NovelToon NovelToon
Dia Masih Tetap Anaku

Dia Masih Tetap Anaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.

Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."

Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?

Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.

Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: RUMAH JADI ABU

Hari ke-2.360. Malam. Jam 2 dini hari.

"PA! RUMAH! RUMAH KITA!"

Jeritan Budi memecah malam. Tapi suaranya tenggelam oleh gemuruh api yang melahap rumah kami.

Aku terbangun dengan jantung berdebar. Udara panas. Asap hitam memenuhi kamar. Di luar jendela, lidah api menjilat-jilat langit malam.

Kulihat Budi sudah berdiri di pintu. Wajahnya merah kena pantulan api. Matanya terbelalak ketakutan.

"BUDI! RISMA! DEWI!"

Aku lari ke kamar Risma. Risma di tempat tidurnya, matanya terbuka lebar. Tubuhnya gemetar hebat. Ia tak bisa berteriak. Tak bisa lari. Tak bisa apa-apa. Hanya bisa menatapku dengan mata penuh ketakutan.

Aku gendong dia. Tubuhnya ringan. Tapi kali ini panas. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.

Dewi keluar dari kamar belakang. Wajahnya pucat pasi. "MAS! API!"

"KELUAR! CEPET!"

Aku dorong Dewi ke pintu. Budi di belakangnya. Aku terakhir dengan Risma di gendongan.

Di luar, kami berdiri mematung. Risma di gendonganku. Budi di sampingku, pegang tanganku erat. Dewi di belakangku, tangannya di mulut, menahan jerit.

Api membesar. Menjilat dinding. Menghanguskan atap. Suara kayu terbakar berderak-derak. Kaca jendela pecah satu per satu.

Kamar Risma, tempat ia berbaring selama 5 tahun, terbakar. Kursi khususnya, tempat ia menghabiskan hari-harinya, jadi arang. Mainan Budi, buku-bukunya, piala kecil dari lomba mewarnai, ikut hangus. Foto-foto pernikahan kami, kenangan Mbah Kar—foto satu-satunya yang kami punya—semuanya lenyap.

Risma di gendonganku, diam. Tak bisa berteriak. Tak bisa protes. Tak bisa apa-apa.

Tapi tubuhnya gemetar. Hebat. Napasnya cepat. Sangat cepat. Seperti orang kehabisan udara. Matanya terpaku pada api. Air matanya tak berhenti mengalir.

Itu satu-satunya cara ia bicara. Air mata. Gemetar. Napas yang cepat.

Budi nangis sejadi-jadinya. "PA, SELAMATKAN! SELAMATKAN RUMAH KITA! KAMAR KAKAK!"

Aku tak bisa bergerak. Hanya bisa memeluk mereka.

Dari kejauhan, terdengar suara sirine pemadam kebakaran. Tapi terlambat. Sudah terlambat.

Api mulai reda setelah satu jam. Rumah kami tinggal kerangka hitam. Dinding-dinding rubuh. Atap ambruk. Asap mengepul ke langit malam, membawa bau hangus yang menyengat.

Risma di gendonganku, masih diam. Tapi tubuhnya terus gemetar. Napasnya masih cepat. Cepat sekali. Air matanya masih jatuh. Tak berhenti.

Aku cium keningnya. "Nak... maafin Bapak... Bapak gagal lindungin rumah kita..."

Risma tak bisa jawab. Tak bisa. Ia hanya menatapku dengan mata basah. Tatapan itu... dalam. Seperti bertanya, "Pa, kenapa? Kenapa rumah kita habis? Kenapa kamarku habis? Kenapa?"

Aku tak bisa jawab. Aku hanya bisa menangis.

Itu cukup. Lebih dari cukup.

---

Malam itu, mereka mengungsi di musholla kecil milik Pak RT.

Lantai dingin. Hanya tikar pandan dan selimut seadanya. Musholla itu cuma 3x4 meter. Tapi cukup untuk kami berempat.

