Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5--Meluniasi Biaya Perawatan Ibu
Keesokan harinya Rahmat mengurus beberapa kebutuhan untuk motor ini, dia habis uang sebesar 1,2 juta mulai dari perbaikan yang dibutuhkan, mengurus mesin dan lain-lain. Tapi dia tidak akan rugi, malah akan untung banyak.
Ia juga punya kenalan yang cocok untuk menjual barang-barang seperti ini.
Setelah selesai dengan aktivitasnya, rahmat menancap gas. Pergi karena mengingat agenda yang lebih penting.
Hari ini ia akan membayar dan melunasi semua biaya rumah sakit sang ibu.
Rahmat melambat ketika memasuki halaman rumah sakit, bangunan itu masih seperti terakhir kali ia datang—tinggi, dingin, dan terasa asing. Ia memarkir motor dengan hati-hati, lalu menatap layar sistem sekilas.
—-
Host ; Rahmat
Saldi tersedia ; 106.000.000
—---
Angkat itu lebih dari cukup untuk melunasi semua tunggakan dan biaya rumah sakit.
Rahmat berjalan masuk. Aroma antiseptik langsung menyergap indra penciumannya. Suara langkah kaki, kursi roda, dan percakapan pelan bercampur jadi satu.
Di meja administrasi, ia menyebutkan nama ibunya.
Petugas mengetik sebentar.
“Total tagihan sementara sebesar dua puluh lima juta, dikarenakan perawatan intensif dan obat tambahan.”
Rahmat terdiam beberapa detik. Dulu, angka itu terdengar mustahil, tapi sekarang terdengar murah.
Sekarang dia hanya perlu menekan tombol transfer.
Tangannya sedikit gemetar saat membuka aplikasi mobile banking. Ia memastikan lagi nominalnya.
Rp25.000.000.
Jarinya berhenti sesaat di atas tombol konfirmasi.
Ia teringat malam-malam ketika ibunya batuk tanpa henti.
Teringat saat ibunya pura-pura tersenyum meski tubuhnya lemah.
Teringat bagaimana wanita itu tetap membelanya meski ayahnya kabur membawa hutang.
Rahmat menarik napas panjang.
Klik.
Transaksi berhasil.
Petugas tersenyum ramah.
“Sudah lunas, ya. Nanti pasien bisa dipindah ke ruang perawatan biasa.”
Rahmat mengangguk pelan. “saya minta sekalian dipindah ke ruang VIP bisa kak?”
“Bisa, tapi dengan tambahan harga kakak, dengan fasilitas seperti VIP kakak perlu menambahkan lagi sebesar 20 juta,” jawab perawat itu yang sebenarnya ia ragu bahwa rahmat bisa membayar.
Bagaimanapun rahmat sudah menunggak sangat lama, sekarang ingin membeli vip? Rasanya agak lucu.
“Kalau begitu akan saya tambah kak,” rahmat tidak banyak basa-basi, ruang VIP demi kecepatan kesembuhan sang ibu. Ia segera mentransfer.
Perawat itu terkejut lagi? Darimana bocah ini bisa mendapatkan uang banyak mendadak? Tempo hari saja masih menunggak sekarang semua sudah lunas.
Ada perasaan curiga tapi sebagai petugas rumah sakit dia bodo amat masala ginian.
“Baik, kak terima kasih, akan kami pindah ke ruang VIP secepatnya, kakak tunggu di sini ya.”
Rahmat duduk di ruang tunggu, sekitar 30 menit. Lalu dia pun dipanggil, diberikan nomer ruangan yang baru.
Sekarang rahmat merasa rntah kenapa, dadanya terasa ringan. Bukan karena uangnya berkurang. Tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa… mampu.
Ia berjalan menuju kamar ibunya yang baru.
Wanita itu terbaring lemah, wajahnya masih pucat tapi sudah jauh lebih stabil. Ketika melihat Rahmat masuk, matanya membesar sedikit.
“Mat… kamu kerja lagi? Darimana kamu dapat uang sebanyak ini? Bahkan sampai ibu ke ruang vip. Jangan terlalu paksakan diri, Nak…”
Rahmat tersenyum tipis. Senyum yang jarang muncul tulus.
