NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Tuan Ammar

Istri Kontrak Tuan Ammar

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Nikah Kontrak
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: hermawati

Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.

Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?

Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Sementara di sisi lain.

Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.


Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Kembali

Nina berusaha mati-matian menahan rasa gugupnya di depan dua buah hatinya. Dia tak ingin si kembar tau, dari mana sumber keuangan mereka yang mapan ini.

Suami kontraknya duduk tepat di meja belakangnya. Kali ini, Ammar tidak bersama asistennya. Ada dua orang laki-laki berpakaian formal yang sedang bersamanya. Nina baru melihat mereka.

Nina juga sama sekali tidak bisa fokus mendengarkan cerita putrinya, soal cooking class yang di selenggarakan oleh musrifah pondok untuk acara buka puasa terakhir sebelum per-pulangan. Senyumnya terasa kaku.

" ... Jadi tuh gitu, Bu! Aku udah bisa bikin cendol. Besok lebaran pertama kita bikin ya!" Anin menatap ibunya penuh harap.

"Jangan mau, Bu! Ngrepotin ibu aja kamu, Nin!" potong Aby.

"Nggak ..." Sahut Nina cepat.

"Yah ..." Anin menunduk kecewa.

Tersadar akan wajah murung putrinya, Nina buru-buru meralat. "Maksud ibu, Nggak repot kok."

Ini semua terjadi gara-gara Nina mendengar ucapan Ammar, soal dirinya yang merindukan istrinya.

Anin kembali mengoceh tentang bahan apa saja yang harus dibeli, sambil terus memakan desert yang mereka pesan.

Sementara telinga Nina, justru mendengar pembicaraan antara tiga lelaki di belakangnya.

Tiba saat membayar, Nina dan dua anaknya terkejut karena makanan yang mereka pesan ternyata sudah dibayarkan oleh salah satu pengunjung di sana. Siapa lagi kalau bukan Ammar.

Sebagai anak yang selalu diajarkan rasa terima kasih, Aby dan Anin menghampiri meja di belakang ibu mereka.

"Terima kasih, Pak! Karena sudah mentraktir kami." Aby dan Anin berucap hampir bersamaan. Tak lupa menyelipkan doa kebaikan untuk lelaki asal Timur Tengah itu.

Lalu Nina?

Tentu saja masih berada di tempatnya. Dia tak berani menatap suami kontraknya. Hingga Anin menegurnya dan bertanya kenapa sang ibu tidak berterima kasih pada orang dermawan yang sudah mentraktir mereka.

Dengan terpaksa, Nina bangkit dan menghampiri tiga lelaki di belakangnya. "Terima kasih atas traktirannya, Pak!" Nina menunduk dan tak berani menatap wajah Ammar.

Alex yang memang sudah beberapa waktu ini diminta mencari keberadaan istri kontrak Ammar. Langsung menatap dengan tatapan bertanya. Alisnya terangkat sebelah.

"Terima kasih saja tidak cukup, Nyonya! Aku bukan orang yang dermawan." Ammar nyaris berbisik, tapi dia yakin Nina mendengarkannya.

Nina yang semula menunduk, kini mendongak menatap balik suaminya. Dia merasa keberatan dengan ucapan pria itu. Namun teringat kedua anaknya, dan tak ingin mereka curiga. Nina lebih memilih tak menanggapi ucapan Ammar. Tapi sayangnya, pria itu justru memegang pergelangan tangannya ketika dirinya hendak kembali ke tempatnya.

Mata cokelat itu mendelik, dan tangannya yang bebas berusaha melepaskan. Sialnya Ammar memegangnya begitu kuat, mungkin nanti akan meninggalkan bekas.

Aby yang menyadari hal itu, langsung bangkit dan menghampiri ibunya. "Lepaskan ibu saya, pak! Bukan mahrom." Remaja itu memperingatkan.

Tak ingin menimbulkan keributan, Nina meminta putranya agar kembali duduk dan mengajak Ammar untuk berbicara.

Lalu di sinilah sepasang suami-istri kontrak itu berada sekarang. Di tangga darurat mall yang jarang dilalui pengunjung.

Bukan Nina yang mengajak tentunya, tapi Ammar yang menyeretnya ke tempat ini. Entah tau dari mana pria itu, tentang tempat sepi di pusat perbelanjaan ramai ini.

"Kamu tinggal dimana? Kenapa kamu tidak tinggal di tempat yang aku sediakan?" Banyak tanya yang ingin Ammar sampaikan, tapi biarlah dua pertanyaan itu yang membuka pembicaraan keduanya.

Walau takut, Nina berusaha untuk tetap tenang. "Anda tidak perlu tau, Tuan!" sahutnya.

"Aku berhak tau, aku suami kamu." Ammar berkacak pinggang, dia jelas tidak terima. Perempuan yang sudah berhasil mengusiknya, menghilang semau sendiri.

"Suami kontrak. Anda hanya butuh calon pewaris, bukan? Jadi anda cukup menyumbang benih saja. Sisanya biar saya jalani hidup semaunya." Nina buru-buru meralat dan menampar Ammar dengan sebuah kenyataan.

Skakmat!

Tapi ego Ammar sebagai laki-laki jelas tidak terima. Harga dirinya terluka. "Apa kamu lupa dengan poin-poin dalam kontrak?"