Risma terbaring lemas di tikar. Napasnya sesak. Bunyi grok... grok... dari dadanya. Matanya terus menatap langit-langit musholla. Genteng kayu. Lampu minyak. Bayangan-bayangan menari di dinding.

Aku cemas. Tapi tak bisa ke mana-mana. Rumah sakit jauh. Malam buta. Tak ada kendaraan.

Budi duduk di pojok. Memeluk lutut. Diam. Tak nangis. Tak bicara. Lebih menakutkan dari tangis.

Aku hampiri. "Nak, makan?" Budi diam. "Nak, minum?" Budi diam. Ia hanya memeluk satu-satunya mainan yang selamat: mobil-mobilan kecil yang ia genggam saat api datang.

Dewi di samping Risma. Tatapan kosong. Tangannya memegang tangan Risma, tapi matanya ke mana-mana.

Risma tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya memandangi ibunya. Pandangan itu penuh tanya. "Bu, kita kenapa? Rumah kita mana? Kita akan tinggal di mana?"

Dewi tak menjawab. Ia hanya diam. Kosong.

---

Pagi harinya, Risma demam tinggi.

Aku pegang keningnya. Panas. Sangat panas. Seperti bara.

Napasnya berat. Bunyi grok... grok... makin keras. Dadanya naik turun cepat.

Aku bawa dia ke puskesmas. Gendong sepanjang jalan. Risma di gendongan, tubuhnya panas. Matanya terpejam. Tapi sesekali terbuka, menatapku. Tatapan itu penuh ketakutan.

"Na... Nak... bentar lagi sampe... Bapak di sini..."

Risma tak bisa jawab. Tapi matanya... matanya terus menatapku. Seperti takut kalau ia pejam mata, aku akan hilang.

Di puskesmas, dokter periksa. Wajahnya serius.

"Infeksi saluran napas akut. Akibat menghirup asap terlalu banyak. Harus rawat inap."

Aku lega. Tapi dokter lanjutkan, "Tapi RS penuh, Pak. Semua kamar terisi. Kami tak bisa terima."

Aku pucat. "Tapi Dok, anak saya..."

Dokter menghela napas. "Saya usahakan cari RS lain. Tunggu."

Dua jam. Tiga jam. Risma di pangkuanku, tubuhnya makin panas. Napasnya makin berat.

Aku putus asa. Peluk Risma erat.

"Nak... Nak... jangan sakit... Bapak di sini... Bapak nggak akan biarin apa-apa sama kamu..."

Risma tak bisa jawab. Tapi matanya... matanya menatapku. Lama. Sangat lama. Air matanya jatuh. Deras.

Itu satu-satunya jawaban.

Akhirnya, RS lain menerima. Dengan bantuan Bu RT yang punya kenalan. Risma dirawat. Infus. Oksigen. Monitor.

Aku di sampingnya. Pegang tangannya. Risma pegang balik. Erat.

---

Tiga hari di rumah sakit. Risma mulai membaik.

Tapi di musholla, Budi masih diam.

Aryo tanya, "Nak, mau makan?" Budi diam. Dewi tanya, "Nak, mau minum?" Budi diam.

Ia hanya duduk di pojok musholla. Memeluk mobil-mobilan itu. Sepanjang hari.

Suatu sore, Aryo coba dekati lagi.

"Nak, cerita sama Bapak. Kenapa diem?"

Budi diam. Lalu perlahan, ia tunjuk ke arah bekas rumahnya. Ke arah reruntuhan hitam itu.

Lalu ia nangis. Nangis tanpa suara. Mulutnya terbuka, tapi suaranya tak keluar. Hanya isak. Isak tertahan.

Aryo peluk dia. "Nak, nanti kita bangun rumah baru. Lebih bagus."

Budi geleng. "Kamar Kakak... habis..."

Aryo diam. Tak tahu harus jawab apa.

"Kursi Kakak... habis... Kakak tidur di mana?"

Aryo nangis. "Nanti Bapak buatin kursi baru buat Kakak."

