NovelToon NovelToon
Penjelajah Rimba Tak Berhingga

Penjelajah Rimba Tak Berhingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Reinkarnasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:559
Nilai: 5
Nama Author: Guraaa~

Di puncak kesendirian yang tak tertandingi, Kaelen, sang Monarch Primordial, telah menguasai semua hukum alam di alam semestanya. Namun, kemenangan terasa hampa. Justru pada detik ia menyentuh puncak, sebuah segel kuno terpecah dalam jiwanya, mengungkap ingatan yang terpendam: ia bukanlah manusia biasa, melainkan "Fragmen Jiwa Primordial" yang tercecer dari sebuah ledakan kosmik yang mengawali segala penciptaan.

Dicetak ulang melalui ribuan reinkarnasi di dunia yang tak terhitung jumlahnya, setiap kehidupan adalah sebuah ujian, sebuah pelajaran. Tujuannya bukan lagi sekadar menjadi yang terkuat di satu dunia, tetapi untuk menyatukan semua fragmen jiwanya yang tersebar di seantero Rimba Tak Berhingga — sebuah multiverse yang terdiri dari lapisan-lapisan realitas, mulai dari dunia rendah beraura tipis, dunia immortal yang megah, hingga dimensi ilahi yang penuh dengan hukum alam purba.

Namun, Kaelen bukan satu-satunya yang mencari. Para Pemburu Fragmen, entitas dari zaman sebelum waktu,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Guraaa~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Mata Yang Mengawasi

Ketenangan yang pernah menyelimuti gubuk Kaelen di sudut marga telah hilang, digantikan oleh hiruk-pikuk perhatian yang tak diinginkan. Dipindahkan ke barak pelatihan bersama pemuda marga lainnya, hidupnya sekarang diatur oleh jadwal yang ketat: latihan fisik di fajar, meditasi Qi setelah sarapan, pelajaran teori seni bela diri di siang hari, dan latihan sparing di sore hari. Sebagai "underdog yang beruntung", dia menjadi pusat perhatian, dan setiap gerak-geriknya diamati.

Arlan, khususnya, menjadi seperti bayangan yang beracun. Rasa cemburu dan kebingungannya telah berubah menjadi kebencian yang dingin. Di matanya, Kaelen telah mencuri sesuatu—entah itu berkah, kesempatan, atau martabat—yang seharusnya menjadi miliknya. Dalam latihan sparing, Arlan selalu memilih Kaelen sebagai lawan, dan meskipun aturan melarang melukai serius, serangan Arlan penuh dengan kekerasan terselubung. Kaelen, dengan penguasaan tubuh barunya yang sempurna dan pemahaman akan prinsip gerakan, selalu berhasil bertahan dengan susah payah, berpura-pura hampir kalah. Dia tidak ingin menunjukkan kemampuan sejatinya.

Suatu sore, setelah sparing di mana Kaelen sengaja membiarkan dirinya terjatuh untuk ketiga kalinya, Arlan mendekatinya, wajahnya dingin.

"Kau pikir kau pintar, ya? Berpura-pura lemah," bisik Arlan. "Aku tahu ada yang tidak beres. Terobosan semacam itu tidak terjadi begitu saja. Apa yang sebenarnya terjadi di perpustakaan malam itu?"

Kaelen mengusap darah dari sudut bibirnya. "Keberuntungan, sepupu. Seperti yang Tetua katakan."

"Keberuntungan?" Arlan menyeringai. "Margaku tidak percaya pada keberuntungan. Kami percaya pada kekuatan dan perencanaan. Dan aku berencana untuk mengungkap kebohonganmu di ujian sekte nanti. Kau akan mempermalukan marga, dan ketika itu terjadi, aku akan ada di sana untuk memastikan kau diusir selamanya."

Ancaman itu nyata. Tapi Kaelen memiliki masalah yang lebih besar. Malam setelah terobosannya, dalam mimpinya, dia mengalami penglihatan yang mengganggu. Dia berdiri di sebuah ruang kosong tanpa batas, dan dihadapannya adalah versi dirinya yang lain—sebuah sosok yang terbuat dari cahaya yang redup dan retak, seperti kaca patri yang pecah. Itu adalah fragmen jiwa dari Batu Langit.

"Mereka datang..." bisik fragmen itu, suaranya seperti angin yang melintasi reruntuhan. "Pemburu itu mencium aroma pemurnian. Dia tahu salah satu dari kita telah dibersihkan. Dia akan mencari sumbernya. Hati-hati dengan yang matanya bisa melihat bayangan di balik cahaya..."

