Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terperangkap dalam Dokumen
Yohan kembali ke dalam rumah warisan yang terasa sunyi membeku. Tekadnya kini bulat. Prioritas utama: memotong jalur mundur Yosef. Semua yang ditinggalkan ayahnya adalah kunci bagi ‘Janji Darah’ yang disebutkan Ina, tetapi itu juga sumber trauma Yohan sendiri.
Ia menyambar peti berisi jimat, dokumen tangan Ayahnya, dan berbagai benda ritual lainnya. Ia menyusun tumpukan kertas, kayu rapuh, dan karung goni penuh sampah keluarga di halaman belakang yang dekat dengan pohon kamboja sialan itu. Tempat inilah yang harus dibersihkan total—simbol pelepasan dari masa lalu.
Selamat tinggal, trauma Ayah. Aku harus membakarmu untuk bisa membakar ikatan yang kamu buat.
Yohan menyalakan korek api. Tumpukan kayu tua menyala dengan api yang besar, memercikkan serpihan-serpihan semangat baru di hati Yohan. Untuk sesaat, ia merasakan kebebasan. Namun, kebebasan itu berumur pendek.
Tiba-tiba, api di dasar tumpukan padam secara aneh. Tidak ditiup angin atau dituang air. Hanya terhenti. Panasnya tidak hilang;
Asap busuk itu bukan hanya menghalangi pandangan, tetapi juga terasa menyedot udara dari sekitarnya. Yohan terbatuk hebat, matanya pedih luar biasa. Ini adalah asap yang sangat tidak alami.
“Sialan! Api nggak begini,” Yohan memegangi tenggorokannya, kesulitan bernapas. Ia berbalik dan berlari mundur dari lingkaran asap. Hanya dalam dua tarikan napas, ia merasa hampir sesak, seperti paru-parunya penuh oleh batu panas.
Terdengar tawa halus yang samar, mirip tawa tangisan dari balik pintu kamar. Roh Sumiati menanggapi tindakannya.
“Kau nggak akan membuang barang Ayahku!” teriak Yohan dengan marah dan suara serak. Ia berlari ke dapur, mencari ember air, dan menyiram tumpukan itu habis-habisan hingga api dan asap itu mati, meninggalkan jelaga hitam di pekarangan.
Baik. Tidak ada yang bisa dihancurkan secara fisik. Aku harus menyelesaikannya secara legal dan ritualistik, persis seperti tuntutan Marta.
***
Kantor Kecamatan Yalimo berada di bangunan panggung kayu yang agak kumuh, meskipun memiliki sebuah parabola mini yang modern di atapnya. Yohan datang di siang hari, mengenakan kemeja bersih dan menunjukkan semua sikap formalitas yang bisa ia tiru dari masa kecilnya di sini.
“Saya butuh salinan legal dari semua sertifikat kepemilikan Yosef dan Sumiati, bukan sekadar rangkuman. Dan saya ingin membaca berkas pendukung tentang klausul adat itu,” Yohan berkata tegas kepada seorang pegawai yang duduk lesu di belakang meja kayu. Petugas itu, bernama Anton, terlihat berusia awal dua puluhan, dengan tatapan yang sudah menyerah terhadap kehidupan birokrasi.
Anton menghela napas panjang. Ia menunjuk ke dokumen di atas mejanya.
“Bapak Yohan, ini dokumen salinan. Kami sudah memberikannya saat awal. Tentang klausa adat, semua sudah ditangani langsung oleh Ibu Marta sebagai Kepala Desa dan ketua Adat. Berkas induk tidak diperkenankan keluar dari lemari arsip Adat. Itu aturan,” jelas Anton.
“Aku sudah gagal menjual properti ini. Calon pembeli sudah diteror,” balas Yohan, menahan keinginan untuk menjelaskan detail serangan batu melayang dan batang kamboja yang membengkok.
“Masalah ini kini tidak bisa diselesaikan di luar. Ini urusan internal adat dan saya butuh tahu apa yang harus saya hadapi. Keluarkan berkas Yosef sekarang, tolong.”
“Saya tidak bisa. Instruksi dari Ibu Marta—dan dia tidak mau Anda terlalu cepat mendapatkan dokumen-dokumen itu. Beliau bilang, Anda perlu… menyesuaikan diri secara spiritual dulu,” kata Anton, merapikan dokumennya.
Yohan menundukkan badan hingga wajahnya berada di level wajah Anton. Matanya menusuk dingin.
