NovelToon NovelToon
Time Travel Fotografer Tengil

Time Travel Fotografer Tengil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: ANWi

Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.

Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.

Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.

"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25 : Sup Gingseng

Jangan lupa untuk like dulu sebelum baca😘

.

​Matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, menyisakan semburat jingga yang masuk melalui celah-celah jendela kayu Paviliun Cendana.

Qinqin berdiri di depan pintu kamar suaminya, memeluk sebuah bantal sutra empuk dan guling kesayangannya. Di belakangnya, seorang pelayan meletakkan nampan berisi sup ginseng yang masih mengepul panas, persembahan khusus dari ayahnya yang terlalu bersemangat.

​Qinqin menarik napas dalam-dalam, lalu menendang pintu itu pelan dengan ujung sepatunya. ​BRAK

​Pintu terbuka. Di dalam, Wu Lian sedang duduk di meja rendah, hanya mengenakan jubah tidur tipis berwarna putih tulang yang terbuka sedikit di bagian dada, memperlihatkan garis ototnya yang keras.

Ia sedang membersihkan belati peraknya dengan sepotong kain sutra. Begitu melihat Qinqin masuk dengan perlengkapan tidur lengkap, tangan Wu Lian berhenti bergerak.

​"Apa yang kau lakukan?" suara Wu Lian berat, mengandung nada peringatan.

​Qinqin tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melenggang masuk dengan gaya anggun yang dibuat-buat, meletakkan bantalnya tepat di samping bantal Wu Lian di atas ranjang besar itu. Ia kemudian berbalik, mengambil nampan sup ginseng dari pelayan, lalu menutup pintu dengan tumit kakinya.

​"Atap kamarku sedang dibongkar oleh pasukan tukang kayu Ayah," ujar Qinqin santai sembari meletakkan dua mangkuk sup di meja. "Dan karena aku bukan tamu yang pantas diasingkan ke paviliun belakang, maka di sinilah aku. Menyapa teman sekamarku."

​Wu Lian berdiri, sosoknya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan yang menyelimuti Qinqin. "Kau bisa tidur di kursi malas itu."

​Qinqin menatap kursi kayu panjang di sudut ruangan, lalu kembali menatap ranjang yang luas. Ia tertawa kecil, suara tawa yang sengaja dibuat merdu untuk menguji syaraf sang Jenderal. "Jenderal yang terhormat, apa kau tega membiarkan istrimu yang baru saja berjuang nyawa di gunung tidur di kursi keras itu? Bagaimana kalau pinggangku encok? Ayah pasti akan sangat sedih melihat putrinya berjalan miring besok pagi."

​Wu Lian mengepalkan tangan di balik jubahnya. Ia tahu Qinqin sedang memojokkannya dengan nama ayahnya. "Hanya satu malam. Dan jangan melewati garis tengah ranjang."

​"Kesepakatan tercapai!" Qinqin menjentikkan jarinya. Ia kemudian mendorong salah satu mangkuk sup ginseng ke hadapan Wu Lian. "Nah, sekarang minum ini. Ayah bilang ini resep rahasia leluhur keluarga Xu. Katanya, kalau tidak dihabiskan, khasiatnya akan berubah jadi kutukan."

​Wu Lian memandangi cairan kuning kecokelatan itu dengan curiga. "Aku tidak butuh tambahan tenaga. Aku sudah cukup kuat."

​"Oh, benarkah?" Qinqin mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Wu Lian. Ia bisa mencium aroma sabun herbal dan maskulinitas yang kuat dari pria itu. "Atau kau takut? Takut kalau sup ini membuatmu kehilangan kendali atas prinsip kaku yang selama ini kau banggakan?"

​Mata Wu Lian berkilat. Tantangan Qinqin selalu berhasil menyulut harga dirinya. Tanpa bicara lagi, ia menyambar mangkuk itu dan meminumnya dalam sekali teguk. Qinqin menyeringai puas dan menghabiskan bagiannya sendiri.

