NovelToon NovelToon
Yang Hamil Aku, Yang Kau Nikahi Dia

Yang Hamil Aku, Yang Kau Nikahi Dia

Status: tamat
Genre:Obsesi / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.4k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.

"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.

Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.

Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.

Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.

"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.

Gelap.

Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.

"Kevin Pratama... Karina Adelia..."

Senyumnya tajam. Berbahaya.

"Permainan baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 - WAJAH DARI MASA LALU

DUA BULAN SETELAH LIPUTAN - DOJO AKSELIA

Pagi yang sibuk seperti biasa. Akselia sedang meninjau proposal pembukaan cabang kedua di Bandung ketika Rina masuk dengan wajah bingung.

"Kak, ada seseorang yang mau ketemu. Dia bilang, dia keluarga Kevin Pratama."

Akselia tersentak, pena di tangannya hampir jatuh. "Keluarga Kevin?"

"Ya. Ibu Kevin Pratama. Dia tunggu di ruang tamu."

Akselia menarik napas panjang. Sudah lama dia tidak dengar tentang keluarga Kevin terakhir kali di berita, mereka lepas tangan dari skandal Kevin.

"Baik. Kasih saya lima menit."

Akselia merapikan penampilan, menarik napas beberapa kali untuk tenangkan diri, lalu keluar ke ruang tamu.

Di sana duduk seorang perempuan elegan berusia lima puluhan, mengenakan blazer krem dan tas branded. Rambut disanggul rapi, postur tegap tapi wajahnya terlihat lelah, mata sembab.

Ibu Kevin. Akselia pernah lihat fotonya di beberapa acara sosialita dulu.

"Selamat pagi, Nyonya Pratama," sapa Akselia sopan.

Ibu Kevin berdiri, menatap Akselia dengan tatapan yang sulit dibaca campuran rasa bersalah, penasaran, dan sesuatu yang lain.

"Akselia Kinanti," katanya pelan. "Akhirnya aku bertemu denganmu. Langsung. Tanpa topeng."

Akselia mengerutkan kening. "Maaf?"

"Boleh kita bicara? Berdua saja?" Ibu Kevin melirik Rina yang masih berdiri di pintu.

Akselia mengangguk pada Rina untuk keluar, lalu duduk di hadapan ibu Kevin.

"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"

Ibu Kevin menarik napas panjang. "Aku... aku datang untuk minta maaf."

Akselia tersentak. "Maaf? Untuk apa?"

"Untuk Kevin. Untuk semua yang dia lakukan padamu." Suara ibu Kevin bergetar. "Aku baru tahu semuanya, tentang hubungan kalian dulu, tentang bagaimana Kevin membuangmu, tentang... tentang bayinya."

Jantung Akselia berhenti sedetik. "Kevin cerita pada Ibu?"

"Ya. Saat aku kunjungi dia di penjara bulan lalu. Dia cerita semuanya. Menangis. Bilang dia kehilangan perempuan terbaik yang pernah dia kenal karena kebodohannya sendiri." Ibu Kevin mengeluarkan saputangan, menghapus air matanya. "Dan sebagai ibu, aku merasa... aku juga bersalah."

"Kenapa Ibu merasa bersalah? Ibu tidak melakukan apa-apa..."

"Justru itu." Ibu Kevin menatapnya tajam. "Aku tidak melakukan apa-apa. Aku yang paksa Kevin bertunangan dengan Karina. Aku yang bilang dia harus pilih perempuan seumurannya, dari kalangan yang sama. Aku yang tanpa sadar ajari dia bahwa cinta tidak sepenting status dan uang."

Akselia terdiam, tidak tahu harus berkata apa.

"Dan sekarang anakku di penjara. Reputasi keluarga hancur. Perusahaan hampir bangkrut kalau bukan karena aku dan suamiku yang ambil alih." Ibu Kevin tertawa pahit. "Semua yang aku pikir penting... status, uang, reputasi ternyata tidak ada artinya kalau anak sendiri tidak bahagia."

"Nyonya..."

"Aku lihat liputanmu di televisi." Ibu Kevin menatap Akselia dengan tatapan penuh penyesalan. "Kamu... kamu perempuan luar biasa. Kuat. Bijak. Dan aku bodoh karena dulu meremehkanmu hanya karena kamu 'cuma pelayan restoran'."

Akselia menggeleng. "Ibu tidak pernah bertemu saya dulu. Ibu tidak tahu..."

"Tapi aku tahu sekarang. Dan aku menyesal." Ibu Kevin mengulurkan tangannya melintasi meja, menggenggam tangan Akselia. "Aku tahu kata maaf tidak cukup. Tapi aku harus mengatakannya, sebagai ibu dari pria yang menyakitimu aku minta maaf. Dari lubuk hatiku yang paling dalam."

