"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Persiapan Intensif
Dua hari setelah penyingkapan besar tentang Klan Lin, kehidupan Suyin berubah drastis—lagi.
Kalau sebelumnya rutinitasnya adalah produksi sayuran di pagi hari, mengurus bisnis di siang hari, dan latihan kultivasi santai di malam hari—sekarang semuanya jadi jauh lebih intens.
Xiao Zhen memanggil seluruh tim Klan Xiao untuk rapat darurat di villa. Wei Hao, Chen Ling, Zhang Wei, Liu Peng, dan Zhao Mei datang Rabu malam dengan wajah serius—mereka sudah dijelaskan oleh Xiao Zhen tentang situasi yang sebenarnya.
"Jadi," ucap Wei Hao setelah semua duduk di ruang rapat villa, "Suyin bukan hanya target acak Organisasi Bayangan. Dia adalah pewaris terakhir salah satu dari Lima Klan Agung yang mereka hancurkan dua ratus tahun lalu."
"Dan Bayangan Utama—Bayangan Keempat—kemungkinan besar sudah tahu tentang ini setelah kegagalan di reuni," tambah Chen Ling sambil membuka tablet. "Pergerakan Organisasi Bayangan dalam dua minggu terakhir makin agresif. Lima artefak dicuri, dua keluarga kultivator kecil diserang. Mereka sedang mengumpulkan kekuatan."
"Untuk apa?" tanya Suyin.
"Kemungkinan besar untuk serangan besar-besaran," jawab Xiao Zhen dengan nada suram. "Mereka tidak akan membiarkan pewaris Klan Lin hidup—apalagi pewaris yang sudah mulai berkembang kuat."
Zhao Mei menatap Suyin dengan khawatir. "Bagaimana tingkat kultivasimu sekarang, Suyin? Jujur saja."
"Aku... masih pemula. Pelindung spiritual bisa bertahan sekitar satu menit sekarang, langkah kilat sudah lumayan, teknik Jangkar Qi baru belajar." Suyin mengakui dengan jujur. "Kalau dibanding kultivator yang sudah latihan bertahun-tahun, aku masih jauh."
"Tapi kamu punya kecepatan berkembang yang luar biasa cepat," Zhang Wei mengingatkan. "Dari nol sampai bisa pelindung satu menit dalam sebulan—itu kemajuan yang normalnya butuh enam bulan."
"Ruang dimensi membantuku mempercepat," jelas Suyin. "Tapi tetap tidak cukup kalau harus menghadapi kultivator tingkat tinggi seperti Bayangan Keempat."
"Makanya kita perlu strategi yang tidak mengandalkan kamu bertarung langsung," ucap Xiao Zhen tegas. "Suyin, fokusmu dalam beberapa bulan ke depan adalah: satu, tingkatkan kultivasi seagresif mungkin tanpa merusak dasar. Dua, kembangkan ruang dimensi ke tingkat yang lebih tinggi—tingkat yang lebih tinggi berarti fasilitas dan kemampuan baru. Tiga, pelajari teknik-teknik Klan Lin yang tersimpan dalam gelang giok."
"Untuk yang ketiga," Liu Peng mengangkat tangan, "apa ada akses ke teknik-teknik itu sekarang atau harus buka dulu?"
"Harus buka bertahap seiring ruang dimensi naik tingkat," jawab Suyin. "Pohon Kehidupan bilang di Tingkat 3 akan ada perpustakaan teknik yang bisa aku akses."
"Berarti prioritas adalah naikkan ruang dimensi ke Tingkat 3 secepat mungkin," Wei Hao menyimpulkan. "Berapa syaratnya?"
"Lima ratus jenis tanaman berbeda dan sepuluh ribu kilogram hasil panen total." Suyin sudah hapal angka ini. "Sekarang aku ada sekitar seratus lima puluh jenis tanaman dan baru empat ribu kilogram hasil panen kumulatif."
Chen Ling menghitung di tablet. "Dengan produksi lima ratus kilogram per minggu sekarang... kamu butuh dua belas minggu lagi untuk mencapai target panen. Tapi untuk jenis tanaman, kamu perlu tambah tiga ratus lima puluh jenis—itu yang lebih sulit."
"Aku bisa percepat dengan fokus pada varietas," ucap Suyin sambil berpikir. "Misalnya tomat—sekarang aku hanya tanam dua varietas. Aku bisa tanam sepuluh varietas berbeda. Begitu juga dengan cabai, selada, paprika."
"Dan tanaman eksotis," Xiao Zhen menambahkan. "Kamu sekarang punya Rumah Kaca Budidaya dengan kontrol iklim—kamu bisa tanam tanaman dari berbagai belahan dunia. Beli benih dari penjual internasional."
"Itu ide bagus!" Suyin bersemangat. "Aku bisa pesan dari Jepang, Eropa, Amerika—"
"Tapi itu akan butuh investasi," Zhao Mei mengingatkan dengan praktis. "Benih langka dan berkualitas tidak murah."
"Aku yang tanggung biaya," ucap Xiao Zhen tanpa ragu. "Ini investasi untuk keselamatan Suyin—uang bukan masalah."
Suyin menatap Xiao Zhen dengan penuh terima kasih tapi juga khawatir. "Kamu sudah banyak membantu—"
"Suyin." Xiao Zhen menatap balik dengan tegas. "Kita sudah bahas ini. Musuhmu adalah musuhku. Biaya untuk melindungimu adalah tanggung jawabku dengan senang hati."
