Oh, tampaknya ‘bukti’ yang kau banggakan itu—cukup tidak menguntungkan bagimu.”

Chen Shi mendecak jengkel.

“Sudahlah, jangan pura-pura mencoba menjadi keledai tak berketerampilan. Aku tahu semua trik basi itu. Seharian itu aku hanya ambil satu pesanan. Masa aku tidak tahu ke mana aku pergi?”

Raut wajah Lin Qiupu kaku seolah trik kecilnya terbongkar.

“Siapa yang kau sebut—keledai tak berketerampilan?!”

“Apa Anda tidak belajar bahasa dengan benar? Itu peribahasa. Saya tidak bilang ‘Kapten Lin bodoh’, bukan? Dan kenapa keledai dijelek-jelekkan? Mereka hewan pekerja keras dan pintar. Tolong sampaikan permintaan maaf untuk seluruh keledai di dunia.”

Wajah Lin Qiupu memerah—dengan telinga ikut memanas—pertama kalinya ia dipermalukan sedemikian rupa oleh tersangka.

Ia mengangkat telepon dengan sengaja mengeraskan suara,

“Xiao Wang! Matikan sistem pemantauan ruang interogasi!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!