NovelToon NovelToon
Ketika Kota Bertemu Desa

Ketika Kota Bertemu Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah
Popularitas:18.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rani

Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.

Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KKBD Part *35

Si dokter tersenyum lebar nan manis.

"Gak papa. Saya maklum akan kebahagiaan yang sedang kalian rasakan saat ini."

"Terima kasih banyak, Dok." Bayu berucap nada lembut. Namun matanya, terus melirik sang istri yang ada di sampingnya.

"Sama-sama. Besok pagi, kita lakukan pemeriksaan lagi. Kita akan tahu besok, berapa usia kandung bu Airin."

"Baik, dokter. Besok pagi kami akan datang lagi."

"Iya."

"Sekali lagi, terima kasih banyak, Dok."

Dokter itu menjawab ucapan terima kasih yang Bayu ucapkan dengan senyum. Sepasang anak manusia yang sedang dilanda bahagia karena kabar yang luar biasa itupun akhirnya meninggalkan puskesmas.

Wajah bahagia Bayu sama sekali tidak bisa pria itu sembunyikan. Wajahnya cerah seperti matahari pagi yang sedang bersinar terang. Sepertinya, kehadiran calon anak yang sedang Rin kandung sungguh sangat membahagiakan buat Bayu.

"Mas Bayu."

"Hm?"

"Pelan-pelan," ucapnya lagi ketika Rin akan naik ke atas motor untuk pulang.

Perhatian Bayu terlihat semakin kuat saja sekarang. Seolah, Rin adalah hal yang paling rapuh yang Bayu punya. Seperti sedang menjaga barang yang mudah pecah. Begitulah Bayu yang sedang menjaga Rin saat ini.

"Kita pulang sekarang. Kamu pegang aku erat-erat. Jangan sampai ke napa-napa."

Rin tidak menjawab. Hanya terdiam saja. Lalu, ketika motor itu Bayu jalankan, jalannya malah sangat-sangat pelan. Rin pun tidak bisa diam lagi karena ulah Bayu ini.

"Mas, kok, kek nya motor ini gak bisa jalan. Aku rasa, kalo kita jalan kaki, mungkin sudah sampai rumah lima menit yang lalu."

"Rin, aku gak bisa bawa motor laju-laju. Kamu sedang hamil. Harus hati-hati."

"Lah, tadi saat mau ke puskesmas, kamu bawa motornya lumayan kencang kok, Mas. Tapi aku di belakang baik-baik saja tuh."

"Sayang, tadi aku belum tahu kalau kamu sedang hamil. Maafkan aku. Untung anak kita gak papa."

Rin terdiam. Perhatian itu sungguh berlebihan. Bahkan, untuk yang pertama kalinya, Bayu berucap sangat-sangat lembut. Lebih lembut dari biasanya. Hal itu asing, tapi menghangatkan hati. Rin pun memilih diam tanpa protes lagi.

Butuh waktu dua kali lebih lambat untuk mereka sampai ke rumah. Tapi akhirnya, mereka bisa sampai juga. Rin langsung melepaskan napas lega. Suaminya ini benar-benar memperlihatkan sisi yang jauh berbeda dari yang sebelumnya. Dia terlihat semakin posesif saja sekarang kayaknya.

"Mulai sekarang, semua pekerjaan rumah aku yang kerjakan. Kamu, istirahat saja, Rin."

Rin menatap Batu dengan tatapan lekat. "Kamu suruh aku makan tidur aja, Mas? Yang benar saja. Aku bisa sangat bosan kalo kek gitu."

"Mm ... mungkin boleh jalan-jalan ke sekitar rumah. Atau, ke mana kamu ingin jalan, bisa. Asal, jangan jauh-jauh."

"Mas, jangan kek gitu. Aku hamil, jangan kamu kekang juga dong. Aku juga butuh banyak gerak, bukan?"

"Aku ... nggak kok, Rin. Gak niat buat mengekang. Hanya sedang berusaha untuk menjaga istri dan calon anakku."

Rin meraih tangan Bayu dengan lembut. Lalu menggenggam dengan penuh kasih. "Jangan cemas, Mas Bayu. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tahu di mana batasan diriku. Kamu tidak perlu cemas. Anakmu akan baik-baik saja."

Bayu langsung menyentuh pipi istrinya dengan satu tangan yang lain. "Yang aku cemaskan bukan hanya calon anakku saja, Rin. Tapi juga istriku. Hamil itu tidak mudah. Aku gak mau istriku kenapa-napa."

Rin tersenyum lebar. "Aku tahu di mana batasan untuk diriku. Kamu tidak perlu cemas. Aku tahu kamu sangat perhatian. Tapi, jangan takut. Semua akan baik-baik saja."

Bayu melepas napas berat secara perlahan.

"Baiklah. Aku tidak akan terlalu posesif sama kamu. Tapi, tolong jangan cegah aku untuk selalu mengingatkan di mana batasan kamu saat beraktifitas yah. Dan, tolong maklumi aku nanti, jika aku terlewat batas saat aku berusaha menjaga dirimu dan calon anak kita."

Rin pun mengangguk pelan. Sesaat setelah anggukan itu Rin berikan, Bayu malah langsung menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan. Bayu memeluknya dengan erat, tapi masih sadar akan batasan yang harus dia perhatikan.

"Terima kasih karena telah hadir dalam hidupku. Menemani hari-hari sunyi ku dengan tetap tinggal di sisiku, Rin. Terima kasih banyak untuk semuanya. Untuk hal lama dan juga hal baru yang telah kamu berikan padaku. Aku sangat bersyukur akan hal-hal itu."

