"Perpisahan kita bukan salah siapa2. Bukan sepenuhnya salahmu, salah ku , salah dia ataupun salah waktu. Kita adalah dua orang yg tepat, tapi tepat disini bukan sebagai pasangan melainkan sebagai pembelajaran untuk kita menjadi lebih dewasa"
Nada Ageta Putri
"Jika kesalahan ini sebagai pembelajaran. Bisakah aku tetap belajar bersama mu sehingga kita bisa dewasa bersama"
Juna Genio Lin
"Apakah perasaan cinta sebuah kesalahan? Jika memang iya, aku tak ingin perasaan ini. Perasaan ini terus menggerogoti kewarasan ku dan membuat ku menjadi jahat yang menyakiti orang di sekeliling ku"
Senar Anggriani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moms F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. hati yang hancur II
Brak
Bruk
"Ahhhh"
Teriak mama Juna,
Nada hanya diam terpaku, terkejut dan menutupi mulutnya. Setelah tersadar iya pun ikut menjerit dan menghampiri mereka.
"ABANG..."
"Hentikan Abang, hentikan.." teriak Nada yang mencoba melerai abangnya yang memukul sepihak Juna.
"Apa Abang lakukan, Juna sudah babak belur. Apa Abang ingin membunuhnya" marah Nada setelah berhasil melerai mereka
"Dia pantas mendapatkan nya" seru Alenzo menatap tajam kearah Juna yang berada di belakang Nada.
"Pantas kenapa? Apapun kesalahannya Abang ngak boleh pakai kekerasan seperti ini. Abang ngerti!" ucap Nada tegas dan malah mendapat dengusan dari Alenzo.
"Abang ngak papa, apa sakit" ucap Nada menghampiri Juna yang sedang di topang ibu juna. Setelah membantu Juna duduk. Nada beralih ke arah Alenzo yang berdiri sambil menyilangkan tangan di dadanya.
"Abang,..." sebelum Nada melanjutkan ucapannya.
Alenzo menyerahkan sebuah kertas yang didalamnya ada keterangan dokter dan testpack. Meskipun bingung Nada mengambil nya dan mulai mengamati nya. Terlihat dua garis merah di testpack tersebut. Dan mulai membuka surat dari rumah sakit yang menyatakan hamil. Dan saat melihat nama pasien yang tertera nama sahabat mereka.
"Deg.." Nada sungguh terkejut. Dalam hati Nada bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Bagiamana Senar belum menikah bisa hamil. Siapa yang menghamilinya, hati Nada sungguh tidak karuan.
Nada melirik sekelilingnya dan melihat antara Juna dan Alvaro yang babak belur. Sesaat pemikiran liat bersarang di otaknya.
"Maksudnya apa ini bang. Dan bagaimana surat ini bisa tertera nama kak Senar. Bagaimana kak Senar bisa hamil. Maksudnya kak Senar belum menikah, siapa yang menghamilinya" cerca Nada berbagai pertanyaan pada sang Alenzo.
Dan berjalan perlahan kearah Senar yang duduk bersama ibunya.
"kak,, jawab aku. Apa ini benar" tanya Nada menyodorkan kertas pada senar. Hanya keheningan yang menjadi jawaban yang diterima Nada.
Hati Nada semakin ngak karuan. Pemikiran liar terus bersarang di otaknya.
"kak, aku sudah menganggap kamu kakak aku. Kasih tahu aku siapa lelaki itu?"
"Tante, siapa dia" tanya Nada pada ibu senar
"Tante, kak Senar. Kasih tahu aku siapa lelaki itu. Biar aku suruh dia bertanggung jawab. Jawab Tan, kak siapa dia"
"JUNA" ucap suara berat yang menginterupsi pertanyaan Nada.
Nada mematung menatap Alenzo. Dan dengan langkah pelan menuju Alenzo.
"Bang,, maksud nya apa?" tanya Nada pelan
"Abang ngak salah sebutkan? Maksud Nada, Abang ngapain sebut nama Juna"
Nada menatap Enzo mencoba memahami.
