Aruna Arabella, gadis cantik yang terlibat hubungan asmara dengan seseorang laki-laki tampan yang tak lain adalah kakak tirinya setelah sang mama memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang duda kaya, yang mempunyai seorang putra.
Aruna harus menelan pahitnya kehidupan di dalam keluarga nya, sang papa berselingkuh takala usia Aruna menginjak tujuh tahun, tak hanya itu, sang papa serta pelakor tersebut membawa kabur kakak laki-laki Aruna.
Setelah kejadian itu Aruna tingal bersama dengan mama nya, yang bekerja sebagai penjahit di sebuah butik kecil sederhana.
Karena kepintaran nya, Aruna di terima masuk di sebuah sekolah elite, ia mendapat beasiswa, di sanalah Aruna memulainya, kisah cinta dengan seorang laki-laki posesif yang ternyata adalah anak laki-laki dari pria yang menjadi papa sambung nya.
Dari sini lah kisah cinta terlarang itu di mulai ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Tidak apa-apa sayang, kamu temani papa makan dulu, mama akan melihat kakak mu di atas," ucap Dinda yang kemudian berjalan pergi menuju kamar Erlan.
Aruna pun memutuskan untuk kembali duduk dan akhirnya menikmati sarapan yang sudah di siapkan sang mama dan para maid di rumah tersebut.
"Aruna, apakah tangan mu sudah tidak sakit?" Papa Firman mulai memecahkan keheningan meja di makan tersebut.
"Udah gak apa-apa kok pa, lihat deh, gak apa-apa kan?" kata Aruna sambil tersenyum.
Namun papa Firman sendiri menyadari kalau itu bukan tidak apa-apa, pergelangan tangan Aruna terlihat merah kebiruan.
"Sekuat apa anak itu mengunakan tenaga nya dengan pergelangan tangan Aruna?" batin papa Firman.
"Pa, kok diem?" ucap Aruna yang kembali menyembunyikan tangan nya.
"Ah, tidak, ayo cepat makan," kata papa Firman lagi.
Sementara itu di lantai atas ...
"Ngapain?" tanya Erlan saat melihat mama Dinda yang berdiri di depan kamar nya.
"Ah, maaf kalau menganggu, tante cuma mau ajak kamu sarapan, soalnya udah masak banyak," kata mama Dinda kepada Erlan.
Erlan menatap mama Dinda dengan tatapan tajam, jelas terlihat kalau ia tak menyukai mama nya Aruna itu.
"gak usah sok akrab, gak perlu sok baik juga, gue gak butuh," kata Erlan yang kemudian hendak berjalan pergi dari hadapan mama Dinda.
"Erlan," kata mama Dinda memangil nama anak tirinya tersebut.
Erlan pun berhenti dan menatap mama Dinda sekilas lalu kembali melangkah kan kaki nya.
"Dinda kamu harus kuat, harus sabar, dia juga anak-anak," kata Dinda sambil mengelus dada nya dan kemudian mengikuti Erlan dari belakang.
Tak lama kemudian Erlan pun tiba di meja makan, dia melihat Aruna yang sedang makan bersama dengan papa nya, mereka terlihat sedikit akrab.
Aruna yang melihat Erlan tiba-tiba menundukkan kepalanya, jujur ia sangat malu karena Erlan terlihat jelas tidak menyukai ia dan mama nya yang notabene nya kini seperti menumpang hidup di rumah Erlan dan papa nya. Padahal sebenarnya tak seperti yang dia pikirkan.
"Ayo duduk dan makan, setelah itu kalian berangkat sekolah bersama," kata papa Firman sambil tersenyum kepada sang putra.
"Apa?" kata Aruna kaget.
Ini adalah salah satu hal yang dia takkan, sang papa tau mereka satu sekolah dan tebak tebakan Aruna ternyata benar, papa Firman benar-benar meminta mereka untuk berangkat sekolah bersama.
"Aku gak lapar," kata Erlan sambil menatap Aruna.
"Erlan ayo makan dulu, jangan sampai tidak sarapan, itu akan memicu penyakit magh," kata mama Dinda mulai menyiapkan makanan untuk Erlan.
"Gak perlu, gue gak segampang itu sakit," kata Erlan yang kemudian melanggar kan kaki nya hendak meninggalkan ruang makan.
"Erlan tunggu," kata papa Firman yang berdiri dari duduknya.
"Apa lagi pa?" tanya Erlan dengan wajah datar nya.
"Aruna, kau sudah selesai sarapan nya?" tanya papa Firman.
"Udah pa," jawab Aruna yang mengambil tas nya dan kemudian berdiri dari duduknya.
"Ya sudah, kamu berangkat bareng kakak mu ya," kata papa Firman lagi.
"Gak apa-apa, Aruna berangkat sendiri aja, lagipula gak jauh kok, Aruna udah biasa jalan kaki," kata Aruna yang sebenarnya takut dengan Erlan.
