NovelToon NovelToon
Murim'S Engineer

Murim'S Engineer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Dua Pilihan

Surat itu terasa berat di tanganku.

Gong Hyerin merebutnya dari tanganku, membaca cepat. Wajahnya berubah pucat. Lalu merah. Lalu pucat lagi.

"Dia... dia tidak bisa melakukan ini!"

"Bisa." Aku duduk di beranda, merasakan kelelahan yang dalam. "Dia Patriark. Dia bisa melakukan apa saja."

"Tapi aku anaknya! Dia tidak mungkin..."

"Dia mungkin." Aku menatapnya. "Kau kabur dari perjodohan. Kau mempermalukannya di depan klan lain. Dan sekarang kau tinggal di desa kecil bersama pria asing yang dianggap ancaman." Aku menghela napas. "Dari sudut pandangnya, kau sudah melampaui batas."

Gong Hyerin diam. Tangannya gemetar.

"Aku tidak akan kembali."

"Kau harus."

"TIDAK!"

Teriakannya menggema di seluruh desa. Beberapa orang menoleh, lalu cepat-cepat pura-pura sibuk.

Aku berdiri, meraih kedua bahunya.

"Dengar. Aku tidak mau kau pergi. Tapi kalau kau tetap di sini, Klan Gong akan datang. Bukan hanya mengirim surat—mereka akan datang dengan pasukan. Dan kita tidak bisa melawan Klan Gong."

"Aku bisa bicara pada ayahku..."

"Kau pikir dia akan dengar? Setelah kau kabur? Setelah kau mempermalukannya?" Aku menggenggam bahunya lebih erat. "Hyerin-ah, ini bukan tentang kita. Ini tentang desa ini. Tentang orang-orang ini. Mereka baru saja kehilangan lima orang. Kalau Klan Gong datang, mereka semua bisa mati."

Air mata mengalir di pipinya.

"Jadi... jadi kau menyuruhku pergi?"

Aku tidak menjawab.

"JAWAB!"

Aku menariknya ke dalam pelukanku.

"Aku tidak menyuruhmu pergi," bisikku. "Aku hanya... aku tidak mau melihat orang yang kucintai mati di depanku lagi."

Dia terisak di dadaku.

---

Malam itu, kami duduk di bukit kecil di belakang desa.

Dari sini, kami bisa melihat seluruh desa—lampu-lampu minyak yang berkelap-kelip, asap tipis dari tungku, bayang-bayang orang yang lalu lalang. Hidup. Damai. Sementara.

"Oppa," suara Hyerin lirih. "Kau bilang... orang yang kau cintai?"

Aku diam. Jujur, aku sendiri tidak sadar mengucapkan itu.

"Apa maksudmu?"

Aku menatapnya. Wajahnya basah air mata, tapi matanya menatapku dengan intens.

"Aku... aku tidak tahu. Aku dari dunia lain. Aku tidak terbiasa dengan... perasaan seperti ini."

"Dunia lain?"

Aku sudah bilang setengah jujur padanya sebelumnya. Tapi sekarang, mungkin saatnya lebih terbuka.

"Aku bukan Jin Tae-kyung. Bukan yang dulu. Aku orang lain yang terlahir di tubuhnya. Dari dunia di mana tidak ada Qi, tidak ada pedang terbang, tidak ada Murim. Hanya mesin dan ilmu pengetahuan."

Dia tidak terkejut. Mungkin sudah menduga.

"Di dunia itu, aku sendiri. Tidak punya keluarga. Tidak punya teman. Hanya kerja dan kerja sampai mati." Aku menjeda. "Tapi di sini... untuk pertama kalinya, aku punya sesuatu. Hyun Moo yang setia. Orang-orang yang percaya padaku. Dan kau."

"Aku?"

"Kau datang tanpa diminta. Kau tinggal saat yang lain pergi. Kau bertarung di sisiku. Kau... membuatku merasa tidak sendiri."

Dia tersenyum tipis. Senyum yang getir.

"Oppa... kalau begitu, kenapa kau suruh aku pergi?"

"Karena aku lebih takut kehilanganmu daripada kehilangan desa ini."

Dia menatapku lama. Lalu tiba-tiba, dia tertawa.

"Kau bodoh, Oppa."

"Apa?"

"Kau bilang takut kehilangan aku. Tapi kalau aku pergi, kau sudah kehilangan aku." Dia meraih tanganku. "Dan kalau aku pergi, aku akan kehilangan kau. Mana yang lebih sakit?"

Aku tidak bisa menjawab.

"Jadi dengarkan." Suaranya berubah tegas. "Aku tidak akan pergi. Tapi aku juga tidak akan membiarkan desa ini hancur. Kita cari jalan tengah."

"Jalan tengah?"

"Aku akan kirim surat pada paman. Gong Jinsung. Dia mungkin bisa bicara pada ayahku."

