Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah
Dada Kanaya terasa sesak, kata-kata itu seperti jarum yang menusuk tepat di rasa minder yang sejak semalam ia coba tekan. "Iya, Kanaya. Ibu cuma kasih tahu ya," tambah Bu Lastri dengan nada sok menasihati.
"Mending cari yang setara saja, daripada nanti jadi omongan orang sekampung, dikira kamu simpanan atau apa. Kan sayang status kamu sebagai guru, masa kelakuannya begitu," ucap Bu Ratna.
Wajah Kanaya memanas, bukan karena terik matahari, melainkan karena malu dan marah yang bercampur aduk. Kanaya ingin berteriak bahwa ia bukan seperti yang mereka tuduhkan, tapi suaranya seolah tertahan di tenggorokan.
"Saya permisi dulu, Bu. Masih banyak kerjaan," ucap Kanaya pendek, tanpa menunggu jawaban lagi.
Kanaya mempercepat langkahnya dan mengabaikan bisik-bisik yang kembali pecah di belakang punggungnya. Begitu sampai di depan pintu kos, tangan Kanaya gemetar saat memasukkan kunci. Setelah berhasil masuk, ia segera menyandarkan tubuhnya ke pintu yang tertutup, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga.
Pandangannya tertuju pada lemari plastik tempat ia menyembunyikan jam tangan pemberian Narendra, sindiran ibu-ibu tadi seolah menjadi pembenaran atas ketakutannya bahwa ia memang tidak pantas bersanding dengan pria seperti Narendra.
'Tuh kan, baru diajak makan sekali saja sudah jadi fitnah, gimana kalau mereka tahu soal jam tangan? Mereka pasti makin mengira aku menjual harga diri demi barang mewah,' batin Kanaya.
Kanaya segera menghapus air matanya dengan punggung tangan dan Kanaya merasa jika ia tidak boleh terlihat lemah, apalagi di lingkungan kos-kosan yang temboknya seolah memiliki telinga ini. Setelah menenangkan diri sejenak, Kanaya mengikat plastik sampah yang sudah penuh dan membawanya keluar menuju bak sampah besar di ujung gang kosan.
Namun, baru saja ia meletakkan plastik itu, sebuah suara langkah kaki yang diseret mendekat. Dia adalah Shinta, salah satu penghuni kos di lantai dua yang dikenal jarang bekerja tapi selalu punya pakaian baru.
"Cie yang habis kencan sama sultan," celetuk Shinta sambil bersandar di tiang listrik dan tangannya asyik memainkan kuku yang baru dicat.
"Siapa Mbak?" tanya Kanaya.
"Ya kamulah," ucap Shinta.
Kanaya berusaha tetap tenang, meski dadanya bergemuruh, "Bukan kencan, Mbak. Itu cuma teman saya yang kebetulan mengantar pulang," jawab Kanaya berusaha selembut mungkin agar tidak memancing keributan.
Shinta tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat meremehkan di telinga Kanaya. Shinta berjalan mendekat dan melangkah perlahan mengitari Kanaya seolah-olah sedang menginspeksi barang dagangan.
"Teman? Teman macam apa yang punya mobil mahal terus mau masuk ke gang becek kayak gini," cibir Shinta dan matanya menyisir penampilan Kanaya dari atas ke bawah dengan tatapan sinis.
"Aduh, Kanaya... nggak usah sok polos deh. Penampilan kamu memang cupu, tapi ternyata pancingan kamu oke juga ya bisa dapet kakap sekelas itu," lanjut Shinta.
"Jaga bicara Mbak Shinta ya, saya beneran cuma teman sama dia," tegas Kanaya dengan suara yang sedikit meninggi.
Shinta justru semakin mendekat dan berbisik tepat di samping telinga Kanaya dengan nada yang sangat menyebalkan, "Kasih tahu dong, apa rahasianya? Apa kamu pakai cara halus supaya laki-laki kaya itu bertekuk lutut? Atau kamu punya tips khusus biar dapet transferan banyak? Aku juga mau kali kalau cuma nemenin makan terus dapet uang jajan jutaan," tanya Shinta.
"Mbak!" Kanaya mundur selangkah dengan tangannya yang mengepal kuat.
"Saya bukan perempuan seperti itu, saya bekerja sebagai guru, saya punya harga diri!" ucap Kanaya.