Akselia menatap tangan ibu Kevin yang menggenggam tangannya.. tangan yang gemetar, penuh penyesalan tulus.

Dan sesuatu di dalam Akselia melembut. "Terima kasih, Nyonya. Untuk permintaan maafnya." Akselia tersenyum tipis. "Tapi Ibu tidak perlu merasa bersalah. Kevin sudah dewasa. Dia yang buat keputusan sendiri. Dan dia yang harus tanggung konsekuensinya."

"Kamu... kamu sudah memaafkan dia?"

"Ya. Sudah lama." Akselia menarik tangannya perlahan. "Bukan karena dia layak dimaafkan. Tapi karena saya layak untuk bebas dari amarah."

Ibu Kevin menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu... kamu perempuan yang jauh lebih baik dari yang Kevin layak dapatkan."

"Mungkin. Tapi sekarang sudah tidak penting lagi." Akselia berdiri. "Kevin punya jalan hidupnya. Saya punya jalan hidup saya. Dan keduanya sudah tidak bersinggungan lagi."

Ibu Kevin ikut berdiri. "Boleh aku... boleh aku tahu satu hal?"

"Apa?"

"Kalau suatu hari, kalau Kevin keluar dari penjara dan jadi orang lebih baik. Apakah ada kemungkinan kalian..."

"Tidak." Akselia memotong tegas tapi tidak kasar. "Saya sudah lanjut hidup. Dan Kevin harus lakukan hal yang sama. Tanpa saya."

Ibu Kevin mengangguk perlahan, menerima jawaban itu meski terlihat sedikit kecewa. "Aku mengerti. Terima kasih sudah mau bertemu denganku."

Sebelum pergi, ibu Kevin mengeluarkan amplop putih dari tasnya. "Ini... ini dari Kevin. Dia titip lewat surat. Dia minta aku sampaikan padamu kalau aku sempat bertemu."

Akselia menatap amplop itu ragu. "Saya tidak yakin..."

"Please. Aku tahu kamu tidak wajib baca. Tapi sebagai permintaan terakhir ibu yang menyesal, tolong terima ini. Kalau kamu mau baca atau tidak, itu terserah kamu sepenuhnya."

Akselia akhirnya mengambil amplop itu. "Baik. Tapi saya tidak janji akan membalas."

"Aku mengerti." Ibu Kevin tersenyum... senyum sedih tapi tulus. "Sekali lagi terima kasih. Dan semoga kamu selalu bahagia, Akselia. Kamu layak dapat semua kebahagiaan di dunia."

***

MALAM HARI - APARTEMEN AKSELIA

Akselia duduk di sofa apartemen kecilnya, menatap amplop putih yang belum dibuka sejak siang tadi.

Haruskah dia baca? Atau langsung buang?

Setelah bergulat dengan pikiran sendiri selama sejam, akhirnya dia membuka amplop itu.

Di dalamnya, surat tulisan tangan Kevin. Tulisannya rapi tapi sedikit gemetar di beberapa bagian.

Akselia yang terkasih,

Aku tahu aku tidak punya hak lagi memanggilmu "terkasih". Tapi biarkan aku memanggilmu begitu, setidaknya sekali lagi.

Aku lihat liputanmu di televisi. Semua tahanan di sini menontonnya. Dan aku... aku menangis seperti anak kecil. Bukan karena sedih. Tapi karena bangga.

Kamu jadi perempuan luar biasa. Jauh lebih luar biasa dari yang aku ingat. Dan aku tahu itu bukan karena aku. Justru mungkin karena kamu lepas dariku.

Setiap hari di penjara ini aku pikir kalau aku bisa putar waktu, aku akan lakukan semuanya berbeda. Aku akan pilih kamu. Aku akan berjuang untuk kita. Aku akan jadi pria yang layak untukmu.

Tapi aku tidak bisa putar waktu. Yang bisa kulakukan sekarang, belajar dari kesalahan. Jadi lebih baik. Bukan untukmu karena aku tahu aku sudah kehilangan kesempatanku denganmu, tapi untuk diriku sendiri.

Di sini, aku mengikuti program rehabilitasi. Terapi. Konseling. Aku belajar tentang manipulasi, tentang kontrol, tentang semua pola buruk yang aku lakukan tanpa sadar. Dan aku malu, sangat malu menyadari betapa jahatnya aku padamu dan pada perempuan lain.

Tiga tahun lagi aku keluar. Dan aku berjanji, aku akan keluar sebagai orang yang berbeda. Bukan lagi Kevin Pratama yang serakah dan manipulatif. Tapi Kevin yang semoga bisa memberi kontribusi baik pada dunia.

