Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Heningnya malam perlahan digantikan oleh embusan angin dini hari yang masuk melalui celah jendela kamar. Raya yang tengah tertidur lelap mulai menggeliat kecil saat sayup-sayup terdengar suara yang begitu menenangkan. Ia membuka mata perlahan, lalu menoleh ke arah jam di nakas.
"Pukul empat pagi..." gumamnya pelan, suaranya masih berat karena kantuk.
Namun suara itu... suara lantunan ayat suci yang terdengar merdu dan khusyuk... membuatnya tak bisa kembali memejamkan mata. Rasa penasaran mendorongnya bangkit dari tempat tidur, meski tubuhnya masih terasa berat. Ia menyibak selimut, mengenakan jubah tidur, lalu melangkah pelan ke luar kamar.
Langkah kakinya tertuntun oleh suara itu, yang semakin jelas saat ia melewati lorong menuju kamar kecil di ujung. Pintu kamar sholat itu tak tertutup rapat, dan dari celah kecil itulah Raya bisa melihat sosok yang membuat jantungnya seketika berdetak lebih cepat.
Arya.
Pria itu duduk bersila di atas sajadah, mengenakan baju koko putih bersih, dengan mukena yang terlipat rapi di sampingnya.
Tangannya memegang mushaf Al-Qur'an, suaranya lembut, tenang, penuh penghayatan. Lantunannya menyusup ke hati Raya, menggema hingga membuat napasnya tercekat.
Ia tak pernah tahu sisi ini dari Arya.
Raya berdiri mematung di ambang pintu, matanya menatap Arya tanpa berkedip. Tiba-tiba ia merasakan gerakan lembut dari perutnya. Ia refleks mengelus perut buncit itu sambil tersenyum tipis.
"Kamu dengar juga, ya?" bisiknya pelan. "Itu... suara 'papa' yang pura-pura itu."
Ia tertawa kecil, tapi ada genangan hangat di matanya.
Tepat saat suara adzan Subuh berkumandang, Arya menutup mushafnya dan menatap ke arah kiblat. Ia berdoa dalam hati sebelum bersiap untuk sholat. Raya buru-buru berbalik dan kembali ke kamarnya sebelum Arya sadar kalau sejak tadi ia menjadi penonton diam.
Udara dini hari masih menusuk kulit saat Raya perlahan melangkah menuju kamarnya. Langkah kakinya begitu hati-hati, seakan tak ingin meninggalkan jejak. Pintu kamar ditutupnya perlahan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, bukan karena takut, tapi karena ada rasa hangat yang merayap di dadanya. Dia tidak menyangka, Arya... pria yang selama ini tampak menyebalkan... ternyata begitu khusyuk melantunkan ayat suci.
Suara itu yang tenang, merdu, dan menyentuh hati masih terngiang di telinganya. Membekas.
Raya menyentuh perutnya, merasakan gerakan halus dari bayi dalam kandungannya.
"Kamu juga dengar, ya?" bisiknya pelan sambil tersenyum. "Dia... papamu..."
Raya langsung menggeleng pelan. "Bukan. Bukan papamu. Maksudku, dia orang yang sedang berpura-pura menjadi papamu."
Tapi hatinya gamang. Entah sejak kapan, kebohongan yang awalnya membuatnya risih, kini seperti berubah menjadi kenyamanan yang diam-diam ingin dia peluk lebih erat.
Pagi harinya, ketika matahari baru naik, aroma harum roti panggang dan teh melati memenuhi ruang makan. Raya duduk dengan tenang, mengenakan dress hamil berwarna pastel. Bu Atika tersenyum melihatnya.
"Kamu kelihatan segar pagi ini," kata Bu Atika sambil menuangkan teh. "Tidur nyenyak, ya?"
Raya mengangguk pelan. "Iya, Bu... cukup nyenyak."
Belum sempat percakapan mereka berlanjut, Arya muncul dari balik pintu, mengenakan kemeja putih yang dilipat hingga siku, tampak rapi dan bersih. Matanya sekilas bertemu dengan Raya. Ada tatapan yang berbeda. Seperti... penuh rahasia.
"Arya, kamu nggak buru-buru ke kantor?" tanya Bu Atika.
"Nanti, Bu. Hari ini aku kerja dari rumah," jawab Arya santai sambil duduk di kursi samping Raya. "Biar bisa jagain istri, sekalian siap-siap buat sesi foto."