“Begini, Anton. Kamu mungkin takut pada Ibu Marta dan tetua-tetua yang haus ritual konyol. Tapi dengar, ini dokumen resmi pemerintah daerah. Saya punya koneksi ke Jakarta dan tahu betul bagaimana cara mengajukan tuntutan pemaksaan membuka informasi publik. Kalau kamu tetap menyembunyikan dokumen sah saya atas dasar ‘penyesuaian spiritual’ ini, kamu akan kehilangan pekerjaan, dan Ibu Marta akan terseret masuk. Berikan aku berkas asli warisan Ayah, sekarang.”
Anton, kaget karena Yohan langsung melompat ke ancaman hukum tingkat tinggi yang tak bisa dilawan dengan alasan adat, langsung pucat.
“Tunggu sebentar. Saya—saya perlu mengecek arsip,” kata Anton gugup, langsung berdiri dan berlari ke lemari baja di sudut ruangan.
Yohan bersandar ke meja, tersenyum sinis. Adat tidak berarti apa-apa saat berhadapan dengan pasal hukum korporat dan kekuasaan modal, batinnya. Ini adalah pertarungan yang dia menangkan—pertarungan dalam bahasa yang ia pahami.
Setelah lima menit yang terasa canggung, Anton kembali membawa sebuah sertifikat lama, berwarna kuning dan sedikit sobek, serta sebuah kertas tambahan bergaris-garis tinta tebal, bertanggal dua dekade lalu.
“Ini sertifikat aslinya, Tuan Yohan. Salinan klip dari arsip Desa dan Kabupaten,” bisik Anton, tangannya gemetar.
“Tolong jangan beritahu Marta.”
Yohan mengabaikannya. Dia memindai cepat Sertifikat Warisan Tanah yang selama ini disembunyikan. Semua legalitas formal, batas tanah, meter persegi—semua jelas. Namun, matanya tertuju pada paragraf akhir di bagian notaris. Paragraf ini tidak ada di salinan yang Marta berikan padanya seminggu lalu.
Klausul kuno itu ditulis dengan tulisan tangan rapi oleh mendiang notaris lama. Isinya dingin, resmi, dan mengerikan.
***
Yohan menarik napas panjang.
“’Tanah terikat pada Janji Darah Pewaris Pertama—Sumiati. Penjualan properti ke luar keluarga besar (Yalimo) tidak diperkenankan sampai syarat: Keterikatan Ikatan Roh Pemilik (Sumanti) Telah Ditukar Melalui Ritual Penentuan Adat yang Dilaksanakan oleh Ahli Waris Darah.’”
Dia mengangkat kepala, menatap Anton dengan matanya yang dingin.
“’Pewaris Pertama?’ Kenapa bukan Yosef, suaminya?” tanya Yohan.
“Ah—Saya nggak tahu, Pak Yohan. Tapi kalau dari dokumen lama... sepertinya almarhumah ibu Anda, Sumiati, mewariskan tanah itu dari orang tuanya di kota. Kemudian menikah dengan Bapak Yosef. Namun, Bapak Yosef mendaftarkannya sebagai harta keluarga dan menambahkan klausul itu setelah Sumiati meninggal,” jelas Anton, suaranya sedikit pulih setelah bahaya gugatan hukum berlalu.
Yosef tidak menambahkan klausul perlindungan spiritual ke tanah warisan keluarga besarnya, pikir Yohan dengan penemuan yang pahit. Dia menambahkannya ke tanah milik Ibuku—untuk mengikatnya sebagai Penjaga Batas. Dan kenapa itu disebut 'Janji Darah' saat aku yang harus melakukan Ritual Pertukaran Jiwa?
Di bawah klausul mengerikan itu, terdapat beberapa paraf dari Sesepuh Marga Yalimo. Parah Marta ada di sana, dicap rapi dengan tinta biru, mendampingi para tetua.
Yohan mengeraskan rahangnya. Kecurigaannya terkonfirmasi. Marta tahu ini, dan dia sengaja tidak memberikan dokumen ini. Ia juga tidak ingin ritualnya selesai dalam waktu cepat—karena ritual pelepasan itu harus merujuk pada dokumen ini.
“Jadi ritual yang Marta bilang ‘butuh dua bulan untuk mengurus izin dari tujuh tetua marga’ itu… sebenarnya ritual untuk melepaskan ikatan Sumiati?” tanya Yohan.
Anton hanya mengangguk hati-hati.
“Betul, Bapak. Dan itu harus selesai baru dokumennya bisa dipindahtangankan. Itu memang aturan kaku di sini, sejak lama. Terutama untuk properti-properti sensitif yang berbatasan dengan batas suci.”
Yohan menyimpan sertifikat itu.
