Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah Baru Untuk Andini
Arga tanpa mengatakan apapun, menyerahkan ponsel istrinya kembali dan pergi dari hadapan perempuan itu dengan harga diri yang terluka.
Nadira tersenyum penuh kemenangan. Ia menutup pintu kamar dan menghubungi Bima kembali.
"Mas, kamu pasti datang besok, kan?" tanyanya tak sabar.
"Tentu saja, sayang. Aku pasti akan datang untukmu. Kamu siap-siap saja. Aku akan membawamu pergi dari pria seperti dia," sahut pria di sebrang sana.
Nadira bersorak dalam hati. "Akhirnya aku bisa lepas juga dari kemiskinan ini. Dengan memiliki suami seperti Mas Bima, aku tidak perlu mikirin bagaimana mengatur keuangan yang uangnya bahkan nggak ada."
Di ruang tengah, Arga berbaring di atas tikar sambil menatap kosong ke arah televisi yang menyala. "Aku sudah berusaha mempertahankannya, Ya Allah. Tapi, jika dia tidak bahagia bersamaku. Aku tidak mungkin terus menahannya pergi."
"Aku harap, Nadira bisa menemukan kebahagiaan yang dia inginkan dari pria itu. Aku harap pria itu benar-benar menyayanginya," batin Arga lalu memejamkan mata, berusaha ikhlas.
Tak terasa setetes air mata jatuh ke pipinya.
Keesokan pagi.
"Mas, kamu mau ke mana? Mas Bima akan datang hari ini!"
Nadira mencegah langkah suaminya yang hendak pergi meninggalkan rumah.
"Aku mau kerja, Dir. Kamu kabari saja jika dia sudah sampai," jawab Arga, lalu melengos melewati tubuh istrinya di ambang pintu.
Nadira melipat tangan di depan dada. "Ya udah, aku lebih baik mulai berkemas. Karena hari ini, aku akan meninggalkan rumah butut ini yang sudah lama memenjarakanku," gumamnya sambil melihat setiap sudut rumah.
"Bu, kita mau ke mana?" Andini terpaksa tidak pergi sekolah hari ini karena dilarang oleh Nadira.
"Kita akan pergi meninggalkan rumah ini dan tinggal di rumah baru yang bagus, Dini," jawab Nadira sambil memasukkan pakaian putrinya ke dalam ransel.
"Kita punya rumah baru yang bagus, Bu?" tanya Andini dengan mata berbinar.
Nadira mengangguk singkat.
"Tapi, Bu... kenapa hanya kita yang berkemas? Ayah malah pergi bekerja," tanya gadis itu kebingungan.
Nadira menghela napas panjang. Dia menghadapkan tubuh ke arah putrinya. "Karena... hanya kamu dan Ibu yang akan pergi dari sini. Ayahmu tetap akan tinggal di sini."
"Jadi, Ayah tidak ikut?" tanya Andini, ekspresi yang semula senang berubah murung.
"Kenapa, Bu? Aku juga ingin bersama Ayah."
Nadira memegang kedua lengan putrinya. "Nggak bisa, Dini. Ayahmu tidak bisa ikut."
"Kenapa?" tanya Andini lagi, merasa tak tega meninggalkan ayah yang sering dia dapati kelelahan itu sendirian.
"Karena kita akan tinggal di rumah ayah barumu!" jawab Nadira tegas, berharap putrinya akan mengerti.
Andini mundur beberapa langkah sambil menggeleng pelan. "Aku nggak mau ayah baru, Bu. Aku masih punya Ayah Arga."
Nadira bangkit dari duduknya. "Andini, Ayah baru kamu ini kaya. Dia punya banyak uang."
"Kita akan tinggal di rumahnya yang besar dan bagus. Kamu akan dibelikan pakaian bagus dan banyak mainan nanti," bujuk Nadira.
Andini menggeleng lagi. "Tapi Ayah Andini..."
"Andini, sekarang Ibu tanya... kapan terakhir kali ayah kamu membelikan kamu baju? Apa dia pernah belikan kamu mainan?"
"Enggak, kan? Mainan yang kamu punya itu, malah bekas orang yang dikasih ke ayahmu. Tapi, dengan tinggal dengan ayah baru kamu... kamu bakal dibelikan mainan baru."
Andini nampak terdiam, pernyataan ibunya tentang sosok ayah baru dan pergi meninggalkan ayahnya cukup membuat dia bingung dan syok.
"Pokoknya kamu akan ikut Ibu. Kamu pasti menyukai ayah barumu nanti setelah bertemu dengannya." Nadira melanjutkan kemas-kemasnya, mengabaikan Andini yang termenung dalam.
"Kita hanya akan membawa beberapa baju saja. Lagian semua bajunya juga butut. Nanti, kita beli baju baru untuk kamu," gumam Andini sambil memilah pakaian yang masih bagus di matanya.