"Iya, tapi sebelum saya mengetahui anda sudah beristri." Ini bukan karena Nina cemburu. "Saya tidak mau dicap sebagai perusak rumah tangga orang lain." Tambahnya.

Ammar menggeleng tak setuju, walau hati kecilnya mengiyakan. Nina memang sudah berhasil merusaknya. Dalam arti, hati Ammar kini bukan sepenuhnya milik Leticia. Ammar sudah membagi hatinya. Tapi tak mungkin dia mengakuinya sekarang. "Agama kita memperbolehkan untuk laki-laki memiliki istri lebih dari satu, jadi apa masalahnya? Seperti yang kamu bilang, kita hanya menikah kontrak." Dia berkilah.

"Maaf tuan! Saya tidak mau berhubungan dengan lelaki beristri. Karena saya tau, sakitnya dikhianati." Nina meremas gamis dibalik jilbabnya yang menjuntai panjang hingga atas lutut.

"Kita hanya kontrak, Nina!" ucapannya sungguh bertolak belakang dengan nurani Ammar.

"Maka dari itu, karena kontrak sebisa mungkin. Kita tidak usah banyak berinteraksi." Nina tidak mau kalah.

"Tidak bisa ..." Ammar tidak terima. Sudah banyak yang dia korbankan demi bisa bersama lagi dengan perempuan ini. Perjalanan bisnis di luar sana yang sengaja dia percepat demi bisa kembali mencari istri kontraknya. Untuk pertama kalinya, Ammar lebih banyak menghabiskan waktunya di negara ini. "Memangnya kamu sudah hamil? Sehingga kita harus menjaga jarak?"

Apa harus Nina beritahu sekarang?

Tapi demi bisa menghindari interaksi dengan suami orang, sepertinya kali ini. Nina harus mengakuinya.

Nina menarik napasnya dan mengembuskan-nya perlahan. Dia menguatkan diri sekali lagi. Nina menyingkap jilbab besarnya guna memperlihatkan perutnya yang membuncit, walau tidak terlalu terlihat karena gamisnya cukup longgar. "Iya saya sudah hamil anak anda, Tuan!" akuinya. "Jadi mulai sekarang, jaga jarak anda hingga saya melahirkan."

Mata hitam Ammar menatap perut Nina. Dia tak percaya. Bagaimana bisa, hanya sehari mereka berhubungan suami-istri langsung jadi janin?

Ammar menggeleng, "tidak mungkin." sanggahnya.

"Apanya yang tidak mungkin? Saya hanya berhubungan intim dengan anda, Tuan!" Nina tak habis pikir. "Anda meragukan saya, Tuan?"

"Jelas aku ragu, bagaimana bisa langsung jadi janin?" Awal pernikahannya dengan Leti, Ammar tidak pernah memakai pengaman. Tapi hingga satu tahun, istrinya itu tak kunjung hamil. Hingga setelahnya, Leti meminta izin padanya untuk memasang kontrasepsi. Ada beberapa brand yang menjadikan Leti sebagai model dan memintanya untuk menunda kehamilan.

Nina benar-benar tak habis pikir dengan suaminya. Bagaimana bisa meragukannya. Apa Ammar menganggapnya janda gatal?

"Terserah anda tuan, kalau tidak percaya." Pada akhirnya Nina hanya bisa pasrah. "Anda bisa menjatuhkan talak pada saya saat ini juga. Lalu saya akan mengembalikan uang yang sudah anda berikan pada saya." Kalau ini, Nina asal bicara. Tentu mustahil, Nina mengembalikan semua uang dari Ammar. Jumlahnya cukup besar.

Lalu, walau Damian memberikan uang bulanan padanya. Mereka sepakat untuk mengganti dari uang yang Ammar berikan. Jadi secara tidak langsung, Nina tetap menggunakan uang dari suaminya untuk keperluan sehari-hari, juga biaya sekolah anak-anaknya.

"Aku tidak pernah mengambil uang yang sudah aku keluarkan untuk istriku." Ammar tak terima. Dia berpikir sejenak, bagaimana caranya agar tetap bersama perempuan yang sudah mengusik hatinya dan membuatnya tidak setia pada Leti. "Kita akan tetap bersama, Nina! Dan jangan bermimpi untuk aku ceraikan." Dia mengatakannya dengan tegas.

Kedua suami istri itu saling berhadapan. Ammar maju satu langkah dan memeluk Nina. "Akan aku tunggu hingga anak-anak mu kembali bersekolah. Setelah itu, aku tunggu kamu di rumah ku." Bisiknya. "Jangan bersembunyi lagi, karena kali ini aku tidak akan membiarkan kamu." Dia memperingatkan.

1
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
siapa ya? apakah ammar atau ibu tuti? lanjut kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
up lg kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
jangan jatuh cinta ya nina, karena jatuh cinta sendirian itu sakit...
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
mudah mudahan nina hamil
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
cerita nya bagus, update nya jangan lama2 kak🙏
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀: aamiin,, cepat sembuh kak🤲🏼
total 2 replies
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
nina apa sofia kak
Mareeta: maaf banget ya, aku typo Mulu.
agak nggak konsentrasi. ngerjainnya kadang malam dan nggak sempat edit.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!