Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Sampai di rumah tempat memproses kopi
Gian mengangkat cangkir itu perlahan, membiarkan uap hangatnya menyentuh wajah. Aroma kopi menyeruak ... tidak tajam, tidak pula pahit menusuk. Ada wangi cokelat dan sedikit manis yang tenang.
Gian menyesapnya pelan, matanya menyipit, lalu tersenyum. "Ini beda," gumamnya.
Guntur yang sejak tadi berdiri di samping meja hanya mengangguk, menunggu penilaian.
Gian memutar cangkirnya, menyesap lagi. Rasa pahitnya rapi, asamnya lembut, dan ada manis tipis yang tertinggal di lidah. After tastenya bersih, membuatnya ingin meneguk sekali lagi.
"Kopi ini punya cerita," kata Gian akhirnya.
"Bukan kopi yang berisik. Tenang, tapi berkarakter Om." Gian menoleh ke Guntur. "Aku mau bawa ini ke kota. Kita kemas dengan baik, aku kenalkan di coffee shopku. Orang-orang harus merasakan kopi dari tangan petani yang mengerti apa yang dia tanam."
Wajah Guntur mengembang, antara lega dan bangga.
Gian berdiri, mengulurkan tangan. "Setuju ya om, kita mulai kerja sama."
Guntur membalas uluran tangan Gian dan mengangguk senang. Diantara sisa uap kopi yang menghilang, sebuah bisnis dan kepercayaan resmi dimulai.
Tidak sia-sia aku menunggu beberapa hari disini.
"Aku ga nyangka om, dari iseng-iseng aku datang ke desa ini untuk menghilangkan penat, tapi malah menemukan kesepakatan bisnis yang sangat berpeluang."
"Om senang jika kamu senang Gian."
Hampir sore hari, mobil Gian sudah meninggalkan desa ... betapa sumringahnya Gian saat di dalam mobilnya ada banyak biji kopi yang siap untuk di pasarkan.
***
"Ayah kira kamu akan jadi orang desa Gian, om Guntur mengirimkan foto ketika kamu sedang berdekatan dengan seorang wanita cantik."
"Apaan sih ayah." Ucap Gian saat di goda oleh ayahnya ketika sampai di rumah.
Ibu Gian ikut menimbrung sambil tangannya sibuk menyiapkan lauk untuk makan malam di meja. "Siapa wanita itu Gian? kenalkan pada Ibu dan Ayah."
"Bukan siapa-siapa, dia hanya wanita desa biasa. Jika membahas dia terus aku tidak mau makan malam bersama." Ancam Gian.
Akbar dan Lulu saling melemparkan senyumannya, lalu berhenti membahas Nisa, wanita yang ada di foto dengan Gian.
...
Pagi harinya, Gian langsung bersemangat untuk mengirim biji kopi tersebut ke beberapa cabang coffee shopnya.
"Kamu sudah yakin akan rasanya?" Tanya Akbar.
"Yakin yah, Gian sudah mencobanya sendiri."
"Sisakan beberapa untuk ayah di rumah."
Gian mengangguk, lalu menyelesaikan sarapannya dengan cepat.
.
.
Di coffe shop.
"Makasih Ranti, sudah memposting Coffe shopku di akun media sosialmu." Ucap Gian saat temannya mengunjungi salah satu cabang dan membuatkan video iklan secara cuma-cuma.
"Aku suka kalau temanku sukses, apalagi rasa kopi disini enak dan nyaman." Ranti mengelus pundak Gian lembut.
"Aku mengambil biji kopinya langsung dari desa, jadi rasanya jauh lebih nikmat."
"Wah, effort sekali kamu ya. Oh ya ... Bagaimana kabar mantan pacarmu, apakah dia sudah benar menikah?"
"Oh kalau masalah itu aku tidak tahu." Sahut Gian sekenanya.
"Pasti keluarga mantan pacarmu menyesal, karena sudah memandang kamu sebelah mata beberapa tahun lalu."
Setelah lulus kuliah, Gian sempat berpacaran dengan seorang wanita bernama Arabela. Kisah cinta mereka kandas ketika Gian di paksa mundur, itu semua karena ada seorang pengusaha kaya yang akan menikahi Arabela secepatnya.
Posisi Gian saat itu belum mempunyai usaha sendiri, Gian masih menumpang pada usaha ayahnya ... Gian tidak ingin cepat menikah dengan dana yang bukan bersumber dari keringatnya sendiri.
Tapi 2 tahun berjalan, Coffe shop yang di kelola Gian sudah banyak berkembang ... Dan kondisi keuangan pribadi Gian sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Sudahlah Ranti, tidak ada gunanya kita membahas itu lagi."
