NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Persahabatan / Perjodohan / Gadis nakal
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meja Makan Taman Belakang

Malam itu, mansion keluarga Skylar tidak lagi terasa kaku dan sunyi. Udara dingin yang menyelimuti danau di belakang rumah seolah ternetralisir oleh aroma rosemary, daging panggang, dan bumbu jjigae yang menguar dari dapur.

Viona, yang biasanya lebih akrab dengan kuas make-up dan berkas hotel, kini berdiri dengan celemek yang sedikit kotor di depan meja kayu besar di tepi danau. Cahaya lilin berpendar lembut, memantul di permukaan air danau yang tenang, menciptakan suasana romantic-dinner yang sangat privat dan mahal.

Noah melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah berat khas pria yang baru saja menempuh penerbangan lintas negara. Jasnya sudah tersampir di lengan, dan kancing kemeja atasnya sudah terbuka. Ia menghentikan langkahnya tepat di lobi, mengerutkan kening saat indra penciumannya menangkap aroma masakan rumah yang sangat familier.

"Viona...!" teriaknya nyaring. Suaranya bariton, menggema di langit-langit mansion yang tinggi. Matanya menyisir sekeliling ruangan, mencari keberadaan sosok yang menjadi alasannya membatalkan sisa jadwal di Singapura.

"Aku di taman!" sahut Viona dari kejauhan.

Noah berjalan menuju pintu kaca besar yang menghubungkan ruang keluarga dengan taman belakang. Begitu pintu terbuka, ia membeku. Di sana, di bawah naungan lampu hias yang menggantung di dahan pohon, Viona berdiri dengan canggung di samping meja yang penuh dengan steak premium dan deretan makanan khas Korea.

"Lo... masak sendiri?" tanya Noah. Suaranya sedikit serak, matanya menatap tidak percaya pada deretan piring yang tersusun rapi. Viona merapikan anak rambutnya ke belakang telinga, mencoba menutupi rasa gugupnya.

"Iya, gue belajar sama Bibi Kim tadi sore. Dan ya... ini balasan dari kalung yang lo kasih," jawab Viona sambil memalingkan wajah, menyembunyikan pipinya yang mulai merona karena cahaya lilin.

Noah tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulinnya bercampur dengan aroma masakan. Ia sama sekali tidak melirik ke arah makanan di meja.

Pandangan Noah langsung jatuh, tajam dan intens, ke arah leher jenjang Viona.

Di sana, kalung emas putih dengan liontin inisial 'N' itu berkilau indah, melingkar sempurna seolah memang ditakdirkan untuk berada di sana. Noah mengulurkan tangan, jemarinya yang dingin menyentuh liontin itu pelan, membuat napas Viona tertahan seketika.

"Bagus," bisik Noah rendah, suaranya sangat dekat dengan telinga Viona. "Kalungnya kelihatan lebih mahal pas lo yang pakai."

Noah lalu menatap mata Viona, sebuah senyum miring yang jarang terlihat muncul di bibirnya. "Gue nggak tahu lo punya bakat jadi istri rumah tangga yang telaten. Kenapa? Takut gue hamilin beneran kalau lo nggak nurut?"

Viona mendengus, mencoba memukul pelan bahu Noah, tapi Noah justru menangkap tangannya dan menariknya lebih dekat. "Noah! Gue udah susah payah masak ya, hargain dikit kek!"

"Gue hargain kok," sahut Noah, kini tatapannya melembut. "Tapi gue lebih tertarik buat 'makan' yang masak daripada makanannya. But since you've worked hard... gue bakal habisin semuanya malam ini."

Malam itu, dunia seolah berhenti berputar hanya untuk mereka. Di bawah payung langit Seoul yang bertabur bintang dan temaramnya cahaya lilin yang menari ditiup angin danau, Viona dan Noah duduk berhadapan. Suasana ini begitu asing, begitu surreal.

Suara denting pisau dan garpu yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya melodi di antara mereka. Biasanya, setiap kali mereka duduk bersama, meja makan akan penuh dengan adu mulut, tawa mengejek, atau rebutan potongan daging terakhir. Namun malam ini, ada gravitasi yang berbeda.

Terlalu dekat sejak kecil ternyata menjadi pedang bermata dua. Mereka tahu warna kesukaan masing-masing, tahu ketakutan terbesar satu sama lain, bahkan tahu bagaimana raut wajah masing-masing saat sedang berbohong. Namun, mereka sama sekali tidak terbiasa dengan status baru ini.

Status yang mengharuskan mereka bukan lagi sekadar "teman berantem", melainkan sepasang suami istri yang berbagi garis takdir yang sama.

Viona sesekali melirik Noah dari balik bulu matanya. Pria itu tampak menikmati steak buatannya dengan perlahan, namun tatapannya seringkali tertuju pada Viona, bukan sebagai teman masa kecil, melainkan sebagai seorang pria yang sedang mengagumi miliknya.

"Kenapa lihat-lihat? Rasanya aneh ya?" tanya Viona memecah keheningan, suaranya nyaris berbisik.