Aku tidak minta kamu tunggu. Aku tidak minta kamu maafkan. Aku bahkan tidak minta kamu balas surat ini.

Aku cuma mau kamu tahu... terima kasih. Terima kasih sudah pernah mencintaiku meski aku tidak layak. Terima kasih sudah memaafkan aku meski aku tidak minta. Terima kasih sudah jadi cahaya yang meski sebentar pernah menerangi hidupku yang gelap.

Hiduplah bahagia, Akselia. Temukan seseorang yang benar-benar layak untukmu. Seseorang yang akan hargai kamu sejak awal. Seseorang yang tidak akan pernah buang kamu.

Dan kalau suatu hari kamu dengar namaku lagi, aku harap itu karena aku melakukan sesuatu yang baik. Bukan karena aku kembali ke jalan yang salah.

Selamat tinggal, Akselia Kinanti.

Dengan penyesalan terdalam dan harapan terbaik,

Kevin Pratama

Akselia melipat surat itu perlahan, memasukkannya kembali ke amplop.

Tidak ada air mata. Tidak ada sakit. Hanya kedamaian.

Kevin akhirnya belajar. Akhirnya mengerti. Dan itu sudah cukup. Dia tidak perlu membalas. Tidak perlu mengatakan apa-apa. Karena surat itu bukan untuk dapat balasan tapi untuk Kevin melepaskan bebannya sendiri.

Akselia meletakkan surat itu di laci meja tidak dibuang, tapi juga tidak dipajang. Cukup disimpan sebagai bagian dari sejarah yang sudah selesai.

Lalu dia ambil ponsel, menelepon Arjuna.

"Halo?"

"Pak Arjuna. Tentang proposal cabang Bandung, saya sudah putuskan. Kita jalankan."

Arjuna terdengar senang. "Bagus! Kapan kamu mau mulai?"

"Secepatnya. Semakin banyak perempuan yang kita bantu, semakin baik."

"Setuju. Besok kita rapat detail ya."

"Siap, Pak."

Setelah menutup telepon, Akselia berdiri di jendela apartemen, menatap lampu kota Jakarta yang berkelap-kelip.

Masa lalu sudah benar-benar selesai. Sekarang hanya masa depan yang menanti. Dan masa depan itu terlihat sangat cerah.

1
N Wage
kok 5 tahun yg lalu sih Thor,umur Aksa sj 5 THN + masa hamil+menikah setelah 2 THN kejadian yg menyakitkan bagi akkselia itu.
jadi seharusnya kurang lebih 8 THN yg lalu bukan?
maaf kalau salah.
Asyatun 1
keren banget thoor
Lienaa Likethisyow
terimakasih atas ceritanya thor..goodjob👍👍👍..tetap semangat💪💪💪/Heart//Heart/
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
Arin
/Heart/
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Nada She Embun
puas banget Thor... makasih atas cerita yg terbaik inii😍
Erchapram: Terima kasih.
total 1 replies
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
Erchapram
Masih ada extra part, ditunggu ya... Terima kasih.
Nada She Embun
happy ending.. 😭.. makasih Thor... 😍
Nada She Embun: mantap thorr
total 2 replies
Nada She Embun
soo sweet.. 😍
Dew666
☀️☀️☀️☀️☀️
Nada She Embun
lebih baik d cintai.... kamu akan belajar menumbuhkan cinta juga... 💜
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
ealahhh, gak boleh rangga nyium tapi dia yg nyosor, 🤭🤭🤭
tipikal awal malu malu, tp akhirnya malu maluin, sok-sok'an masih takut membuka hati tp ternyata lebih agresif.... eeehhh....
🤭🤭🤭🏃🏃🏃
Erchapram: Wkwwkwk... malu malu meong 🤣🤣🤣
total 1 replies
mini
tapi Kevin ktemu akselia dalam keadaan yang tidak sehebat sekarang dr awal dia udah cinta, cuma emang Krn redfleg, tapi skrg kan dia udh sadar😁✌️
Dew666
💜💜💜💜
vj'z tri
pelan pelan sajaaaaaaaa 🎉🎉🎉
Lienaa Likethisyow
mosok karo rangga to thor???/Speechless//Speechless/
gk setuju aq/Drowsy//Drowsy/
Lienaa Likethisyow: wes manut njenengan ae thor🤭🤭🤣🤣
total 2 replies
N Wage
seru sekali...sampai nahan nafas😁
semangat❤️
Asyatun 1
lanjut
Lienaa Likethisyow
aq merasa ada diantara penonton yg bersorak bahagia dan menangis bahagia karenamu Akselia👍👍👍...selamat Akselia jadi juara dalam hidup dan ring..💪💪💪tetap semangat thor😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!