Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.
Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.
Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Lima Bulan Kemudian
Matahari sore menyelinap lembut lewat jendela ruang keluarga, menyisakan cahaya keemasan yang jatuh di lantai dan sofa tempat Yuki duduk sambil merapikan botol susu. Di sudut ruangan, Kai berlutut, mengulurkan tangan ke arah Ai yang sedang belajar merangkak. Bayi itu sudah berusia delapan bulan—pipi bulatnya semakin berisi, matanya selalu berbinar jika melihat Kai, dan tawanya mudah pecah seperti lonceng kecil yang jernih.
“Ke sini, Ai,” ujar Kai pelan, suaranya biasanya datar, tapi selalu berubah lembut jika berhadapan dengan bayi itu.
Ai berhenti sejenak, menatap Kai, lalu menepuk-nepuk lantai dengan telapak tangannya sendiri, seolah memberi semangat pada dirinya. Ia merangkak lebih cepat, sesekali hampir kehilangan keseimbangan, tapi terus maju. Saat jarak tinggal sejengkal, Kai mengangkatnya dengan hati-hati, menahan tubuh mungil itu di dada. Ai langsung tertawa, suara kecilnya memenuhi ruangan.
Yuki menoleh, senyumnya mengembang tanpa sadar. Ada kehangatan yang selalu muncul setiap kali melihat Kai menggendong Ai. Bukan hanya karena Ai terlihat bahagia, tapi karena Kai terlihat… utuh. Seolah potongan dirinya yang dingin menemukan tempat untuk melunak.
Kai menggoyangkan Ai pelan, lalu mengangkatnya sedikit lebih tinggi. “Hati-hati, jangan terlalu aktif,” katanya setengah bercanda, meski tetap waspada menopang kepala Ai.
Ai menatap wajah Kai dengan serius, seperti sedang mempelajari sesuatu yang sangat penting. Bibir kecilnya bergerak, mengeluarkan bunyi-bunyi yang belum jelas. “Pa… pa…” gumamnya, ragu, lalu berhenti. Ia berkedip, seolah mencoba lagi. “Pa… pa…”
Waktu seperti menahan napas.
Yuki membeku di tempat. Tangannya yang memegang botol susu sedikit gemetar. Ia menatap Kai, lalu menatap Ai, lalu kembali ke Kai. Dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang hangat dan tak terduga.
Kai sendiri terdiam. Untuk sesaat, ia mengira hanya mendengar bunyi acak bayi. Tapi Ai tersenyum lebar, lalu mengulangi dengan lebih jelas, “Papa!”
Kata itu jatuh sederhana, tapi mengguncang.
Kai tidak langsung bereaksi. Matanya melebar sedikit, rahangnya mengeras, lalu melunak. Tangannya yang menggendong Ai refleks memeluk lebih erat bukan keras, hanya lebih dekat, seolah memastikan bayi itu aman di dadanya. “A… apa?” gumamnya, hampir tak terdengar.
Ai tertawa, tangannya meraih kerah kemeja Kai, lalu mengulang dengan penuh percaya diri, “Pa-pa!” Ia menepuk dada Kai, bangga dengan bunyi yang baru saja ia kuasai.
Yuki menutup mulutnya, menahan napas yang tiba-tiba terasa sesak oleh haru. Matanya berkaca-kaca, tapi senyumnya tetap bertahan. Ia melangkah mendekat, berdiri di samping Kai. “Sepertinya… dia memanggilmu begitu,” ucapnya pelan, suaranya bergetar oleh perasaan yang tak ingin ia sembunyikan.
Kai menatap Yuki, lalu kembali ke Ai. Ada sesuatu yang bergerak di dadanya bukan kebingungan, bukan pula ketakutan melainkan perasaan yang selama ini ia jaga jarak. “Ai…” katanya pelan, lalu menelan ludah. “Kamu… yakin?”
Ai menjawab dengan tawa ceria, menepuk pipi Kai, lalu bersandar nyaman di dadanya. Ia terlihat sangat bahagia, seperti menemukan tempat yang tepat untuk beristirahat.
Kai menghela napas, dan untuk pertama kalinya, senyum yang ia berikan tidak ragu. “Kalau begitu… Papa di sini,” katanya, lirih tapi pasti.
Yuki memejamkan mata sejenak, membiarkan air mata hangat mengalir tanpa rasa sedih. Ini bukan tentang mengganti siapa pun. Ini tentang sebuah ruang aman yang perlahan terbentuk tentang kehadiran yang setia, tentang tangan yang selalu siap menahan jatuh.
