Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.11
Sekitar jam sembilan pagi, ketika matahari mulai terasa hangat atau setidaknya mencoba, suasana sedikit mencair. Desa perlahan hidup. Terdengar suara ayam berkokok dengan nada malas, langkah kaki warga yang lewat di depan posko, dan jauh di sana… suara radio tua yang memutar lagu dangdut jadul dengan suara serak. Posko yang sejak subuh terasa seperti rumah yang salah alamat, kini mencoba berperan sebagai rumah sungguhan. Cahaya matahari menyusup lewat sela-sela genting yang tidak lagi rapat, jatuh miring ke lantai kayu yang kusam. Debu-debu kecil menari di udara, seolah pagi sedang berusaha membuktikan bahwa ia berbeda dari malam.
Namun, usaha itu setengah hati, Lagu itu terdengar sumbang. Penyanyinya seolah sudah kehabisan napas sejak bait pertama. Nada naiknya terlalu dipaksakan, nadanya turun tanpa belas kasihan. Seperti orang yang ingin menyanyi sambil mengeluh tentang hidupnya. Radio itu mungkin sudah berumur lebih tua dari sebagian besar penghuni desa. Suaranya bergetar, kadang hilang separuh bait, lalu kembali dengan semangat yang tidak diminta siapa pun. Namun justru karena itu, suara tersebut terasa nyata dan hidup. Suara-suara itu, sekecil apa pun, terasa seperti bukti bahwa dunia masih berjalan normal. Bukan dunia yang penuh bayangan. Bukan dunia dengan ketukan pintu tanpa pemilik. Bukan pula dunia di mana jam bisa berhenti berdetak tanpa alasan.
Malam sebelumnya masih menempel di kepala mereka seperti sisa mimpi buruk yang belum sepenuhnya hilang. Tidak ada yang benar-benar membicarakannya dengan serius. Semua sepakat, secara tidak tertulis, untuk pura-pura lupa.
“Lihat?” kata Udin, mencoba meyakinkan diri sendiri lebih dari orang lain. “Normal. Tadi malam cuma sugesti.”
Nada suaranya terdengar sedikit terlalu cepat. Seperti orang yang takut kalau berhenti bicara, pikirannya sendiri akan menyanggah.
Udin berdiri dengan tangan di pinggang, memandangi ruangan seolah sedang menilai hasil kerja timnya. Padahal belum ada yang dikerjakan. Ia hanya butuh posisi berdiri yang terlihat meyakinkan. Koordinator lapangan harus terlihat paling stabil, meski stabilitas itu lebih banyak hasil latihan menahan panik.
“Semua horor dimulai dari kalimat itu,” balas Susi sambil mengibaskan bajunya yang mulai lembap. “Dan ini baju gue belum disteam.”
Ia mengendus bajunya sendiri, lalu meringis. Bukan bau keringat..Bau lembap, bau rumah tua yang menyimpan terlalu banyak cerita. Bau yang tidak bisa dilawan parfum. Bau yang tidak bisa dihilangkan dengan angin. Bau yang seperti pernah mendengar rahasia, lalu menyimpannya terlalu lama.
Udin memilih tidak menanggapi..Bukan karena ia tidak punya jawaban. Tapi karena ia tahu, semakin dibantah, semakin sering kejadian aneh datang tanpa diundang. Mereka mulai bersih-bersih posko. Bukan karena rajin, tapi karena ada keyakinan kolektif yang aneh,.kalau rumah ini rapi, mungkin kelihatan kurang angker. Logika yang tidak ilmiah, tidak rasional, tapi terasa masuk akal di kondisi mental mereka saat itu. Aktivitas bersih-bersih itu lebih mirip ritual pengusiran ketimbang kerja bakti. Sapu dipegang seperti senjata. Lap kain digerakkan dengan ekspresi curiga. Tidak ada yang bersiul. Tidak ada yang bercanda keras. Semua bergerak dengan kesadaran penuh bahwa mereka sedang berada di rumah yang tidak sepenuhnya menerima kehadiran mereka.
Debu disapu dengan gerakan berlebihan, seolah bukan hanya kotoran yang ingin disingkirkan, tapi juga sisa-sisa malam yang menempel. Barang-barang dipindah bukan demi estetika, tapi demi memastikan tidak ada sesuatu yang seharusnya tidak ada di bawahnya..Kasur digeser sedikit, dicek. Meja dipindah satu jengkal, dicek. Kolong lemari dilirik cepat,.dicek, lalu ditutup lagi secepat mungkin. Sapu bergerak. Kain pel menggeser debu. Barang-barang dipindah. Tirai ditarik. Setiap suara kecil langsung mengundang tatapan. Setiap gesekan kayu membuat beberapa orang refleks menahan napas. Ada momen ketika Palui menjatuhkan ember, dan semua orang melonjak bersamaan, siap lari tanpa tahu ke mana. Setelah sadar itu hanya ember, mereka tertawa—tawa singkat, kering, dan terlalu keras untuk sesuatu yang seharusnya lucu. Dan saat itulah kejadian itu terjadi. Tidak besar, tidak dramatis, tidak ada teriakan. Hanya saja, cukup untuk memicu kekacauan.
