NovelToon NovelToon
Bukan Sistem Biasa

Bukan Sistem Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:177.5k
Nilai: 4.6
Nama Author: Sarif Hidayat

Beberapa bulan setelah ditinggalkan kedua orang tuanya, Rama harus menopang hidup di atas gubuk reot warisan, sambil terus dihantui utang yang ditinggalkan. Ia seorang yatim piatu yang bekerja keras, tetapi itu tidak berarti apa-apa bagi dunia yang kejam.
​Puncaknya datang saat Kohar, rentenir paling bengis di kampung, menagih utang dengan bunga mencekik. Dalam satu malam yang brutal, Rama kehilangan segalanya: rumahnya dibakar, tanah peninggalan orang tuanya direbut, dan pengkhianatan dingin Pamannya sendiri menjadi pukulan terakhir.
​Rama bukan hanya dipukuli hingga berdarah. Ia dihancurkan hingga ke titik terendah. Kehampaan dan dendam membakar jiwanya. Ia memutuskan untuk menyerah pada hidup.
​Namun, tepat di ambang keputusasaan, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
​[PEMBERITAHUAN BUKAN SISTEM BIASA AKTIF UNTUK MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA TUAN YANG SEDANG PUTUS ASA!
APAKAH ANDA INGIN MENERIMANYA? YA, ATAU TIDAK.
​Suara mekanis itu menawarkan kesepakatan mutlak: kekuatan, uang,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarif Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Sekolah sma bakti

Rama menatap lekat sebuah pil yang tergeletak di telapak tangannya. Warnanya adalah kristal kebiruan yang memancarkan kilau misterius, namun anehnya, ia menguarkan aroma rempah-rempah yang begitu pekat dan menggugah indra.

​Pil itu—Pil Ketampanan Tingkat Rendah—adalah hadiah login harian yang baru saja dikeluarkan oleh sistemnya. Tanpa menimbang lebih jauh, Rama segera melemparkan pil mungil itu ke dalam mulutnya.

​Sesaat setelah menelannya, rasa gatal menyeruak di wajah Rama, menjalar di bawah permukaan kulitnya. Sensasi itu berlangsung singkat, lalu digantikan oleh rasa nyaman seperti dipijat oleh tangan profesional, membuat sekujur tubuhnya terasa rileks.

​“Sudah? Ap-apakah efeknya hanya seperti ini saja, Sistem?” gumam Rama, keheranan. Biasanya, setiap pil yang diberikan sistem selalu disertai rasa sakit luar biasa yang menguji batas toleransinya. Namun kali ini, selain gatal sesaat di wajahnya, ia tidak merasakan perubahan berarti pada bagian tubuh yang lain.

[DING! Sesuai nama dari pil itu tuan. pil ketampanan hanya berfokus pada wajah tuan tetapi tidak berefek pada bagian tubuh tuan yang lain.]

Rama terdiam, perlahan meraba wajahnya. Memang, ia merasakan adanya kehalusan yang baru pada kulitnya. Tetapi karena ia sudah memutuskan untuk pergi ke sekolah hari ini, Rama segera meraih handuknya untuk mandi dan bersiap menyiapkan sarapan pagi seperti biasa.

​Sarapan Pagi

​Pagi itu, tepat pukul 06.20 pagi, meja makan keluarga Suhardi telah dihiasi sepiring nasi goreng sederhana, tetapi dengan cita rasa yang selalu istimewa.

​Bela, dengan seragam SMA-nya yang rapi, sudah duduk manis, menanti di hadapan piring nasi goreng mengepul.

​“Silakan dinikmati hidangannya, Tuan Putri,” ucap Rama, seperti biasa, sesekali menyelipkan godaan ringan di pagi hari.

​“Wah… sarapannya sudah siap, ya? Aduh, maaf ya, Rama, Ibu bangunnya agak telat pagi ini,” ujar Bu Maya, pandangannya langsung tertuju pada piring nasi goreng di atas meja.

​Tak lama, Pak Suhardi menyusul dan segera duduk di kursi depan Bu Maya, menarik napas dalam-dalam. Asap nasi goreng yang masih mengepul itu memiliki aroma yang membuat pagi terasa penuh semangat.

​“Nasi goreng buatanmu ini, Rama, benar-benar membuat saya selalu ingin menikmatinya lagi dan lagi,” puji Pak Suhardi tulus.