" Nada,,"panggil Enzo serak
" Abang pernah bilang kan. Mencintai lawan jenis boleh, tapi jangan menjadi bodoh karena cinta itu" jelas Enzo dan mendapat anggukan oleh Nada
"jika Nada di suruh milih. Bahagia di atas kesulitan orang lain atau merasa sakit sekarang di atas kejujuran. Nada milih mana?"
"pilih yang kedua" ucap Nada pelan menatap mata Enzo. Hati Nada benar-benar sudah tak karuan. Ia berdoa semoga jawaban yang ia dapat. Menghilangkan semua prasangka yang terbesit di kepalanya.
"Nada ingin tahu ayah dari anak yang dikandung oleh Senar kan?" ucap Enzo di anggukan oleh nada sebagai jawaban.
" bang,, ini ngak seperti yang Nada pikirkan kan" ucapnya lirih menatap Enzo yang didepannya.
Enzo hanya mengangguk sebagai jawabnya.
Nada yang syok menutup mulutnya. Dengan air mata yang berlinang sambil menggeleng kepalanya.
"Tidak mungkin, pasti Abang bohong kan" serunya menatap mata Enzo yang sedang menatapnya iba. Melihat tatapan Enzo, Nada tertatih berjalan kearah orangtuanya.
"Ma, Yah.. ini bohong kan" tanya nya
Mama hanya menangis menggenggam erat tangan Nada. Sedangkan sang Papa membawa Nada ke pelukannya.
"apapun keputusan kamu. Ayah selalu dukung kamu"
Melihat respon orangtuanya, Nada berdiri melihat sekeliling nya. Melihat rasa bersalah Abang Keduanya. Rasa bersalah keluarga Juna, dan rasa bersalah ibu Senar. Nada mengerti bahwasanya nya semua ini nyata.
Nada tertatih berjalan kearah Enzo yang tampak tegar dan ada rasa kasihan di matanya. Dengan mencoba tegar Nada berucap pada Enzo.
"Bang, Abang lagi ngerjain Nada kan. Biasanya Bang Varo yang suka ngerjain Nada. Ini Abang kok juga ikut-ikutan. Candaan Abang ngak lucu lo" sekali lagi Nada ingin memastikan bahwasanya Enzo yang biasanya terlihat serius pasti sedang mengerjainya. Walaupun harapan jawaban yang akan ia terima bahwasanya ia di kerjain hanya sedikit. Ia ingin mencobanya.
"maaf sweety" ucap Enzo serak. Mendengarkan jawabannya. Nada terhuyung kebelakang dan di pegang oleh Enzo supaya tidak terjatuh. Enzo mengiring Nada untuk duduk di kursi kosong dan berlutut.
"Beberapa bulan yang lalu saat Abang sedang keluar kota. Abang mendapatkan kabar bahwasanya tunangan dan sahabat kamu baru keluar dari hotel." jelas Enzo
"awalnya Abang ngak percaya. Tapi seminggu yang lalu Abang melihat sendiri mereka sedang berduaan di restoran"
"Abang jadi curiga dan mencari tahu semuanya.Dan yang Abang dapatin malah senar hamil anak tunangan kamu. Dan lebih buat Abang marah. Malah si bodoh Varo sudah tahu sedari awal dan merahasiakan semuanya " jelas Enzo
"haha...." tawanya penuh kesedihan. Hatinya yang sudah hancur kini berkeping tak bersisa. Melihat keluarganya yang menatap dirinya penuh rasa bersalah dan iba.
Nada menarik nafasnya panjang, merasa seolah-olah semua ini hanya candaan keluarga nya seperti biasanya.
Tatapannya menuju kearah Juna, namun Juna melihat kearah Senar. Melihat itu Nada merasa tercekik, kepalanya terasa berdengung seolah-olah ribuan suara berteriak bahwasanya itu semua nyata.
Sesak di hati kian merajalela, udara di paru-paru nya kian menipis. Tenaga nya kian raib entah kemana.
Dengan lemah ia mendorong Enzo dan mencoba berdiri. Dengan tertatih-tatih Nada berjalan mendekat kearah Senar.
"Kak,, Itu semua ngak benarkan. Itu semua bohong kan?" ucap Nada mencari kebenaran yang ia tahu semuanya itu nyata. Senar hanya terdiam menunduk tak menjawab pertanyaan Nada.
