NovelToon NovelToon
Menantu Pilihan Untuk Sang CEO Duda

Menantu Pilihan Untuk Sang CEO Duda

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Romantis / Diam-Diam Cinta / Duda / Romansa / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: ijah hodijah

“Fiona, maaf, tapi pembayaran ujian semester ini belum masuk. Tanpa itu, kamu tidak bisa mengikuti ujian minggu depan.”


“Tapi Pak… saya… saya sedang menunggu kiriman uang dari ayah saya. Pasti akan segera sampai.”


“Maaf, aturan sudah jelas. Tidak ada toleransi. Kalau belum dibayar, ya tidak bisa ikut ujian. Saya tidak bisa membuat pengecualian.”


‐‐‐---------


Fiona Aldya Vasha, biasa dipanggil Fio, mahasiswa biasa yang sedang berjuang menabung untuk kuliahnya, tak pernah menyangka hidupnya akan berubah karena satu kecelakaan—dan satu perjodohan yang tak diinginkan.

Terdesak untuk membayar kuliah, Fio terpaksa menerima tawaran menikah dengan CEO duda yang dingin. Hatinya tak boleh berharap… tapi apakah hati sang CEO juga akan tetap beku?

"Jangan berharap cinta dari saya."


"Maaf, Tuan Duda. Saya tidak mau mengharapkan cinta dari kamu. Masih ada Zhang Ling He yang bersemayam di hati saya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ijah hodijah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Fio berhenti di tempat, menatap teman-temannya dengan panik.

“Kenapa aku?” bisiknya panik.

“Waduh, Fi, jangan-jangan tadi waktu kamu salah ngomong pas presentasi tuh bikin dia penasaran,” goda Ardi pelan.

“Udah, semangat ya! Jangan sampai kamu ngomong ‘ehm-ehm’ lagi di depan dia,” celetuk Sinta menahan tawa.

Fio menatap mereka dengan tatapan tolong aku, lalu menarik napas panjang dan melangkah menuju ruang dosen.

Di dalam ruangan, suasananya tenang dan beraroma kopi hitam. Pak Dastan duduk di kursinya sambil menatap layar laptop. Begitu Fio mengetuk pintu pelan, lelaki itu langsung berkata tanpa menoleh,

“Masuk. Tutup pintunya.”

Suara itu tenang tapi bikin jantung Fio berdetak dua kali lebih cepat.

“Iya, Pak.”

“Duduk.”

Fio duduk di kursi depan mejanya, mencoba menenangkan diri. Tapi matanya tanpa sengaja memperhatikan bahwa dosennya itu tidak hanya tampan — tapi juga punya aura rapi, berwibawa, dan entah kenapa... mengintimidasi dengan cara elegan.

Pak Dastan akhirnya menatapnya. “Kamu Fio, ya? Dari kelompok tiga.”

“I-iya, Pak.”

“Bagus, kamu cukup aktif. Tapi saya lihat kamu tadi kurang percaya diri saat menjelaskan.”

Fio mengangguk pelan. “Iya, Pak… saya agak gugup. Soalnya Bapak baru, dan—”

“Dan kamu pikir saya menyeramkan?” potongnya dengan nada datar tapi sedikit tersenyum di ujung bibir.

Fio langsung membulatkan mata. “Nggak juga, Pak… cuma… eeh…”

Pak Dastan menatapnya sebentar, lalu menunduk sambil menulis sesuatu di kertas. “Santai saja. Saya bukan tipe dosen yang suka menjatuhkan. Saya hanya ingin tahu sejauh mana mahasiswa saya paham materi. Kamu mengerti?”

“Iya, Pak.”

“Bagus. Dan satu lagi…”

Ia menatap Fio lagi, kali ini agak lama, sampai Fio merasa seperti terhipnotis.

“Kalau kamu gugup, jangan menunduk. Hadapi saja. Dunia kerja nanti lebih kejam daripada tatapan saya.”

Fio nyaris tersedak udara. “Ba… baik, Pak.”

“Sudah. Kamu boleh keluar.”