Kaelen terbangun dengan keringat dingin, merasakan kehadiran asing yang samar di pinggiran persepsinya, seperti bau belerang yang tersisa setelah petir. Seseorang atau sesuatu sedang mengawasi marga, mungkin mengawasinya.

Keesokan harinya, dia mendekati Lio di perpustakaan. Pria tua itu tampak lebih berkerut dari biasanya, matanya dikelilingi lingkaran hitam.

"Aku juga merasakannya," kata Lio sebelum Kaelen berbicara. "Sejak malam ritual, ada 'mata' yang mengintai dari kejauhan. Sangat halus, hampir tidak terdeteksi. Itu menyapu wilayah kita setiap malam, mencari sesuatu." Dia menurunkan suaranya. "Aku telah memperkuat formasi penyembunyian di sekitar batu, tapi jika itu adalah Pemburu yang kau katakan... mereka tidak akan berhenti."

"Apakah ada cara untuk mengetahui siapa atau apa itu?" tanya Kaelen.

Lio mengangguk perlahan. "Aku punya alat tua. Sebuah cermin perunggu yang bisa memantulkan jejak energi. Tapi menggunakannya berisiko. Itu bisa menarik perhatian 'mata' itu langsung kepada kita."

Mereka memutuskan untuk mengambil risiko itu. Malam itu, di ruang bawah tanah, Lio mengeluarkan cermin perunggu bulat seukuran piring, penuh dengan patina hijau dan ukuran yang tidak jelas. Dia menempatkannya di tengah formasi penyembunyian yang ditingkatkan dan menusukkan jarinya, mengalirkan Qi ke dalamnya. Cermin itu bergetar, lalu permukaannya berubah dari tembaga kusam menjadi hitam pekat, seperti kolam tinta.

"Lihatlah ke dalamnya, dan pikirkan tentang kehadiran asing itu," bisik Lio.

Kaelen melakukannya, memusatkan pikirannya pada perasaan diawasi yang mengganggu itu. Perlahan, gambar mulai terbentuk di cermin: sebuah panorama udara dari atas Marga Surya, dilihat dari ketinggian yang luar biasa. Lalu, gambar itu berzoom, bukan ke arah marga, tapi ke arah hutan di barat, ke sebuah tebing terpencil. Di sana, duduk bersila di atas batu datar, adalah seorang pria berjubah hitam dengan tudung. Wajahnya tidak terlihat, tetapi dari tangannya yang pucat memancarkan sinar energi halus seperti jaring laba-laba yang menyebar ke udara, menyapu wilayah tersebut. Di depannya, mengambang di udara, ada sebuah benda—sebuah kompas yang terbuat dari tulang gelap, dengan jarum yang berputar-putar tidak menentu, sesekali bergetar ke arah marga.

Pria itu tiba-tiba mengangkat kepalanya, seolah merasakan sesuatu. Tudungnya sedikit terangkat, dan Kaelen melihat mata yang bersinar merah tua, seperti bara yang hampir padam. Kemudian, gambar di cermin pecah menjadi statis sebelum memudar.

Lio memutuskan aliran Qi-nya, wajahnya pucat. "Seorang Pemburu. Dan dia memiliki alat pelacak. Itu pasti merespons pemurnian fragmen. Kita tidak punya banyak waktu."

Kaelen merasakan urgensi yang meningkat. Dia harus meninggalkan marga, bergabung dengan sekte di mana dia bisa menghilang di antara banyaknya murid dan mungkin menemukan perlindungan atau jawaban. Ujian Sekte Azure Cloud sekarang menjadi kebutuhan, bukan hanya kesempatan.

Hari-hari berikutnya, Kaelen berfokus pada mempelajari keterampilan yang dapat ditampilkan dengan aman. Dia memilih dua teknik dasar dari perpustakaan marga: Langkah Angin Lembut (sebuah teknik gerak kaki dasar) dan Tusukan Baja Bergetar (sebuah teknik tusukan pedang sederhana yang mengandalkan getaran Qi). Namun, dia memodifikasi keduanya secara diam-diam dengan pemahamannya tentang Hukum. Langkah Angin Lembut menjadi lebih efisien dengan menyelaraskan gerakannya dengan aliran udara alami, mengurangi konsumsi Qi. Tusukan Baja Bergetar dia tingkatkan dengan memahami frekuensi resonansi yang tepat untuk memecah pertahanan, bukan hanya mengandalkan kekuatan brute.

Pelatih marga, seorang veteran kasar bernama Borin, terkesan dengan kecepatan belajarnya. "Mungkin memang ada bakat tersembunyi di dalam dirimu, anak muda. Atau mungkin kau hanya cepat karena terdesak."

