Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal Yang Tidak Bisa Lagi Ditunda
Pagi itu, Senja bangun dengan mata sedikit bengkak. Tangisan semalam tidak terlalu lama, tapi cukup untuk meninggalkan jejak di wajahnya. Kepalanya terasa berat, seperti habis memikirkan terlalu banyak hal yang tidak selesai.
Ia duduk di tepi kasur, menatap lantai. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada satu pikiran yang terasa jelas di kepalanya:
Ada sesuatu yang salah. Dan aku tidak bisa terus pura-pura tidak apa-apa.
Kalimat itu tidak terdengar dramatis. Tidak ada musik latar di hidupnya. Tidak ada cahaya khusus dari jendela. Hanya kesadaran sederhana yang datang terlalu terlambat.
Ia membuka ponsel. Ada beberapa pesan yang belum dibalas.
Dari Kay.
Dari Nara.
Dan satu dari dosennya.
Dadanya mengencang.
Ia biasanya akan menunda. Membiarkan notifikasi itu tetap ada, seperti masalah yang bisa menghilang kalau tidak disentuh. Tapi pagi ini berbeda. Bukan karena ia lebih kuat. Tapi karena ia terlalu lelah untuk terus menghindar.
Ia membalas pesan dosennya lebih dulu.
“Maaf, Pak. Saya sedang mengalami kesulitan pribadi. Saya akan mengumpulkan tugas secepat mungkin.”
Mengirim pesan itu saja membuat jari-jarinya gemetar. Tapi setelah terkirim, ada perasaan aneh: bukan lega sepenuhnya, tapi seperti beban kecil yang akhirnya diletakkan.
Lalu ia membuka chat Kay.
Pesan terakhir Kay masih sama:
“Kalau kamu capek, kamu nggak harus sendirian.”
Senja menatap kalimat itu lama. Kali ini, ia tidak ingin menjawab dengan kalimat otomatis.
“Kay… aku ngerasa aku udah terlalu lama sendirian, bahkan waktu aku sama kamu.”
Pesan itu terkirim. Senja menahan napas.
Beberapa menit kemudian, balasan masuk.
“Kamu mau ketemu hari ini?”
“Nggak harus ngomong banyak. Kita duduk aja.”
Senja mengangguk kecil, walaupun Kay tidak bisa melihatnya.
“Iya.”
Mereka bertemu di tempat yang tidak biasa. Bukan kafe, bukan taman kampus. Tapi di halte kecil dekat rumah Senja. Tempat yang sering dilewati orang, tapi jarang benar-benar diperhatikan.
Kay datang lebih dulu. Ia berdiri sambil menatap jalan, sesekali melirik jam.
Senja mendekat pelan. Kay menoleh dan langsung tersenyum kecil.
“Kamu kelihatan capek,” kata Kay.
Senja tertawa tipis. “Aku memang capek.”
Mereka duduk berdampingan. Bus lewat satu, dua, tiga kali. Tapi tidak ada dari mereka yang berniat naik.
“Aku takut ngomong hari ini,” kata Senja tiba-tiba.
Kay menoleh. “Takut kenapa?”
“Takut kalau setelah aku ngomong, semuanya jadi terlalu nyata. Terlalu jelas. Terlalu… nggak bisa dihindari.”
Kay mengangguk pelan. “Kadang justru itu yang kita butuhin.”
Senja menatap ke depan, ke arah jalan yang ramai.
“Aku ngerasa hidupku kayak pause,” katanya. “Semua orang jalan, berkembang, punya target, punya mimpi. Aku… cuma ada.”
Kay terdiam, membiarkan Senja melanjutkan.
“Aku nggak sedih setiap hari. Tapi aku juga nggak senang. Aku nggak benci hidupku, tapi aku juga nggak pengen bangun. Aku ngerasa kosong, tapi bukan kosong yang tenang. Kosong yang bikin capek.”
Kay menelan ludah. “Itu berat, Sen.”
“Iya. Dan yang paling bikin aku takut,” lanjut Senja, “aku mulai terbiasa sama perasaan ini. Seolah mati rasa jadi normal baru.”
Kay menatap Senja lebih lama dari biasanya.
“Kalau kamu terbiasa tenggelam, kamu bisa lupa rasanya bernapas,” katanya pelan.
Kalimat itu membuat Senja terdiam.
Sore harinya, Senja pulang dengan langkah lebih lambat dari biasanya. Ia masuk rumah, meletakkan tas, lalu duduk di ruang tamu sendirian.
Ibunya sedang di dapur. Suara piring dan air terdengar samar.
Untuk pertama kalinya, Senja tidak langsung masuk kamar.
“Ma…” panggilnya pelan.
Ibunya keluar dari dapur. “Iya, Nak?”
Senja menatap ibunya, lalu menunduk. Kata-kata terasa berat di lidahnya, tapi ia memaksakan diri.
“Aku ngerasa aku nggak baik-baik aja.”
Ibunya tidak langsung bicara. Ia hanya duduk di sebelah Senja.
“Terima kasih sudah bilang jujur,” katanya akhirnya.
“Aku nggak tau kenapa aku ngerasa gini,” lanjut Senja. “Aku nggak punya alasan kuat buat sedih. Tapi aku juga nggak ngerasa hidup.”
Ibunya mengangguk pelan. “Kadang perasaan nggak butuh alasan.”
Senja menghela napas panjang. “Aku capek pura-pura.”
Ibunya menggenggam tangan Senja. Hangat. Nyata.
“Kalau kamu capek, berhenti pura-pura,” katanya. “Kamu nggak harus kuat terus. Bahkan ke ibu pun.”
Kalimat itu membuat mata Senja kembali panas.
Malam itu, Senja menulis di catatan ponselnya:
“Aku tidak hancur.
Aku tidak baik-baik saja.
Aku hanya terlalu lama diam, sampai lupa caranya bicara.”
Ia membaca ulang kalimat itu beberapa kali.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa kalimat itu menakutkan.
Ia merasa… jujur.
Chapter ini bukan tentang sembuh.
Bukan tentang solusi.
Tapi tentang satu hal kecil yang akhirnya terjadi:
Senja berhenti menunda.
Dan mulai mengakui bahwa ada sesuatu di dalam dirinya
yang benar-benar perlu didengarkan.