NovelToon NovelToon
Tuan Higienis Dan Titipan Tak Tahu Diri

Tuan Higienis Dan Titipan Tak Tahu Diri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Enemy to Lovers / Slice of Life
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Kado Ulang Tahun Paling Tidak Tahu Diri

Gedung Weinstein Group menjulang tinggi, seangkuh pemiliknya. Di lobi yang lantainya saking mengkilapnya bisa dipakai untuk mengaca itu, dua orang tampak sangat tidak nyambung dengan suasana sekitar.

"Bang... kita pulang aja yuk? Nirbi takut," bisik Nirbita Luminara Rein. Gadis itu meremas ujung kemejanya yang kusut karena belum sempat disetrika. Rambutnya diikat asal-asalan dengan jepit rambut stroberi yang posisinya miring.

Navarro Mavendra Rein, sang kakak, mengusap wajahnya yang kuyu tapi tetap berusaha terlihat berwibawa. "Ssst! Diem, Bi. Ini satu-satunya cara supaya kita nggak tidur di kolong jembatan. Inget, di depan sana ada penagih hutang, di depan kita ada masa depan."

"Tapi masa depan Abang itu kan Kak Calvin? Dia kan... dia kan galak," Nirbi bergidik. Ia teringat kejadian tiga tahun lalu. Kejadian 'salah peluk' yang membuatnya ingin pindah ke planet Mars setiap kali mengingat wajah kaku Calvin.

"Dia bukan galak, Bi. Dia cuma butuh disinfektan," sahut Varro asal.

Tak lama, seorang sekretaris dengan pakaian tanpa cela mendekat. "Tuan Calvin menunggu di lantai 50. Mari."

Di dalam ruangan yang baunya seperti campuran antara parfum mahal dan cairan pembersih rumah sakit, Calvin Harvey Weinstein duduk tegak. Ia sedang menggunakan penggaris besi untuk memastikan letak map di mejanya sejajar dengan ujung meja.

Tok! Tok!

Pintu terbuka. Calvin mendongak. Matanya menyipit tajam saat melihat Varro yang masuk dengan sepatu yang sedikit berlumpur, diikuti Nirbita yang—astaga—sedang memegang cup es krim yang hampir meleleh.

"Satu langkah lagi, Navarro, dan saya panggilkan petugas kebersihan untuk menyemprot kakimu dengan alkohol 70 persen," suara Calvin dingin, sedingin AC di ruangannya.

Varro nyengir, menunjukkan barisan giginya tanpa rasa bersalah. "Lama nggak jumpa, Vin! Makin kinclong aja lo."

Calvin tidak menyahut. Tatapannya beralih ke sosok gadis di belakang Varro. Jantungnya berdegup satu kali lebih kencang, tapi wajahnya tetap datar seperti triplek. Nirbita. Gadis yang tiga tahun lalu menempelkan aroma stroberi di jas mahalnya.

"Ada apa? Saya sibuk," potong Calvin cepat.

Varro berdeham, menarik Nirbi ke depan. "Gini, Vin. Lo inget kan pas ulang tahun gue tiga tahun lalu? Waktu gue kasih lo mobil sport limited edition itu? Lo bilang, 'Varro, lo boleh minta kado apa aja dari gue suatu saat nanti'."

Calvin menyandarkan punggungnya. "Saya ingat. Dan saya tahu perusahaan ayahmu bangkrut karena kecerobohanmu mengelola aset."

"Duh, nggak usah diperjelas, sakit tau," Varro memegang dadanya dramatis. "Poinnya adalah, gue mau nagih janji itu sekarang. Gue mau ngerintis usaha dari nol lagi di luar kota, tapi gue nggak bisa bawa Nirbi. Gue takut dia nggak bisa makan enak."

Calvin menaikkan sebelah alisnya. "Lalu?"

"Titip Nirbi," ucap Varro mantap.

"Apa?!" Nirbi dan Calvin berseru bersamaan.

Nirbi melotot. "Bang! Aku bukan kucing yang dititipin di pet shop!"

Varro mengabaikan adiknya. "Jagain dia, Vin. Kasih dia tempat tinggal di rumah lo yang gede itu—yang gue denger lebih bersih dari ruang operasi. Kasih dia baju bagus, biaya kuliah semester akhir, dan kalau bisa... kasih dia kerjaan di sini. Jadi asisten lo atau apa kek."