Sejak hari itu, Ai semakin lengket pada Kai. Setiap kali Kai pulang lebih awal atau sedang libur, Ai akan merangkak mencarinya, mengangkat kedua tangannya minta digendong sambil berseru kecil, “Pa-pa!” Dan Kai, yang biasanya kaku menghadapi banyak hal, selalu berhenti dari apa pun yang ia lakukan, mengangkat Ai, lalu berjalan mengelilingi rumah sambil berbicara pelan, seolah menceritakan dunia dengan bahasa yang hanya mereka berdua mengerti.
Kadang, saat Yuki menyiapkan makanan pendamping, Kai yang menyuapi. Ai sering menolak satu-dua sendok pertama, lalu tertawa ketika Kai berpura-pura cemberut. Ada hari-hari ketika bubur menempel di pipi Kai, dan Ai tertawa lebih keras karena itu. Yuki hanya bisa menggeleng, tertawa kecil sambil mengusap wajah Kai dengan tisu.
Di usia delapan bulan, Ai belum mengerti banyak hal. Tapi ia mengerti satu hal dengan sangat jelas: lengan Kai adalah tempat yang nyaman, dan suara itu “Papa” adalah panggilan yang selalu dibalas dengan senyum dan pelukan.
Dan bagi Kai, setiap kali kata itu terucap, dunia yang dulu terasa dingin kini terasa sedikit lebih hangat. Bukan karena ia ingin mengambil peran, melainkan karena ia telah dipilih oleh tawa kecil, oleh tangan mungil yang percaya, dan oleh sebuah keluarga yang sedang belajar utuh kembali.
Ibu Kai berdiri di ambang pintu ruang keluarga, membawa nampan kecil berisi teh hangat. Ia berhenti melangkah ketika melihat pemandangan itu Kai menggendong Ai, mengayunnya pelan, sementara Yuki berdiri di samping mereka dengan senyum yang masih basah oleh haru. Cahaya sore jatuh tepat di wajah mereka bertiga, membuat momen itu terasa seperti lukisan yang hidup.
Ibu Kai tidak langsung masuk. Ia hanya tersenyum, senyum yang tenang dan penuh syukur, seperti seseorang yang akhirnya melihat sesuatu yang selama ini ia doakan tanpa banyak suara.
“Papa,” Ai kembali memanggil, suaranya jernih, diikuti tawa kecil yang membuat pundak Kai ikut mengendur.
Kai menatap bayi itu, lalu tanpa sadar melirik ke arah ibunya. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada kata-kata, tapi Ibu Kai mengangguk pelan, seolah berkata: aku melihatmu… dan aku bangga.
Ia melangkah masuk perlahan agar tidak memecah suasana. “Sepertinya rumah ini jadi lebih berisik sekarang,” ucapnya lembut, sengaja terdengar ringan.
Yuki menoleh dan tersenyum. “Maaf, Bu… dia sedang semangat.”
“Tidak perlu minta maaf,” jawab Ibu Kai, meletakkan nampan di meja. “Suara seperti itu justru membuat rumah terasa hidup.”
Ai memandang Ibu Kai, lalu kembali memeluk leher Kai, seolah tak ingin berpindah tempat. Kai tertawa kecil, menepuk punggung mungil itu. “Sepertinya aku kalah saing, Bu.”
Ibu Kai tersenyum lebih lebar. “Bukan kalah saing. Kau hanya… sudah menemukan tempatmu.”
Kata-kata itu membuat Kai terdiam sejenak. Ia menatap Ai, lalu Yuki, lalu kembali pada ibunya. Ada rasa hangat yang mengalir pelan, menenangkan sudut-sudut hatinya yang dulu keras. “Terima kasih, Bu,” katanya singkat, tapi tulus.
Ibu Kai mengangguk, matanya berbinar. “Terima kasih juga karena kau menjaga mereka.”
Yuki merapat sedikit, suaranya lirih. “Terima kasih, Bu… karena selalu ada.”
Ibu Kai meraih tangan Yuki, menepuknya lembut. “Kita di sini bersama, Nak. Lihatlah… kebahagiaan itu kadang datang tanpa kita rencanakan.”
Ai menguap kecil, lalu menyandarkan kepalanya di dada Kai. Kai mengusap rambut halus itu dengan hati-hati, gerakannya penuh perhatian. Ibu Kai kembali tersenyum, kali ini lebih lama, seolah menyimpan momen itu di dalam hatinya.
Di ruangan yang sederhana itu, tanpa perayaan besar, mereka berbagi satu hal yang paling berharga: perasaan utuh yang tumbuh pelan, tapi nyata. Dan Ibu Kai, dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, tahu kebahagiaan anaknya akhirnya menemukan jalan pulang.