"Kak,, jawab aku kak. Jawab kalau semuanya itu bohong"teriak Nada pada Senar segenap melepaskan emosinya.
Dia tak tahu sekarang. Ia hanya ingin mendengarkan jawaban Senar dan mengatakan semuanya itu hanya tipuan mereka. Ia berharap Senar mengatakan hal itu bohong walau hanya secuil harapan yang tersisa dihatinya.
Senar mengangkat kepalanya dengan air mata yang mengalir "Maafkan Aku Nad, maaf ini memang anak Juna"
Nada terdiam mematung. Hatinya benar-benar hancur total. Hal yang ia harapkan, walau ia tahu bahwasanya itu tak mungkin. Setidaknya secuil kata bohong yang terucap dari mulut sahabat kakaknya maupun sahabat Juna yang membuat hatinya membaik seperti biasanya. Kini hanya tinggal omong kosong belaka.
Pikirannya terasa kosong. Kebahagian yang beberapa jam yang lalu yang ia alami. mendadak sirna seperti abu yang tersapu oleh hujan. Dengan menghembuskan nafas yang kian tercekat. Nada mencoba bertanya pada Senar.
" sejak kapan?"
"Nad, aku bisa jelasin" seru Juna yang kini berdiri dibelakangnya dan mencoba memegang bahunya.
Nada menepis tangan Juna dan memintanya untuk diam. Nada tidak ingin mendengarkan suara Juna yang membuat hatinya kian sakit.
Mata Nada terfokus pada Senar menunggu jawabnya.
"tiga bulan yang lalu, saat kami sedang perjalanan bisnis"
Nada memejamkan matanya untuk mengingat kejadian tiga bulan yang lalu saat Juna permisi untuk mengurus proyeknya bersama perusahaan dimana tempat Senar kerja.
Dan saat itu Juna tidak menjawab telponnya selama seminggu. Setelah seminggu pulang dari urusan bisnis Juna tampak aneh . Ia terlihat murung dan merasa bersalah. Tapi karena Nada sibuk dengan kuliahnya. Nada tidak memperhatikan gelagat Juna.
"apa selama seminggu kamu ngak bisa dihubungi. Kamu menghabiskan waktu dengannya" tanya Nada menatap mata Juna
"Nad, aku bisa..." Nada mengangkat tangannya menyuruh Juna diam. Nada bisa melihat matanya yang tampak bersalah dan sudah mengetahui jawaban yang diinginkan
"Nad aku..."
"Diam" sentak Nada pada Juna yang mencoba ingin menjelaskan dan menoleh pada Senar yang sedang duduk.
Nada mencoba menjaga kewarasan nya dan menenangkan dirinya. Agar tidak meledakkan emosinya pada ibu hamil didepannya.
"Apa kakak tahu saat itu dia tunangan aku" tanya Nada pelan sambil menunjuk Juna
"Nad itu hanya kecelakaan" bela Senar
"Apa kakak kira aku masih anak kecil yang bisa kakak bohongi" tanya Nada pelan
"Apa selama seminggu itu cuma kecelakaan terus menerus atau kalian melakukan hal gila atas dasar mau sama mau" ucapan Nada membuat suasana kian hening.
"Jawab Nada kak, Jawab" Tidak mendapatkan jawabannya dari Senar. Nada menoleh kearah Juna
" Apa selama seminggu kamu disana ngak bisa dihubungi kamu bermain gila dengan Kak Senar" tanya Nada setenang mungkin
"Nad, aku bisa j...."
"cukup, aku hanya perlu jawaban. Iya atau tidak"
Juna tampak kalut, ia mengacak rambutnya frustasi. Tanpa mendengar jawaban Juna ia tahu jawabannya.
#TBC
semangat nada!!!💪💪💪
ini othor nya yang keren nih bisa memainkan emosi para pembaca nya.... good job,Thor ...🫰🫰🫰🫰
lari lah sejauh mungkin.... tinggalkan sumber rasa sakit itu & cari kebahagiaan mu ditempat yang baru...
semoga setelah patah hati karena tiga orang ini, nada bisa bangkit lagi melupakan kesakitannya, bila mungkin jauhkan nada dari orang2 yang kejam ini Thor