​“Benar, Nak. Rasanya Ibu ingin belajar memasak lagi darimu, Rama,” timpal Bu Maya.

​“Syukurlah kalau Bapak dan Ibu menyukainya,” jawab Rama, senang mendengarnya.

​Ia pun duduk di sebelah Pak Suhardi. Namun, keningnya sedikit terangkat ketika menyadari Bela di depannya tampak diam membeku, memandangnya tanpa berkedip.

​“Ada apa dengan wajah Kakak, Bel? Kenapa kamu memandangi Kakak seperti itu?” tanya Rama.

​“Karena Kak Rama terlihat begitu tampan hari ini,” jawab Bela tanpa sadar, suaranya nyaris berbisik.

​“Oh, benarkah?” Rama tersenyum kecil, menatap gadis itu.

​Tersadar akan ucapannya, Bela langsung menunduk malu. Kedua pipinya memerah drastis. Entah mengapa, ia merasa wajah Rama pagi ini jauh lebih menawan, lebih bersih, dan lebih memikat dari hari-hari sebelumnya.

​Bahkan Pak Suhardi dan Bu Maya, yang tadinya hendak menyuap makanan ke mulut mereka, langsung mengalihkan pandangan pada Rama. Mereka baru menyadari bahwa wajah Rama memang tampak berbeda; lebih putih, lebih bersih. Bu Maya bahkan merasa hidung Rama agak sedikit lebih mancung.

​'Kenapa aku baru menyadari bahwa anak ini memang cukup tampan,' pikir Bu Maya. Ia segera mengalihkan pandangannya pada Bela, yang wajah putrinya tampak memerah dan tidak berani menatap Rama kembali.

​“Haha… sepertinya anak Bapak ini sudah dewasa sekarang,” goda Pak Suhardi, tertawa kecil.

​“Ap-apa yang Bapak katakan? Memangnya aku akan kecil terus?” sahut Bela, melirik sekilas ke arah Rama, lalu kembali menunduk, membuat Pak Suhardi tertawa lagi.

​Bu Maya tersenyum samar, lalu berkata, “Sudahlah, Pak. Anaknya jangan digoda seperti itu. Lihat, nasi goreng buatan Rama sampai tidak disentuh, hanya karena sibuk memperhatikan wajah pembuatnya.”

​“Apa sih, Buuu…” gerutu Bela, dengan kedua pipi yang semakin memerah hingga ke telinga. Ia segera melahap nasi goreng di hadapannya, berusaha keras untuk tidak melirik ke arah Rama lagi.

​“Pelan-pelan makannya, nanti tersedak, lho. Terus nanti Kakak sendiri yang repot menggendong ke rumah sakit,” canda Rama.

​Uhukkk!

​Bela seketika tersedak mendengar ucapan Rama. Pipinya kembali memerah.

​“Tuh kan, baru saja Kakak selesai bicara,” ujar Rama, menahan senyum.

​“Ap-apa yang Kakak bicarakan, aku, aku…”

​“Sudah, nih, minum…” potong Rama, langsung menyodorkan segelas air putih pada gadis itu.

​Bu Maya dan Pak Suhardi ikut senang melihat kedekatan dan interaksi lucu keduanya. Mereka kemudian fokus pada makanan mereka masing-masing. Tak berselang lama, semua piring tampak bersih, tidak meninggalkan sebiji nasi pun di atasnya.

-------

​“Oh ya, Kak, hari ini Kak Rama jadi tidak ke sekolah untuk mengurus surat izin kepindahan?” tanya Bela setelah selesai bersiap untuk berangkat.

​“Jadi, kok. Tapi Kakak agak siangan dikit. Kamu duluan saja, nanti Kakak menyusul,” jawab Rama.

​“Ya sudah, kalau begitu Bela berangkat duluan, ya. Soalnya teman Bela sudah menunggu di depan! Pak, Bu… Bela berangkat dulu.” Bela langsung memeluk ibu dan bapaknya bergantian, lalu segera bergegas keluar rumah.

​Setelah kepergian Bela, Bu Maya pun bertanya pada Rama, suaranya berubah serius. “Nak, apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu pergi ke kota itu?”

​“Sudah, Bu. Saya sudah memikirkannya, dan dua hari lagi akan berangkat jika tidak ada halangan,” jawab Rama mantap.

