Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Suara yang Tinggal
Suara Azmi memenuhi ruang toko es krim tanpa ia sadari.
Awalnya pelan—sekadar mengikuti irama yang ia ketuk di meja.
Lalu perlahan menguat. Hangat. Dalam.
Percakapan di sekitar mereka mulai mereda.
Sendok yang tadi beradu dengan mangkuk berhenti.
Beberapa orang menoleh.
Ada yang tersenyum.
Ada yang hanya diam… mendengarkan.
Bahkan seseorang diam-diam mengangkat ponsel, merekam dari jauh.
Namun Azmi tidak sadar.
Ia hanya bernyanyi.
Untuk Gina.
Di depannya, Gina menatap tanpa berkedip.
Dagunya bertumpu di kedua tangannya, senyum kecil terselip di wajahnya.
Lirik yang keluar dari mulut Azmi terasa… tepat.
Seolah setiap kata sedang bicara langsung padanya.
Tentang lelah. Tentang bertahan. Tentang tetap berjalan meski sendirian.
Tanpa sadar, Gina mengikuti iramanya.
Awalnya hanya lirih.
Lalu suaranya mulai menyatu dengan suara Azmi.
Harmoni tercipta.
Tidak direncanakan.
Tidak dipoles.
Tapi terasa tulus.
Dan untuk beberapa menit—
toko es krim itu seperti berhenti bernafas.
Sampai akhirnya… lagu itu selesai.
Hening.
Lalu—
Tepuk tangan tiba-tiba memenuhi ruangan.
Azmi tertegun. Matanya membesar saat menyadari semua orang sedang menatap ke arah mereka.
Ia langsung berdiri refleks, sedikit panik, lalu membungkukkan badan.
“Maaf… kalau ganggu waktu kalian,” ucapnya sopan.
Beberapa pengunjung justru tersenyum.
“Ganggu apanya? Suaramu bagus banget,” sahut seseorang.
“Iya, enak didengar!” timpal yang lain.
Azmi tertawa kecil, malu. Tangannya menggaruk tengkuk.
Ia duduk kembali, lalu menoleh ke Gina.
“Kamu nggak bilang kalau dari tadi diperhatiin orang,” bisiknya pelan.
Gina tertawa kecil.
“Biarin aja,” jawabnya ringan.
“Lagipula… emang suara kamu bagus.”
Lalu—
“Dan… aku suka,” ucap Gina pelan, tatapannya lurus menembus mata Azmi.
Azmi hanya tersenyum kecil, tidak benar-benar memahami seberapa dalam kalimat itu bagi Gina.
Namun bagi Gina—
itu adalah momen ketika ia sadar, perasaannya sudah tidak bisa disebut sekadar nyaman.
Ia benar-benar menyukai Azmi.
Dan di saat yang sama… ia juga sadar.
Di hati Azmi, ada nama lain yang lebih dulu tinggal.
Sahabatnya sendiri.
Gina tetap tersenyum.
Tapi jemarinya mencengkeram sendok terlalu kuat.
...----------------...
Tak lama, ponsel Azmi berdering.
Azmi melirik layar, lalu berdiri.
“Eh, tunggu di sini dulu ya. Ayahku nelpon,” ucapnya pelan.
Gina mengangguk.
Azmi berjalan menjauh, mencari sudut yang lebih sepi. Suaranya masih terdengar samar dari kejauhan.
“Iya, Yah…”
“Aku lagi sama Gina.”
“Iya… di toko es krim.”
“Baik… bentar lagi aku pulang.”
“Iya.”
Panggilan berakhir. Azmi kembali menghampiri meja.
“Maaf, Gin. Kayaknya kita harus pulang sekarang,” katanya.
Gina menatapnya. “Ada apa?”
“Aku harus siap-siap buat pesta malam ini,” jawab Azmi.
Gina tertegun sejenak, lalu menepuk dahinya pelan.
“Oh iya… aku lupa. Hari ini ulang tahun kamu, kan? Kamu malah di sini nemenin aku… padahal ada acara penting.”
Nada suaranya terdengar menyesal.
Azmi menggeleng kecil.
“Kan aku emang lagi nganter kamu pulang. Mampir ke Sini juga karena kamu yang mau.”
Ia berdiri sambil meraih kunci mobil.
“Ayo, aku anter kamu pulang dulu.”
Gina buru-buru menggeleng.
“Nggak usah. Kamu pulang duluan aja. Biar aku telepon orang rumah buat jemput.”
Azmi berhenti, lalu menatapnya.