Fio cepat-cepat berdiri, tapi belum sempat berbalik, lelaki itu menambahkan,

“Dan jangan lupa revisi bagian analisis datanya. Kirim sebelum hari Kamis.”

“Iya, Pak!”

Begitu pintu ruangan tertutup, Fio langsung menepuk dada sendiri.

“Ya Allah, tadi itu dosen atau aktor film drama?” bisiknya.

Sementara di dalam ruangan, Pak Dastan menatap pintu yang baru saja tertutup.

Senyum samar muncul di wajahnya. “Fio, ya…” gumamnya pelan, seolah nama itu menarik perhatian lebih dari sekadar mahasiswa biasa.

***

Sore harinya.

Suara sendok dan garpu beradu di meja makan. Bu Rania belum pulang, jadi cuma ada dua orang di meja: Fio dan Darrel.

Fio dengan semangat bercerita, tangannya sesekali ikut menari di udara.

“Terus, tiba-tiba dosennya masuk, dan semua orang langsung diam. Ganteng banget, tapi auranya tuh… bikin jantung deg-degan! Tapi untung aja aku udah latihan sebelumnya, jadi nggak terlalu kacau—ya, walau sempet gugup dikit.”

Darrel yang dari tadi makan dengan tenang, tiba-tiba meletakkan garpunya perlahan.

“Ganteng banget, ya?” tanyanya datar.

Fio berhenti mengunyah, menatapnya bingung.

“Eh… iya sih, tapi maksudku—ganteng yang kayak… dosen pada umumnya gitu. Bukan ganteng yang gimana-gimana.”

“Hm.”

Darrel mengambil minumnya pelan. “Dosen siapa namanya?”

“Pak Dastan.”

Suara Fio terdengar hati-hati, karena ekspresi Darrel mulai berubah… sedikit. Masih datar, tapi matanya lebih tajam dari biasanya.

“Dastan.”

Darrel mengulang nama itu pelan, seperti mencoba mengingat atau menilai.

“Umur berapa kira-kira?”

Fio nyengir kecil. “Lho, kok tanya umur sih? Nggak tahu, mungkin tiga puluhan. Eh tapi aura dia tuh kayak—”

“Kayak apa?” potong Darrel dengan nada pelan tapi tajam.

“Kayak… orang yang bijak dan dewasa,” jawab Fio cepat, lalu buru-buru mengalihkan topik. “Tapi ya udah sih, cuma dosen aja, Tuan D—”

“Jangan panggil aku itu.”

Nada suaranya rendah, tapi cukup untuk membuat Fio berhenti bicara seketika.

“Oke… Darrel,” ucap Fio pelan, agak kikuk.

Darrel menatapnya sebentar, lalu kembali memotong ayam di piringnya.

Setiap potongannya seperti mewakili perasaannya yang sedang menahan sesuatu — cemburu, tapi enggan mengaku.

“Mulai besok, jangan pernah ke kampus bawa motor lagi,” katanya tiba-tiba tanpa menatap Fio.

“Hah? Tapi aku—”

“Nggak ada tapi.”

Darrel menatapnya sekilas, dingin tapi lembut di ujungnya. “Aku cuma nggak mau kamu kecapekan. Itu aja.”

Padahal hatinya bergemuruh—bukan karena takut Fio lelah, tapi karena bayangan dosen tampan yang menatap Fio dengan tatapan “evaluatif tapi lembut” masih menghantui pikirannya.

Fio menatap Darrel lama, menahan senyum kecil yang nyaris muncul.

Dalam hati, dia tahu… laki-laki itu cemburu. Tapi ya, mana mungkin Darrel mau ngaku?

Keesokan harinya.

Pagi ini, udara masih lembut dengan embun yang belum sepenuhnya hilang. Dari dalam rumah, terdengar suara langkah tergesa—dan tentu saja, itu Fio.

“Ma! Aku berangkat dulu!” serunya dari ruang tamu.

Belum sempat membuka pintu, suara bariton yang sangat ia kenal menahan langkahnya.

“Enggak usah. Aku antar.”