Noah meletakkan alat makannya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. Ia menatap Viona lekat-lekat di bawah cahaya rembulan yang membuat wajah istrinya tampak begitu lembut.

"Nggak aneh," sahut Noah berat. "Cuma... gue baru sadar kalau meja ini kerasa terlalu lebar. Gue lebih suka kalau lo duduk di sebelah gue."

Viona merasakan dadanya berdesir. Perasaan ini, perasaan yang tidak bisa ia definisikan, selalu seperti itu. Antara nyaman karena sudah terbiasa, atau takut karena terlalu dalam. Mereka seperti dua kutub magnet yang selalu tarik-menarik tapi terlalu gengsi untuk mengakui bahwa mereka tidak bisa berfungsi tanpa satu sama lain.

Apakah ini cinta? Atau hanya rasa memiliki yang terlampau besar karena mereka tidak pernah mengenal orang lain sedalam ini? Mereka sendiri tidak tahu. Yang mereka tahu, malam ini, di tepi danau ini, mereka tidak ingin ada orang lain yang mengganggu ruang hampa yang mereka ciptakan sendiri.

Noah mengulurkan tangannya di atas meja, meraih tangan Viona dan mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. Sebuah gestur sederhana yang terasa jauh lebih intim daripada kata-kata puitis mana pun.

"Lo tahu kan, Vio?" ucap Noah pelan, matanya mengunci manik mata Viona. "Gue nggak pernah membiarkan siapa pun masuk ke zona pribadi gue sesuka hati, kecuali lo. Dari dulu sampai sekarang, cuma lo."

Viona terdiam, membiarkan kehangatan tangan Noah menjalar ke seluruh tubuhnya. Di bawah saksi bisu cahaya lilin yang mulai meredup, mereka menyadari satu hal: meski mereka belum bisa menamai perasaan ini, mereka sudah tidak bisa lagi kembali menjadi sekadar "teman".

Fakta pahitnya adalah, dalam permainan perasaan yang mereka bangun di atas fondasi persahabatan ini, Noah-lah yang lebih dulu kalah.

Noah menyesap anggurnya perlahan, namun matanya tak lepas dari sosok di hadapannya. Ironis memang. Dia, pria yang paling keras menolak pernikahan ini, yang paling vokal mengeluh tentang betapa "merepotkannya" mengikat janji dengan seorang Viona Skylar, justru menjadi orang pertama yang terjerembap ke dalam rasa asing itu.

Ia menyadari pesona sahabatnya sendiri sejak hari pertama mereka pindah ke rumah yang sama.

Selama belasan tahun, Noah tidak pernah punya kesempatan, atau mungkin sengaja menutup mata, untuk mengagumi Viona.

Baginya, Viona terlalu sibuk dengan dunianya sendiri; dunia yang penuh dengan dentum musik club, tawa bersama teman-teman sosialitanya, dan gaya hidup yang selalu dikritik oleh Noah. Noah membenci sisi Viona yang itu, sisi yang membuatnya merasa tidak punya kendali.

Namun, tinggal satu atap membuka tabir yang selama ini tersembunyi.

Noah baru benar-benar sadar betapa cantiknya Viona saat gadis itu tertidur pulas tanpa riasan tebal di wajahnya. Wajah polos yang terlihat begitu rapuh dan tulus, jauh dari citra "ratu pesta" yang biasa ia tampilkan. Ia juga baru menyadari betapa telatennya Viona dalam merawat diri, bagaimana ia menghabiskan waktu dengan berbagai ritual kecantikannya hanya untuk memastikan dirinya selalu sempurna.

'Cantik, tapi tetap keras kepala,' batin Noah sambil memperhatikan Viona yang kini sedang asyik memotong steak dengan gerakan anggun.

Ia tahu Viona masih sering merusak ginjal dan hatinya dengan meminum alkohol setiap kali ada kesempatan. Ia tahu Viona masih jauh dari kata "istri ideal" versi buku teks. Tapi anehnya, ketidaksempurnaan itulah yang mulai membuat Noah terobsesi. Ia ingin menjadi satu-satunya orang yang melihat wajah polos Viona di pagi hari, dan satu-satunya orang yang berhak memarahinya saat ia pulang dengan aroma alkohol.

"Kenapa senyum-senyum gitu? Gue ada yang salah ya?" tanya Viona, memecah lamunan Noah.

Noah menarik sudut bibirnya, membentuk senyum miring yang terlihat sangat berbahaya sekaligus memikat. "Nggak ada. Gue cuma lagi mikir... ternyata lo bisa juga kelihatan manusiawi kalau lagi fokus makan begini."

"Sialan lo, Noah!" umpat Viona, tapi ia tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Vio," panggil Noah rendah. "Jangan terlalu sering minum alkohol selama gue nggak ada. Gue nggak mau ginjal lo rusak sebelum lo sempet ngasih gue anak."

Viona mematung. Kata-kata itu terdengar seperti perintah, tapi di telinganya, itu terdengar seperti sebuah pengakuan posesif yang sangat dalam. Noah benar-benar sudah terjatuh, dan ia tidak punya niat untuk bangkit lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!