Akhirnya, hari keberangkatan tiba. Lima peserta terpilih dari Marga Surya: Arlan (puncak Lapis Ketiga, yang terkuat), dua saudara perempuan dari garis keturunan utama bernama Liana dan Mera (keduanya Lapis Kedua tengah), seorang pemuda pendiam bernama Jek (Lapis Kedua awal), dan Kaelen (puncak Lapis Kedua, si "beruntung"). Mereka akan melakukan perjalanan tiga hari ke ibu kota provinsi, di mana ujian akan diadakan di Lapangan Giok Sekte Azure Cloud.

Sebelum berangkat, Kaelen mengunjungi Lio untuk terakhir kalinya.

"Bawa ini," kata Lio, memberinya sebuah jimat perak kecil berbentuk mata dengan pupil batu kecubung. "Ini adalah 'Mata Penjaga'. Jika ada bahaya spiritual yang mendekat, ia akan menjadi hangat. Juga, simpan ini." Dia menyelipkan gulungan kertas kecil ke tangan Kaelen. "Ini adalah salinan peta yang kubuat berdasarkan catatan Joran dan risetku sendiri. Ini menunjukkan perkiraan lokasi Gunung Naga Tidur dan siklus Portal Celestial. Hanya buka jika kau sudah aman."

"Terima kasih, Tua Lio," kata Kaelen dengan tulus. Pria tua ini telah menjadi sekutu pertamanya di dunia ini.

"Hiduplah, Kaelen. Temukan fragmenmu, dan temukan kebenaran tentang siapa kita di alam semesta ini," bisik Lio, matanya berkaca-kaca. "Dan berhati-hatilah dengan orang bermata merah itu. Dia bukan satu-satunya Pemburu di luar sana."

Perjalanan ke ibu kota provinsi melewati jalan berdebu, hutan lebat, dan desa-desa kecil. Kelompok itu ditemani oleh Tetua Goran sendiri, yang akan mewakili marga. Suasana di antara para peserta tegang. Arlan memimpin dengan angkuh, Liana dan Mera berbisik-bisik dan sesekali melemparkan pandangan merendahkan kepada Kaelen, sementara Jek tetap diam sepanjang waktu.

Di malam pertama berkemah, sesuatu yang aneh terjadi. Saat yang lain tidur, Kaelen yang berjaga merasakan getaran samar dari Mata Penjaga di dadanya. Dia membuka mata dan melihat bayangan hitam melintas di tepi perkemahan, secepat kelelawar. Dia duduk, tetapi tidak ada apa-apa. Namun, pagi harinya, salah satu keledai pengangkut barang ditemukan mati, tubuhnya tidak terluka tetapi matanya terbuka lebar dengan ekspresi teror yang membeku. Goran, dengan wajah suram, memeriksa bangkai itu.

"Tidak ada luka fisik. Jiwa atau energinya tersedot habis," gumamnya. Dia menatap sekeliling, matanya waspada. "Kita tidak sendirian di hutan ini. Tingkatkan kewaspadaan."

Kaelen tahu ini bukan kebetulan. Pemburu itu semakin dekat.

Di malam kedua, giliran Kaelen yang berjaga. Dia duduk di dekat api unggun, dengan sengaja memancarkan aura Qi-nya yang stabil, seolah-olah menjadi umpan. Sekitar tengah malam, udara menjadi dingin secara tidak alami. Bayangan di tepi hutan tampak lebih padat, lebih hidup. Kemudian, sebuah suara berbisik, seperti logam yang digosok, terdengar di telinganya.

"Di mana... di mana Cahaya Yang Terpecah itu...?"

Kaelen tidak bergerak, tetapi dia mengerahkan kesadarannya, mengikuti sumber bisikan itu. Dia melihatnya—sebuah sosok kabur setinggi manusia, terbuat dari bayangan dan kabut, berdiri di antara pohon-pohon, sekitar lima puluh langkah jauhnya. Mata merah redup bersinar dari dalam tudungnya. Itu adalah proyeksi spiritual Pemburu!

"Kau... kau berbau seperti Dia... tapi kau kotor, tertutup daging dan darah dunia rendah..." bisiknya lagi. "Bersiaplah... kami akan membersihkanmu..."

Sosok itu mengulurkan tangan, dan sebuah sinar energi hitam pekat melesat menuju Kaelen, tak bersuara dan mematikan. Kaelen siap melompat, tetapi tiba-tiba sebuah perisai energi kuning terbentuk di depannya, menangkis serangan itu dengan suara desis. Tetua Goran berdiri di sampingnya, tangannya terangkat, wajahnya marah.

