Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan
Body Tempering
Qi Gathering
Qi Foundation
Core Formation
Soul Realm 2 pengikut nya
Earth Realm
Sky Realm cici
Nirvana Realm arkan
Dao Initiate
Dao Master Dao arkan& cici
Sovereign
Divine
Universal (Kaisar Drak)
Eternal Ruin (Puncak Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resonansi Kehampaan Jenderal dan Evolusi Tiga Nyawa
[Bagian 1: Keheningan yang Membunuh]
Setelah Arkan melepaskan teknik Vakum Kosmik, dunia seolah kehilangan jiwanya. Senopati 7, Swaratama, menganga lebar. Tenggorokannya bergerak naik-turun, mencoba mengeluarkan teriakan peringatan atau mantra pelindung, namun tak ada satu pun getaran yang keluar. Di mata Arkan, Swaratama bukan lagi ancaman, melainkan sekadar tumpukan energi Nirvana yang terbuang percuma.
Arkan melangkah maju. Setiap pijakannya di jembatan awan menciptakan retakan hitam—sebuah manifestasi dari Black Hole yang bocor ke realitas. Rambut hitam-putihnya berkibar meski tak ada angin. Di dalam dirinya, Dewi Qi Lin berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Arkan, "Anak muda, jangan biarkan esensi Nirvana ini menguap. Pengikutmu butuh pondasi yang lebih keras jika ingin menginjakkan kaki di istana Kaisar Drak."
Arkan berhenti tepat satu jengkal di depan Swaratama. Jarak yang begitu dekat hingga si Senopati bisa melihat pantulan kematian di mata Arkan yang menyerupai pusaran galaksi.
"Kau bangga dengan musikmu," bisik Arkan. Suaranya tidak merambat lewat udara, melainkan langsung beresonansi di dalam tengkorak Swaratama. "Tapi di hadapan Kehampaan, suaramu hanyalah sampah."
Arkan mencengkeram wajah Swaratama. Jari-jarinya yang ramping namun sekuat baja mulai berpendar ungu gelap. Pemusnahan Kosmik.
[Bagian 2: Ekstraksi Esensi Jenderal]
"ARGHHH—!" Suara itu akhirnya terdengar, bukan lewat telinga, tapi lewat jeritan jiwa yang hancur.
Tubuh Swaratama mulai bergetar hebat. Bukan karena takut, tapi karena molekul tubuhnya sedang dipaksa pecah. Kultivasi Nirvana Realm miliknya, yang dibangun selama ribuan tahun dengan memakan ribuan nyawa, kini ditarik paksa keluar melalui pori-pori kulitnya. Cahaya perak metana mulai mengalir keluar, berputar di telapak tangan Arkan.
Tidak hanya itu, Harpa Sukma Pralaya yang tergeletak di tanah juga mulai hancur menjadi serbuk emas. Seribu Golem Batu Bintang yang telah tumbang oleh Srikandi-Tan ikut bereaksi; inti merah di dada mereka terbang ke arah Arkan seperti hujan meteor kecil yang kembali ke pusatnya.
Arkan menutup matanya. Di dalam dimensi Black Hole-nya, ia mengaktifkan tungku pemurnian. Esensi jiwa Swaratama yang kotor disaring, amarahnya dibuang, dan ego Nirvana-nya dihancurkan hingga yang tersisa hanyalah Qi Murni Tingkat Kosmik.
"Cici. Liem. Srikandi. Datanglah," perintah Arkan.
Ketiga pengikutnya, yang masih berlumuran darah musuh dan kelelahan, segera mendekat. Mereka melihat Arkan memegang tiga bola cahaya sebesar kepalan tangan yang berdenyut seperti jantung bintang.
[Bagian 3: Baptisan Tiga Nyawa]
"Duduk dan buka pusat meridian kalian," Arkan memberi instruksi dengan nada yang tak bisa dibantah. "Jika kalian gagal menahan tekanan ini, raga kalian akan meledak menjadi kabut darah. Tapi jika kalian berhasil, kalian akan melampaui batas manusia biasa."
Tanpa ragu, ketiganya duduk bersila membentuk formasi segitiga di bawah kaki Arkan.
Pertama, Arkan mengarahkan bola cahaya pertama ke Cici.
Bola itu mengandung esensi api dari inti Golem dan kelincahan suara Swaratama. "Cici, apimu adalah kehancuran. Biarkan angin kosmik ini meniup apimu hingga melampaui batas fisik!"
CRAAK! Cahaya itu masuk ke dada Cici. Seketika, api ungu meledak dari tubuhnya, membumbung tinggi hingga seratus meter. Kulit Cici mulai retak, menampakkan cahaya api di bawah dagingnya. Ia menjerit, namun matanya tetap tajam. Di bawah bimbingan Arkan, energi itu membanjiri Soul Realm Puncak-nya, menghancurkan gerbang pembatas.