“Enggak bisa,” katanya pelan tapi tegas.
“Udah tanggung. Dari tadi aku yang bareng kamu, jadi aku anter sampai depan rumah.”
Ia tersenyum tipis.
“Lagipula… aku malu sama ayah kamu nanti kalau ninggalin kamu sendirian.”
Gina terdiam sebentar, lalu menghela napas kecil.
“Ya udah… kalau kamu maksa,” ucapnya akhirnya.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
"Ayo pulang."
...----------------...
Mereka akhirnya sampai di rumah Gina.
Mobil berhenti tepat di depan halaman. Azmi langsung turun, membuka bagasi, lalu mengangkat satu per satu tas belanjaan milik Gina.
Namun saat hendak melangkah, ia sadar Gina belum bergerak.
Gina masih berdiri di dekat mobil.
Diam.
Seperti ragu untuk benar-benar pulang.
Azmi menoleh sekilas. Tanpa banyak kata, ia mendekat—lalu meraih lengan Gina begitu saja.
Gina terkejut. Pandangannya langsung tertuju ke arah Azmi.
“Ayo,” ucap Azmi singkat, tetap menatap ke depan.
“Aku anter kamu masuk.”
Nada suaranya datar, tapi tegas.
Tanpa sadar, Gina menurut. Langkahnya mengikuti Azmi.
Tangannya malah berbalik memegang lengan Azmi lebih erat.
Jantungnya berdetak cepat. Pipi terasa hangat.
Entah kenapa… hari ini Azmi terlihat berbeda.
Lebih berani. Lebih tegas. Dan… anehnya terasa menenangkan.
Azmi menekan bel rumah.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.
Ayah Gina berdiri di sana.
Tatapannya langsung berpindah dari Gina… ke Azmi… lalu ke tas-tas belanjaan di tangan mereka.
“Selamat sore, Om,” sapa Azmi sopan, sedikit menunduk.
“Maaf Gina baru pulang. Tadi saya minta dia nemenin belanja buat persiapan pesta malam ini.”
Ayah Gina mengernyit tipis.
“Lalu tas itu apa?”
“Oh… ini,” jawab Azmi cepat.
“Hadiah dari saya buat Gina. Udah mau nemenin.”
Gina kaget. Matanya langsung menoleh ke arah Azmi.
“Benarkah, Gina?” tanya ayahnya.
Gina terdiam sepersekian detik.
Ragu.
Namun sebelum ia menjawab—
“Oh iya,” Azmi tiba-tiba menyela santai.
“Tadi ada yang belum sempat. Boleh minta nomor rekening kamu, Gina? Uangnya belum sempat saya transfer.”
Gina mengerjap.
“Nomer rekening…?”
Azmi mengangguk kecil. Lalu mengedip sekilas—kode yang hanya Gina pahami.
Gina langsung mengerti.
“Iya… aku kirim,” jawabnya pelan.
Beberapa detik kemudian, ponsel Gina bergetar.
Nominal transfer masuk.
Jumlahnya… sama dengan semua harga belanjaan tadi. Bahkan lebih.
Gina menatap layar itu, lalu menatap Azmi.
Kali ini benar-benar terdiam.
“Udah saya transfer,” ucap Azmi santai.
“Kalau gitu saya pamit dulu, Om.”
Ia menunduk sopan.
Ayah Gina mengangguk singkat.
“Iya. Hati-hati.”
Azmi berbalik, melangkah menuju mobil.
Sebelum masuk, ia sempat melambaikan tangan kecil ke arah Gina.
Gina membalas refleks.
Mobil itu pergi.
Meninggalkan halaman yang tiba-tiba terasa sunyi.
“Kenapa kamu nggak bilang dari tadi kalau kamu pulang bareng Azmi?” tanya ayahnya tiba-tiba.
Gina menoleh.
“Maaf… aku takut Ayah marah karena aku nggak jadi les.”
Ayahnya terdiam sebentar.
“Sudah. Masuk.”
“Siap-siap. Malam ini kita datang ke pesta Azmi.”
Gina sedikit terkejut.
Biasanya, ayahnya tidak akan melewatkan kesempatan untuk memarahinya.
Tapi hari ini… tidak.
Tidak ada teguran.
Tidak ada tekanan.
Hanya kalimat datar… dan izin.
Gina masuk ke rumah dengan langkah pelan.
Di dadanya, ada rasa lega yang aneh.
Dan untuk pertama kalinya—
ia sadar…
Hari ini, ada seseorang yang berdiri di depannya.
Melindunginya.
Tanpa diminta.
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat
cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