“Ibu gak perlu khawatir soal biaya lagi.”
Ibunya terlihat bingung. “Maksudnya?”
“Sudah lunas. Ibu fokus sembuh saja.”
Wanita itu terdiam. Air matanya mengalir pelan tanpa suara.
Rahmat duduk di samping ranjang, memegang tangan ibunya. Tangan yang dulu selalu mengelus kepalanya saat ia kecil.
Sistem berbunyi pelan di benaknya.
[Ding.]
[Pencapaian: Membayar Hutang Keluarga – Tahap 1]
[Stabilitas Mental +1]
[Misi rahasia terselesaikan ; Membayar tagihan ibu]
-Hadiah uang rp 150 juta]
Rahmat terdiam, misi rahasia? Sejak kapan hal seperti itu bahkan ada. Layar belum juga hilang, masih muncul banyak hadiah menarik lainnya.
[Ding!]
[Fitur baru muncul ; Gacha item]
[Sekarang anda bisa melakukan gacha dan mendapatkan item yang bisa dijual dengan harga berkali-kali lipat dari harga beli]
[Sesuai namanya gacha anda punya peluang 50% entah untung atau rugi]
[Bisa paling maksimal 3 seminggu]
Gacha? Itu terdengar agak menarik, sekarang dia tidak perlu repot-repot cari item langka.
Kemampuan analisis nilai, sekarang gacha barang bukankah ini terlalu cheat?
[Ding.]
[Bonus Tambahan: Modal Investasi Khusus Rp200.000.000]
[Uang ini tidak dapat ditarik tunai.]
[Hanya dapat digunakan untuk transaksi finansial.]
[Jika dalam 7 hari tidak digunakan, dana hangus.]
Rahmat berdiri, itu dia! Dengan itu dia bisa beli saham yang ia lihat tempo hari. Sistem kembali berbunyi seolah tahu apa yang Rahmat pikirkan.
[Ding.]
[Analisis Makro Terdeteksi.]
[Perusahaan: PT Andalan Sentosa Finance]
[Status: Tekanan Internal Meningkat]
[Harga jual saham ; menurun sampai 50% dari sekarang]
[Indikasi: Audit Mendadak oleh OJK]
[Probabilitas Guncangan harga sebesar:86 % dalam 14 Hari]
Sekarang saham itu dipandang rendah oleh dunia bisnis karena dianggap tidak akan berkembang dan merugikan, tapi itu hanya untuk pikiran orang-orang bodoh saja yang tidak tahu nilai suatu barang.
Rahmat menyipitkan mata.
Ini bukan kebetulan.
Perusahaan yang membuat keluarganya hancur… sedang goyah, butuh bantuan dana sekarang…
Ia punya 200 juta khusus untuk membeli saham itu yang bahkan sekarang dijual seharga cuma 150 juta, ia masih punya kembalian.
Sudah lebih dari cukup untuk masuk ke permainan yang lebih besar.
Tangannya mengepal perlahan, ia dulu dipukul, direndahkan, ditendang bagaikan sampah, sekarang?
Lihat saa! Ia tidak ingin hanya membayar hutang. Ia ingin memahami sistem yang membuat orang seperti ibunya menderita.
Sistem berbunyi lagi—kali ini berbeda.
[Ding.]
[Misi Utama Jangka Menengah Terbuka.]
— Beli saham dan jual kembali saat harga naik
— Ungkap Manipulasi PT Andalan dalang dibalik kejatuhan perusahaan tersebut.
[Hadiah Akhir: ???]
Rahmat tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya… ia tidak lagi merasa seperti korban. Ia merasa seperti pemain.
Dan permainan ini… baru saja dimulai.
Malamnya Rahmat langsung merencanakan operasi, dia membuka ponsel membeli saham itu dengan harga murah karena tidak ada yang segera beli.
Ia dengan cepat mendapatkan pesan terima kasih dari perusahaan tersebut, tanpa menyadari kalau itu akan naik berkali-kali lipat dalam kurung waktu 14 hari.