Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.
Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."
Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?
Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.
Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: HIDUP TANPA BAYANG-BAYANG
Hari ke-2.330. Setahun sudah sejak Joko pergi. Minggu pagi. Matahari cerah. Suara burung dari pohon mangga depan rumah.
"Pa, lihat! Kakak!"
Suara Budi membuyarkan lamunanku. Aku sedang duduk di teras, nikmati kopi—yang sudah dingin karena terlalu lama melamun. Buru-buru aku berbalik ke arah kursi Risma.
Risma tersenyum. Tapi bukan senyum biasanya. Bukan senyum tipis yang selama ini kukenal. Ini beda. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang... hidup.
Matanya fokus ke Budi. Lalu... tangannya bergerak. Perlahan. Sangat perlahan. Seperti butuh konsentrasi penuh. Tapi jelas. Ia mengangkat tangannya. Sedikit. Lima sentimeter dari pangkuan. Lalu... melambai.
Budi terkesiap. Mulutnya terbuka lebar. "Pa! Kakak lambai! Kakak bisa lambai!"
Aku diam. Membeku di tempat. Kopi dingin tumpah, tapi tak kuhiraukan.
Risma, anakku yang selama ini hanya bisa gerak refleks tak terkontrol, untuk pertama kalinya melakukan gerakan sadar. Gerakan yang dimaksudkan untuk sesuatu. Untuk Budi.
Aku hampiri Risma. Lututku gemetar. Jantungku berdegup kencang.
"Nak... Nak... kamu... kamu lambai?"
Risma menatapku. Matanya jernih. Lalu tangannya bergerak lagi. Lambai. Pelan. Tapi jelas. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Aku nangis. Nangis di depan Risma. Air mata jatuh tanpa bisa kutahan.
Dewi yang baru pulang dari dapur—lagi bikin gorengan—melihat kami. Ia berhenti. Wajahnya bertanya. Lalu lihat Risma yang melambai.
"Dewi... lihat... Risma... Risma..."
Dewi jatuh duduk di kursi. Nangis. Nangis sejadi-jadinya. Piring di tangannya jatuh. Pecah. Tapi ia tak peduli.
Budi lari memeluk Risma. "KAKAK HEBAT! KAKAK BISA LAMB AI!"
Risma tersenyum. Senyum lebar. Senyum paling lebar yang pernah ia berikan. Gusi kelihatan. Matanya menyipit bahagia.
Aku memeluk mereka bertiga. Dewi, Risma, Budi. Berpelukan di kursi kecil itu. Nangis. Tertawa. Nangis lagi.
Setahun sudah Joko pergi. Setahun kami hidup tenang tanpa bayang-bayang. Dan sekarang, Risma memberi kejutan. Gerakan sadar pertamanya.
Tuhan... Engkau masih sayang kami.
Setahun terakhir ini, hidup kami benar-benar berubah.
Risma menunjukkan kemajuan. Bukan kemajuan besar. Tapi kecil. Sangat kecil. Tapi bagi kami, itu adalah keajaiban.
Kadang ia bisa memegang sendok walau hanya sebentar. Lima detik, lalu jatuh. Tapi itu sudah lebih dari sebelumnya.
Kadang ia bisa mengangguk saat ditanya. Kalau Dewi tanya, "Risma mau makan?" Ia mengangguk pelan. Kalau aku tanya, "Nak, Bapak bacakan buku?" Ia mengangguk lagi.
Kadang ia bisa bilang "iya" dengan suara lirih. Bukan cuma "Pa" atau "Bu" atau "Di". Tapi "iya". Jelas. Walau susah payah.
Aku catat semua di buku kecil. Buku bekas, sampulnya sudah lusuh. Tiap kemajuan, sekecil apa pun, kutulis. Tanggal. Jam. Kejadian. Seperti ilmuwan yang merekam penelitian.
Hari ke-2.250, jam 10 pagi: Risma pegang sendok 10 detik.
Hari ke-2.280, jam 3 sore: Risma bilang "iya" saat ditanya.
Hari ke-2.300, jam 7 malam: Risma mengangguk 3 kali berturut-turut.
Malam-malam, kalau lagi sendiri, kubaca catatan itu. Dan nangis. Bahagia.
Kemajuan terbesar adalah tentang Budi. Suatu sore, Budi duduk di samping Risma. Cerita tentang sekolah. Tiba-tiba, Risma meraih tangan Budi. Bukan refleks. Tapi sengaja. Tangannya bergerak pelan, mencari tangan Budi. Begitu tersentuh, ia pegang. Erat.
Budi kaget. "Kak? Kakak pegang Budi?"