Budi lihat Aryo. "Janji?"

"Janji, Nak."

Budi diam. Lalu ia lihat ke arah Risma yang masih dirawat. Matanya berkaca. "Kakak... kapan pulang?"

"Besok, Nak. Kakak besok pulang."

Budi mengangguk. Lalu kembali diam. Memeluk mobil-mobilannya.

Dari tempat tidur darurat di musholla—yang nanti malam akan ditempati—Risma sebenarnya tak ada. Tapi seolah ia hadir. Menatap Budi. Menatap dengan cinta.

---

Berita kebakaran menyebar cepat.

Warga yang dulu menjauh, mulai datang satu per satu. Bawa nasi bungkus. Bawa pakaian bekas. Bawa uang sumbangan dalam amplop coklat.

Bu RT datang dengan ember berisi kebutuhan pokok. Beras, minyak, gula, telur. "Pak, ini buat sementara."

Pak RW buka posko bantuan di balai desa. Tenda didirikan. Donasi mulai masuk.

Anak-anak sekolah kumpulkan uang saku mereka. Dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu. Diserahkan dalam kantong plastik.

Media lokal datang. Liput. Wawancara. Foto-foto rumah yang hangus.

Nama Joko mulai disebut-sebut sebagai dalang. Warga yang dulu takut, kini bersuara. Mereka buat laporan bersama ke polisi. Tanda tangan 50 orang.

Polisi mulai bergerak. Periksa saksi. Kumpulkan bukti. Joko dipanggil.

Risma di tempat tidurnya—sudah pulang dari RS—melihat orang-orang datang dan pergi. Matanya mengikuti mereka. Satu per satu.

Ia tak bisa bicara. Tak bisa berterima kasih. Tak bisa bilang, "Makasih, Pak, Bu."

Tapi tatapannya... tatapannya penuh haru. Basah. Setiap kali ada yang bawa bantuan, matanya berkaca.

Aku lihat itu. Aku tahu. Risma bersyukur. Dengan caranya sendiri.

---

Malam ketiga di musholla.

Risma sudah agak pulang. Duduk di kursi pinjaman dari Pak RT. Budi di sampingnya. Mereka berdua diam. Tak ada kata. Hanya suara jangkrik dari luar.

Budi pegang tangan Risma. Erat.

Risma balas dengan tatapan. Tatapan yang bilang, "Kakak di sini, Di."

Budi menangis. "Kak, Budi takut."

Risma tak bisa jawab. Tapi matanya... matanya berkata, "Kakak juga takut, Di."

Budi pegang tangannya lebih erat. "Kak, kita kuat bareng-bareng ya?"

Risma mengedip. Pelan. Sekali. Itu satu-satunya cara ia bilang "iya".

Budi tersenyum. Senyum tipis. Senyum pertama setelah kebakaran.

Di pojok musholla, Aryo lihat mereka. Ia nangis. Tapi nangis haru.

Dua anaknya, saling menguatkan tanpa kata. Hanya dengan tatapan dan genggaman.

Dewi datang. Duduk di samping Aryo. "Mas, lihat mereka."

Aryo usap air mata. "Iya, Ri. Mereka kuat."

Dewi pegang tangannya. "Kita juga harus kuat, Mas."

Malam itu, mereka tidur di musholla. Berempat. Berdesakan. Tapi hangat.

Risma di kursi—tidur dengan posisi miring. Budi di sampingnya. Aryo dan Dewi di lantai.

Di luar, bulan purnama. Terang. Menerangi musholla kecil itu.

Dan di dalam, ada cinta. Cinta yang tak bisa dibakar api.

---

Seminggu setelah kebakaran.

Mereka masih tinggal di musholla. Tapi mulai melangkah.

Risma sudah bisa duduk di kursi—kursi baru sumbangan warga. Sederhana. Tapi kokoh.

Budi mulai mau bicara sedikit. "Pa, Kakak mau minum." "Bu, Kakak ganti popok." Ia kembali jadi penjaga Risma.