Raya langsung memutar kepala ke arahnya. "Apa? Hari ini?"
Arya mengangguk dengan wajah penuh senyum licik. "Tentu saja. Kamu lupa, ya? Ini ide Mama. Kita harus tampil harmonis. Foto keluarga."
Raya menghela napas panjang. "Aku pikir itu cuma wacana."
"Aku tuh kalau sudah bilang, pasti jadi," jawab Arya santai. "Kamu nggak suka difoto?"
"Bukan begitu. Aku-" Raya menatap Bu Atika yang tampak sumringah. "Aku nggak terbiasa."
"Tenang aja," sela Arya cepat. "Aku juga nggak terbiasa. Tapi demi kenangan calon anak kita..." Arya menoleh dan menatap perut Raya dengan lembut. "Kita harus punya dokumentasi, kan?"
Raya hendak membalas, tapi Bu Atika sudah tersenyum lebar.
"Iya, Arya benar. Ini momen berharga. Waktu cepat berlalu, tahu. Tiba-tiba nanti kamu udah lahiran, sibuk urus bayi. Ini kesempatan kita buat abadikan semuanya."
Raya akhirnya hanya bisa tersenyum paksa.
"Iya, Bu..."
Arya mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Raya dan berbisik di telinganya, "Tenang, aku sudah pesan make up artist. Kamu akan kelihatan cantik, seperti ratu. Biar Daffa kalau lihat nanti nyesel setengah mati."
Raya melotot pelan. "Jangan asal sebut nama orang, dong..."
Arya tertawa pelan. "Maaf, maaf. Refleks. Tapi serius, kamu udah siap belum nanti siang?"
"Kayaknya aku nggak punya baju yang cocok buat pemotretan," elaknya.
"Tadi malam Mama udah pesenin dari butik. Kamu tinggal pilih, tinggal dandan. Enak, kan jadi istri Arya?"
"Berhenti nggak?" Raya mengerutkan kening.
"Aku serius," ucap Arya sambil menyuap potongan roti ke mulutnya. "Selamat datang di rumah manis, sayang," ucapnya kembali seraya mengedipkan matanya pada Raya.
Raya hanya bisa menatap ke arah luar jendela.
Dalam hati, ia tak tahu harus tertawa, menangis, atau... bersyukur.
Menjelang siang, rumah itu berubah menjadi mini studio. Beberapa orang dari tim fotografi sudah sibuk menyiapkan pencahayaan, background, dan properti kecil. Bu Atika tampak bersemangat, ikut menata bunga-bunga hias. Arya sibuk mondar-mandir sambil memilih setelan jas.
Sementara itu, di kamar, Raya sedang didandani oleh seorang makeup artist profesional.
"Wajah kamu udah cantik alami, Mbak," kata si perias. "Tinggal disorot lampu aja, langsung kayak model ibu hamil majalah."
Raya mengerutkan alis. "Model?"
"Beneran, Mbak. Kulit kamu bagus, bentuk wajahnya simetris. Pas banget buat difoto."
Raya hanya membalas dengan senyum tipis. Dalam hatinya ada perang batin.
Aku bukan siapa-siapa. Aku cuma seorang janda yang sedang berpura-pura jadi istri dari pria yang luar biasa.
Namun, entah kenapa, bagian "istri dari pria luar biasa" itu membuat dadanya terasa hangat.
Pemotretan dimulai. Arya berdiri di samping Raya, mengenakan setelan abu-abu gelap. Tangannya melingkar lembut di pinggang Raya, seolah itu sudah kebiasaannya. Di belakang mereka, properti bertuliskan "Welcome Baby" menghias latar.
"Sedikit lebih dekat, Pak Arya... Mbak Raya, bisa senyum sedikit? Tatap suami ya, bukan kamera," ujar fotografer.
Raya menahan napas. Tatap Arya? Lagi?
Namun, ketika ia menoleh, Arya sudah menatapnya lebih dulu. Matanya lembut. Tidak ada gurat sarkasme atau lelucon.
"Palsukan, yuk," bisik Arya. "Pura-pura cinta. Biar Mama makin bahagia."
Raya menelan ludah, lalu perlahan membalas senyum itu. Klik.
"Perfect," kata fotografer.
Dan untuk pertama kalinya, Raya tidak tahu, mana yang lebih menakutkan, kebohongan yang terus ia jalani, atau perasaan nyaman yang mulai tumbuh dalam kebohongan itu.