NovelToon NovelToon
Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: bg.Hunk

Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Suara yang Tinggal

Suara Azmi memenuhi ruang toko es krim tanpa ia sadari.

Awalnya pelan—sekadar mengikuti irama yang ia ketuk di meja.

Lalu perlahan menguat. Hangat. Dalam.

Percakapan di sekitar mereka mulai mereda.

Sendok yang tadi beradu dengan mangkuk berhenti.

Beberapa orang menoleh.

Ada yang tersenyum.

Ada yang hanya diam… mendengarkan.

Bahkan seseorang diam-diam mengangkat ponsel, merekam dari jauh.

Namun Azmi tidak sadar.

Ia hanya bernyanyi.

Untuk Gina.

Di depannya, Gina menatap tanpa berkedip.

Dagunya bertumpu di kedua tangannya, senyum kecil terselip di wajahnya.

Lirik yang keluar dari mulut Azmi terasa… tepat.

Seolah setiap kata sedang bicara langsung padanya.

Tentang lelah. Tentang bertahan. Tentang tetap berjalan meski sendirian.

Tanpa sadar, Gina mengikuti iramanya.

Awalnya hanya lirih.

Lalu suaranya mulai menyatu dengan suara Azmi.

Harmoni tercipta.

Tidak direncanakan.

Tidak dipoles.

Tapi terasa tulus.

Dan untuk beberapa menit—

toko es krim itu seperti berhenti bernafas.

Sampai akhirnya… lagu itu selesai.

Hening.

Lalu—

Tepuk tangan tiba-tiba memenuhi ruangan.

Azmi tertegun. Matanya membesar saat menyadari semua orang sedang menatap ke arah mereka.

Ia langsung berdiri refleks, sedikit panik, lalu membungkukkan badan.

“Maaf… kalau ganggu waktu kalian,” ucapnya sopan.

Beberapa pengunjung justru tersenyum.

“Ganggu apanya? Suaramu bagus banget,” sahut seseorang.

“Iya, enak didengar!” timpal yang lain.

Azmi tertawa kecil, malu. Tangannya menggaruk tengkuk.

Ia duduk kembali, lalu menoleh ke Gina.

“Kamu nggak bilang kalau dari tadi diperhatiin orang,” bisiknya pelan.

Gina tertawa kecil.

“Biarin aja,” jawabnya ringan.

“Lagipula… emang suara kamu bagus.”

Lalu—

“Dan… aku suka,” ucap Gina pelan, tatapannya lurus menembus mata Azmi.

Azmi hanya tersenyum kecil, tidak benar-benar memahami seberapa dalam kalimat itu bagi Gina.

Namun bagi Gina—

itu adalah momen ketika ia sadar, perasaannya sudah tidak bisa disebut sekadar nyaman.

Ia benar-benar menyukai Azmi.

Dan di saat yang sama… ia juga sadar.

Di hati Azmi, ada nama lain yang lebih dulu tinggal.

Sahabatnya sendiri.

Gina tetap tersenyum.

Tapi jemarinya mencengkeram sendok terlalu kuat.

...----------------...

Tak lama, ponsel Azmi berdering.

Azmi melirik layar, lalu berdiri.

“Eh, tunggu di sini dulu ya. Ayahku nelpon,” ucapnya pelan.

Gina mengangguk.

Azmi berjalan menjauh, mencari sudut yang lebih sepi. Suaranya masih terdengar samar dari kejauhan.

“Iya, Yah…”

“Aku lagi sama Gina.”

“Iya… di toko es krim.”

“Baik… bentar lagi aku pulang.”

“Iya.”

Panggilan berakhir. Azmi kembali menghampiri meja.

“Maaf, Gin. Kayaknya kita harus pulang sekarang,” katanya.

Gina menatapnya. “Ada apa?”

“Aku harus siap-siap buat pesta malam ini,” jawab Azmi.

Gina tertegun sejenak, lalu menepuk dahinya pelan.

“Oh iya… aku lupa. Hari ini ulang tahun kamu, kan? Kamu malah di sini nemenin aku… padahal ada acara penting.”

Nada suaranya terdengar menyesal.

Azmi menggeleng kecil.

“Kan aku emang lagi nganter kamu pulang. Mampir ke Sini juga karena kamu yang mau.”

Ia berdiri sambil meraih kunci mobil.

“Ayo, aku anter kamu pulang dulu.”