Fio menoleh cepat. Darrel sudah berdiri di dekat tangga, mengenakan kemeja abu muda, tangan kirinya memegang kunci mobil, sementara wajahnya tetap… datar.

“Lho, kok kamu tau aku mau berangkat?” Fio nyengir, mencoba bercanda. “Jangan-jangan kamu pasang CCTV di tas aku ya, biar bisa ngawasin 24 jam?”

Darrel hanya mengangkat satu alisnya. “CCTV? Aku gak perlu. Kamu aja yang terlalu kelihatan.”

“Kelihatan gimana?” Fio pura-pura bingung.

“Gelisah setiap mau berangkat.”

Jawabannya tenang, tapi cukup membuat Fio langsung menunduk, pura-pura sibuk menepuk-nepuk ujung bajunya.

“Oke deh, kalau Tuan Du—eh, maksudku, kalau Darrel mau nganterin, aku ikut aja.”

Darrel mendengus kecil, tapi di ujung bibirnya ada sedikit senyum yang cepat ia sembunyikan. “Cepat. Aku gak mau telat.”

Sepanjang perjalanan, mobil dipenuhi suara musik pelan dari radio.

Fio, seperti biasa, gak bisa diam. Ia bercerita panjang lebar tentang presentasi kemarin, tentang teman kelompoknya yang salah ngomong, bahkan sampai ekspresi dosen baru itu yang katanya “mirip aktor drama Cina versi garang”.

Darrel tetap fokus ke jalan, tapi jari-jarinya di setir terlihat mengetat.

“Dosen itu masih membahas presentasi kamu?”

“Enggak sih, cuma dia bilang presentasiku bagus.”

“Hm.”

“Eh, kamu kenapa nadanya ‘hm’ gitu sih?”

“Gak apa-apa.”

“Serius? Atau kamu—”

“Fokus aja ke depan, jangan ngaca-ngaca ke kaca spion,” potong Darrel cepat.

Fio ngakak. “Ya ampun, kamu cemburu ya?”

Darrel melirik sekilas. “Kamu terlalu percaya diri.”

“Bukan! Aku cuma... merasa kamu tuh kayak—”

“Tutup mulutmu sebentar aja, bisa?”

Nada Darrel tenang tapi membuat Fio langsung terdiam.

Beberapa detik hening, lalu tiba-tiba Darrel menambahkan lirih,

“Aku cuma gak suka kamu capek. Itu aja.”

Deg.

Kata itu pelan, tapi jujur, dan membuat dada Fio terasa hangat.

Ia menunduk, pura-pura memainkan ujung tasnya sambil tersenyum kecil.

Sampai akhirnya mobil berhenti di depan kampus.

Darrel menatap ke arah gerbang yang mulai ramai mahasiswa. “Langsung masuk. Jangan keluyuran.”

Fio mengangguk. “Iya, Pak Polisi Hati.”

Darrel menatapnya tajam, tapi Fio sudah keburu turun sambil tertawa kecil.

Dan di balik kaca mobil, Darrel hanya bisa menghela napas panjang—antara ingin marah karena Fio terlalu ceria… atau karena dia mulai terbiasa menikmati kehadiran gadis itu di hidupnya.

Mobil Darrel masih terparkir di depan gerbang kampus ketika sosok pria tinggi berjas abu-abu mendekat dari arah parkiran dosen.

“Selamat pagi, Fio.”

Suara itu dalam, tenang, tapi cukup membuat beberapa mahasiswa yang lewat langsung menoleh.

Fio membulatkan mata, spontan kaget. “P–Pak Dastan?!”

Ya, dosen baru itu — yang kemarin membuat seluruh kelas nyaris menahan napas karena karismanya — kini berdiri hanya beberapa langkah darinya, sambil memegang map hitam di tangan kanan.

Darrel yang masih duduk di balik kemudi langsung menoleh, pandangannya tajam menusuk. Alisnya naik sedikit, rahangnya mengeras. Ia belum turun dari mobil, tapi jelas terlihat dari rautnya: tidak suka.