---

Surat dikirim keesokan harinya.

Kami menunggu dengan cemas. Tiga hari. Lima hari. Seminggu.

Tidak ada balasan.

Sementara itu, desa terus bekerja. Produksi mesiu berjalan. Latihan pertahanan berlanjut. Luka-luka mulai sembuh.

Tapi bayangan Klan Gong selalu di depan mata.

---

Hari kedelapan, Gong Jinsung datang.

Sendirian. Dengan kuda hitam yang sama seperti pertama kali kami bertemu.

Aku menyambutnya di gerbang. Wajahnya serius, tidak seperti biasanya.

"Di mana Hyerin?"

"Di dalam. Aku panggil."

"Tunggu." Dia turun dari kuda. "Biar aku yang temui dia. Tapi sebelumnya, kita bicara."

Kami duduk di beranda. Dia menolak teh yang kutawarkan.

"Situasinya buruk," katanya langsung. "Patriark marah besar. Bukan hanya karena Hyerin kabur, tapi karena desamu."

"Desaku?"

"Dia dengar tentang senjatamu. Tentang bagaimana tiga klan dikalahkan. Tentang bagaimana kau memecah belah aliansi mereka." Dia menatapku tajam. "Dia mulai melihatmu sebagai ancaman."

Aku diam.

"Aku sudah coba bicara baik-baik. Tapi para tetua mendesaknya untuk bertindak. Mereka takut kalau kau terus berkembang, suatu hari kau bisa menyaingi Klan Gong."

"Omong kosong. Aku hanya ingin bertahan hidup."

"Mereka tidak peduli. Bagimu, ini bertahan hidup. Bagi mereka, ini ancaman eksistensial."

---

Gong Hyerin keluar. Saat melihat pamannya, dia berlari memeluknya.

"Paman!"

Gong Jinsung memeluknya erat. Wajahnya yang serius luluh sejenak.

"Nak, kau membuat repot semua orang."

"Maafkan aku. Tapi aku tidak bisa..."

"Aku tahu. Aku tahu." Dia melepaskan pelukan, menatapnya. "Tapi kau harus pulang."

Hyerin mundur selangkah. "TIDAK!"

"Dengar dulu." Gong Jinsung menghela napas. "Patriark memberiku mandat. Bawa pulang Hyerin, atau... hancurkan desa ini."

Dunia serasa berhenti.

Aku berdiri. "Apa?"

"Itu bukan ancaman kosong. Pasukan sudah siap di perbatasan. Dua ratus pendekar level menengah. Aku sengaja datang duluan untuk memberi kesempatan terakhir."

Hyerin pucat. "Paman... kau tidak mungkin..."

"Aku tidak punya pilihan, Nak. Ini perintah Patriark."

---

Sore itu menjadi yang terberat.

Hyerin mengurung diri di kamarnya. Gong Jinsung duduk di beranda, diam memandangi langit. Aku berjalan keliling desa, memeriksa persiapan, berbicara dengan orang-orang.

Semua sudah tahu. Berita menyebar cepat.

Baek Dongsu mendekatiku.

"Tuan, apa yang akan kita lakukan?"

Aku diam.

"Kalau mereka datang, kita lawan. Kita sudah pernah lawan tiga klan."

"Mereka bukan tiga klan. Mereka Klan Gong. Dua ratus pendekar level menengah. Satu level menengah bisa mengalahkan sepuluh pendekar biasa."

Baek Dongsu terdiam.

"Tapi kita punya mesiu..."

"Mesiu kita tinggal sedikit. Bom tinggal belasan. Melawan dua ratus? Kita bisa bunuh lima puluh, mungkin seratus kalau beruntung. Sisanya akan habisi kita."

"Lalu... kita menyerah?"

Aku menatapnya. "Apakah kau mau menyerah?"

Dia menggeleng tegas.

"Aku juga tidak. Tapi aku harus pikirkan cara. Bukan hanya bertarung mati-matian."

---

Malam harinya, aku memanggil Gong Jinsung ke ruang kerjaku—sebuah bilik kecil di belakang rumah yang kupakai untuk merancang senjata.

"Ada yang bisa kau lakukan?" tanyaku langsung.

Dia menghela napas. "Sudah kulakukan semua yang bisa. Bicar dengan Patriark, lobi para tetua, bahkan ancam mundur. Tidak ada yang berhasil."

"Kenapa mereka begitu takut padaku?"

"Bukan takut padamu. Tapi takut pada perubahan. Kau bawa hal baru. Hal baru selalu berbahaya bagi yang sudah mapan." Dia menatapku. "Maaf. Ini salahku juga. Aku yang perkenalkan kau pada mereka."

"Kau tidak perlu minta maaf. Tanpamu, aku sudah mati di tangan Hojun."

Kami diam sejenak.

"Ada satu cara," katanya pelan.