Gina buru-buru menggeleng.

“Nggak usah. Kamu pulang duluan aja. Biar aku telepon orang rumah buat jemput.”

Azmi berhenti, lalu menatapnya.

“Enggak bisa,” katanya pelan tapi tegas.

“Udah tanggung. Dari tadi aku yang bareng kamu, jadi aku anter sampai depan rumah.”

Ia tersenyum tipis.

“Lagipula… aku malu sama ayah kamu nanti kalau ninggalin kamu sendirian.”

Gina terdiam sebentar, lalu menghela napas kecil.

“Ya udah… kalau kamu maksa,” ucapnya akhirnya.

Senyum kecil muncul di wajahnya.

"Ayo pulang."

...----------------...

Mereka akhirnya sampai di rumah Gina.

Mobil berhenti tepat di depan halaman. Azmi langsung turun, membuka bagasi, lalu mengangkat satu per satu tas belanjaan milik Gina.

Namun saat hendak melangkah, ia sadar Gina belum bergerak.

Gina masih berdiri di dekat mobil.

Diam.

Seperti ragu untuk benar-benar pulang.

Azmi menoleh sekilas. Tanpa banyak kata, ia mendekat—lalu meraih lengan Gina begitu saja.

Gina terkejut. Pandangannya langsung tertuju ke arah Azmi.

“Ayo,” ucap Azmi singkat, tetap menatap ke depan.

“Aku anter kamu masuk.”

Nada suaranya datar, tapi tegas.

Tanpa sadar, Gina menurut. Langkahnya mengikuti Azmi.

Tangannya malah berbalik memegang lengan Azmi lebih erat.

Jantungnya berdetak cepat. Pipi terasa hangat.

Entah kenapa… hari ini Azmi terlihat berbeda.

Lebih berani. Lebih tegas. Dan… anehnya terasa menenangkan.

Azmi menekan bel rumah.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.

Ayah Gina berdiri di sana.

Tatapannya langsung berpindah dari Gina… ke Azmi… lalu ke tas-tas belanjaan di tangan mereka.

“Selamat sore, Om,” sapa Azmi sopan, sedikit menunduk.

“Maaf Gina baru pulang. Tadi saya minta dia nemenin belanja buat persiapan pesta malam ini.”

Ayah Gina mengernyit tipis.

“Lalu tas itu apa?”

“Oh… ini,” jawab Azmi cepat.

“Hadiah dari saya buat Gina. Udah mau nemenin.”

Gina kaget. Matanya langsung menoleh ke arah Azmi.

“Benarkah, Gina?” tanya ayahnya.

Gina terdiam sepersekian detik.

Ragu.

Namun sebelum ia menjawab—

“Oh iya,” Azmi tiba-tiba menyela santai.

“Tadi ada yang belum sempat. Boleh minta nomor rekening kamu, Gina? Uangnya belum sempat saya transfer.”

Gina mengerjap.

“Nomer rekening…?”

Azmi mengangguk kecil. Lalu mengedip sekilas—kode yang hanya Gina pahami.

Gina langsung mengerti.

“Iya… aku kirim,” jawabnya pelan.

Beberapa detik kemudian, ponsel Gina bergetar.

Nominal transfer masuk.

Jumlahnya… sama dengan semua harga belanjaan tadi. Bahkan lebih.

Gina menatap layar itu, lalu menatap Azmi.

Kali ini benar-benar terdiam.

“Udah saya transfer,” ucap Azmi santai.

“Kalau gitu saya pamit dulu, Om.”

Ia menunduk sopan.

Ayah Gina mengangguk singkat.

“Iya. Hati-hati.”

Azmi berbalik, melangkah menuju mobil.

Sebelum masuk, ia sempat melambaikan tangan kecil ke arah Gina.

Gina membalas refleks.

Mobil itu pergi.

Meninggalkan halaman yang tiba-tiba terasa sunyi.

“Kenapa kamu nggak bilang dari tadi kalau kamu pulang bareng Azmi?” tanya ayahnya tiba-tiba.

Gina menoleh.

“Maaf… aku takut Ayah marah karena aku nggak jadi les.”

Ayahnya terdiam sebentar.

“Sudah. Masuk.”

“Siap-siap. Malam ini kita datang ke pesta Azmi.”

Gina sedikit terkejut.

Biasanya, ayahnya tidak akan melewatkan kesempatan untuk memarahinya.

