Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Apa maksudnya, sih?
"Ooh, ke rumah- apa?" Rania terlonjak kaget saat baru menyadari ucapan Kenzo, spontan dia menatap laki-laki itu dengan tajam dan dada berdebar keras, sementara Kenzo hanya diam seolah apa yang barusan dia katakan sama sekali tidak bermasalah.
"Ke-kenapa Anda membawa saya ke rumah Anda?" tanya Rania, kedua tangannya tampak saling bertautan, mulai merasa cemas dan juga gelisah.
Kenzo menoleh sekilas. "Aku memang mau pulang ke rumah." jawabnya tanpa beban.
"Apa?" Rania kembali terlonjak. Kedua matanya membelalak lebar. "Ka-kalau gitu, kenapa Anda menyuruh saya masuk ke mobil Anda?" suaranya sudah naik satu oktaf, diliputi perasaan takut dan cemas.
Kenzo menyeringai, tentu saja hal itu membuat Rania bergidik ngeri. Wanita itu bahkan sampai memegang gagang pintu mobil dan berniat untuk keluar dari sana.
"Kau takut?" tanya Kenzo, dia kembali melihat ke arah Rania yang sedang menatapnya dengan tajam.
Rania menelan salivenya, mencoba untuk tetap tenang walau ingin segera melompat keluar. "Ti-tidak, saya hanya penasaran kenapa Anda membawa saya." jawabnya pelan, padahal dadanya sudah berdegup kencang dan telapak tangannya basah karena keringat.
Kenzo terdiam dan tidak lagi membalas ucapan Rania, membuat wanita itu memalingkan wajah dan melihat ke arah jalanan. Tampak jelas jika Rania mulai gelisah dan ketakutan, memangnya siapa yang tidak takut jika diperlakukan seperti ini?
"Sebenarnya apa yang ingin laki-laki itu lakukan?" Rania memperhatikan jalanan dengan gelisah, mencoba untuk tetap berpikir positif, tetapi hatinya menolak dan berbagai pikiran negatif mulai merasuki.
Sampai akhirnya mobil Kenzo berhenti di depan sebuah gerbang yang menjulang tinggi, lalu gerbang itu otomatis terbuka dan menampakkan sebuah rumah mewah nan megah bernuansa putih abu-abu.
"Gi-gila! Rumahnya cantik sekali," ucap Rania tanpa sadar, matanya memperhatikan ke sekitar rumah yang tampak indah. Perasaan gelisah yang sejak tadi menyelimuti hatinya, berubah menjadi decak kagum yang membuat kedua matanya terpana.
"Ayo!"
Suara Kenzo seketika menyadarkan Rania, sontak dia memalingkan wajah dan melihat ke arah laki-laki itu yang hendak turun dari mobil.
"Aku tidak akan turun," tolak Rania, tangannya mencengkram tas dengan erat. Dia yang tadi ingin melompat keluar, malah sekarang menolak untuk turun.
Kenzo terdiam, sebelah kakinya yang akan turun menginjak tanah menggantung di udara. Kemudian dia menoleh ke arah Rania, dan menatap wanita itu seolah ingin menerkamnya hidup-hidup.
Glek.
"Ke-kenapa dia menatapku seperti itu?" Rania kembali gelisah. "Apa dia ingin melakukan sesuatu padaku?" Dia jadi merasa sangat menyesal sudah masuk ke dalam mobil laki-laki itu, seharusnya dia memang lebih berhati-hati dan tidak mudah diajak oleh orang asing. Bagaimana kalau Kenzo adalah seorang pelaku perd*agangan manusia?
Tubuh Rania langsung merinding, dia mundur hingga punggungnya membentur pintu mobil. Kalau sampai laki-laki itu berbuat macam-macam, maka dia akan langsung menendang aset Kenzo yang berada tepat di depan kakinya, lalu dia akan keluar dan lari dari tempat itu.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Kenzo, dia mendekat, lalu tangannya terangkat menyentuh kening Rania membuat wanita itu siap siaga untuk menendang asetnya. Namun, dengan cepat tangannya menahan kaki Rania membuat wanita itu menegang. "Jangan lakukan itu, atau kau sendiri nanti yang akan rugi."
"A-apa?" Rania tersentak, apalagi saat Kenzo menyentil keningnya membuatnya langsung mengaduh kesakitan.
"Cepat turun!" ucap Kenzo, kemudian dia berbalik dan berlalu keluar dari mobil, meninggalkan Rania yang sedang bersungut-sungut marah seraya mengusap-usap keningnya.
"Dasar laki-laki gila! Kenapa dia menyentil keningku?" Rania mencebikkan bibir sambil terus mengusap keningnya.
Kemudian perlahan Rania turun dari mobil, dia melangkah keluar sembari kembali memperhatikan sekitar. Terlihat rumah itu sangat sepi, mungkinkah Kenzo tinggal sendirian di rumah besar itu?
"Selamat datang, Nona."
Rania terlonjak kaget, sontak dia melihat ke arah belakang saat mendengar suara seseorang. Terlihat seorang laki-laki paruh baya memakai pakaian pelayan berdiri tepat di belakangnya sembari tersenyum ramah.
"Tuan sudah menunggu," ucap laki-laki paruh baya itu membuat Rania tersentak.
"Ba-baik, terima kasih," balas Rania dengan gugup, dia lalu melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah, tampak Kenzo sedang duduk di ruang tamu sembari melihat ke arahnya.
Laki-laki paruh baya itu lalu mempersilahkan Rania untuk duduk, kemudian dia beranjak ke dapur untuk menyajikan minuman dan makanan ringan untuk sang tuan beserta tamu tuannya.
Mata Rania kembali berkeliling memperhatikan ke seisi rumah, sungguh benar-benar sangat mewah dan berkelas. Bahkan rumah keluarga Rangga saja tidak sampai seperti ini, pikirnya.
"A-anda tinggal di sini sendirian?" tanya Rania. Seperti biasa, dia duluan yang buka suara setelah terjadi keheningan di tempat itu.
"Kenapa? Kau mau tinggal bersamaku?"
"Ti-tidak!" jawab Rania dengan cepat, tentu saja hal itu membuat Kenzo menarik sudut bibirnya membentuk smirk.
"Apa-apaan sih sebenarnya laki-laki itu!" Rania mendessah kesal, entah kenapa susah sekali berbicara dengan Kenzo, apalagi memahami jalan pikiran laki-laki itu.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Rangga sedang kalang kabut mencari keberadaan Rania. Rumahnya sendiri sudah seperti kapal pecah karena dia mengamuk saat mengetahui jika wanita itu tidak berada di rumah, dia bahkan hampir menghancurkan rumah orangtuanya juga saat tidak melihat Rania di sana.
"Aaargh brengs*ek!" teriak Rangga dengan kesal, dia memukul-mukul setir mobilnya penuh amarah. "Sebenarnya kau ada di mana, Rania?!" teriaknya kembali dengan geram.
Rangga sudah pergi ke rumah orangtuanya, dia bahkan sampai pergi ke rumah lama Rania, tetapi wanita itu tetap tidak berada di sana. Sekarang dia tidak tahu lagi harus mencari Rania ke mana, karena memang wanita itu sama sekali tidak punya keluarga.
"Kau lihat saja, Rania. Aku akan memberimu pelajaran. Aku akan mematahkan kakimu agar tidak bisa lagi lari dariku!"
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda