NovelToon NovelToon
Abiyan; TUAN MUDA Terbuang

Abiyan; TUAN MUDA Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Kebangkitan pecundang / Persahabatan / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Moms TZ

Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.

Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.

Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?

Ikuti kisahnya hanya di sini:

"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Cemburu

Sore itu, Abiyan pulang ke kontrakan dengan wajah cerah. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Naraya dan memastikan keadaannya baik-baik saja. Dari kejauhan, dia melihat Naraya duduk di depan teras kamarnya sendirian sambil menatap ponselnya. Wanita itu tersenyum, entah kepada siapa atau apa yang dilihatnya di layar ponsel.

Abiyan tampak tidak suka melihat senyuman itu. Dia seakan merasa cemburu, meskipun dirinya tidak tahu mengapa. Dia melihat sekeliling, memastikan tidak ada orang lain yang melihat Naraya. "Untung nggak ada orang," gumamnya pelan, sedikit merasa lega.

"Assalamualaikum," sapanya ramah ketika berada tepat di depan teras Naraya.

"Oh...waalaikumsalam," jawab Naraya, tersenyum manis membuat Abiyan terpana.

"Sudah pulang?" Tanpa sadar, entah terbawa suasana atau rasa syukur, Naraya meraih tangan Abiyan dan menciumnya takzim, layaknya seorang istri menyambut suaminya pulang bekerja.

"Eh...?" Abiyan tersentak kecil menerima perlakuan Naraya yang tiba-tiba. Jantungnya berdebar kencang, tetapi dia berusaha bersikap tenang dan tidak ingin membuat wanita itu merasa malu dengan reaksinya.

Namun, sesaat kemudian Naraya tersipu malu, wajahnya merona, menyadari perbuatannya yang spontan dan mungkin terlalu intim. Abiyan tersenyum gemas melihat tingkah Naraya yang salah tingkah.

"Maaf, Bi. Aku..." ucap Naraya gugup, berusaha menarik tangannya dari genggaman Abiyan.

"Nggak apa-apa kok, Ra," jawab Abiyan lembut, masih menggenggam tangan Naraya. "Aku malah senang."

Naraya menatap Abiyan dengan ekspresi bingung. "Senang?"

Abiyan mengangguk sambil tersenyum. "Iya, senang. Karena aku merasa jadi seperti... seperti orang yang spesial buat kamu."

Naraya terdiam, merasa malu, tetapi ada perasaan senang juga bahagia yang tidak bisa ia pungkiri.

"Emmm... Bi," panggilnya pelan. "Sebenarnya... aku sudah masak buat kamu. Apa kamu mau makan bareng?" tawarnya dengan ragu-ragu.

Abiyan tersenyum lebar mendengar tawaran Naraya. "Tentu saja mau! Aku memang sudah lapar dari tadi," jawab Abiyan tampak semangat, membuat Naraya tersenyum lega.

"Kalau begitu, aku mandi dulu ya, Ra. Supaya nanti makannya lebih nikmat, kalau badan sudah bersih dan segar," kata Abiyan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Sebenarnya dia hanya mencari alasan untuk menenangkan diri dan menetralkan debaran jantungnya yang masih belum stabil. Perlakuan Naraya tadi benar-benar membuatnya salah tingkah.

"Tapi jangan lama-lama, ya." jawab Naraya dengan senyum canggung. "Aku tunggu, loh."

Abiyan segera bergegas menuju kamarnya meninggalkan Naraya yang masih menatapnya.

Di kontrakannya Abiyan memegang dadanya. "Ya, Tuhan. Perasaan apa ini? Apa mungkin aku mulai tertarik dan jatuh cinta padanya?"

Abiyan tersenyum tipis, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dia mengguyur badannya dengan air dingin berharap bisa meredakan kegugupannya.

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Abiyan kembali ke kamar Naraya. Dia melihat wanita itu sudah duduk manis menunggunya dengan sabar.

"Maaf ya, Ra, sudah bikin kamu menunggu," kata Abiyan, lantas mendudukkan dirinya di lantai berhadapan dengan Naraya.

"Nggak apa-apa, Bi," jawab Naraya sambil tersenyum. "Yuk, kita makan!"

Mereka berdua mulai makan dengan lahap, menikmati hidangan sederhana yang dimasak Naraya, tetapi terasa sangat lezat. "Masakanmu enak banget, Ra," puji Abiyan tulus.

"Ah, ini hanya masakan rumahan biasa, Bi. Semua orang juga bisa membuatnya," Naraya merendah, sedikit tersanjung dengan pujian Abiyan.

"Sungguh, aku nggak bohong, Ra." Abiyan berusaha meyakinkan Naraya. "Bagaimana kalau kamu nggak usah kerja lagi? Kamu hanya perlu memasak untukku setiap hari. Aku akan memberikan seluruh gajiku buat kamu..."

"Tapi, Bi. Kita..." Naraya menghentikan ucapan Abiyan, yang menurutnya terlalu jauh . Ia tidak ingin memberi harapan palsu kepada dirinya sendiri.

Sementara Abiyan seolah tersadar dari apa yang baru saja dikatakannya. Dia langsung menutup mulutnya dengan tangan, merasa malu dan bodoh telah mengucapkan kata-kata yang mungkin membuat Naraya salah paham. Keduanya tersenyum canggung, dengan pikiran masing-masing.

Sejenak keheningan menyelimuti ruangan, hingga suara Aldo dan Benny mengagetkan mereka berdua.

"Woelaahhh...kalian makan kok, nggak ngajak-ngajak, sih?" protes Benny, berpura-pura kesal.

"Iya, nih. Kalian curang!" Aldo menimpali. "Nih, gue bawa martabak telur," lanjutnya sambil meletakkan plastik kresek putih berisi satu kotak martabak telur di atas meja kecil.

"Ya, sudah sana, kalian mandi dulu. Setelah itu ke sini lagi, ini masih ada banyak makanannya," kata Abiyan, berusaha mengusir Aldo dan Benny agar dirinya bisa melanjutkan makan berduaan dengan Naraya.

"Baiklah, kita mandi dulu," sahut Aldo, bergegas keluar dari kamar Naraya.

"Boleh numpang mandi di sini nggak, Ra?" celetuk Benny, dengan tatapan menggoda dan tersenyum nakal.

"Eh, nggak boleh!" sahut Abiyan cepat dan tegas. Tidak suka dengan godaan Benny yang menurutnya berlebihan. "Sudah sana, kalian pulang mandi di kamar sendiri!"

"Iya, iya...santai, Bro!" Benny segera menyusul Aldo ke kamarnya sendiri, sambil terkekeh geli melihat reaksi Abiyan yang tampak cemburu.

"Maaf ya, Ra. Tingkah mereka memang suka absurd," kata Abiyan, merasa tak enak hati karena kelakuan teman-temannya.

"Nggak pa-pa, Bi. Santai saja," jawab Naraya dengan senyum manis yang tulus, membuat jantung Abiyan kembali berdetak tak beraturan. Dia merasa terpesona dengan Naraya dan semakin yakin ingin melindungi wanita itu.

.

Malam harinya, Abiyan tampak gelisah dan tak bisa tidur. Pikirannya masih terngiang-ngiang dengan sikap Naraya padanya tadi sore. Sentuhan tangannya, senyumnya, terus berputar di benaknya, membuatnya sulit untuk memejamkan mata. Aldo dan Benny merasa heran melihat tingkahnya yang tidak biasa.

"Bi, loe sebenarnya ada apa, sih? Dari tadi gelisah terus," Aldo memberanikan diri bertanya.

"Entahlah...gue nggak tahu kenapa gue jadi kepikiran terus sama dia," Abiyan menggelengkan kepala.

"Ah, gue tahu!" seru Benny tiba-tiba, membuat Abiyan dan Aldo menoleh ke arahnya. "Loe suka sama Naraya ya, Bi?"

"Gue cuma merasa nyaman dan pengen menjaga dia," jawab Abiyan pelan.

"Kalau loe emang suka sama dia, ya sudah ungkapkan perasaan loe padanya," cetus Benny. "Jangan tunggu lama-lama, nanti diserobot cowok lain!

"Tapi kan, dia...?" Aldo menggantungkan kalimatnya, merasa tidak enak untuk melanjutkan karena status Naraya.

Abiyan menghela napas panjang, mencoba meredakan gejolak yang ada di hatinya, tidak menanggapi ucapan Aldo. Dia sendiri bingung perasaannya terhadap Naraya. Dia yakin Naraya adalah wanita yang baik dan membutuhkan pertolongan, tetapi apakah perasaannya ini hanya sekadar rasa kasihan atau ada sesuatu yang lebih dalam?

.