Mode jual-beli sudah benar-benar mati. Sekarang ini mode investigasi brutal yang didorong oleh kemarahan terhadap ayahnya yang fanatik dan ambisi Marta untuk mengontrol segala hal.
“Terima kasih atas bantuanmu, Anton. Ingat, jangan bicara apa-apa soal dokumen ini. Dan bilang ke Marta kalau saya tetap pergi dari sini minggu depan. Urusanku selesai,” ujar Yohan, meletakkan selembar uang seratus ribuan di atas meja—sebuah suap modern yang murah namun efektif.
Saat Yohan melangkah keluar dari kantor kecamatan yang gerah, hatinya merasa sedikit tercerahkan sekaligus terasa jauh lebih berat. Janji Darah ini menuntut Pertukaran roh. Yosef, sang pewaris, sengaja mengikat ibunya, dan Sumiati tidak pernah memiliki kesempatan. Semangat yang ia temui di kamboja itu adalah jiwa yang terpaksa bertugas.
Ayah tidak meninggalkan Pusaka. Dia meninggalkan Penjara Spiritual, pikir Yohan. Ia tahu sekarang ia tidak hanya mencoba membebaskan diri, ia harus membebaskan ibunya, apapun taruhannya.
***
Dua hari berlalu. Yohan menyibukkan diri. Mencoba tidak peduli dengan bau busuk yang tetap muncul sesekali dari kamar Sumiati. Dia fokus mempelajari setiap kata dan simbol yang mungkin tertulis di salinan dokumen. Di sisi lain, ia mencoba mencari jejak ‘pusaka’ atau artefak yang mungkin dimiliki ayahnya terkait Janji Darah.
Di sore yang keheningannya memekakkan telinga, Yohan menemukan satu hal yang tak pernah ia berani dekati sejak tiba. Cermin bundar besar di kamar ibunya—yang dipenuhi kain penutup usang.
Kaca retak, cermin tempat terakhir Ibu merias diri sebelum.... Yohan menghentikan pikirannya. Dia merasa tegang hanya karena menatap kain kusam itu. Namun, kini setelah dia tahu ibunya adalah korban ritual ayahnya, Yohan dipaksa oleh empati untuk membuka kain itu.
Yohan perlahan meraih ujung kain penutup dan menariknya. Kain usang itu berjatuhan ke lantai. Cermin itu sendiri tidak besar, hanya cermin rias yang usianya sudah tua, dengan sedikit noda bintik-bintik kehitaman di lapisan peraknya.
Cermin itu menangkap bayangan dirinya: Yohan, tampak lelah, cemas, dan berantakan—wujud asli seorang pebisnis sukses yang kehilangan semua pijakannya di Yalimo.
Ia menyentuh cermin itu. Permukaannya terasa sangat dingin, dingin yang melampaui dingin normal suhu ruangan. Bau kamboja busuk tiba-tiba menusuk indranya lagi, seolah bau itu terperangkap di antara kaca dan dinding. Dan kemudian, perlahan, bayangan di cermin itu mulai berubah.
Bayangan Yohan, yang berdiri kaku, perlahan tersamarkan. Yohan tidak melihat bayangan bayangan di atas dirinya, melainkan penggantian bayangan.
Bayangan dirinya di cermin diganti oleh wajah wanita yang ia tahu dari foto masa kecil: wajah Sumiati. Hanya kali ini, wajah itu tidak berupa bayangan atau hantu menakutkan seperti di bawah kamboja. Itu tampak penuh, detail, dan yang paling mencekik—penuh kesedihan.
Matanya tampak menatap langsung ke jiwa Yohan. Tidak ada kemarahan, hanya rasa sakit yang begitu mendalam, seperti ibunya berjuang melawan kekuatan yang menahannya.
Akhirnya, dengan gerakan terakhir dari roh ibunya yang tampak tersiksa dan sedih itu, Yohan melihat sebuah kata muncul, tidak di bibir, melainkan dalam tetesan embun yang terbentuk di permukaan dingin cermin itu. Tertulis secara horisontal di atas bayangan wajah ibunya yang memohon, dengan huruf tebal dan runcing.
“PUSAKA.”
Kemudian, embun itu meluncur turun ke sudut cermin, dan bayangan Sumiati yang tersiksa itu lenyap, diganti lagi oleh wajah pucat Yohan yang tengah memandang cermin dengan mata terbelalak ketakutan dan penasaran. Itu bukan kata ancaman. Itu adalah petunjuk. Itu adalah kunci.
Apa itu Pusaka, Bu? batin Yohan. Ia kini harus memutus janji darah dan menemukan pusaka yang ditunjuk ibunya.