"Maaf Gian."
"Tak apa." Ucapnya dengan wajah datar.
***
Pagi itu salah seorang Juragan di desa mendatangi kediaman Nisa saat Nisa akan bersiap untuk berangkat ke pabrik.
"Kang Emil bisa berikan kamu peternakan kambing dan juga kebun sayuran, asalkan kamu mau menikah dengan kang Emil ... Jangan munafik Nisa, kamu juga lelah kan bekerja sendirian?"
Lebih baik aku lelah berkerja sendirian daripada harus rela menjadi istri ketiga si tua bangka ini.
"Mohon maaf kang Emil, Nisa tidak berminat."
"Coba kamu fikirkan ulang, kamu hanya tinggal duduk bersantai menikmati semuanya, kang Emil tidak akan membiarkan kamu melakukan pekerjaan rumah tangga yang melelahkan. Kang Emil bisa pastikan ... Kamu akan menderita jika menikah dengan pemuda desa disini, yang sebagian besar mereka tidak bisa memberikan kebahagiaan materi pada istrinya."
"Lebih baik seperti itu dari pada harus melayani dan melihat wajah tua bangkamu di setiap hari." Gumam Nisa dengan suara yang hampir tidak terdengar, apalagi pria tua yang ada di hadapannya ini kualitas pendengarannya sudah menurun.
"Apa kamu bilang Nisa, kencangkan suaramu."
"Nisa bilang, maaf kang Emil ... Nisa tidak berminat."
Kang Emil langsung memandang tajam Nisa, dan menunjuk wanita itu dengan tongkat yang selalu dia bwa kemanapun. "Kang Emil pastikan, kamu akan menyesal."
Ketika kang Emil keluar dari pekarangan Nisa, Pak Guntur baru saja memasuki pekarangan, kedua pria itu berpapasan.
"Juragan Emil? Apa perlu apa kemari?" Tanya Guntur penasaran.
"Sudah menawarkan penawaran terbaik, menjadi istri ketiga saya ... Tapi Nisa sombong! Dia menolak saya mentah-mentah."
Guntur langsung menahan senyumnya, khawatir Kang Emil marah padanya. "Kalau begitu nanti di coba kembali Juragan." Ucapnya.
Tanpa merespon apapun lagi, Emil langsung masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan rumah Nisa.
Baru saja Nisa akan mengunci rumahnya karena akan bekerja, tapi suara sapaan Guntur menghentikannya.
"Selamat pagi Nisa."
"Eh iya Bapak." Kata Nisa dengan sopan.
"Sore nanti sepulang bekerja kamu bisa ke rumah bapak? Bantu Bu Lastri menyiapkan syukuran kecil-kecilan untuk hasil panen biji kopi bapak yang ketiga."
Nisa langsung terbayang dengan wajah menyebalkan Gian.
"Ng ... Malam ini ya? ... Ng .... "
"Gian sudah pulang ke kota." Ucap Guntur.
"Benarkah? Baik bapak ... Nisa bersedia." Ucapnya semangat.
***
Satu bulan berlalu.
Gian kembali ke desa, kali ini dia membawa ayah ibunya dan juga beberapa makanan khas kota untuk di cicipi guntur, itu semua karena omzet bisnis kopi keluarga Gian yang makin naik setelah kehadiran biji kopi dari kebun Guntur ... Sekalian mereka ingin mengucapkan terimakasih secara langsung.
"Bertahun tahun kalian tidak pernah datang kemari, Akbar ... Lulu." Kata Guntur saat menyambut kedatangan keluarga Gian di halaman rumahnya.
"Maaf Kak Guntur, Aku sangat sibuk sekali ... Baru akhir-akhir ini terasa lenggang, karena Gian sudah mahir berbisnis. Terimakasih untuk peluang yang di berikan untuk kami Kak ... Itu sangat memberikan perubahan yang signifikan." Ucap Akbar.
"Sebagai seorang Kakak, hanya ini yang bisa aku berikan ... Itupun aku tidak memberi gratis." Kata Guntur sambil tertawa kecil.
"Bisnis is bisnis kak, tidak ada yang namanya gratisan." Sahut Akbar.
Mereka tertawa bersama di balai kecil halaman belakang rumah Guntur, dengan ditemani pohon tua berdaun rimbun yang memberikan kesegaran khas angin sore.
"Ada bengkel di sekitar sini Om? Ban mobilku tidak nyaman."
"Ada, di dekat pertigaan kampung ... semoga saja mereka bisa menangani mobilmu, karena mereka biasa menangani keluhan mobil tua disini."