NovelToon NovelToon
Satu Rasa Yang Tak Pergi

Satu Rasa Yang Tak Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Yatim Piatu
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Seri ke-satu

Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang yang licik

Pengundian berlangsung hampir satu jam. Teriakan, tepuk tangan, dan tawa bersahutan memenuhi lapangan. Nomor undian warga Gang Karya Bakti beberapa kali disebut, membuat barisan mereka tak berhenti bersorak.

Begitu pula Viola yang begitu gembira mendapatkan sepeda listrik.

“Selamat ya, Vi. Jangan lupa janji kamu,” ucap Clara tertawa ringan, mengingatkan pada janjinya untuk memutari gang tiga kali jika benar-benar menang.

“Nanti sore langsung Viola lakukan!” sahut Viola bersemangat, wajahnya bersinar seperti anak kecil yang baru saja diberi hadiah ulang tahun.

Setelah hadiah terakhir diserahkan, MC kembali berdiri di tengah panggung.

“Bapak… Ibu… sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas kehadiran dan semangat kalian pada kampanye hari ini. Dan bagi yang belum mendapatkan hadiah, jangan berkecil hati. Nanti di pintu keluar kalian akan mendapatkan goodie bag berisi hadiah serta makan siang.”

Sorak kecil terdengar kembali. Orang-orang mulai berdiri, sebagian merapikan kursi, sebagian lagi langsung bergerak ke arah pintu keluar. Panitia sigap mengatur antrean agar tidak berdesakan.

Di sisi lain, bu Sumiati dan bu Jamilah berjalan mendekati Clara dan Viola yang masih duduk sambil bercanda.

“Neng Viola, bisa nih nanti sepeda listriknua ibu pinjem buat ke pasar,” canda Bu Jamilah sambil membawa kotak air fryer di tangannya.

Viola terkekeh, matanya berbinar. “Boleh dong, Bu Jamilah. Tapi gantian ya, jangan lama-lama.”

“Neng Clara juga selamat ya dapat laptop,” ucap Bu Sumiati dengan senyum bangga.

“Iya, Bu. Alhamdulillah. Kayaknya gang kita lagi beruntung ya hari ini,” sahut Clara sambil memangku kotak laptopnya.

"Iya, emang Gang kita penuh rejeki." ucap bu Jamilah sambil terkekeh.

Bu Jamilah menatap kotak laptop beberapa detik, lalu berkata setengah bercanda, setengah serius, “Neng… nanti laptop satunya kalau nggak kepake lagi boleh enggak ibu beli? Si Udin lagi butuh laptop, kan sudah kelas tiga SMP.”

Clara tersenyum canggung. “Bukannya nggak mau, Bu… tapi laptop yang lama keyboard-nya sering macet.”

“Udah nggak apa-apa. Nanti ibu service ke Pak Abdul.”

“Pak Abdul kan tukang service TV sama kulkas, Bu. Mana bisa service laptop,” sela Viola sambil menepuk jidatnya sendiri.

Bu Jamilah hanya tersenyum lebar, tidak merasa tersinggung sedikit pun.

Clara terdiam sejenak. Ia membayangkan Udin yang memang sering terlihat belajar di teras rumah dengan buku-buku yang sudah lusuh.

“Nanti Clara coba bawa ke tukang service dulu ya, Bu,” ucapnya pelan.

“Iya, tapi jangan yang mahal-mahal ya,” jawab Bu Jamilah sambil tertawa malu.

Clara mengangguk kecil.

Beberapa menit kemudian, lapangan yang tadi penuh perlahan mulai lenggang. Antrean di pintu keluar pun tinggal sedikit.

“Ayo, Bu. Kita pulang,” ajak Clara.

Bu Sumiati dan Bu Jamilah mengangguk bersamaan, berjalan beriringan bersama Clara dan Viola.

“Kak… motor listrikku gimana ya bawanya?” bisik Viola pelan.

“Suruh Alvian aja yang bawain,” jawab Clara enteng.

“Ih, ogah,” sahut Viola sambil memajukan bibirnya.

“Ya masa motormu ditinggal di sini?”

Viola terdiam. Gengsinya jelas lebih besar daripada logikanya.

“Ini, Mbak. Laptopnya bisa dimasukin ke tas ini,” ucap salah satu panitia wanita sambil membuka goodie bag berwarna hitam polos.

Dan ini buah tangannya,” lanjutnya sambil menyerahkan goodie bag putih dengan logo kapsul-daun berwarna hijau bercampur biru yang tercetak rapi di tengahnya.

“Terima kasih,” ucap Clara sopan.

Di parkiran, Clara dan Viola berpisah dengan Bu Sumiati serta Bu Jamilah yang pulang lebih dulu bersama warga lain.

“Bu Sum sama Bu Jam kok nggak dapat tas hitam kayak Kak Clara?” tanya Viola penasaran.

Clara menatap tas hitam yang kini berisi laptopnya. “Mungkin karena laptop agak sensitif, jadi dikasih tas biar lebih aman bawanya.”

Viola mengangguk-angguk tanda mengerti. Tak lama, Viola menghampiri Alvian yang sedang membantu warga mengeluarkan motor dari parkiran yang masih padat.

Sementara itu, Clara berdiri sedikit menjauh. Ia menatap ke arah tenda-tenda kampanye yang mulai dibongkar. Beberapa panitia terlihat lelah namun tetap tersenyum satu sama lain.

