NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Laskar Bintang

Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.

Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.

Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Kebenaran dan Kepercayaan

Pertanyaan Arsen semalam masih menggantung di kepala Alina keesokan paginya.

Jika kontrak ini berakhir besok, apa kau akan pergi begitu saja?

Ia berdiri di depan cermin, menyisir rambutnya perlahan. Bayangannya terlihat tenang, terkontrol seperti biasa. Tidak ada yang bisa menebak bahwa di dalam dirinya sedang terjadi perdebatan yang melelahkan.

Rencana awalnya jelas.

Masuk ke pernikahan kontrak. Selamatkan perusahaan ayahnya. Uji Arsen. Pastikan pria itu layak bukan hanya sebagai mitra bisnis, tapi sebagai sekutu jangka panjang jika suatu hari keluarga mereka benar-benar harus bekerja sama.

Lalu pergi.

Sederhana.

Tapi perasaan tidak pernah mengikuti rencana.

Di ruang makan, Arsen sudah duduk dengan setelan rapi, membaca berita pagi. Ia mengangkat wajah ketika Alina masuk.

“Kau terlihat seperti tidak tidur,” katanya datar.

“Aku tidur,” jawab Alina ringan. “Hanya berpikir.”

“Tentang?”

Alina duduk di hadapannya. “Tentang pertanyaanmu.”

Arsen tidak terlihat terkejut. Seolah ia tahu kalimatnya semalam akan membekas.

“Dan?” tanyanya.

Alina menatap cangkir tehnya sebelum menjawab. “Aku tidak pernah berniat tinggal lebih lama dari yang diperlukan.”

Jawaban itu jujur. Setidaknya sebagian.

Rahang Arsen menegang sedikit, tapi ekspresinya tetap tenang. “Itu sebelum atau sesudah kau mengenalku?”

Ada nada tipis yang berbeda di sana.

Alina mengangkat pandangannya. “Sebelum.”

Keheningan mengisi meja makan.

“Aku tidak suka ketidakpastian,” kata Arsen akhirnya. “Dalam bisnis atau dalam hidup.”

“Aku tahu.”

“Jika kau ingin pergi saat kontrak selesai, katakan sekarang. Aku tidak akan menahannya.”

Kalimat itu terasa seperti tantangan sekaligus perlindungan.

Alina merasakan sesuatu menusuk pelan di dadanya.

Masalahnya, ia tidak lagi yakin ingin pergi.

Tapi ia juga tidak siap tinggal dengan kebohongan yang terus membesar.

“Aku belum memutuskan,” jawabnya pelan.

Arsen mengangguk singkat. “Baik. Tapi jangan terlalu lama.”

Di sisi lain kota, Livia tidak berhenti bergerak.

Pagi itu, sebuah artikel anonim muncul di portal bisnis online. Isinya tidak menyebut nama, tapi cukup jelas menyindir bahwa “istri pewaris Wijaya memiliki latar belakang yang lebih misterius dari yang terlihat.”

Tidak ada bukti. Tidak ada detail.

Hanya umpan.

Namun bagi orang yang tahu cara membaca, itu cukup untuk memancing rasa ingin tahu.

Alina membaca artikel itu di mobil menuju kantor. Ia tersenyum tipis.

Livia memang tidak bodoh.

Alih-alih menyerang langsung, ia menyebar keraguan.

Sesampainya di kantor, Adrian sudah menunggunya di ruang kecil yang jarang dipakai.

“Ini baru awal,” katanya tanpa basa-basi. “Jika ia terus menggali, kita harus siap.”

“Apa jejakku sudah terlalu terlihat?” tanya Alina.

“Belum. Tapi nama keluarga Anda terlalu besar untuk disembunyikan selamanya.”

Alina tahu itu.

Selama ini, ia berlindung di balik anonimitas dan jaringan yang loyal. Tapi semakin ia berada di samping Arsen di bawah sorotan publik, semakin sulit menjaga jarak antara dua dunia itu.

“Aku tidak ingin mengungkap identitasku karena tekanan,” katanya pelan. “Jika itu terjadi, seolah-olah aku kalah.”

“Ini bukan tentang menang atau kalah,” Adrian mengingatkan. “Ini tentang waktu.”

Waktu.

Dan waktunya semakin sempit.