​Efeknya tidak instan, tapi dalam hitungan menit, suhu di dalam kamar itu terasa meningkat. Hawa panas mulai menjalar dari perut menuju dada. Wu Lian mencoba kembali fokus pada belatinya, tapi sudut matanya terus menangkap gerakan Qinqin yang kini sedang melepas jubah luarnya, menyisakan pakaian dalam sutra yang tipis.

​"Xu Qinqin, pakai baju yang benar," tegur Wu Lian dengan suara yang sedikit serak.

​"Ini sudah benar. Memangnya kau mau aku tidur pakai zirah perang?" sahut Qinqin sambil merangkak naik ke ranjang. Ia meregangkan tubuhnya seperti kucing, menatap Wu Lian dengan tatapan yang penuh binar main-main. "Kemarilah, Menantu Wu. Kasur ini terlalu dingin kalau hanya aku yang menempatinya."

​Wu Lian memadamkan lampu minyak, menyisakan cahaya rembulan yang masuk dari jendela. Ia merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang paling pinggir, membelakangi Qinqin. Seluruh ototnya menegang. Ia bisa merasakan pergerakan kasur saat Qinqin ikut berbaring di sampingnya.

​Keheningan malam itu terasa sangat menyesakkan. Suara napas mereka saling beradu. Tiba-tiba, Wu Lian merasakan sebuah tangan kecil merayap di punggungnya, menusuk-nusuk bahunya dengan ujung telunjuk.

​"Jenderal... kau sudah tidur?" bisik Qinqin tepat di tengkuknya.

​"Tidur," jawab Wu Lian singkat dan tegas.

​"Bohong. Napasmu pendek-pendek seperti orang habis lari maraton," goda Qinqin lagi. Ia kini bergeser lebih dekat, hingga Wu Lian bisa merasakan kehangatan tubuh wanita itu menempel di punggungnya. "Sup ginsengnya mulai bekerja, ya? Dadaku terasa hangat sekali."

​Wu Lian berbalik dengan cepat, bermaksud untuk menggertak Qinqin agar diam, tapi ia justru melakukan kesalahan fatal. Saat ia berbalik, wajah mereka kini benar-benar berdekatan. Hidung mereka hampir bersentuhan. Dalam keremangan, mata emas Qinqin tampak berkilau, memantulkan cahaya bulan dengan penuh keberanian.

​"Kenapa diam?" tantang Qinqin pelan. Tangannya kini berani menyentuh rahang tegas Wu Lian. "Apa kau masih mau bilang kalau aku ini hanya bidak catur?"

​Tangan Wu Lian bergerak secara naluriah, menangkap pergelangan tangan Qinqin. Genggamannya kuat, tapi tidak menyakiti. "Kau adalah wanita yang paling menjengkelkan yang pernah kutemui dalam seluruh kampanye militerku."

​"Tapi kau menyukainya, kan?" Qinqin tidak mundur sedikit pun. "Kau suka bagaimana aku mengacaukan harimu. Kau suka bagaimana aku tidak takut padamu."

​Wu Lian tidak menjawab. Ia justru menatap bibir Qinqin yang sedikit terbuka. Di bawah pengaruh sup ginseng dan aroma melati yang memabukkan, pertahanan Jenderal yang dikenal sedingin es itu mulai retak. Ia mendekatkan wajahnya, seolah hendak melenyapkan jarak yang tersisa.

​Namun, tepat saat suasana memuncak, Qinqin justru menarik tangannya dan membalikkan badan, membelakangi Wu Lian sambil menarik selimut sampai ke telinga.

​"Selamat malam, Menantu Wu. Jangan lupa, jangan lewat garis tengah," ucap Qinqin dengan nada suara yang menahan tawa kemenangan.

​Wu Lian tertegun di tempatnya, tangannya masih menggantung di udara. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya yang rasanya ingin meledak. Ia baru saja dikerjai habis-habisan oleh istrinya sendiri.