"Roh jahat! Berani mengganggu peserta ujian Sekte Azure Cloud!" teriak Goran, mengeluarkan segel dari jubahnya. Segel itu bersinar terang, memancarkan gelombang energi pemurnian.

Sosok bayangan itu mendesis, seperti air yang dituangkan ke atas api, dan menghilang. Tapi bisikan terakhirnya menggema di pikiran Kaelen: "Ini baru permulaan, Fragmen..."

Kejadian itu membangunkan semua orang. Goran dengan wajah suram mendekati Kaelen. "Apa yang terjadi? Apa yang diinginkan makhluk itu darimu?"

Kaelen menggigil, berpura-pura ketakutan. "Saya... saya tidak tahu, Tetua. Itu tiba-tiba muncul dan menyerang."

Goran mengamatinya dengan seksama, lalu menghela napas. "Ada sesuatu yang terjadi padamu, nak. Dan itu menarik perhatian yang tidak diinginkan. Besok kita akan mencapai ibu kota. Setelah kamu memasuki Sekte Azure Cloud, kamu akan relatif aman. Tidak ada roh jahat yang berani masuk ke wilayah sekte besar." Tapi nada suaranya ragu-ragu.

Sisa perjalanan dilalui dengan ketegangan tinggi. Arlan dan yang lainnya sekarang melihat Kaelen dengan campuran ketakutan dan kecurigaan. Kematian keledai dan serangan roh jahat jelas terkait dengannya.

Akhirnya, mereka tiba di ibu kota provinsi, Kota Langit Biru. Kota itu ramai, penuh dengan pedagang, pengembara, dan kultivator dari berbagai sekte kecil dan marga. Di tengah kota, di atas bukit yang menghadap ke seluruh wilayah, berdiri Sekte Azure Cloud dengan gerbang batu gioknya yang megah dan paviliun-paviliun yang melayang di udara berkat formasi raksasa.

Ribuan muda berbakat dari seluruh provinsi telah berkumpul untuk ujian. Suasana penuh dengan harapan, kegelisahan, dan persaingan. Kaelen, yang berdiri di antara kerumunan, merasakan kecilnya dirinya. Di sini, dia hanya satu dari banyak. Tapi dia juga merasakan banyaknya mata yang mengawasi—para elder sekte yang kuat, mungkin juga mata-mata dari organisasi lain, dan mungkin, Pemburu lainnya yang menyamar.

Pendaftaran dilakukan, dan semua peserta diberi token kayu dengan nomor. Kaelen mendapatkan nomor 777. Ujian akan dimulai besok pagi, terdiri dari tiga tahap: Ujian Bakat Lanjutan, Ujian Labirin Hati, dan Pertarungan Eliminasi.

Malam itu, di penginapan sederhana yang disediakan untuk marga, Kaelen duduk di tempat tidurnya, merenung. Dia menyentuh Mata Penjaga di dadanya; terasa hangat, tetapi tidak panas. Pemburu itu mungkin masih di luar, tidak berani masuk kota. Dia mengeluarkan gulungan peta dari Lio dan membukanya dengan hati-hati. Peta itu menunjukkan wilayah provinsi yang luas, dengan sebuah tanda 'X' di pegunungan terpencil di utara yang dijuluki "Punggung Naga Tidur". Di sampingnya, ada catatan tentang siklus: "Portal Celestial berikutnya diperkirakan terbuka: 98 hari dari sekarang, saat bulan darah dan bulan kembar sejajar di tengah malam."

Waktunya sangat mepet. Dia harus lulus ujian ini, memasuki sekte, mendapatkan sumber daya dan informasi, dan menemukan cara untuk mencapai Gunung Naga Tidur dalam waktu kurang dari seratus hari.

Dia menatap ke luar jendela, ke arah sekte yang diterangi cahaya bulan. Di balik tembok-tembok itu, mungkin ada jawaban, atau mungkin hanya bahaya yang lebih besar. Namun, tidak ada jalan mundur.

Kaelen menarik napas dalam-dalam, menenangkan pikirannya. Besok, permainan yang sesungguhnya akan dimulai. Dia harus berhati-hati, tidak menonjol, tetapi cukup baik untuk diterima. Dan yang terpenting, dia harus tetap hidup, karena sekarang dia tahu: Pemburu itu bukan hanya mitos. Mereka nyata, mereka lapar, dan mereka telah mencium baunya.

Dia memejamkan mata, memusatkan diri pada inti keberadaannya, pada fragmen-fragmen jiwa yang tersebar yang menunggu untuk disatukan. Perjalanan melintasi Rimba Tak Berhingga baru saja memasuki fase yang berbahaya, dan setiap langkah ke depan harus diukur dengan hati-hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!