"Bu, bawa boneka kesayangan aku juga, ya. Ini kado dari Ayah di ulang tahun Andini waktu itu." Andini menyodorkan boneka kelinci yang telah usang dan kotor ke depan wajah ibunya.
Itu satu-satunya kado yang pernah Arga belikan dari hasil kerja kerasnya, membuat boneka itu terasa sangat berharga bagi Andini.
Nadira mengamatinya sesaat lalu melempar boneka itu ke sembarang arah. "Nggak perlu. Nanti kita beli baru yang lebih bagus!"
Andini hanya bisa diam patuh. Mata gadis itu terus melirik ke arah boneka kesayangannya dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah, kenapa Andini dan Ibu harus pergi dari rumah ini? Andini nggak mau ninggalin Ayah sendiri. Nanti, saat Ayah masuk angin, siapa yang kerokin Ayah lagi kalau Andini pergi?" batin gadis itu sambil mengusap air matanya dengan lengan baju.
Sementara itu, di tempat kerja. Arga sudah berkali-kali membuat kesalahan hanya karena tak fokus pada pekerjaannya.
Kakinya terluka oleh cangkul saat mengaduk semen.
"Mas Arga lagi melamun, ya?"
Seorang wanita berhijab yang merupakan pemilik rumah yang tengah dibangun itu membantu meneteskan betadine ke luka Arga dan membalutnya dengan kain dari robekan baju.
"Lagi apes aja kayaknya, Rini," sahut Arga tenang.
"Masih bisa kerja nggak, Mas? Atau mau pulang aja? Lukanya cukup besar, takut pasir masuk, malah infeksi."
Arga terdiam cukup lama. Pikirannya sejak tadi memang terus tertuju pada istri dan anaknya di rumah.
Rini, seolah bisa membaca gurat kecemasan di wajah Arga menghela napas panjang. "Mas Arga pulang saja dulu. Besok bisa kerja lagi," katanya penuh pengertian.
"Maaf, ya. Hari ini saya kurang enak badan, jadi tidak bisa bekerja dengan bener. Tapi, insyaallah besok saya akan kerja seperti biasa," ungkap Arga merasa tak enak hati.
Rini tersenyum dan mengangguk pelan. "Istirahat saja dulu, Mas. Kalau dipaksakan terus terjadi sesuatu sama Mas Arga, saya juga yang kena."
Arga langsung pamit ke rekan kerjanya dan pulang dengan langkah sedikit pincang.
"Dia kayaknya lagi ada masalah sama istrinya," gumam rekan kerja Arga yang sudah sangat mengenal pria itu dengan baik.
Saat sakit saja Arga sering memaksakan diri untuk bekerja. Jika tiba-tiba dia kehilangan semangat, berarti ada masalah yang lebih besar.
Arga berjalan tergesa-gesa di pinggir jalan, ingin segera sampai ke rumah. Namun, luka di kakinya terasa menggerogoti, membuat ia terpaksa berhenti sejenak. Di sisi kiri dan kanan jalan terhampar sawah luas yang baru saja dibajak.
"Lukanya kok makin sakit, ya," ringisnya sambil mendudukkan tubuh, ia membuka kain yang mengikat lukanya, dan terlihat darah masih belum berhenti mengalir.
Tiba-tiba, dari arah tak terduga sebuah mobil melaju kencang, saat melewatinya ban mobil itu melewati lubang jalan yang tergenang air.
Arga yang duduk tepat di depan lubang, akhirnya terkena cipratan air kotor itu di wajahnya. "Astaghfirullah," gumamnya sambil mengusap wajah kasar.
Ia menatap kepergian mobil itu yang melaju dengan sangat cepat, hingga menghilang di balik tikungan.
Arga kembali fokus pada kakinya. Ia merobek pakaian untuk membalut luka, berharap bisa menghentikan pendarahan.
Suara ponsel tiba-tiba berdering. Arga merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel jadul miliknya. Nama sang istri langsung terpampang di layar ponsel itu.
"Halo, Dir."
"Mas, kamu di mana? Mas Bima sudah sampai di rumah!" seru Nadira di seberang sana terdengar antusias.
"Aku pulang sekarang," sahut Arga dengan bibir gemetar.
Pria itu langsung mematikan ponselnya, dan menunduk dalam.
"Ya Allah..."
Ia tidak tahu apa yang ingin dia adukan pada sang penguasa. Namun, saat ini ia merasa benar-benar terpuruk dan tak berdaya.
Istrinya akan pergi membawa putri kecil mereka, meninggalkan dirinya sendiri dengan luka di kaki dan hati.
Akan tetapi, dia seorang pria. Dia tidak bisa lari dari tanggung jawabnya. Ia bertekad melepaskan orang-orang yang sangat dia cintai untuk kebahagiaan mereka.
Bersambung...