​"Xu Qinqin, suatu saat nanti, aku akan membalasmu," gumam Wu Lian dengan suara rendah yang terdengar seperti janji sekaligus ancaman.

​Di balik selimut, Qinqin tersenyum lebar.

​Malam itu, meski tidur dalam satu ranjang tanpa melakukan apa pun, keduanya tidak ada yang benar-benar tertidur. Baru setelah subuh tiba, mereka bisa memejamkan mata.

***

Keesokan paginya, matahari baru saja mengintip saat sebuah teriakan panik terdengar dari arah luar paviliun.

​"Jenderal! Nona Muda! Celaka! Penjara bawah tanah diserang!"

​Wu Lian langsung melompat bangun dengan sigap. Qinqin yang masih setengah mengantuk pun ikut terduduk.

Suasana tenang di Paviliun Cendana pecah seketika. Wu Lian sudah berdiri di samping ranjang dengan kecepatan yang hampir tidak masuk akal bagi manusia biasa. Ia langsung menyambar jubah hitamnya dan mengikatkan ikat pinggang kulit dengan kencang.

​"Tetap di sini, jangan keluar!" perintah Wu Lian tegas sambil meraih pedang besarnya yang tersandar di dinding.

​Qinqin, yang tadinya masih mengucek mata, mendadak sadar sepenuhnya. Ia melompat dari ranjang, mengabaikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Enak saja! Itu urusan keluargaku, mana mungkin aku cuma duduk diam menonton!"

***

Happy Reading ❤️

Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️

1
Ai
bagus Qinqin aku suka kecerdasan yg dibalut kelicikan.. pintar itu namanya 🤣
Ai
ayo Qinqin belanja yg banyak kuras hbs uang suamimu🤣
Ai
jenderal dingin akhirnya mencair juga🤣
Mineaa
waaahhh......mertua dajal.....
semoga tuh rencana mertua gagal total.....
😡
ANWi: amin...
total 1 replies
sahabat pena
di apapun tuh mak nya?
ANWi: diapain yaa...
total 1 replies
sasa adzka
di kasih pedang ya thor, biar si ibu mingkem itu mulut🤣🤣🤣🤣
aku menunggu kelanjutan nya thor😍😍
ANWi: pengen nya sih gitu....
total 1 replies
Mineaa
itu si ibu di apain sama jendral es ya.....😁
sasa adzka
aku suka gaya nya Qin Qin... lebih Badas lagi thor MC nya.. lagian kan zaman kuno.. yg hebat d segani... yg lemah mati.. hukum rimba main d sini... bebas Qinqin😍😍😍
semangat up trus thor😍
sasa adzka
eh ada ruang gak neh atau dimensi..
sasa adzka
ninggalin jejak aku...
bar bar gak ya ne MC nya.. suka kali klo dia bisa war😂😂😂😂
azka aldric Pratama
hadir
sahabat pena
waduh Ibu tiri nya kabur ya? siapa yg nolongin? lanjut kak
Ai
jenderal masih gengsi mengakui perasaannya pada Qinqin
Ai
bagus sesuai karakter Qinqin yg sembarangan 🤣
ANWi: wkww bener kak~❤️
total 1 replies
Nurhayati Nurhayati
lanjut thor seruu 🤣
ANWi: siap kak ~❤️
total 1 replies
Ai
suami istri yg kompak🤣🤣🤣
ANWi: hehe bener bgt kak
total 1 replies
Ai
udah gak sabar liat Qinqin ketemu ibu tirinya.. seru ini pasti
Ai
Qinqin mantap.. hajar ibu tirimu qin
sahabat pena
kerjasama yg baik dgn jendral. seperti nya jendral sdh luluh nih. sama istri nya🤣🤣🤣🤣lanjut kak
ANWi: siap kak...❤️
total 1 replies
Mineaa
kereeeeennn.....💪
ANWi: makasi sudah rate 5 kak mineaa~
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!