NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Tim pencari kebenaran

Kepergian Hakim Pratama meninggalkan ruang kosong yang terasa begitu nyata. Namun, ruang kosong itu tidak dibiarkan hampa. Justru dari sanalah lahir tekad baru, untuk membentuk sebuah tim kecil, senyap, namun berani yaitu tim pencari kebenaran.

Di ruang tamu sempit rumah kontrakan, Bima, Kirana, dan ayahnya duduk mengelilingi meja kayu yang mulai rapuh. Di atasnya terbentang peta Kota Sagara, catatan, foto-foto, serta daftar nama yang semakin panjang. Mereka tidak lagi sekadar korban, melainkan penyelidik bagi nasib mereka sendiri.

“Kita tidak bisa mengandalkan satu jalur,” ujar Kirana. “Kita butuh jaringan. Orang-orang yang bersedia membantu tanpa pamrih.”

Ayah Bima mengangguk. “Aku masih punya beberapa kenalan lama. Pedagang, sopir, buruh gudang. Mereka sering melihat hal-hal yang luput dari perhatian orang besar.”

Bima memandang daftar nama di hadapannya. “Dan aku akan menghubungi teman-teman lama. Beberapa dari mereka sekarang bekerja di perbankan, logistik, bahkan percetakan.”

Langkah pertama adalah membangun kepercayaan.

Mereka memulai dari lingkar terdekat yaitu pelanggan setia toko manisan yang dulu sering berbincang santai dengan ayah Bima. Dari obrolan ringan, terselip cerita-cerita kecil: truk yang keluar masuk larut malam, pertemuan mencurigakan di gudang tua, atau transfer uang dalam jumlah besar yang tak wajar.

Satu per satu, potongan-potongan itu disusun.

Kirana melatih mereka membuat laporan sederhana: mencatat waktu, lokasi, dan saksi. Tidak ada nama asli yang ditulis. Semua menggunakan kode. Keamanan menjadi prioritas utama.

Beberapa hari kemudian, tim kecil itu bertambah. Ada Raka, sopir angkutan barang yang sering mengantar gula dan bahan baku. Ada Mira, pegawai bank swasta yang diam-diam bersimpati pada keluarga Wijaya. Ada Pak Jaya, mantan karyawan toko saingan yang merasa bersalah atas perannya di masa lalu.

Mereka bertemu secara bergantian di tempat berbeda: warung kopi, bengkel, mushola, bahkan di tepi sungai saat senja. Setiap pertemuan singkat, tanpa pola tetap, agar tidak mudah dilacak.

“Ini seperti bermain petak umpet dengan bayangan,” gumam Raka suatu kali.

“Tapi bayangan itu nyata,” jawab Bima. “Dan kita harus lebih cerdik.”

Dari Raka, mereka mendapat jadwal distribusi gula yang mencurigakan. Dari Mira, muncul data transfer ke rekening-rekening cangkang. Dari Pak Jaya, terkuak cara fitnah disusun dan disebarkan, lengkap dengan nama perantara dan imbalan yang diterima.

Semua itu disatukan Kirana dalam satu basis data terenkripsi. Malam-malam mereka habiskan di depan layar, memeriksa silang informasi, memastikan setiap detail akurat.

Namun, semakin banyak yang terungkap, semakin besar pula risiko.

Suatu sore, Raka tidak datang ke pertemuan yang telah disepakati. Ponselnya tak aktif. Keesokan harinya, kabar beredar bahwa ia “dipindahkan” mendadak ke luar kota oleh perusahaannya.

“Ini peringatan,” bisik Kirana.

Bima merasakan dingin merambat di punggungnya. “Mereka mulai menekan satu per satu.”

Tim kecil itu tidak gentar, namun menjadi lebih hati-hati. Setiap anggota diberi rute aman dan kontak darurat. Beberapa bahkan menyembunyikan keluarga mereka untuk sementara.

Di tengah semua itu, Bima belajar memimpin. Ia tidak lagi hanya anak pemilik toko yang teraniaya. Ia menjadi penghubung, penyemangat, dan penjaga harapan. Setiap kali semangat tim goyah, ia mengingatkan tujuan awal: mengembalikan kebenaran.

Suatu malam, mereka berkumpul di rumah kontrakan. Lampu dimatikan sebagian, tirai ditutup rapat. Di hadapan mereka, Kirana memaparkan rangkuman terbaru.

“Kalau semua ini kita gabungkan,” katanya, “kita punya peta besar jaringan fitnah dan korupsi. Tapi kita masih butuh satu bukti kunci yaitu pengakuan atau dokumen yang langsung mengaitkan tokoh utama.”

Hening menyelimuti ruangan.

Pak Jaya angkat bicara, ragu-ragu. “Aku mungkin tahu di mana dokumen itu disimpan. Tapi tempatnya sangat berbahaya.”

Semua mata tertuju padanya.

“Di brankas pribadi pemilik toko saingan, di rumah dinas seorang pejabat kota.”

Tarikan napas terdengar serempak.

Bima menatap peta di meja, merasakan denyut adrenalin di pelipisnya. Langkah mereka semakin mendekati pusat badai.

Dan di tengah keterbatasan, tim kecil itu berdiri sebagai simbol perlawanan bahwa kebenaran tidak selalu lahir dari kekuatan besar, tetapi sering kali dari keberanian sekelompok kecil orang yang menolak diam.