Aluh sedang menyapu dekat jendela samping. Gerakannya pelan, rapi, penuh kehati-hatian. Ia tipe orang yang menyapu tanpa suara, tanpa emosi, tanpa drama. Orang yang kalau panik pun, paniknya ke dalam. Orang yang jarang salah lihat dan karena itu, jarang dianggap bercanda. Ia tidak suka menarik perhatian. Ia tidak suka jadi pusat reaksi. Karena itu, ketika sesuatu menarik perhatiannya, biasanya memang layak diperhatikan. Matanya yang lembut menangkap sesuatu bergerak cepat. Bukan jelas atau buram. Tapi cukup nyata untuk disadari.
Bayangan itu gelap, memanjang dan lewat begitu saja. Bukan seperti bayangan awan atau seperti daun jatuh, atau bayangan orang yang sedang berlari. Tapi lebih seperti sesuatu yang tidak ingin dilihat terlalu lama.
“Eh,” katanya pelan. “Tadi ada yang lewat.”
Kalimat itu terdengar kecil. Hampir bisa diabaikan seandainya mereka ada di kosan. Atau di kampus, atau di tempat yang temboknya tidak menyimpan bunyi malam.
“Lewat mana?” tanya Paijo santai, masih melipat kasur.
Nada santainya terasa janggal di ruangan yang langsung menegang.
“Itu,” Aluh menunjuk jendela. “Kayak… bayangan.”
Kalimat itu menyebar lebih cepat dari api. Lebih cepat dari logika dan doa yang dipanjatkan.
“BAYANGAN?”
“SEJAK KAPAN?”
“LEWAT KE MANA?”
“TINGGI ATAU PENDEK?”
Pertanyaan datang bertubi-tubi, saling menimpa, tanpa benar-benar menunggu jawaban.
“STOP,” potong Udin. “Satu-satu.”
Ia berdiri lebih tegak, mencoba kembali ke mode koordinator. Meski di dalam kepalanya, kata bayangan sudah berputar terlalu kencang.
“Kayaknya tinggi,” kata Aluh ragu. “Tapi… cepet.”
Surya langsung berdiri.
“TINGGI ITU BERAPA?”
Nada suaranya terlalu serius untuk sekadar penasaran.
“Lebih tinggi dari aku.”
Surya menelan ludah, Ia bukan orang pendek. Dan kalau sesuatu lebih tinggi dari dia, itu bukan lagi kategori biasa. Mereka bergerak ke jendela. Semua menempel dengan posisi yang terlalu dekat dan rapat. Seolah jarak bisa mengurangi kemungkinan buruk. Kaca sedikit buram, tapi jelas, tidak ada siapa-siapa. Tidak ada orang hewan hewan yang terlihat. Tidak ada apa pun selain pantulan wajah mereka sendiri yang pucat dan tegang.
“Halah,” kata Palui. “Paling ayam.”
“AYAM APA YANG TINGGI DARI SURYA?” bentak Bodat.
“Itu ayam ambisius.”
Beberapa hampir tertawa. Namun tawa itu menggantung disudut bibir, tidak jadi keluar.
Belum selesai perdebatan..
PLUK!
Sesuatu jatuh di atap samping rumah. Tidak keras tapi terdengar cukup jelas. Bunyi yang terlalu spesifik untuk disebut imajinasi. Semua refleks menoleh ke atas. Gerakan mereka begitu serempak. Seperti sudah dilatih oleh rasa takut.
“ITU DIA,” bisik Ani, antara takut dan senang.
Juned mengangkat kamera.
“Kalau ini konten, ”
“MATIIN,” ucap semuanya serentak pada juned
Tidak ada yang mau wajah panik mereka jadi arsip digital abadi. Bunyi langkah terdengar. Bukan dari dalam rumah tapi berasal dari luar. Cukup pelan, menyusuri dinding rumah.
Tok… tok… tok…
Seperti kaki menyentuh tanah dengan tidak terburu-buru dan ragu. seperti tahu persis ke mana ia berjalan.
“JANGAN KE JENDELA,” bisik Juleha.
“UDAH TERLANJUR,” balas Surya lirih.
Bayangan itu lewat lagi. Kali ini lebih jelas. Tidak bisa disangkal. Tidak bisa diabaikan.
Dan semua melihat. Bayangan gelap, memanjang, lalu berhenti tepat di depan jendela. Tidak ada wajah detail, hanya siluet.
Sunyi membeku. Bahkan suara radio dangdut di kejauhan terasa ikut menjauh.
“Kalau aku pingsan,” bisik Susi, “tolong fotoin yang cakep.”
Dan tidak ada satu pun yang tertawa.
...🍃🍃🍃...
Bersambung....