"Tidak perlu berterima kasih padaku, Mas Bayu. Karena yang harusnya mengucapkan kata itu adalah aku. Kamu sudah menerima aku di sisimu. Menjaga aku dengan sangat baik. Memberikan hidupku warna yang indah setelah semua hal pahit yang aku alami. Kamu memberiku hal-hal yang sebelumnya tidak pernah aku miliki. Terima kasih banyak."

Keduanya semakin larut dalam pelukan. Tanpa mengucapkan kata-kata lagi, mereka melepaskan perasaan dengan pelukan.

Kebersamaan itu terlalu indah. Berawal dari keterpaksaan, keterpurukan karena tidak punya pilihan, hingga luka yang sangat dalam. Tapi akhirnya, keduanya bisa merasakan hangatnya cinta juga luasnya kasih sayang dengan saling memiliki satu sama lain. Kehidupan manis setelah patah hati ini sangat ingat.

*

Beberapa hari kemudian. Rencana perjalanan Yara ke desa akhirnya tiba. Dia berangkat tanpa pamit pada Marvel. Bukan, dia pamit tapi tidak mengatakan kalau dirinya akan ke desa. Dia hanya mengatakan kalau dirinya akan ke rumah orang tuanya, lalu menginap di sana selama beberapa hari.

"Terserah kamu," jawab singkat Marvel tanpa menoleh sedikitpun.

Jawaban itu terucap seolah Yara tidaklah penting baginya sedikitpun. Saat berucap, Marvel tidak melirik Yara sedikitpun. Pria itu tetap sibuk dengan gawai yang ada di tangannya.

Yara menatap Marvel sejenak. Hembusan napas berat dia lepaskan. Hatinya berkata pada dirinya sendiri. 'Aku akan kembalikan semua pada jalannya. Semua akan kembali seperti semula.'

Yara pun beranjak tanpa meminta Marvel untuk mengantarkan kepergiannya. Perlahan, kaki wanita itu melangkah. Apartemen itupun dia tinggalkan. Tas ransel dia sandang dengan satu tali saja. Sedang tali yang lain, dia biarkan begitu saja.

Langkah demi langkah semakin menjauh. Yara pun tidak menoleh ke belakang barang satu kali pun. Hatinya sudah mantap untuk pergi dengan harapan yang sangat kuat. Harapan, bahwa semua yang telah salah akan kembali pada tempatnya lagi.

Perlahan tapi pasti, Yara meninggalkan jalanan kota dengan menaiki kendaraan umum. Satu kendaraan, hingga kendaraan yang lain ia tumpangi. Proses dalam perjalanan cukup panjang. Tapi Yara tidak mengeluh. Karena hatinya penuh dengan harapan perubahan untuk hidupnya yang baru.

"Kita sudah sampai?" Yara bertanya pada sopir yang menghentikan kendaraan umum di depan jalan yang lebih kecil dari jalan luas yang ada di kota.

"Sudah, mbak. Ini jalan menuju desa Asri Wangi. Kendaraan ini hanya sampai di sini saja. Tidak bisa langsung masuk ke desa. Karena tidak ada jalurnya, mbak."

1
Dew666
🌼🌼🌼
Dew666
💜💜
Liswati Angelina
habis ini rin pasti bisa hamil lagi dan diganti dengan bayi kembar....
tehNci
Naaah kalo begini kan bagus/Good/
Patrick Khan
Marvel ribet bgt sih😂
Dew666
💐💐💐
Rani: yuhu ... 🫰🫰🫰🫶
total 1 replies
Patrick Khan
kasian rin😭😭
Rani: hiks🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Patrick Khan
ehhh knp LG Rin.. malah jatuh😭😭
Rani: hiks, aiya ... itulah. kasihan kan yah
total 1 replies
Patrick Khan
Yara km ribet bgt sih😂😂😂
Rani: jangan di kata lagi. ini manusia satu emang paling ribet dah
total 1 replies
Dew666
🪻🪻🪻🪻🪻
Rani: 🫶🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
Iis Herawati
memang penyesalan itu datang di akhir kalau di awal namanya pendaptaran .....🤣
Rani: wkwkwkwkwk .... bener
total 1 replies
Patrick Khan
Yara sakit jiwa ni enak bgt klo ngomong.. didikan emak km bikin gila yara
Rani: iya. suka2 hatinya aja tuh kek nya.
total 1 replies
Aisyah Virendra
Yara ini perempuan sakit yaa.. sakit krn otaknya bukan hanya kurang seons tapi 5 ons 😞
Rani: eh ... dia gak punya otak malahan.
total 1 replies
Patrick Khan
gk percaya q Yara berubah.. pasti mw deketin Bayu kan
Rani: huhuhu .....
aku gak sehat itu. Yara said. wkwkwkwk
total 1 replies
Nur Haswina
wah benar2 si Yara gadis mata keranjang..
Rani: iya noh. manusia satu beneran gak ada habisnya.
total 1 replies
Dew666
🌼🌼🌼🌼🌼
Rani: 🫰🫰🫰🫰🫰🫰🫰
total 1 replies
tehNci
Emang Yara si anak manja bakalan bisa betah hidup di desa? Mau bertukar pasangan, siapa yg Bakan mau? Rin sama Bayu udah bahagia. Cukup minta maaf aja, jangan macem2 sama mereka
Rani: palingan dia yg kecewa entar
total 1 replies
Patrick Khan
wahhh Yara wes otw bahaya iki😲😲
Rani: huahaha🤣🤣
total 1 replies
Dew666
💜💜💜💜💜
Rani: 🫶🫶🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
tehNci
Yeeeaaay..Airin hamil. Makin bahagialah Bayu dan Airin. Semoga kedatangan Seyara nanti gak akan bisa merusak kebahagiaan Bayu Airin
Rani: aamiin 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!