Angin siang berhembus pelan, menggerakkan ujung rambutnya. Langit cerah, tapi tidak menyilaukan. Clara menarik napas panjang, membiarkan udara segar memenuhi paru-parunya.

Hari ini terasa menyenangkan, apalagi saat melihat para tetangganya yang sangat baik begitu berbahagia.

Tiba-tiba perutnya berbunyi pelan, Clara terkekeh sendiri dan menunduk.

“Tunggu sebentar ya ,” gumamnya pada perutnya.

Setelah perjalanan sekitar sepuluh menit, Clara akhirnya sampai di depan pagar rumahnya.

“Makasih ya, Vi, sudah diantarkan. Hati-hati pulangnya,” ucap Clara pelan sambil turun dari motor.

“Iya, Kak. Nanti sore aku keliling gang, jangan lupa lihat!” sahut Viola, lalu melajukan motornya dengan senyum tak berhenti.

Clara melangkah masuk ke halaman rumah dengan wajah yang masih menyimpan sisa ceria hari itu. Namun langkahnya mendadak terhenti, senyum itu lenyap begitu saja.

Di teras rumahnya, dua sosok duduk santai seolah-olah itu rumah mereka sendiri.

“Datang dari mana, Clara? Kami nunggu lama dari tadi,” ucap Om Ferdi tanpa berdiri, nadanya ringan seperti tak ada beban apa pun.

Rahang Clara mengeras.

Ingatan lama seperti diseret paksa ke permukaan, suara-suara berbisik di ruang tamu dulu, ancaman halus pada ayahnya, cerita-cerita manipulatif tentang usaha keluarga. Sejahat-jahatnya Nenek Murni, Om Ferdi jauh lebih licik.

“Tumben Om ke sini. Ada apa?” tanya Clara, tak lagi repot menyembunyikan ketus di suaranya.

“Kamu kan keponakan Om. Memangnya salah kalau Om berkunjung?” Ferdi tersenyum tipis, senyum yang tak pernah benar-benar sampai ke mata.

Clara tak menjawab, ia membuka pintu rumahnya dan masuk. Namun sebelum pintu itu sempat ia tutup, Om dan Tantenya sudah melangkah masuk lebih dulu, tanpa permisi.

“Rumah ini nggak jauh beda dari dulu ya,” ucap Tante Devi sambil memutar pandangan ke sekeliling ruangan.

Clara meletakkan tas hitam berisikan laptop dan goodie bag di atas sofa.

“Om dengar, nenekmu kemarin ke sini,” lanjut Ferdi, matanya beralih ke foto keluarga yang tergantung di dinding.

“Iya,” jawab Clara singkat.

Tante Devi mendekati tas hitam itu,

“Ini apa, Clar?”

Tangannya terulur dan hampir membuka bagian atasnya.

“Tolong ya, Tante. Jangan suka seenaknya menyentuh milik orang lain,” ucap Clara dingin. Tidak keras, tapi cukup tajam.

Tante Devi menarik tangannya perlahan, senyumnya dipaksakan.

“Tante cuma penasaran. Setelah orang tua kamu meninggal, kan Tante yang ngurus kamu.”

Kalimat itu lagi. Kalimat yang selalu mereka pakai seperti kartu sakti.

Clara tersenyum. Senyum yang tak lagi lugu seperti dulu.

“Iya, terima kasih sudah mau mengurus Clara. Tapi itu semua kan nggak gratis. Bahkan upahnya sangat besar. Iya kan, Om Ferdi?”

Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit. ferdi menyeringai kecil.

“Kamu waktu itu masih kecil. Memangnya mampu mengelola usaha sebesar itu?”

Clara berdiri tegak.

“Sekarang Clara sudah dewasa. Kenapa nggak dikembalikan saja ke pemilik sahnya?”

Ia menekankan kata sah dengan jelas. Ferdi yang tadinya menatap foto keluarga kakaknya di dinding kini menoleh perlahan.

Wajahnya berubah. Tidak lagi santai, dan tidak lagi tersenyum.

“Jangan sembarangan bicara,” ucapnya lebih rendah.

Clara melangkah mendekati dinding tempat foto ayah dan ibunya tergantung.

“Yang sembarangan itu siapa, Om? Clara cuma minta apa yang memang hak Clara.”

“Kamu ini kenapa sih? Tante sama Om cuma khawatir sama kamu. Tante lihat video kamu disosmedz Jangan sampai salah langkah.”

Clara menoleh pelan.

“Kalau soal salah langkah, harusnya Om dan Tante lebih paham.”

1
Sugianoor
semangat clara
Sugianoor
kesian clara😭
Sugianoor
semangat updatenya💪
Sugianoor
ceritanya sangat bagus kak👍
falea sezi
bkin Clara g menye Thor bikin dia move on dan bahagiain diri sendiri jual. rmh tinggal. tempat lain biar bebas dr. keluarga toxic
falea sezi
lupain Noel. Clara laki. yg bisanya manut bapak nya itu g bs mandiri
falea sezi
move on Clara qm. berhak bahagia dengan nathan lupain. masa. lalu
falea sezi
pasti Noel cwok lemah plin plan g cocok ma Clara moga aja nathan bisa bkin Clara. move on lahh males liat Clara gini kesannya kayak menye menye
Una.: tenang ya kak clara orang yang kuat, terimakasih sudah baca 🤗
total 1 replies
falea sezi
move on Clara siapa tau Noel mu ngilang karena di jodohkan
Sugianoor
ceritanya sangat bagus 👍mantap sukses selalu kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!