NovelToon NovelToon
Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kriminal dan Bidadari / Slice of Life / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​"Kau pikir aku akan menyentuhmu? Aku lumpuh."

​Ucapan dingin Elzian Drystan di malam pertama mereka langsung dibalas senyum miring oleh istrinya.

​"Otot betis kencang, tidak ada atrofi, dan pupilmu melebar saat melihatku. Kau tidak lumpuh, Tuan. Kau hanya pembohong payah."

​Dalam detik itu, kedok Ziva Magdonia sebagai istri 'tumbal' runtuh. Dia adalah ahli bedah syaraf jenius yang mematikan. Rahasia Elzian terbongkar, dan kesepakatan pun dibuat: Elzian menghancurkan musuh yang mencoba membunuhnya, dan Ziva memastikan tidak ada racun medis yang bisa menyentuh suaminya.

​Namun, saat mantan kekasih Elzian datang menghina, Ziva tidak butuh bantuan.

​"Hidungmu miring dua mili, silikon dagumu kadaluarsa... mau kuperbaiki sekalian?"

​Bagi Ziva, membedah mental musuh jauh lebih mudah daripada membedah otak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Elzian Mulai Tertarik

​Kartu hitam berbahan logam itu meluncur mulus di atas meja marmer, berhenti tepat di depan piring roti Ziva. Kilau Black Card itu memantulkan cahaya lampu gantung kristal di atasnya.

​Ziva berhenti mengunyah. Dia menatap kartu itu, lalu menatap pria yang melemparkannya.

​"Apa ini? Pesangon karena aku berhasil menangkap tikus di rumahmu kemarin?" tanya Ziva santai.

​Elzian tidak langsung menjawab. Dia melipat koran bisnis yang sedang dibacanya, lalu menatap penampilan Ziva dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan mengkritik. Ziva hari itu hanya mengenakan kaus polos kedodoran dan celana jeans yang warnanya sudah sedikit pudar di bagian lutut. Nyaman, tapi jauh dari kata mewah.

​"Pakai itu," perintah Elzian datar. "Beli baju yang layak. Kau istri Elzian Drystan sekarang. Aku tidak mau kolega bisnisku berpikir keluarga Drystan bangkrut karena melihat istrinya berpakaian seperti gembel pasar malam."

​Ziva mengangkat alisnya. "Gembel? Ini fashion, Pak Tua. Dan ini nyaman."

​"Itu sampah visual," balas Elzian ketus. "Gesek sesukamu. Habiskan limitnya kalau bisa—walaupun aku ragu kau sanggup menghabiskan limit kartu itu seumur hidupmu. Anggap saja itu biaya operasional agar kau tidak mempermalukanku di depan umum."

​Ziva mendengus geli. Dia mengambil kartu hitam yang berat itu, memutar-mutarnya di antara jari-jari lentiknya seolah itu hanya mainan plastik murah.

​"Wow. Unlimited," gumam Ziva. "Banyak wanita di luar sana pasti rela membunuh demi memegang kartu ini."

​"Bagus kalau kau sadar posisimu. Jadilah istri penurut dan nikmati fasilitasmu," ucap Elzian angkuh, kembali membuka korannya.

​Tring!

​Kartu hitam itu mendarat kembali di pangkuan Elzian.

​Elzian tersentak kaget. Dia menatap kartu di pangkuannya, lalu menatap Ziva dengan sorot tak percaya. Belum pernah ada orang yang menolak uangnya. Apalagi wanita.

​"Simpan uangmu," kata Ziva dingin. Dia kembali meminum jus jeruknya dengan tenang. "Pakai saja untuk bayar premi asuransi jiwamu yang mahal itu. Kau punya banyak musuh, kan? Kau pasti butuh uang itu untuk biaya rumah sakit kalau suatu hari aku terlambat menyelamatkanmu."

​"Kau menolak pemberianku?" suara Elzian merendah, tersinggung.

​Ziva meletakkan gelasnya dengan sedikit hentakan. Dia menatap lurus ke mata Elzian, tatapan seorang profesional yang setara, bukan bawahan.

​"Dengar, Elzian. Jangan samakan aku dengan wanita-wanita yang biasa kau temui. Aku punya karir. Aku punya gaji. Tanganku ini..." Ziva mengangkat kedua tangannya, memamerkan jari-jarinya yang bersih. "...tangan ini sudah membedah ratusan otak manusia dan menyelamatkan ribuan nyawa. Bayaranku per jam mungkin lebih tinggi dari gaji pelayanmu setahun."

​Ziva condong ke depan, menantang dominasi suaminya. "Aku menikahimu untuk mengamankan aset rumah peninggalan orang tuaku, bukan untuk jadi peliharaan yang perlu kau beri makan. Aku bukan kucing yang akan mengeong senang cuma karena dilempar ikan asin."

​Rahang Elzian mengeras, tapi di dalam matanya, ada kilatan ketertarikan yang semakin kuat. Wanita ini keras kepala. Liar. Dan sangat bangga. Berbeda jauh dari Sienna, mantannya yang selalu merengek minta dibelikan tas branded.