Calvin terdiam sebentar. Ia memperhatikan Nirbita yang sedang berusaha menjilat tetesan es krim di tangannya agar tidak jatuh ke lantai. Calvin merasa pening melihat cairan lengket itu.

"Kamu minta saya menampung sumber kuman ini di rumah saya?" tanya Calvin pelan.

"Dia bukan kuman, Vin! Dia adik kesayangan gue!" bela Varro.

"Dia baru saja menjilat tangannya sendiri, Varro. Itu tidak higienis," desis Calvin.

Nirbi langsung menyembunyikan tangannya di belakang punggung dengan wajah merah padam. "Maaf, Kak... eh, Pak CEO. Saya... saya bisa bersih-bersih kok! Walaupun nggak sejago Kak Calvin."

Calvin berdiri, berjalan mendekati mereka. Varro refleks mundur, tapi Nirbi mematung. Calvin berhenti tepat satu meter di depan Nirbi. Bau stroberi itu masih sama.

"Kamu tahu aturan di rumah saya, Nirbita?" tanya Calvin rendah.

Nirbi menggeleng polos. "Belum, Pak."

"Tidak ada debu. Tidak ada remah-remah. Dan yang paling penting..." Calvin menatap tajam ke arah tangan Nirbi yang lengket. "Tidak ada sentuhan fisik tanpa izin. Paham?"

Nirbi mengangguk cepat. "Paham, Pak! Saya bakal mandi pake sabun antiseptik kalau perlu!"

Calvin kembali ke mejanya, mengambil ponsel dan menghubungi asistennya. "Siapkan kamar tamu di sayap kanan. Sterilkan tiga kali. Dan belikan stok sabun cuci tangan satu dus."

Varro langsung memeluk Calvin—yang langsung dibalas dengan dorongan kasar. "Gila! Makasih, Vin! Lo emang musuh terbaik gue!"

"Keluar dari ruangan saya, Varro. Sebelum saya berubah pikiran dan menagih biaya parkir helikoptermu yang ilegal itu," usir Calvin.

Saat mereka beranjak keluar, Calvin memanggil satu nama.

"Nirbita."

Gadis itu menoleh. "Iya, Pak?"

"Es krim itu... buang di luar. Jangan sampai ada satu tetes pun jatuh di karpet lobi saya."

Nirbi nyengir lebar, menampilkan lesung pipitnya yang manis. "Siap, Tuan Higienis!"

Pintu tertutup. Calvin menarik napas panjang, lalu segera mengambil hand sanitizer dan menyemprot seluruh permukaan mejanya. Tapi anehnya, sudut bibirnya sedikit berkedut.

Rumahnya yang sepi dan steril, sebentar lagi akan berantakan. Dan entah kenapa, Calvin tidak keberatan jantungnya sedikit "kotor" oleh perasaan yang ia simpan sendiri.

1
umie chaby_ba
😍😍😍😍
umie chaby_ba
ga takut di gigit nyamuk bulan madu di hutan 🤣
Rian Moontero
mampiiirrr/Bye-Bye/👍😍
umie chaby_ba
amazon ga tuh... 🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
🤣🤣🤣🤣🤣
An
amit" pake penggaris??diukur segala?? kang bangunan kah🤭🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: Terimakasih kak, sudah mampir 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
yaelah Caplin...
umie chaby_ba
kirain syekh puji... 😄😄😄🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
Vario Vario.. 🤣
umie chaby_ba
buset...🤭🤭🤭🤭
umie chaby_ba
alah sia cemburu... 😄
umie chaby_ba
duh... si Caplin udh kedemenan itu 😍🤣🤣
Ariska Kamisa: Calvin kak... /Facepalm/
tapi lucu sih kenapa jadi Caplin /Chuckle/
Semoga kak umi menikmati cerita saya yaa... /Kiss/
total 1 replies
umie chaby_ba
sumpah lucu😄
umie chaby_ba
Dih.. Varro Kocagghh....
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
ini ceritanya romansa komedian nih... asik kayanya .. kakaknya kocakk.
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!