Pagi ini, Naraya sudah mulai masuk kerja kembali. Tubuhnya terasa lebih bugar setelah beristirahat seharian penuh. Ia berangkat sendiri karena Abiyan masuk kerja shift siang. Sesampai di kafe, Naraya langsung mengenakan apron dan mulai bekerja seperti biasa.

Bersama temannya yang lain, ia menyiapkan adonan pastry dan cake untuk dipanggang. Setelah matang sempurna ia menghias cupcake tersebut dengan buttercream warna-warni, kemudian menatanya di etalase.

Hari itu kafe cukup ramai, Naraya bekerja dengan cekatan melayani pelanggan yang datang silih berganti. Ia sesekali bercanda dengan karyawan lain, menciptakan suasana kerja yang menyenangkan.

Saatnya pergantian shift tiba, Abiyan datang ke kafe. Dia berniat mencari Naraya, tetapi yang dilihatnya Naraya sedang tertawa lepas sambil bercanda dengan Dika, sehingga tak menyadari kedatangan Abiyan.

"Apa-apaan ini?" gumam Abiyan kesal. Dia merasa cemburu melihat pemandangan itu.

"Kenapa Nara bisa tertawa begitu lepas sama Dika?" Abiyan merasa tak suka melihat Naraya dekat dengan cowok lain, apalagi mereka begitu akrab. Ada sesuatu yang menusuk hatinya, membuatnya tidak nyaman.

"Apa gue ungkapkan saja perasaan gue sama dia, ya? Diterima atau ditolak itu urusan nanti," tekadnya dalam hati.

Namun, disaat Naraya sedang menunggu angkot dan Abiyan ingin mendekatinya, seorang pria berbadan tegap dan berpakaian rapi tiba-tiba datang, menarik tangan Naraya, lalu membawanya menjauh.

Abiyan terkejut melihat kejadian itu. "Siapa pria itu? Mungkinkah dia suami Naraya?" Dia merasa bingung, khawatir, dan marah pada saat yang bersamaan.

Apa yang akan dilakukan Abiyan selanjutnya? Apakah dia akan menghampiri Naraya dan pria itu untuk mencari tahu apa yang terjadi?

.

Bab 20, penilaian bab terbaik. Tolong yang masih menumpuk bab, moms mohon dengan segala kerendahan hati untuk kesediaannya agar kembali membaca supaya retensi aman. 🙏Jika kalian masih menumpuk bab dan bahkan menghilang kata jejak, itu bisa merusak retensi karya.🥹

Terimakasih atas pengertiannya. moms sayang kalian 🫶🫰

1
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
itu karena Lo aslinya bego🤣
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
ngarang aja lo
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
keok dia. makanya jgn curang
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
tuh yg ditunggu² udah datang😄
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
ortu egois. kalau mau nikah lagi seharusnya cari laki² yg juga mau menerima putrimu
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
nungguin Abiyan ya🤭
Aditya hp/ bunda Lia
anak tiri emak durjana nya Naraya ....
Aditya hp/ bunda Lia: pasti 😂😂
total 2 replies
Cindy
lanjut
vj'z tri
waduh kalau Abi d tolak cewek terus apa kabar kalian 🤣🤣🤣🤣🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ya udah terima nasib🤭
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
emang kemjamu semula bagaimana? bentuk kodok atau kadal? di cci kan biar bersih, 🤧
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 3 replies
Esther
siapa dia
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: entahlah🤭
total 1 replies
ora
Mamanya, kah/CoolGuy/
Terus pemuda itu anak tirinya. Nggak punya sopan santun banget ....
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: mungkin🤭
total 1 replies
ora
Haduhhh. Perkara kemeja aja jadi ngehina orang😒😒
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lha iyo
total 1 replies
Patrick Khan
wahhh anak manja kyk nya itu😒
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: masa????
total 1 replies
Tiara Bella
siapa lg nh perempuan ibunya kah.....
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: mungkin🤭
total 1 replies
Esther
Aku juga cinta kamu Abiyan.....kata Naraya🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭😍🫶🫰😂
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
pertanyaanmu terjawab setelah membuka tas bekalnya.
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nar Sih
ungkapan cinta keluar juga ,pasti nara menerima cinta mu abyan ,tpi kmu mesti sabar nunggu hinga nara sdh lahiran
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huumm
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
Waaw, ... Biyan 👍
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
sudah kuduga. ayo Biyan, tunjukkan kalau kamu tdk bisa dipandang remeh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!