Risma tersenyum. Senyum tipis itu. Tapi matanya... matanya bilang, "Iya, Dek. Aku pegang kamu."
Budi nangis. "Kak, Budi sayang Kakak."
Aku lihat dari pintu. Air mataku jatuh.
Risma, anak yang dulu kami pikir tak bisa apa-apa, kini menunjukkan bahwa ia bisa merasakan. Bisa mencintai. Bisa memberi.
Dan itu lebih dari cukup.
Budi 5 tahun sekarang. Udah kelas 1 SD.
Seragam putih merahnya selalu rapi. Sepatu hitamnya mengilap—Dewi selalu semir tiap malam. Rambutnya dipotong pendek rapi.
Tapi yang paling membuatku bangga, bukan nilai sekolahnya. Tapi hatinya.
Setiap pulang sekolah, ia langsung ke kamar Risma. Tas sekolah nggak sempat diturunin. "Kak, Budi pulang!"
Risma selalu tersenyum. Senyum lebar. Kadang tangannya bergerak, seperti mau tepuk tangan.
Budi duduk di sampingnya. Keluarkan buku cerita dari tas. "Kak, Budi baca buku ya."
Lalu ia bacakan. Satu halaman. Dua halaman. Tiga halaman. Kadang cerita tentang binatang. Kadang tentang anak baik. Kadang tentang Tuhan.
Risma mendengar. Matanya fokus. Sesekali tersenyum. Sesekali tangannya bergerak, seperti mau ikut pegang buku.
Kalau Dewi sibuk masak, Budi yang suapi Risma. Ia ambil sendok. Ambil makanan. Suapi pelan-pelan. "Kak, buka mulut." Risma buka. Budi masukkan. "Pinter, Kak."
Kalau Risma mau ganti popok, Budi yang ambil popok bersih. Bantu Dewi angkat kaki Risma. Ambil tisu basah. Ambil bedak.
Aryo kadang tak tega. "Nak, kamu masih kecil. Biar Bapak."
Budi geleng. "Budi mau bantu. Kakak butuh Budi."
Aku nangis. Budi terlalu dewasa untuk usianya. Tapi ia melakukannya dengan senang hati. Tanpa terpaksa. Tanpa mengeluh.
Suatu malam, kutanya, "Nak, kamu nggak capek? Nggak pengen main kayak teman-teman?"
Budi mikir sebentar. Lalu jawab, "Budi capek, Pa. Tapi kalau Budi main, Kakak sendirian. Kasihan."
Aku peluk dia. Erat. "Makasih, Nak. Makasih udah jadi anak baik."
Budi balas peluk. "Budi sayang Kakak, Pa."
Dewi sudah lepas obat setahun ini. Psikiater bilang ia sembuh total.
Tapi Dewi memilih tetap aktif di komunitas orang tua dengan anak berkebutuhan khusus. Namanya "Rumah Harapan". Berkumpul tiap Minggu di balai desa.
Dewi jadi relawan. Kadang jadi pembicara. Kadang cuma dengar cerita ibu-ibu lain. Kadang bantu urus acara.
"Dulu aku juga hancur," katanya suatu hari. "Dulu aku di rumah sakit jiwa. Nggak sadar apa-apa. Tapi lihat Risma. Dia kuat. Aku harus kuat."
Ibu-ibu lain nangis dengar ceritanya. Mereka bilang Dewi inspirasi.
Aku bangga. Istriku, yang dulu hampir hilang, kini jadi cahaya bagi orang lain.
Suatu Minggu, Dewi ajak Risma ke pertemuan. Risma di kursi rodanya, dipakaikan baju bagus. Budi di samping, pegang tangan Risma.
Di balai desa, banyak anak berkebutuhan khusus. Ada yang autis, ada yang tunagrahita, ada yang cerebral palsy seperti Risma.
Ibu-ibu pada heran. "Bu, anak Ibu tenang sekali. Nggak rewel."
Dewi tersenyum. "Dia selalu tenang. Dia penguat keluarga kami."
Risma, seperti biasa, hanya tersenyum. Tapi matanya... matanya memandang anak-anak lain. Seperti ia tahu. Seperti ia merasa. "Aku sama seperti kalian."
Pulang dari pertemuan, Dewi nangis di mobil. "Mas, aku bersyukur. Dulu aku hancur. Sekarang bisa bantu orang lain."
Aku pegang tangannya. "Kamu hebat, Ri. Kamu istri yang hebat."
Dewi balas pegang tanganku. "Kita hebat bareng-bareng, Mas."
Setahun ini, aku mulai menabung.
Setiap rupiah dari hasil narik becak, dari kuli pasar, dari apa saja, kusisihkan. Nggak banyak. Seribu. Dua ribu. Lima ribu. Tapi rutin.