"Cara apa?"

"Kau menikah dengan Hyerin."

Aku terkesiap. "APA?"

Dia tersenyum tipis—pertama kalinya hari itu. "Kau pikir aku bercanda? Ini serius. Kalau kau menikah dengan Hyerin, kau jadi bagian dari keluarga. Patriark tidak bisa menyerang menantunya sendiri."

"Tapi... tapi itu..."

"Itu satu-satunya cara menghindari perang." Dia menatapku serius. "Tapi ada syaratnya."

"Syarat?"

"Kau harus pindah ke markas Klan Gong. Tinggal di sana. Desamu boleh tetap ada, tapi kau jadi 'penasihat' resmi Klan Gong. Bukan sebagai tahanan, tapi sebagai keluarga."

Aku diam, mencerna.

Itu berarti meninggalkan desa ini. Meninggalkan orang-orang yang sudah percaya padaku. Tapi juga berarti menyelamatkan mereka.

"Dan Hyerin? Apa dia setuju?"

"Itu yang harus kau tanyakan padanya."

---

Aku menemukan Hyerin di bukit belakang.

Dia duduk sendirian, memandangi desa di bawah. Di sampingnya, setangkai bunga liar yang dipetiknya entah kapan.

Aku duduk di sampingnya.

"Hyerin-ah."

"Iya, Oppa?"

"Pamanmu bilang... ada satu cara."

Dia menoleh. "Cara apa?"

Aku menceritakannya. Perlahan, hati-hati, menjelaskan setiap detail.

Dia diam sangat lama.

Lalu dia tertawa. Tawa kecil, hampir tidak terdengar.

"Oppa, kau mau menikah denganku?"

"Aku... aku tidak tahu. Aku belum pernah..."

"Aku juga belum pernah." Dia menatapku. "Tapi kalau denganmu... aku mau."

Jantungku berhenti berdetak.

"Tapi Oppa, kau harus tinggalkan desa ini. Orang-orangmu."

Aku menghela napas. "Aku tahu."

"Kau rela?"

"Relakah? Tidak. Tapi ini satu-satunya cara."

Dia meraih tanganku.

"Kalau begitu, kita lakukan. Bersama."

---

Pagi harinya, kami sampaikan keputusan pada Gong Jinsung.

Dia mengangguk lega. "Keputusan bijak. Aku akan atur semuanya."

Tapi Baek Dongsu dan penduduk desa lain tidak setuju.

"Tuan, jangan tinggalkan kami!" teriak seorang pria.

"Kami butuh Tuan di sini!"

"Tuan, kami rela mati bersama!"

Aku mengangkat tangan, menenangkan mereka.

"Dengar. Ini bukan tentang aku. Ini tentang kalian. Kalau aku pergi, kalian selamat. Kalau aku tinggal, kalian mati." Aku menatap mereka satu per satu. "Aku tidak akan biarkan itu terjadi."

"Tapi Tuan..."

"Aku akan tetap mengirim kabar. Aku akan tetap mengirim bantuan. Dan suatu hari, kalau sudah aman, aku akan kembali." Aku menjeda. "Ini bukan perpisahan. Ini hanya... sampai jumpa."

---

Tiga hari kemudian, aku pergi.

Bersama Gong Hyerin dan Gong Jinsung, menunggang kuda meninggalkan desa yang kubangun dari nol.

Di belakang, semua penduduk berkumpul. Beberapa menangis. Beberapa melambai. Anak-anak berlari mengejar sampai batas desa.

Aku tidak menoleh. Tidak berani.

Di sampingku, Hyerin meraih tanganku.

"Oppa, kau tidak menyesal?"

Aku diam sejenak. Lalu menjawab.

"Menyesal? Tidak. Tapi sedih? Iya."

Dia menggenggam tanganku lebih erat.

"Nanti kita kembali. Janji."

Aku mengangguk.

Di depan, gerbang Klan Gong menanti.

Dan di belakang, desa kecil itu perlahan menghilang di balik pepohonan.

---

[Bersambung ke Bab 15]

1
SR07
lanjut bro
Q. Zlatan Ibrahim: terima kasih...masih harus banyak belajar
total 5 replies
Mika Dion
mantap Thor isi babnya panjang lain dari yg lain
Q. Zlatan Ibrahim: siap om mika
total 2 replies
Mika Dion
masih sepi...mungkin Krn masih baru y
Mika Dion
mampir thor
Nona Dalla
ini yang aku tunggu" sejak tadii 😄🤣
Kang Nyimak
semangat teruss
Kang Nyimak
SENI ADALAH LEDAKAN
Q. Zlatan Ibrahim: mencoba memadukan sains ditengah dunia bela diri
total 2 replies
Kang Nyimak
sebagus ini sepi?, serius?
Q. Zlatan Ibrahim: mkasih bang..masih belajar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!