Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'
Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Ingin Yumna Kembali
Pernikahan Elbara digelar di sebuah hotel berbintang. Red karpet terbentang di atas lantai. Standing flower menghiasi setiap sudut auditorium, tempat acara digelar. Para undangan yang tak sedikit jumlahnya, sangat antusias mendatangi pesta yang digelar oleh Elbara. Mereka sangat penasaran, seperti apa sosok perempuan yang akan bersanding dengan Elbara. Pasalnya Elbara belum pernah terlihat membawa perempuan pada acara-acara yang di gelar di luaran sana.
Saat yang dinanti pun tiba. Kedua mempelai memasuki ruangan. Niko mendorong kursi roda Elbara, dan Yumna berada di sisi Elbara. Semua mata tertuju pada kedua mempelai. Terutama Yumna. Mereka mengagumi Yumna dalam diam. Tak ada yang bicara, sekalipun hanya berbisik dengan orang di dekatnya. Mereka benar-benar terbuai dengan pesona kedua mempelai tersebut. Keduanya sama sekali tidak menunjukkan keganjilan. Pembawaannya sangat luwes, seakan-akan pernikahan itu memang berawal dari hubungan yang sudah lama terjalin dengan baik dan romantis. Tidak akan ada yang menyangka, kalau sesungguhnya pesta pernikahan yang mereka hadiri, adalah sesuatu yang mendadak dan terikat sebuah perjanjian yang telah disetujui oleh kedua mempelai.
"Kenapa harus aku yang berada di antara mereka...? Mereka bukan orang biasa. Dan pak Bara, seperti apa dia di mata mereka...?Sampai semua terlihat begitu mengagungkannya." Yumna terus bergumam dalam batinnya sendiri.
Satu persatu memberi selamat pada kedua mempelai. Menghaturkan segala do'a baik untuk rumah tangga mereka. Tak ada yang bisa Yumna lakukan, selain mengatakan terimakasih atas segala ucapan dan do'a yang mereka ucapkan.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Elbara sedikit berbisik. Karena ada tamu undangan yang menghampiri mereka.
"Selamat pak Elbara. Ini adalah momen yang kami tunggu-tunggu. Semoga pak Elbara dan Bu Yumna selalu berbahagia dan panjang umur."
"Terimakasih." balas Elbara.
"Bu Yumna, anda sangat menawan." istri rekan Elbara memuji Yumna.
"Terimakasih. Anda juga sangat cantik." balas Yumna.
"Bu Yumna, pak Elbara. Boleh kita selfi sebentar?" tanya si ibu tanpa sungkan.
Elbara hanya mengangguk. Sedangkan suami si ibu tampak canggung, dia tidak enak dengan Elbara karena sikap sang istri.
"Ah, terimakasih Bu Yumna." katanya setelah beberapa kali mengambil foto. "Saya punya salon kecantikan. Saya akan siapkan bingkisan buat Bu Yumna. Semoga Bu Yumna suka nantinya."
"Mama..., sudah. Ayo...!" bisik suaminya.
Kemudian mereka pamit pada kedua mempelai, untuk gabung dengan tamu yang lainnya.
Tak lama kemudian Aluna datang bersama Vivi.
"Papa, mama." katanya.
"Tiba-tiba menikah. Dan tiba-tiba menjadi seorang ibu." batin Yumna lagi.
"Ada apa, sayang?" tanya Elbara.
"Aku mau tidur..." katanya.
"Maaf, tuan, nyonya." sahut Vivi. "Nona Aluna tidak mau saya temani."
"Aluna mau tidur sama mama?" tanya Yumna.
"Boleh..., sama papa juga...?" balas Aluna pelan, dia sedikit ragu mengutarakan maksudnya.
Elbara dan Yumna saling tatap. Lalu Yumna berjongkok dan mengusap pipi Aluna.
"Papa masih harus menemani tamu. Aluna sama mama dulu ya. Nanti papanya nyusul. Mau...?" tutur Yumna.
"Baiklah..." sahut Aluna, meski dia kecewa.
"Saya temani Aluna, ya." pamit Yumna pada Elbara.
"Iya." balas Elbara.
"Hanya dengan Aluna. Yumna terlihat hidup." batin Elbara sambil menatap kepergian mereka.
___
Saat Elbara kembali, Yumna sudah tertidur dan ada Aluna dalam pelukannya. Mereka sudah mengganti gaun mereka dengan piyama yang sudah disiapkan dari rumah. Yumna tiba-tiba terbangun, dan melihat Elbara sudah berada di dalam kamar.
"Mau dibantu...?" tanya Yumna saat melihat Elbara membuka koper.
"Tidak perlu, istirahat saja." jawab Elbara.
Yumna hanya duduk di tepi kasur sambil melihat Elbara. Yumna salah sangka, dia pikir Elbara kesulitan. Nyatanya Elbara bisa melakukannya dengan mudah. Dia jadi ingat ucapan Bu Kartika.
"Elbara selalu bilang, dia tidak akan merepotkan orang lain. Kamu tahu, dia bahkan lebih sering tinggal sendiri di apartemennya."
Tak lama setelah Elbara menutup kembali pintu kamar mandi, mulailah terdengar suara air dari shower. Yumna beranjak dari kasur, menarik selimut untuk menutupi tubuh mungil Aluna. Lalu dia tersenyum.
"Andai orang tuanya masih hidup. Pasti mereka akan sangat bahagia. Memiliki anak seperti Aluna."
Yumna menuju meja makan, menuang teh hangat yang sudah disiapkan oleh pihak hotel. Dia menyeruput pelan teh itu, sambil melamun. Saking lamanya dia termenung, sampai-sampai dia tak menyadari kehadiran Elbara.
