Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Winarti mendengus. “Kalau begitu, kalian tidak usah menikah.”
Sagara menatapnya lurus. “Kami akan menikah. Dengan atau tanpa persetujuan yang menjadikan Senja objek eksploitasi.”
Pandi mematikan rokoknya tanpa pernah menyalakan. “Berarti jangan harap aku jadi wali.”
Sagara mengangguk pelan. “Baik.” Kalimatnya jatuh tenang. Terlalu tenang untuk sebuah ancaman besar.
Senja terkejut kecil. “Om…?”
Sagara menoleh padanya sebentar. “Tenang.”
Satu kata. Tapi cukup membuat Senja duduk kembali.
Sagara sudah terlebih dahulu membaca permainan. Semalam ia menghubungi pengacara keluarga, menanyakan tentang wali nikah alternatif, tentang hak Senja kalau ayah kandung menolak atau memeras.
Winarti tertawa tipis. “Kamu pikir gampang mencari wali pengganti?”
Sagara menjawab tanpa ragu. “Tidak mudah. Tapi mungkin. Dan sah.”
Hening kembali jatuh.
“Kalau bapaknya tidak jadi wali,” ujar Winarti dingin, “pernikahan kalian tidak sah. Kalian tetap kumpul kebo. Tetap zina, menanggung dosa aib sampai mati.”
Riyan mendengus kecil, seolah itu hiburan. "Konyol," desisnya pelan, menilai remeh Sagara.
Pandi diam, tapi wajahnya mengeras, memberi restu pada ancaman itu. Dan Winarti belum selesai.
“Kami juga bisa lapor polisi atas perbuatan asusila. Anak kami hamil tanpa nikah. Itu ada hukumnya," lanjutnya.
Dada Senja terasa sesak. Tangannya gemetar kecil. Bukan karena takut. Tapi karena baru kali ini ia benar-benar melihat, bahwa ancaman bisa keluar dari orang yang dulu ia sebut rumah, dari seorang ibu yang melahirkannya.
Sagara tetap berdiri tenang. Terlalu tenang, bahkan. Ia tidak langsung bicara. Tidak memotong, tidak menegur, seolah ia memberi mereka ruang untuk menumpahkan seluruh senjata terakhir yang mereka punya.
“Silakan,” kata Sagara akhirnya. Satu kata tegas itu membuat ruangan hening.
“Silakan apa?” tanya Winarti tajam.
“Silakan lapor,” jawab Sagara datar.
“Kalau itu yang menurut Ibu benar.”
Senja menoleh cepat. “Om…?”
Sagara meliriknya sekilas. Bukan untuk menenangkan dengan pelukan. Tapi dengan keyakinan.
“Kalau soal hukum, hubungan kami terjadi atas dasar suka sama suka. Tidak ada paksaan. Tidak ada kekerasan. Tidak ada penipuan identitas. Itu bukan tindak pidana," lanjut Sagara.
Winarti terkesiap kecil. “Kamu pikir kami bodoh soal hukum?”
“Tidak,” jawab Sagara. “Tapi saya tidak akan membiarkan Senja diancam dengan istilah-istilah yang tidak tepat.”
Pandi akhirnya bersuara, berat. “Bagaimanapun, dia anak di bawah tanggung jawab kami.”
“Dan sekarang,” potong Sagara, “dia perempuan dewasa yang sedang mengandung. Dengan atau tanpa restu kalian, tanggung jawab itu ada pada saya.”
Nada Sagara tidak naik menunjukkan amarah. Tidak pula turun karena takut. Justru itulah yang membuatnya terasa seperti palu.
Winarti mendengus. “Lalu wali? Kalau kami menolak, siapa yang akan menikahkan?”
Sagara menjawab tanpa ragu. “Negara.”
Mata Senja membesar. “Negara…?”
“Lewat wali hakim,” lanjut Sagara. “Kalau wali nasab menolak tanpa alasan syar’i, hukum menyediakan jalan.”
Winarti terdiam. Pandi memalingkan wajah.
“Dan soal zina,” tambah Sagara, “kami tidak akan hidup serumah tanpa ikatan. Itu sebabnya kami menikah. Bukan karena takut ancaman. Tapi karena tanggung jawab.”
Riyan akhirnya bicara, nadanya menyindir. “Berani sekali.”
Sagara menoleh padanya. “Berani itu kalau melindungi yang benar. Pengecut itu kalau bersembunyi di balik ancaman.”
Riyan langsung terdiam, kembali menunduk, pura-pura lanjut main game.
Senja berdiri di sana, dadanya bergetar.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ada seseorang yang tidak sekadar membelanya, tapi membentangkan tubuh di depan badai yang seharusnya menghantam dirinya.
Winarti terlihat goyah. Bukan karena sadar, tapi karena senjata mereka satu per satu jatuh. “Kalian pikir ini selesai?” desisnya.
“Tidak,” jawab Sagara. “Tapi ini berhenti di sini.”
Ia menoleh pada Senja. “Kalau kamu mau pulang sekarang, kita pulang.”
Ucapan Sagara tidak ada unsur perintah, bukan pula paksaan, tapi pilihan.
Mata Senja menyusuri rumah itu sekali lagi. Rumah yang dulu memaksanya dewasa terlalu cepat. Rumah yang hari ini membentuk ketekatan bulat.
“Aku mau pulang,” katanya pelan.
Sagara mengangguk.
Mereka melangkah menuju pintu.
Winarti berseru, setengah marah, setengah panik. “Kalian tidak bisa menikah tanpa restu kami!”