Malam itu, hujan turun tipis membasahi atap seng rumah kontrakan. Di ruang tamu, Bima menatap wajah-wajah di sekelilingnya. Ada kelelahan, ada ketegangan, tetapi juga ada tekad yang mengeras. Mereka sadar, langkah berikutnya akan membawa risiko jauh lebih besar dari sebelumnya.

Pak Jaya menarik napas panjang sebelum melanjutkan. “Brankas itu disimpan di ruang kerja belakang rumah dinas Pak Harun. Tidak semua orang tahu. Bahkan sebagian besar staf rumah tangga pun tidak.”

“Bagaimana Bapak bisa tahu?” tanya Kirana.

“Aku pernah diminta mengantar dokumen rahasia ke sana,” jawabnya lirih. “Tanpa sadar, aku melihat cara membuka ruang itu.”

Informasi itu membuat suasana semakin mencekam. Rumah dinas seorang pejabat kota tentu dijaga ketat, dengan kamera dan penjagaan bersenjata. Menyusup ke sana bukan sekadar nekat, melainkan nyaris bunuh diri.

Namun, keheningan yang panjang akhirnya dipecah oleh suara Bima. “Kita tidak bisa gegabah. Kita butuh rencana yang matang.”

Mereka membagi tugas seperti Raka yang kini hanya bisa berkomunikasi lewat pesan terenkripsi dan memberi gambaran jadwal patroli keamanan. Mira membantu memetakan sistem alarm yang digunakan di rumah dinas dan Kirana menyiapkan skema pengamanan data jika misi gagal.

Setiap detail diperhitungkan.

Hari-hari berikutnya diisi dengan pengamatan. Dari kejauhan, Bima mempelajari kebiasaan keluar-masuk rumah dinas itu. Ia mencatat jam-jam sepi, pergeseran penjagaan, dan perubahan pola yang sekecil apa pun.

Namun, ancaman tidak pernah jauh.

Suatu sore, seorang pria asing mendatangi warung tempat Pak Jaya biasa bekerja. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan samar, menyinggung masa lalu Pak Jaya di toko saingan. Isyarat yang jelas bahwa mereka mulai mencium gerak-gerik tim kecil ini.

Kirana segera memutuskan untuk mempercepat rencana.

Malam penyusupan ditentukan pada hari Sabtu, saat sebagian besar pejabat menghadiri acara di luar kota. Hujan kembali menjadi sekutu, menutupi langkah dan meredam suara.

Bima, Kirana, dan Pak Jaya bergerak dalam senyap. Mereka mengenakan pakaian gelap, membawa alat sederhana, dan menahan napas setiap kali melewati sudut-sudut gelap.

Rumah dinas itu berdiri angkuh, diterangi lampu taman yang temaram. Kamera keamanan berputar pelan, menyapu halaman dengan sorot dingin. Mereka menunggu hingga satu siklus penuh berlalu sebelum melompat ke dalam bayangan.

Dengan gerakan terlatih, Kirana mematikan sensor gerak di sisi barat. Pak Jaya membuka pintu belakang menggunakan kunci duplikat yang pernah ia buat bertahun lalu. Setiap detik terasa seperti bom waktu.

Di dalam, kesunyian terasa menekan. Mereka menyelinap menuju ruang kerja belakang. Jantung Bima berdegup kencang saat Pak Jaya menekan kombinasi rahasia di balik panel kayu. Sebuah pintu tersembunyi terbuka perlahan, memperlihatkan brankas baja.

Beberapa menit menegangkan berlalu sebelum brankas itu terbuka.

Di dalamnya, tersimpan map-map tebal, flashdisk, dan buku catatan keuangan. Kirana segera memotret dan menyalin data penting ke perangkat penyimpanan kecil. Bima membantu memilah dokumen, mencari nama-nama kunci.

Namun, sebelum mereka selesai, suara langkah kaki terdengar mendekat.

Mereka membeku.

Senter menyapu lorong. Suara obrolan dua penjaga terdengar samar. Waktu terasa melambat, napas seakan tercekik di tenggorokan.

Dengan isyarat cepat, Kirana menyimpan sisa data, dan mereka menutup kembali brankas secepat mungkin. Mereka bersembunyi di balik lemari besar, menahan napas saat dua penjaga masuk, memeriksa ruangan sekilas, lalu pergi.

Detik demi detik berlalu hingga langkah itu benar-benar menjauh.

Mereka keluar dengan tubuh gemetar, namun membawa harta paling berharga: bukti pamungkas.

Di rumah kontrakan, mereka membuka hasil salinan data. Nama-nama besar, transaksi gelap, alur suap, dan skema fitnah terpapar jelas. Tidak ada lagi ruang untuk menyangkal.

Air mata menggenang di mata Bima. Ini bukan sekadar kemenangan kecil, melainkan pijakan menuju keadilan.

Namun, mereka tahu, kemenangan ini hanyalah awal dari pertarungan terbesar.

Dan di tengah keheningan malam, tim kecil itu berdiri lebih teguh dari sebelumnya, siap melangkah ke medan yang lebih berbahaya, membawa kebenaran yang telah lama terkubur menuju cahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!