Celengan bambu, seperti dulu Dewi lakukan. Ditaruh di lemari, biar nggak kececeran.
Setiap malam, aku hitung. Buka celengan. Keluarkan uang. Hitung satu per satu. Lalu catat di buku.
Untuk terapi Risma. Untuk sekolah Budi. Untuk darurat kalau Joko kembali.
Risma lihat dari kursi. Matanya mengikuti gerakanku. Seperti ia tahu.
Suatu malam, kujelaskan padanya.
"Nak, ini Bapak nabung. Buat kamu. Buat terapi. Biar kamu makin bisa. Bisa lambai. Bisa pegang sendok. Bisa apa saja."
Risma menatapku. Lalu tangannya bergerak. Meraih uang di tanganku. Susah payah. Tapi ia ambil satu lembar. Seribuan. Ia pegang. Lalu ia sodorkan kembali padaku.
Seperti bilang, "Ini buat Bapak. Bapak juga butuh."
Aku nangis. "Makasih, Nak. Makasih."
Kami tersenyum. Berdua. Di malam yang tenang.
Minggu itu, kami piknik kecil di halaman.
Tikar digelar di bawah pohon mangga. Nasi bungkus, ayam goreng, sambal, lalapan. Sederhana. Tapi cukup.
Budi main bola plastik. Lari kesana kemari. Kadang bola masuk selokan. Ia ambil lagi. Lari lagi.
Risma di kursi, matanya mengikuti Budi. Kemana pun Budi lari, matanya ikut. Tersenyum. Kadang tangannya bergerak, seperti mau ikut main.
Dewi duduk di sampingku. Tangannya di tanganku.
"Mas, kita bahagia ya?"
Aku lihat mereka. Budi yang tertawa riang. Risma yang tersenyum. Dewi yang tersenyum di sampingku.
"Iya, Ri. Kita bahagia."
Risma tiba-tiba panggil. "Pa... Bu... Di..."
Kami semua menoleh.
Risma tersenyum. Senyum lebar. Lalu tangannya bergerak. Perlahan. Susah payah. Tangannya naik, lalu sepert i... memeluk udara. Memeluk kami semua.
Aku nangis. Dewi nangis. Budi lari, peluk Risma.
"Kak, Budi sayang Kakak."
Sore itu, di halaman kecil, kami bahagia. Sederhana. Tapi sempurna.
Senin pagi. Aku buka pintu. Di teras, sebuah amplop putih. Tanpa perangko. Tanpa pengirim.
Aku buka. Tanganku gemetar. Ada firasat buruk.
Isinya singkat. Hanya dua baris.
Aku kembali. Kita lanjutkan.
- Joko
Aku diam membeku. Dunia yang baru tenang, kembali goncang.
Dari dalam, suara Risma. "Pa... Pa..." panggilnya riang.
Aku lihat ke dalam. Risma tersenyum. Budi di sampingnya. Dewi di dapur, lagi masak. Mereka tak tahu. Mereka bahagia.
Aku masukkan surat itu ke saku. Tak bilang siapa-siapa. Tak mau merusak kebahagiaan mereka.
Tapi malam itu, aku tak bisa tidur.
Aku duduk di teras. Kursi kayu Mbah Kar. Menunggu. Siapa tahu Joko datang.
Tak ada yang datang. Hanya angin malam. Dan suara jangkrik.
Besok, aku cari informasi. Tanya tetangga. Tanya warga. Tak ada yang lihat Joko.
Tapi surat itu nyata. Joko kembali. Dan kali ini, aku tak tahu apa yang akan terjadi.
Aku masuk. Kamar Risma. Risma tidur nyenyak. Tak tahu ancaman yang mengintai.
Aku duduk di sampingnya. Pegang tangannya.
"Nak, apapun yang terjadi, Bapak akan lindungi kamu. Bapak janji."
Risma tak bangun. Tapi tangannya... tangannya menggenggam jari Aryo. Dalam tidur. Erat.
Seperti bilang, "Aku percaya, Pa."
Di luar, bulan purnama. Terang. Tapi hati Aryo gelap.
Joko kembali. Dan kali ini, ia tak akan menunggu lama.
Aku tahu. Perang baru akan dimulai.
Tapi malam ini, untuk sementara, kami aman.
Aku tidur di samping Risma. Di lantai. Beralas tikar.
Tangannya masih menggenggam jariku.
Dan itu cukup. Untuk malam ini.
Besok, kami akan hadapi bersama.
Sebagai keluarga.
[BERSAMBUNG KE BAB 33: JOKO KEMBALI]