Fio buru-buru menunduk, sedikit panik. “Eh… selamat pagi juga, Pak. Hehe… bapak mau ke ruang dosen ya? Aku kebetulan baru datang.”

Pak Dastan tersenyum tipis. “Iya, tapi tadi saya lihat kamu dari arah parkir. Kamu rajin juga, selalu datang pagi-pagi.”

Fio terkekeh gugup. “Hehe… bukan rajin, Pak, cuma takut kesiangan aja. Kalau telat nanti bapak killer itu bisa langsung kasih nilai C.”

Dastan tertawa pelan. “Saya killer? Waduh, baru sehari jadi dosen di sini udah punya reputasi begitu rupanya.”

Darrel mengetukkan jarinya di setir, satu kali, dua kali—tanda dia sedang menahan emosi.

Dari dalam mobil, matanya tak lepas dari pemandangan itu. Fio tampak canggung, tapi si pria itu... berdiri terlalu dekat.

Akhirnya kaca mobil diturunkan perlahan.

“Fio.” Suara bariton itu datar tapi cukup membuat kepala Fio spontan menoleh.

“Eh! D–Darrel!”

Matanya melebar, panik, lalu buru-buru menatap ke arah Pak Dastan. “Ini, Pak, dia—”

Bersambung

1
Marina Tarigan
laki2 secara umum kalsu nikah ke 2 biasanya anak istri pertamanya tdk perfuli lagi dan si Lira sendiri anak tirinya sdh berkuasa penuh pd harta dan ingin menyingkirkan Fio dari muka bumi ini
Marina Tarigan
iri semua deisi kampus melihat pernikahan fio sm Darrel seorang ceo kaya karena mereks tshu gimana hidup Fio sangat sudah sebelum menikah padahal Fio juga anak seorang pengusaha kaya juha tapi ayahnya tdk perduli sm Fio
Yunita Asep
saingan.. berat nih..
Yunita Asep
adem ayem gk ad pelakorr, aku suka...
Yunita Asep
syukurrin...
Yunita Asep
ha.. ha... ad yg cembukorr..
Yunita Asep
lanjut thorr...
Yunita Asep
dari mellow, sampe ke ngakaakk, thorr lanjuutt...
Yunita Asep
kasiann... nyessek thorr
Yunita Asep
lanjut thorr...
Yunita Asep
lanjuutt...
Yunita Asep
jngn pura2 Dell, ntar bucin tau...
Yunita Asep
smoga aj fio di tolong bu Rania, y thorr...
Yunita Asep
sedih banget fio aku nangiss...
Marina Tarigan
sdhlah pak Ruslan fio tak pernah kamu perhatikan sbgi anakmu sendiri dia pontang panting menghidupi dirinya sendiri biaya kuliah sendiri tdk pernah kasi uang utk pendidikannya sekarang dia punya keliargi yg sangat menyayanginya dam jauh lebij betkuasa dari kami
Marina Tarigan
maunya si lira dan ayah kandung vio itu didatangi Derrel dan papanya minta pertanggung jawapan dari Lira yg laptopnya rusak henpon jua
Marina Tarigan
katanya tdk perduli hanya diatas kertas nikah hanya dibawah KUA tapi kenapa jd tdk fokus kejanya bos kan kehadiran Fio gak dianggap
Marina Tarigan
yah ceo tanpan dan ibu Rania kek ada bodoh2nya ya jgn tahu siapapun dikampus dan dikantor tapi diantar jemput fio itu tahu orang kampis gadis yg sangat susah dan berjuang sendiri dlm hidupnya dipermalukan dulu ya ibu Rania Darrel
Marina Tarigan
sebaiknya awal pernikahan fio kalau ke kampus pakai motornya dulu karena pernikahan itu mau disembunyikan dulu supaya mahadiswa jgn nganggap Fio wanita simpanan
Marina Tarigan
jalani saja Fio walaupun farrel belum menerimamu tak apa dari pernikahanmu kuliahmu bisa selesai nantinya dan kebutuhan harianmu bisa teratasi karena ayah dan ibu mertuamu menerima kamu dgn penih kasih sayang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!