Sagara berhenti sejenak, menoleh. “Kami tidak membutuhkan restu untuk berbuat benar."
"Kurang ajar sekali. Tidak ada sopan-sopannya pada orang tua. Ingat ya, sampai mati kami nggak akan memberi restu."
"Kalau itu tidak bisa kalian beri, kami tidak akan memaksa.”
Senja menunduk kecil. Sikap sederhana yang bukan berarti kalah, tapi karena akhirnya berani meninggalkan medan yang salah.
Di luar rumah, udara terasa lebih segar. tak sepengap di dalam rumah tadi.
Senja masuk ke mobil dengan tangan sedikit gemetar. Sagara menutup pintu pelan. Tidak ada kata-kata besar selayaknya ceramah ataupun pidato. Hanya satu kalimat ketika mesin dinyalakan.
“Kamu tidak salah.”
Dan kalimat itu, sederhana, tenang, membuat mata Senja mengembun. Bukan karena ia sedih, karena terharu bahwa ada seseorang tidak membelanya dengan marah, tapi dengan keberanian yang dewasa.
Mobil Sagara siap melaju meninggalkan halaman rumah itu. Tiba-tiba terdengar suara dari luar yang masih sempat menyusup lewat celah jendela.
“Katanya hamil di luar nikah, tapi nggak dapat restu...”
“Yang cowoknya kelihatan tajir ya…”
“Kasihan juga, tapi berani banget.”
Bisik-bisik itu tidak keras. Justru karena pelan, terasa lebih menusuk.
Senja menunduk, jarinya saling meremas di pangkuan. Nafasnya sedikit tidak teratur.
Sagara langsung menaikkan kaca jendela. Satu gerakan kecil, tapi maknanya besar. Seperti menutup dunia yang tidak pantas masuk ke ruang aman mereka.
“Kamu tidak perlu mendengar itu,” katanya singkat.
Senja mengangguk. “Aku cuma… masih belajar.”
Mobil terus melaju. Lampu-lampu jalanan menggantikan suasana sempit rumah tadi dengan ruang yang lebih lapang.
Beberapa menit kemudian, Senja menoleh ke luar jendela. Matanya menangkap sosok seorang kakek renta yang mendorong gerobak es krim kecil. Rodanya sudah miring, geraknya pelan.
“Om…” Suara Senja pelan, hampir seperti bisikan.
Sagara melirik sekilas ke arah yang ia lihat.
“Kakek itu…”
“Kamu ingin es krim?” potong Sagara.
Senja terdiam satu detik, lalu mengangguk kecil. “Iya… tapi… kasihan juga.”
Sagara mengerutkan dahi tipis. “Di pinggir jalan seperti itu, kebersihannya belum tentu terjaga.”
Senja tidak membantah. Ia hanya menatap lagi keluar jendela. Suaranya lembut. “Kalau tidak bersih, aku bisa beli sedikit saja. Yang penting kakeknya dapat rezeki hari ini.”
Kalimatnya tidak memaksa, tidak merajuk manja, tidak pula mengiba, hanya jujur yang keluar dari hati.
Sagara menghela napas pendek. Cara Senja meminta tidak pernah keras. Tapi justru itulah yang paling sulit ditolak.
Pria itu menepi ke pinggir jalan. “Sekali ini saja,” katanya. “Dan kamu tidak langsung makan di tempat.”
Mata Senja membulat. “Benar?”
“Turun,” jawab Sagara singkat.
Senja tersenyum kecil, bukan senyum lebar, lebih seperti cahaya yang muncul pelan-pelan dari wajahnya.
Mereka turun dari mobil. Kakek penjual es krim itu menoleh kaget, lalu tersenyum lebar. “Silakan, Nak… mau rasa apa?”
“Vanila saja, Kek,” jawab Senja.
Sagara berdiri sedikit di belakang, mengamati sekeliling. Di dekat gerobak itu ada dua anak jalanan, satu pengamen kecil dan penjual koran kecil. Mereka menatap dengan mata penuh harap, tapi ragu mendekat.
Senja menyadarinya. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya melirik ke arah Sagara. Tatapannya tidak memohon, tidak pula memerintah. Namun, penuh makna, penuh empati.
Sagara langsung mengerti. Ia melangkah mendekat pada kakek penjual es krim. “Tambah empat,” katanya. “Untuk mereka.”
Anak-anak itu terkejut. Mata mereka membesar, lalu berbinar.
“Beneran, Om?” tanya salah satunya, nyaris tidak percaya.
“Iya,” jawab Sagara singkat.
Senja menunduk kecil, menahan senyum yang tiba-tiba terasa hangat di dadanya.
Kakek itu terlihat hampir berkaca-kaca ketika menyerahkan es krim satu per satu.
“Terima kasih, Nak… semoga rezekinya dilapangkan.”
Sagara hanya mengangguk.
Senja tersenyum dan menjawab lirih. “Amin.”
Mereka kembali ke mobil. Es krim Senja dibungkus rapi, belum dimakan. Senja memandang Sagara dengan wajah sedikit berseri.
“Om selalu tahu,” katanya pelan.
“Tahu apa?”
“Apa yang ingin aku katakan… bahkan sebelum aku bicara.”
Sagara menatap jalan. “Itu tidak sulit.”
“Kenapa?”
“Karena tatapanmu terlalu jujur untuk disalahartikan.”
Senja tersenyum kecil. Dan untuk sesaat, perjalanan pulang mereka tidak lagi terasa seperti melarikan diri dari rumah lama. Melainkan seperti sedang menuju sesuatu yang baru.
Bersambung~~