"Harga diri? Harga diri nggak bisa buat beli tas bermerek atau makan di restoran bintang lima, sayang. Sudahlah, mumpung dia masih nempel, peras saja hartanya sebanyak mungkin, laki-laki begitu biasanya cepat bosan. Sebelum kamu dibuang dan diganti sama yang lebih glowing dam sekso, mending kamu minta rumah atau mobil sekalian," ucap Shinta.
Kanaya tidak sanggup lagi mendengarkan ocehan Shinta dan tanpa sepatah kata pun, ia berbalik lalu berlari menuju kamarnya. Kanaya bisa mendengar Shinta masih tertawa di belakang sana dan meneriakkan kata-kata yang membuat telinga Kanaya panas.
Begitu sampai di dalam kamar, Kanaya langsung membanting pintu dan menguncinya. Kanaya jatuh terduduk di lantai, badannya bergetar hebat. Rasanya sesak sekali. Ternyata, kebaikan Narendra justru menjadi bumerang yang menghancurkan ketenangannya.
Di tengah isak tangisnya yang tertahan, ponsel di atas kasur bergetar dan nama Narendra muncul di sana.
[Aku sudah di depan kantor sekolahmu tapi katanya kamu sudah pulang duluan, mau makan siang bersama? Aku jemput sekarang ke kosmu]
Melihat pesan itu, jantung Kanaya mencelos. Kanaya tidak boleh membiarkan mobil Narendra muncul lagi di gang ini dan jika pria itu datang lagi, gosip Bu Ratna dan hinaan Shinta akan semakin menjadi-jadi, dengan gemetar, Kanaya membalas pesan itu.
^^^[Aku pergi sendiri aja, jangan jemput aku]^^^
Narendra tidak langsung membalas, namun beberapa menit kemudian, sebuah pesan singkat masuk.
[Yasudah, aku tunggu di kafe ya]
^^^[Iya]^^^
Kanaya segera menghapus air matanya, ia tidak punya waktu untuk meratapi nasib. Fokusnya sekarang hanya satu, mengembalikan jam tangan seharga 23 juta itu dan mengakhiri semua kegilaan ini.
Kanaya beranjak ke lemari dan membuka gemboknya dengan terburu-buru lalu ia mengambil kotak beludru itu. Kanaya memasukannya ke dalam tas kainnya dan menyembunyikannya di antara tumpukan buku agar tidak terlihat mencolok.
Kanaya mengganti pakaiannya dengan kemeja paling lama dan pudar yang ia miliki, berharap penampilannya yang kusam bisa menyadarkan Narendra bahwa mereka memang berasal dari dunia yang berbeda.
Sesampainya di kafe dekat stasiun yang tergolong sederhana, namun tetap terasa asing bagi kantong Kanaya. Ia melihat Narendra sudah duduk di pojok ruangan, pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, jam tangan mewahnya berkilau di bawah lampu kafe dan memancarkan aura otoritas yang kuat.
Begitu Kanaya duduk, Narendra langsung menatapnya tajam. "Wajahmu sembab, kamu habis nangis? Kenapa?" tanya Narendra tanpa basa-basi
Kanaya tidak menjawab, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan kotak beludru hitam itu lalu meletakkannya di atas meja dan mendorongnya ke arah Narendra.
"Maaf, aku nggak bisa nerima hadiah ini," ucap Kanaya.
Narendra melirik kotak itu sekilas lalu kembali menatap Kanaya dengan ekspresi datar yang sulit dibaca, "Kenapa dikembalikan, ini hadiah dariku," tanya Narendra.
"Aku rasa hadiahnya terlalu berlebihan, aku nggak bisa menerimanya. Aku juga merasa tidak nyaman, aku bahkan tidak tenang karena hadiah itu," ucap Kanaya.
"Tapi, aku memberikannya sebagai hadiah. Bukankah hadiah tidak boleh ditolak," ucap Narendra.
"Tapi, hadiah ini terlalu berlebihan," ucap Kanaya pelan.
"Saat aku memberikan sesuatu sebagai hadiah, berarti aku tidak pernah meminta barang itu lagi. Kalau kamu nggak suka hadiahnya, kamu bisa buang," ucap Narendra.
.
.
.
Bersambung.....