Momen hening yang sedikit canggung di mana semua anggota tim Klan Xiao berusaha tidak tersenyum melihat keakraban mereka berdua.
Liu Peng berdeham dengan dramatis. "Jadi... kita akan beli benih dari seluruh dunia, Suyin akan kerja keras kultivasi dan bertani seperti orang kesurupan, dan kita semua akan jaga dia sambil bersiap untuk kemungkinan serangan besar dari Organisasi Bayangan?"
"Pada dasarnya, ya," jawab Xiao Zhen.
"Bagus. Aku suka rencana yang sederhana dan jelas." Liu Peng bersandar di kursi dengan santai.
Wei Hao tidak sesantai itu. "Tapi kita perlu lebih dari pertahanan pasif. Chen Ling, apa kabar terbaru tentang struktur Organisasi Bayangan?"
Chen Ling menampilkan diagram di tablet yang dia bagikan ke layar besar. "Organisasi Bayangan punya struktur piramida. Di puncak ada Bayangan Keempat yang tidak pernah terlihat langsung. Di bawahnya ada lima Pemimpin Cabang wilayah—Nyonya Hei yang kita lawan di reuni adalah salah satunya. Setiap Pemimpin Cabang punya sekitar dua puluh sampai tiga puluh kultivator di bawah mereka dengan tingkat bervariasi."
"Total berapa orang dalam organisasi?" tanya Suyin.
"Perkiraan konservatif: seratus lima puluh kultivator aktif di seluruh dunia. Perkiraan liberal: dua ratus lima puluh." Chen Ling memperbesar ke wilayah Asia Tenggara. "Yang relevan untuk kita adalah cabang Nyonya Hei—sekitar tiga puluh kultivator di Indonesia, Malaysia, Singapura. Tapi setelah kekalahan di reuni, kemungkinan Bayangan Keempat akan kirim bantuan."
"Bagus sekali," gumam Zhang Wei dengan sinis. "Jadi kita berpotensi melawan lima puluh lebih kultivator dengan berbagai tingkat kemampuan."
"Itulah kenapa kita tidak bisa hanya andalkan kekuatan," Xiao Zhen mengetuk meja dengan jari. "Kita butuh strategi, kecerdasan, dan persiapan yang matang."
"Dan sekutu," tambah Wei Hao. "Klan Xiao kuat tapi tidak bisa melawan seluruh organisasi sendiri. Kita perlu hubungi klan-klan lain—setidaknya untuk berbagi informasi kalau tidak untuk dukungan langsung."
Xiao Zhen mengangguk. "Aku sudah hubungi Klan Yun—keluarga almarhum Xiu Lan. Mereka masih punya dendam sama Organisasi Bayangan dan bersedia kerja sama."
Suyin menangkap sesuatu yang tidak diucapkan—rasa sakit singkat di mata Xiao Zhen saat menyebut Xiu Lan. Tapi dia juga lihat tekad di sana.
"Bagus," ucap Wei Hao. "Klan Yun punya jaringan informasi yang bagus kalau aku ingat benar. Mereka bisa bantu melacak pergerakan Organisasi Bayangan."
Rapat berlanjut hampir tiga jam—detail demi detail dibahas. Protokol keamanan untuk villa, rencana evakuasi darurat, kode komunikasi kalau terjadi serangan, persediaan ramuan yang harus Suyin siapkan, dan jadwal latihan yang sangat intens.
Saat akhirnya rapat selesai dan semua orang bubar ke kamar masing-masing untuk istirahat, Suyin dan Xiao Zhen tertinggal sendirian di ruang rapat.
Suyin menatap diagram Organisasi Bayangan yang masih terpampang di layar dengan perasaan kewalahan.
"Dua ratus lima puluh kultivator," bisiknya. "Bagaimana kita bisa—"
"Kita tidak akan melawan semuanya sekaligus," Xiao Zhen berdiri di belakang Suyin, menyentuh bahunya dengan menenangkan. "Dan ingat—mereka tersebar di seluruh dunia. Yang akan kita hadapi adalah bagian kecil dari itu."
"Tapi tetap kewalahan."
"Iya. Tapi kewalahan adalah perasaan, bukan fakta." Xiao Zhen memutar kursi Suyin untuk menghadapnya. "Faktanya adalah: kamu punya ruang dimensi yang sangat kuat, kamu punya kecepatan berkembang kultivasi yang luar biasa, kamu punya tim yang loyal dan mampu, dan kamu punya aku."
Suyin tersenyum kecil meskipun beban yang berat. "Kamu yang paling penting."
"Tentu saja aku yang paling penting," jawab Xiao Zhen dengan senyum miring—momen humor langka di tengah keseriusan. "Sekarang, ayo tidur. Besok kita mulai jadwal latihan baru yang akan membuat kamu menyesal bangun pagi."
"Wah, kedengarannya menyenangkan sekali," balas Suyin dengan sarkasme—tapi dia berdiri dan membiarkan Xiao Zhen mengantarnya ke kamar.
Di depan pintu kamar, Xiao Zhen berhenti dan menatap Suyin dengan serius.
"Apapun yang terjadi ke depannya—aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu. Aku janji."
"Aku tahu." Suyin berjingkat, mencium pipi Xiao Zhen dengan cepat. "Selamat malam."
"Selamat malam, Suyin."
Suyin masuk ke kamar dengan perasaan campur aduk—takut tapi juga penuh harapan.
Perang mungkin akan datang.
Tapi dia tidak sendirian.
Dan itu membuat semua perbedaan.