"Papa denger sendiri kan? Dia gak mau, yaudah aku berangkat dulu," kata Erlan yang kemudian melangkah cepat pergi dari sana.
"Sayang, yang sabar ya," kata mama Dinda.
Aruna menganggukkan kepalanya dan tersenyum, dia rela melakukan apapun demi sang mama bahagia.
"Aruna, tunggu lah sebentar, kamu bisa berangkat bareng papa aja," kata Firman kepada Aruna.
"Gak pa, gak usah, kantor papa kan beda arah, Aruna bisa jalan kaki aja, Aruna berangkat dulu ya, bayy paa, maa," kata Aruna dengan wajah yang di buat-buat ceria berlari-lari kecil meninggal kan ruang makan.
"Dinda, sekali lagi maaf kan Erlan, aku akan membeli satu mobil lagi untuk Aruna nanti, jadi dia tidak perlu jalan kaki," kata papa Firman yang kemudian menghampiri istri nya.
"Jangan mas, biarkan saja, jika kau melakukan ini, kapan mereka akan bisa akur satu sama lain, aku yakin Erlan akan menerima Aruna secepatnya aku sangat yakin kalau Aruna akan bisa menarik perhatian kakak nya, meskipun Erlan nantinya masih belum bisa menerima ku, setidaknya dia bisa menerima adik nya," kata mama Dinda yang bijaksana.
"Aku sangat senang memiliki istri seperti mu, kedatangan kalian di rumah ini seperti keberuntungan yang di kirimkan tuhan untuk ku" kata papa Firman sambil memeluk sang istri.
Singkat cerita, Aruna pun kini tiba di sekolah.
"Huh, untungnya gak terlalu jauh, kok rasanya badan gue makin lama makin enak ya jalan kaki," ucap Aruna mulai menikmati kehidupan nya dengan lapang dada.
Aruna pun masuk ke gerbang sekolah dan berjalan cepat menuju kelas nya, rasanya dia ingin buru-buru duduk untuk beristirahat.
Namun tampa sengaja dia berpapasan dengan Erlan yang saat ini juga hendak pergi ke kelasnya bersama dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah Leo.
"Kini Aruna tau kalau ternyata Erlan adalah kakak kelas nya karena dia mengenali Leo anak sang kepala sekolah.
Aruna mencoba tersenyum saat mereka berpapasan, namun Erlan memilih untuk buang muka dan tidak mempedulikan nya.
"Sombong banget, dasar," batin Aruna yang kemudian melanjutkan perjalanan nya menuju kelas.
"Cantik banget," kata Leo yang sedari tadi tampa sengaja melihat Aruna yang tersenyum ke arah mereka.
Seketika Erlan menatap sepupu nya itu.
"Maksud Lo?" tanya nya.
"Lo gak tau? Di sekolah ini ada bunga nya, namanya Aruna, dia anak sederhana yang di terima di sekolah ini dengan beasiswa karena dia pinter banget, kayak Lo juga tapi sayangnya Lo pemalas," ucap Leo menjelaskan.
"Bunga sekolah? Beasiswa? Memang nya dia orang miskin?" tanya Erlan lagi.
"Mulut Lo bisa di kondisikan dikit gak sih? Gak usah bilang miskin juga, cuma emang orang gak punya aja, mama nya kerja di butik usang, dan katanya dia udah gak punya papa sejak usianya tujuh tahun, kata anak-anak yang sering ngehijat dia sih dia itu punya satu kakak cowok tapi mereka udah pisah sejak kecil," ujar Leo sambil berjalan beriringan dengan Erlan.
"Emang kemana?" lagi-lagi hal ini memancing rasa penasaran Erlan.
"Di bawa kabur bokap nya, gak cuma itu Bokap nya pergi sama pelakor dan Kaka nya Aruna di bawa sama mereka," jelas Leo.
Erlan terdiam, dia tidak menyangka kalau kisah hidup Aruna jauh lebih pait dari dirinya, dia bahkan baru tau kalau ternyata Aruna di sekolah sering di buli, hal ini pun mengingatkan Erlan pada saat di mana dia melihat Aruna yang menangis di taman belakang sekolah.
****
sama aja kek Vani ,gak jelas apa mau nya.dulu Aruna dihina karena dekat ma dia,sekarang udah jauh Deket ma Erlan juga salah.mau nya kalian apa sih...
Aruna udah jauh dari Reyhan pun Lo gak puas...
Aruna Deket cowo lain Lo pun sewot...
gak jelas juga itu otak lho 🤣🤣🤣
jiaaah nih bocah cowo kudu di jitak kepalanya...
buat anak gadis orang cenat cenut aja
🤣🤣🤣🤣
jangan Ngadi Ngadi ya bocil 🤣🤣🤣
jagain Baek Baek tuh adek ketemu gede
kk dan adik udah biasa berantem ajaa,saling jahil.abg ku aja yang paling besar suka nyelipin kepala ku di keteknya ,kayak miting gtu.padahal aku udah punya anak.auto ngamuk aku,dianya malah lari keliling rumah