Tapi hari ini… tidak.

Tidak ada teguran.

Tidak ada tekanan.

Hanya kalimat datar… dan izin.

Gina masuk ke rumah dengan langkah pelan.

Di dadanya, ada rasa lega yang aneh.

Dan untuk pertama kalinya—

ia sadar…

Hari ini, ada seseorang yang berdiri di depannya.

Melindunginya.

Tanpa diminta.

1
Nayla Syberia
di posisi nya Gina maksudnya typo lagi 🤧😬😭
Nayla Syberia
Sakit sih kalo di posisi nya Gimana,tapi yaa mau gimana,dah terlanjur😀.
Dukung penuh lah kalo Gina mau mindahin hati nya ke Dio,mungkin bisa lah ampe pasutri🤭
Hunk
Makasih banyak udah mampir dan ngikutin ceritanya. Semoga kakak nggak kaget dengan alur yang bakal datang nanti.🙏🤭
Nayla Syberia
Wah,apakah apakah apakah Gina dan Dio ni nyusul🤭
Choco Syam
walau ga mudah tpi perasaanku sama gina mulai berdamai
Choco Syam
good girl... kmu punya sahabat yg tepat ginaaa..😊
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
Choco Syam
maaf bang, tpi aku klo di posisi gina jg bkal mikir sperti itu sihh hehe... kliatan dangkal namun, menyakitkann.. proud of you gina..
maaf yaa nangis sedikittt
Choco Syam: yahh.. berusaha tegarr itu kita harus benar" kuatt..
total 2 replies
Choco Syam
Aku adalah gina di cerita ini. entah kapan kbruntungan itu datang. bukan anak sukung namun, anak harapan yg bahkan kerja kerasnya tidak pernah di lirik sma sekali. bhkan ketika jatuh hanya cemoohan yg di dpat. Gin prgi tenangin diri lo. semakin kamu bersandiwara semakin sakit. dan kamu bisa menghancurkan dirimu sendiri.
Hunk: Karakter Gina mungkin merasa sendirian disini, tapi percayalah… anak harapan yang tak pernah dilirik bukan berarti tak berharga. Kadang semesta memang menunda keberuntungan, bukan menolaknya. Jangan berhenti ya, karena kerja keras yang hari ini tak terlihat, suatu saat akan jadi alasan orang lain menoleh. Tetap kuat, kak. Kamu lebih hebat dari yang kamu kira 🤍✨
total 1 replies
APRILAH
"Tunggu bentar, ca." kata Dio, membuat Gina pun menghentikan langkah kakinya, "res sleting mu terbuka, aku bantu benerin, ya." sambung Dio, menawarkan bantuan.

keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
APRILAH: tapi gak tau sih, aku biasa gitu kalo dialog aksi.
tapi gak tau kalo di genre lain
total 2 replies
Panda
cuma mau bilang deskripsi sama percakapan bisa lebih padet

di sini alur belum maju lagi 🤔
Panda
dari kalimat ini sampai beberapa paragraf ke bawah sebelum percakapan itu bisa dipadatkan sebenarnya

jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn

perhatikan dinamis Pace
Hunk: Makasih banget masukannya, Kak panda. Aku paham maksudnya, bagian awal memang masih agak kepanjangan. Ke depannya bakal aku evaluasi biar pacing-nya lebih enak.

Maaf kan diriku yang masih banyak ke kurangan🙏/Cry/
total 1 replies
Serena Khanza
payungnya kek punya ponakan aku 😂😂😂
baby shark doo dooo doo
Kaka's
telat mulu.. 🤣🤣
Kaka's
jadi tukang servis nih 🤭
Kaka's
enak gak.. 🤭
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/CoolGuy/ : ada yang punya nomor teleponnya?
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ ❦ ⃟ ᴿᶦˢᵃⁿএ
Gina sama Azmi pagi" udah bikin sekolah heboh aja /Facepalm/
Panda
bagian akhirnya rada mellow ye e

chapter ini cukup menarik

slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
Hunk: Makasih banyak kak🤭 Aku harap bisa bawain chapter yang lebih mellow nanti.
total 1 replies
APRILAH
songong emang kalo banyak duit mah
Hunk: Hahaha kapan ya aku bisa sombong kaya gitu pamer uang🤣. Makasih kak sudah membaca🙏
total 1 replies
Kaka's
coba baca dengan gaya.. menirukan adegan film film, 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!