​"Kau sombong sekali, Dokter," desis Elzian.

​"Itu fakta, bukan sombong," balas Ziva.

​Tiba-tiba, ponsel Ziva di saku jeans bergetar hebat, diikuti nada dering standar rumah sakit yang nyaring dan mendesak.

​Ekspresi Ziva berubah drastis dalam sepersekian detik. Wajah mengejeknya lenyap, digantikan oleh topeng keseriusan yang dingin dan fokus. Aura santainya menguap, berganti menjadi aura otoritas yang kuat.

​"Halo? Dokter Ziva bicara," jawabnya cepat.

​Suara panik terdengar samar dari seberang telepon.

​Mata Ziva menyipit. "Hematoma epidural? Pasien usia berapa? Tujuh tahun? Jatuh dari lantai dua?"

​Ziva langsung berdiri dari kursi makan, mengabaikan Elzian sepenuhnya. Otaknya sudah berpindah ke ruang operasi.

​"GCS-nya berapa sekarang? Menurun jadi delapan? Sial, itu pendarahan arteri," Ziva menyambar tas kerjanya di kursi sebelah. Kakinya melangkah cepat menuju pintu keluar. "Jangan tunggu hasil scan lengkap. Siapkan Ruang Operasi Satu. Panggil anestesi sekarang. Cukur area temporal kanan. Saya jalan sekarang. Pertahankan tekanan darahnya!"

​Ziva mematikan telepon, menyambar jas hujan tipis yang tergantung di dekat pintu. Dia tidak menoleh lagi pada Elzian.

​"Aku harus pergi. Ada nyawa yang harus ditarik dari lubang kubur," pamit Ziva singkat sambil membuka pintu utama.

​Angin kencang langsung menerpa wajahnya. Di luar, langit hitam pekat memuntahkan hujan badai yang mengerikan. Petir menyambar, menerangi halaman mansion yang basah kuyup. Pohon-pohon bergoyang hebat seolah mau tumbang.

​Ziva mengumpat pelan. "Sial, taksi pasti susah."

​Dia baru saja hendak nekat menerobos hujan menuju gerbang depan, ketika sebuah tangan kekar menahan pergelangan tangannya.

​Ziva menoleh kaget.

​Elzian sudah berada di belakangnya dengan kursi roda elektriknya. Cengkeraman tangannya kuat, menahan Ziva agar tidak melangkah ke luar teras.

​"Lepaskan! Pasienku sekarat!" seru Ziva panik, berusaha melepaskan diri. "Setiap detik berharga, Elzian!"

​"Kau mau mati konyol?" bentak Elzian, suaranya mengalahkan deru hujan. "Lihat di luar. Badai, banjir, dan pohon tumbang. Tidak ada taksi yang mau lewat di cuaca begini. Kau mau lari ke rumah sakit? Kau akan tersambar petir sebelum sampai di gerbang kompleks!"

​"Lalu aku harus apa?! Diam saja sementara anak kecil mati?!" mata Ziva berkaca-kaca karena frustasi dan adrenalin.

​Elzian menatap mata istrinya. Dia melihat dedikasi yang murni di sana. Ketakutan bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk pasien yang bahkan belum ditemuinya.

​Elzian melepaskan tangan Ziva, lalu menekan tombol interkom di pegangan kursi rodanya.

​"Raka! Siapkan mobil di lobi. Sekarang!" perintah Elzian tegas lewat alat komunikasi itu.

​"Tapi Pak, cuaca..." suara Raka terdengar ragu.

​"SEKARANG!" bentak Elzian memutus bantahan. Dia mematikan interkom dan menatap Ziva lagi.

​"Masuk ke mobil. Jangan banyak tanya," kata Elzian sambil memutar kursi rodanya menuju pintu akses garasi VIP. Wajahnya keras, tapi nadanya tidak bisa dibantah.

​"Aku akan mengantar istriku bekerja."

1
Warni
🥰🤭🤭🤭🤭😂
Warni
Lebih galak Ziva.
Warni
😫
Warni
😂
Warni
🤭
Warni
Ngambek nanti si Suami klu tulisannya di ejek jelek.
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
kalau orang mengira Elzian lumpuh maka kakinya adalah istrinya sendiri. good job Ziva
Ma Em
Akhirnya Ziva bisa mengalahkan Elzian akibat egonya yg terlalu tinggi dan keras kepala orang lain tdk ada yg berani melawan Elzian tapi Ziva bisa mengalahkan nya hebat kamu Ziva .
Savana Liora: iya. mantap
total 1 replies
Warni
🥰
Warni
Mengamuk.🤣
Warni
😂
Warni
😁
Warni
😂
Warni
Jangan bilang Dokter Rayn di pindah tugaskan.🤭
Warni
😂🥰🥰🥰
Warni
🥰
Warni
🤣
Warni
Oh mampus.
Savana Liora: tau rasa dia
total 1 replies
Aanisa aliya
lanjutkan
Savana Liora: besok ya
total 1 replies
Warni
Ohhh,mantap pak.Suami siaga.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!