​“Tapi janji, ya, Nak. Jika kamu tidak menemukan kenyamanan di sana… kamu harus kembali ke rumah ini. Karena Bapak sama Ibu, sudah menganggapmu sebagai anak kami sendiri,” ucap Bu Maya, tatapannya penuh kasih sayang.

​“Iya, Bu. Saya juga sudah menganggap Bu Maya sama Pak Hardi sebagai orang tua saya. Dan Bela sudah saya anggap sebagai adik sendiri.”

​“Ya sudah… kalau itu sudah menjadi keputusanmu, Bapak sama Ibu cuma bisa berpesan. Jangan sampai nantinya di sana kamu menyinggung seseorang yang seharusnya tidak kamu singgung. Soalnya kata teman-teman Ibu, kehidupan di kota sangat kejam terhadap orang ‘rendah’ seperti kita,” pesan Bu Maya.

​“Iya, Bu,” jawab Rama.

​Karena waktu sudah cukup siang, Rama pun langsung menyusul Bela, berjalan kaki menuju SMA Bakti. Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai ke sekolah itu jika menggunakan sepeda motor. Namun, Rama hanya berjalan kaki, apalagi Pak Suhardi memang tidak memiliki kendaraan bermotor.

​Gerbang SMA Bakti

​Sesampainya di depan gerbang SMA Bakti, Rama meminta petugas keamanan sekolah untuk membuka gerbang yang sudah tertutup itu.

​“Permisi, Pak Asep,” sapa Rama.

​Sapaan itu membuat sosok pria paruh baya yang tengah duduk di warung kopi, tak jauh dari gerbang sekolah, langsung menoleh.

​“Iya… ada yang bisa saya bantu, Nak?” tanya Pak Asep. Ia meletakkan gelas kopi yang baru saja ia pegang untuk diminum, menanti Rama dengan raut penasaran.

1
@Mita🥰
heleh katanya mau tegas Rama mana cuma ngomong doang nyatanya nurut aja sama Sherina
Maz Shell
lanjutkan Thor 2 minimal
Dirman Ha
gc ckp
Dirman Ha
ig go
Zulterry Apsupi
yang ini masuk polisi pasti lewat koneksi atau melalui sogokan
Zulterry Apsupi
terlalu naif si mc
Dirman Ha
g book
Dirman Ha
I g nk
Zulterry Apsupi
MC idiot
Memyr 67
𝗋𝖺𝗇𝖽𝗒 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗌𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖺𝗌𝗎𝗁𝖺𝗇 𝗒𝖺?
Memyr 67
𝗁𝖺𝗁? 𝗐𝗂𝖽𝗒𝖺? 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝖻𝗂𝖺𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗄𝖺𝗂 𝗉𝗋𝖾𝗆𝗉𝗎𝖺𝗇, 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄?
Memyr 67
𝗍𝗎 𝗄𝖺𝗇? 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍. 𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝗌𝗎𝗉𝖾𝗋𝗂𝗈𝗋 𝗆𝖺𝗎 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂, 𝗒𝗀 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 "𝗆𝖾𝗇𝗒𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇" 𝗋𝖺𝗆𝖺. 𝗋𝖺𝗆𝖺? 𝖽𝗂𝗌𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋𝖺𝗇 𝖺𝖻𝗌𝗎𝗋𝖽 𝗌𝗂𝗁 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺, 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗂𝗍𝗎
Memyr 67
𝗌𝖾𝗆𝗈𝗀𝖺 𝗁𝗎𝖻𝗎𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗇 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝖻𝖺𝗍𝖺𝗌 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁. 𝗄𝖺𝗌𝗂𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗌𝖾𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗎𝗌𝖺𝗁𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗆𝗉𝗎.
Manusia Biasa
lucu gw suka interaksi bela x rama😁
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗉𝖾𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖽𝗂𝖺 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗍𝗈𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗅𝗂𝗆𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝖺𝗇. 𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝗆𝖾𝗆𝗉𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗅𝖺 𝗂𝗇𝖿𝗈𝗋𝗆𝖺𝗌𝗂 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗌𝗁𝖾𝗋𝗅𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗉𝖺𝗋𝗈. 𝗉𝖾𝗇𝗀𝖺𝗐𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗒𝖺
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗋𝗂𝖼𝗈 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖻𝖾𝗋𝗄𝗎𝖺𝗌𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋.
Dirman Ha
hv gi
Dirman Ha
yd dg
Dirman Ha
hv no
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!