BOOM! Cici menembus Earth Realm Awal. Api ungunya kini berubah menjadi Void Flame—api yang tidak membutuhkan oksigen dan sanggup membakar ruang itu sendiri.
Kedua, Arkan menatap Liem-Banyu.
"Liem, kau adalah air yang tenang namun mematikan seperti petir. Ambillah frekuensi suara ini, jadikan itu sebagai kecepatanmu!"
Arkan menanamkan esensi frekuensi suara Swaratama ke dalam Mata Mandala Liem. Tubuh Liem mendadak kejang. Petir biru menyambar-nyambar dari pori-porinya, bersatu dengan elemen airnya hingga membentuk uap listrik yang sangat padat. Tingkatan Soul Realm Menengah-nya hancur seketika, terlampaui oleh arus energi yang begitu masif.
Liem berteriak saat matanya berevolusi sempurna. Basis kultivasinya melesat, mendarat di Earth Realm Awal. Kini, ia tidak hanya bergerak secepat kilat, tapi tubuhnya bisa "bergetar" keluar dari dimensi fisik untuk menghindari serangan apa pun.
Ketiga, Arkan beralih ke Srikandi-Tan.
"Srikandi, kau adalah fondasi. Jadilah sekeras bintang mati!"
Arkan memberikan esensi tulang naga dari Harpa Pralaya dan kepadatan Batu Bintang padanya. Srikandi adalah yang paling menderita. Suara tulang yang patah dan menyambung kembali terdengar mengerikan. Kepadatan ototnya meningkat ribuan kali lipat. Struktur tubuhnya kini bukan lagi daging manusia, melainkan Astral-Gold Composite.
Srikandi meraung bagai naga tanah. Tanah di bawahnya amblas sedalam sepuluh meter hanya karena tekanan auranya. Ia berhasil! Dari Soul Realm Menengah, ia melompat ke Earth Realm Awal, dengan kekuatan fisik yang setara dengan monster Sky Realm Puncak.
[Bagian 4: Tatapan Sang Penguasa Kosmik]
Satu jam berlalu. Keheningan kembali melanda, namun kali ini suasananya berbeda. Aura yang dipancarkan oleh ketiga pengikut Arkan kini sanggup membuat gunung-gunung di kejauhan bergetar.
Cici berdiri terlebih dahulu. Rambutnya kini memiliki semburat ungu api yang tak kunjung padam. Di belakangnya, Liem-Banyu muncul dari bayangan dengan mata yang berputar seperti galaksi biru. Terakhir, Srikandi-Tan bangkit dengan langkah yang berat, setiap injakannya meninggalkan jejak emas di tanah.
Mereka bertiga berlutut serempak di hadapan Arkan.
"Terima kasih atas anugerah yang tak terhingga, Penguasa Kosmik!" seru mereka. Suara mereka kini mengandung getaran Dao, tanda bahwa mereka bukan lagi praktisi biasa.
Arkan menatap mereka dengan wajah datar, namun ada kilatan kepuasan di matanya. "Naik ke Earth Realm hanyalah langkah kecil. Kaisar Drak memiliki jenderal yang jauh lebih kuat di depan sana. Jangan bangga sebelum kepalanya ada di kakiku."
"Sesuai kehendakmu, Tuan!"
[Bagian 5: Menuju Lembah Dewa Palsu]
Arkan memandang ke arah jembatan
yang tersisa. Di ujung sana, Gerbang ke-6 mulai memancarkan cahaya emas yang sangat terang, namun Arkan merasakannya sebagai cahaya yang "sakit" dan penuh kepalsuan.
"Dewi," ucap Arkan dalam hati. "Apa yang menanti di sana?"
“Itu adalah wilayah Senopati 6: Lux-
Aeterna,” jawab Dewi Qi Lin. “Seorang mahluk yang mengaku sebagai inkarnasi dewa cahaya, padahal ia hanya parasit yang menghisap iman orang-orang. Dia berada di ranah Sovereign Realm.”
Arkan tersenyum tipis. Sebuah senyum yang menjanjikan kehancuran.
"Sovereign Realm? Bagus. Aku butuh jiwa yang lebih kuat untuk benar-benar menembus Eternal Ruin."
Arkan melangkah maju. Jubah hitamnya berkibar, menelan cahaya emas yang mencoba menyentuhnya. Di belakangnya, tiga "Malaikat Maut" barunya mengikuti dengan haus darah yang tak terbendung.
Sekte Sayap Perak telah runtuh. Jenderal Suara telah musnah. Kini, sejarah akan mencatat bahwa kegelapan yang paling murni adalah satu-satunya hal yang bisa membawa keadilan ke dunia yang telah membusuk ini.
Arkan: Nirvana Realm (Langkah menuju Eternal Ruin) - Status: Dominan.
Cici: Earth Realm Awal - Status: Berevolusi (Void Flame).
Liem-Banyu: Earth Realm Awal - Status: Berevolusi (Mandala Frequency).
Srikandi-Tan: Earth Realm Awal - Status: Berevolusi (Star-Density Body).