"Kenapa tidak tidur?"
Pertanyaan itu mengejutkan Yumna.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Elbara kemudian.
"Tidak ada, pak Bara." jawabnya.
"Panggil nama saja. Tidak perlu seformal itu. Kita sudah sah menjadi suami istri." ujar Elbara.
Yumna hanya mengangguk.
"Mau minum teh?" Yumna menawarkannya pada Elbara. Elbara pun mengangguk.
"Apa ada yang ingin kamu bicarakan?" tanya Elbara lagi, setelah Yumna menyuguhkan teh untuknya.
"Tidak ada." ujarnya.
"Kalau begitu istirahatlah. Setidaknya baringkan tubuhmu. Agar lebih rileks." Elbara menoleh ke arah kasur. Menatap Aluna yang sudah pulas. "Sana, tidur sama Aluna. Saya lihat kamu merasa nyaman saat bersama Aluna." tutur Elbara.
Yumna pun menoleh ke arah yang sama. Menatap Aluna seperti yang dilakukan Elbara. Kemudian Yumna kembali ke kasur, berbaring di samping Aluna, membelakangi Elbara.
Tak lama kemudian, setelah Elbara menghabiskan tehnya. Dia menyusul Yumna dan Aluna. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, dia beranjak dari kursi rodanya dan mendaratkan tubuhnya di atas kasur. Sebelum berbaring di samping Aluna, dia mengecup kening Aluna. Lalu menatap Yumna yang sudah kembali terlelap.
___
Sementara itu, beberapa jam sebelumnya, di tempat yang berbeda. Tepatnya di rumah pak Jodi.
"Jadi, benar...?!" gumam pak Jodi setelah menerima telepon.
"Ada apa, pa?" tanya Bu Indri.
"Papa bilang, Yumna menikah dengan Elbara Wiranata." jawabnya.
"Jadi..., orang yang waktu itu datang benar-benar keluarga Wiranata?!" Bu Indri tak kalah syoknya. Seperti reaksi pak Jodi saat mendengar kabar itu dari papanya.
"Papa marah besar, karena Yumna pergi. Apalagi setelah dia tahu Yumna sekarang menjadi menantu keluarga Wiranata. Besok kita diminta datang ke rumahnya." ujar pak Jodi.
"Apa mereka akan menyalahkan mama, pa. Setelah mereka tahu, kalau Yumna bukan anak yang lahir dari rahim mama?" Bu Indri mulai panik.
"Tenang, ma. Sepertinya mereka belum tahu soal itu. Mereka hanya tahu kalau Yumna pergi dari rumah karena keinginannya sendiri." kata pak Jodi.
"Bagaimana kalau mereka tahu?" Bu Indri sangat khawatir.
"Yang tahu soal itu hanya orang di rumah ini. Dan Sasa. Sasa juga tidak akan mengatakannya pada mereka. Hubungan mereka kan kurang baik, sejak papa mulai menjodoh-jodohkan Sasa dengan pria pilihannya."
Tanpa mereka ketahui, obrolan mereka didengar oleh Nasya dan Damar yang baru saja pulang malam mingguan.
"Yumna menikah? Secepat ini? Tidak mungkin. Ini pasti bohong." batin Damar.
"Apa?!! Orang itu benar-benar dari keluarga Wiranata, pemilik Wirnat Grup?!! Dan perempuan sialan itu menikah dengan keluarga itu? Keluarga konglomerat yang bisnisnya dimana-mana. Tidak bisa. Dia tidak boleh hidup lebih enak daripada aku. Awas kamu, Yumna...!!" geram Nasya.
"Ma, pa. Ada apa, kok tegang sekali?" ujar Nasya berbasa-basi.
"Tidak ada. Kalian sudah pulang rupanya." balas pak Jodi.
"Iya, om, Tante. Karena sudah malam, saya langsung pamit ya." kata Damar.
"Hati-hati nak Damar. Jangan ngebut." begitulah pesan Bu Indri.
"Iya, tan." balas Damar.
"Kak Damar hati-hati. Kalau sudah sampai hubungi aku ya." ujar Nasya.
"Em. Aku pamit."
Damar langsung keluar dari rumah itu. Namun, belum jauh mobilnya berjalan, dia menghentikannya. Dia sangat penasaran dengan kabar yang baru saja dia dengar. Damar pun menghubungi rekannya yang bekerja di salah satu perusahaan milik Wirnat Grup.
"Katanya keluarga Wiranata mengadakan acara pernikahan, apa iya?"
"Benar sekali, bro. Dan pengantinnya, kenapa mirip sekali dengan mantan kamu. Namanya sama lagi. Yumna."
"Kamu yakin...???!"
"Yakin sejuta persen malahan. Memang aku gak hadir sih. Undangan hanya untuk kalangan atas. Tapi fotonya dishare di grup."
"Kirim fotonya sekarang!!"
Kemudian Damar memutus sambungan telepon tanpa permisi. Tak lama kemudian temannya itu mengirimkan beberapa foto pada Damar.
Benar saja, mempelai perempuan dalam foto itu adalah Yumna. Dan pengantin prianya...
"Bukannya ini pria yang waktu itu di toko buku?"
Damar meremas kuat-kuat handphonenya. Sebelum akhirnya melempar benda itu ke belakang. Dia merasa sakit hati karena Yumna tiba-tiba menikah. Ada rasa tak rela Yumna menjadi istri orang lain. Dan tiba-tiba saja dia ingin Yumnanya kembali padanya.
......................