Siang itu, Arsen memanggil Alina ke ruangannya.

Beberapa lembar dokumen tergeletak di mejanya.

“Ada investor lama yang ingin bertemu,” katanya. “Nama keluarga Ardhana.”

Jantung Alina berdetak lebih keras.

Itu nama keluarganya.

Ia menjaga ekspresinya tetap netral. “Apa yang mereka inginkan?”

“Belum jelas. Tapi mereka menghubungi langsung, bukan lewat perantara.”

Itu bukan kebetulan.

Keluarganya mulai bergerak sendiri.

“Apakah kau akan menerima?” tanya Alina hati-hati.

Arsen menatapnya tajam. “Menurutmu?”

Alina berpikir cepat. Jika Arsen bertemu mereka tanpa tahu hubungan sebenarnya, semuanya bisa meledak dalam cara yang tidak ia kendalikan.

“Terima,” katanya akhirnya.

“Kenapa?”

“Karena menolak hanya akan memicu lebih banyak spekulasi.”

Arsen mempelajarinya beberapa detik. “Kau tampak mengenal nama itu.”

“Aku hanya membaca banyak berita bisnis,” jawab Alina ringan.

Ia membenci bagaimana kebohongan kecil itu mulai terasa berat.

Arsen akhirnya mengangguk. “Baik. Pertemuan besok.”

Besok.

Artinya ia punya kurang dari dua puluh empat jam untuk memutuskan sesuatu yang bisa mengubah segalanya.

Malamnya, hujan turun deras.

Alina berdiri di balkon kamar, membiarkan udara dingin menyentuh wajahnya.

Ia mendengar langkah Arsen mendekat di belakangnya.

“Kau terlihat gelisah,” katanya pelan.

“Ada terlalu banyak hal bergerak bersamaan,” jawab Alina jujur.

Arsen berdiri di sampingnya. Hujan memantulkan cahaya lampu kota, menciptakan kilatan kecil di kejauhan.

“Aku tidak peduli siapa keluarga Ardhana,” katanya tiba-tiba. “Selama mereka tidak mencoba mempermainkanku.”

Alina menoleh perlahan.

“Dan jika ada orang di dekatmu yang tidak sepenuhnya jujur?” tanyanya hati-hati.

Arsen terdiam.

Ia memikirkan pertanyaan itu dengan serius, bukan defensif.

“Aku bisa menerima masa lalu,” jawabnya akhirnya. “Aku tidak bisa menerima pengkhianatan.”

Kata itu lagi.

Pengkhianatan.

Alina merasakan napasnya menipis.

Apa yang ia lakukan sekarang termasuk pengkhianatan?

Ia tidak pernah berniat menyakiti Arsen. Tapi menyembunyikan identitas sebesar itu… pasti akan terasa seperti tusukan ketika terungkap.

“Arsen,” ucapnya pelan.

“Ya?”

“Jika suatu hari aku mengatakan sesuatu yang mengubah caramu melihatku… kau akan memberiku kesempatan menjelaskan?”

Arsen menatapnya lama, hujan memantul di matanya yang gelap.

“Aku selalu memberimu kesempatan bicara,” katanya pelan. “Tapi jangan buat aku merasa bodoh.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi bagi Alina, itu lebih tajam dari ancaman apa pun dari Livia.

Karena yang paling ia takutkan bukan kehilangan posisi.

Bukan kehilangan permainan.

Melainkan kehilangan kepercayaan pria yang kini berdiri begitu dekat dengannya.

Hujan semakin deras.

Dan di tengah suara air yang jatuh tanpa henti, Alina menyadari satu hal yang tak bisa lagi ia abaikan.

Ia bisa menghadapi Livia.

Ia bisa menghadapi dewan.

Ia bisa menghadapi pasar.

Tapi menghadapi Arsen dengan kebenaran penuh

Itulah pertempuran yang paling ia takuti.

(BERSAMBUNG)

1
Osie
mampir nih..baca sipnosis sepertinya seru..so lanjut baca dan moga ini cerita gak ngegantung kayak jemuran 🙏🙏
Nia nurhayati
mampirrr thorr
Lusi Sabila
kayaknya seru nih.. buat bucin yaa Thor tuh yg dingin kayak kulkas 10 pintu Arsen 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!