Dewi stabil. Terbantu oleh tetangga yang peduli. Ia mulai masak lagi di dapur darurat belakang musholla.

Aryo mulai melangkah. Dengan bantuan warga dan LSM, mereka dirikan tenda darurat di bekas rumah. Mulai kumpulkan kayu, bambu, genteng bekas.

Bangun rumah lagi. Dari abu.

Suatu sore, saat Aryo bekerja, Risma di kursi dekat tenda. Matanya ke arah Aryo. Tak lepas. Sepanjang sore.

Aryo merasa diperhatikan. Ia menghampiri.

"Nak, kenapa? Kok lihat Bapak terus?"

Risma menatapnya lama. Sangat lama. Matanya dalam. Basah.

Lalu... sudut bibirnya terangkat sedikit.

Senyum tipis. Senyum pertama setelah kebakaran.

Aryo nangis. "Nak, kamu senang kita bangun rumah lagi?"

Risma mengedip. Pelan. Sekali.

Iya.

Aryo peluk Risma. "Nak, Bapak janji. Bapak akan bangun rumah yang lebih baik. Buat kamu. Buat Budi. Buat Ibu. Dengan kursi baru. Kamar baru. Semua baru."

Risma di pelukannya, diam. Tapi di pipinya, air mata jatuh. Air mata bahagia.

Budi lari dari belakang. "KAKAK NANGIS? KAKAK SAKIT?"

Aryo tertawa. "Nggak, Nak. Kakak nangis bahagia."

Budi bingung. Tapi ikut senang. Ia peluk Risma juga. "Kak, Budi sayang Kakak."

Risma tak bisa jawab. Tapi matanya... matanya bilang, "Kakak juga sayang Budi."

Di kejauhan, di balik pohon besar, sesosok bayangan mengintai.

Joko.

Tapi kali ini, ia tak sendiri. Warga sudah siap. Polisi sudah bergerak. Media sudah menulis.

Joko mungkin bisa bakar rumah. Tapi ia tak bisa bakar semangat.

Semangat keluarga ini. Semangat warga yang mulai bersatu.

Aryo lihat ke arah bayangan itu. Tak takut lagi.

"Joko, kau boleh hancurkan rumahku. Tapi kau tak akan pernah hancurkan keluargaku."

Risma di gendongan, menatap ke arah yang sama. Matanya tajam.

Tak takut.

Bersama, mereka kuat.

---

[BERSAMBUNG KE BAB 36: MELAWAN JOKO]

1
Nurgusnawati Nunung
Ya Allah yang Maha Kuasa... semangat thor
Nurgusnawati Nunung
mewek lagi.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
keluarga yang kuat.. semangat.
Nur Syamsiah
certNy bagus menyentuh
Nurgusnawati Nunung
semangat thor...
Ayaelsa: Terima kasih dukungannya😄
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
cerita di dunia nyata itu sangat mengerikan jika ada orang seperti Joko
Nurgusnawati Nunung
orang jahat banyak akal iblis
Nurgusnawati Nunung
Ada ada saja orang gila harta orang lain.,
Nurgusnawati Nunung
Mbah Kar sudah tiada.. semoga ada lagi orang baik sepertinya. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
berjuang lah Risma untuk orang tuamu yang tak henti berjuang untukmu.. sedih baca cerita ini. semangat thor
Ayaelsa: terimakasih sudah Sudi membaca
total 1 replies
Siti Dede
Semangaaaat👍
Nurgusnawati Nunung
kecil amat gaji sebulan
Nurgusnawati Nunung
kasihan sekali hidup mereka.. semoga selalu diberi kemudahan
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah masih ada orang baik.
Nurgusnawati Nunung
Yaa Allah..
Ayaelsa: terima kasih sudah membaca kisah ini
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
sedih yaaa. alhamdulillah susternya pada baik. semangat
Nurgusnawati Nunung
Thor.. belum apa2 sudah lemas hatiku. sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!