NovelToon NovelToon
Sistem Reward 2× Lipat

Sistem Reward 2× Lipat

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Sistem / Mengubah Takdir / Mafia / Romansa
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Loorney

Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.

Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.

Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 - Variabel Baru

Sudah kuduga...

Gerard menjatuhkan linggis. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun cepat, tapi tatapannya tak pernah lepas dari pria bertinju di hadapannya. Pria itu masih berdiri, meski dengan sedikit goyangan—dampak dari serangan linggis tadi masih membekas. Tapi matanya masih tajam. Masih haus.

Ini belum berakhir.

Gerard mengangkat tinjunya lagi, meski tangannya sudah gemetar. Ia siap menerima risiko—

Prok! Prok! Prok!

Tepuk tangan.

Suara itu menggema di keheningan yang menyelimuti mereka. Tubuh Gerard menegang. Dari bayangan, sesosok yang selama ini ia lupakan keberadaannya—si botak—melangkah maju. Senyuman lebar terukir di wajahnya, tapi senyum itu... mengerikan.

Jantung Gerard berdegup kencang. Ini dia. Puncaknya.

Tapi di tengah kepanikan yang merayap, matanya tak sengaja menangkap sesuatu—sebuah panel samar melayang di hadapannya.

[6/6]

Matanya membulat. Tak percaya.

Setelah notifikasi itu muncul, konfirmasi penyelesaian misi juga akhirnya tiba. Semua yang sudah ia lakukan—dengan pertarungan yang jelas belum berakhir—misi itu selesai begitu saja. Gerard sangat terkejut. Tapi ketika matanya menyipit, membaca niat si botak, ia tambah terkejut.

[Niat Target: Menyerah]

Menyerah?

Itu aneh. Bagaimanapun, mereka masih bisa mengalahkannya. Menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. Tapi—

"Hebat!"

Si botak berbicara dengan suara lantang, tatapannya melekat pada Gerard dengan rasa penasaran yang sulit diartikan. "Aku nggak nyangka ada seseorang yang bisa menghiburku hari ini!"

Ia berjalan ke sisi bawahannya dan menepuk pundaknya. Matanya bertemu dengan pria tinju—percakapan singkat dalam diam. Tapi si botak hanya menggeleng. Cengkeraman di bahu pria itu menguat, menegaskan sesuatu.

Pria tinju menunduk pasrah. Tangannya melingkar di pinggang, menahan sakit yang mulai merambat lebih kuat.

Gerard mengernyit. "Kenapa...?" suaranya rendah, berat. Keheranan terpancar jelas di wajahnya.

Si botak hanya terkekeh. Tatapannya berubah—lebih aneh, lebih sulit ditebak.

"Kami menyerah." sahutnya, tanpa kebohongan. "Kami anggap ini gagal. Kau boleh pulang. Maaf udah ganggu waktumu."

Dari nada bicaranya, ia terdengar seperti pria baik-baik. Tapi itu sangat berbanding terbalik dengan tubuh besarnya yang mendominasi. Andai ia ikut bertarung sejak awal, mungkin Gerard sudah tumbang.

Gerard tak menjawab. Ia mundur perlahan, matanya tetap menatap mereka, memastikan tak ada serangan kejutan. Tapi tak ada. Hingga ia sampai di dekat mobilnya.

"Kau!"

Suara si botak memanggil. Gerard menoleh.

"Kau bisa selamat kali ini." Tatapannya tajam, serius. "Tapi dengan sikap naifmu, itu nggak bakal bertahan lama."

Ada jeda. Senyum tipis mengembang.

"Mungkin kita bakal ketemu lagi. Saat itulah, aku harap kau udah berubah. Aku nantikan pertemuan selanjutnya!"

Gerard diam, tak menyahut. Tapi dari caranya memandang si botak—sesuatu di sana telah berubah. Dengan satu anggukan kecil, ia akhirnya membuka pintu mobil, masuk ke kursi pengemudi, dan menyalakan mesin. Camry silver itu melaju pergi, meninggalkan tempat kejadian dengan seribu pertanyaan mengambang di kepala.

...*•*•*...

Melihat mobil Gerard sudah menjauh, si botak melepaskan cengkraman di bahu pria tinju. Sikapnya langsung berubah—gelap, dingin, jauh dari senyuman tadi. Ia berbalik, berjalan menuju mobilnya.

Tapi pria tinju tak bisa diam. Rasa tak puas menggerogotinya, lebih besar dari amarah yang membara.

"Kenapa, Bos!?" suaranya nyaris membentak. "Kita bisa bawa dia! Saya bisa—"

Si botak hanya menoleh, melirik dengan sudut mata. Diam. Kemudian bola matanya bergerak ke arah lain—ke sebuah titik kosong di kejauhan—lalu mendesah berat. Sikapnya jelas tak puas, tapi ia berusaha menahannya.

"Kau nggak paham."

Jawaban singkat itu meninggalkan pria tinju tercengang. Si botak masuk ke mobilnya, membanting pintu.

Di luar, anak buahnya masih berusaha pulih dari pertarungan yang tak pernah mereka duga akan separah ini; dari awal, si botak sebenarnya bisa mengakhiri semuanya dengan cepat. Tapi...

Andai mereka nggak ada...

Batinnya, matanya kembali melirik ke arah yang sama—tempat di mana ia melihat sebuah siluet mengintip beberapa waktu lalu. Siluet itu bertahan cukup lama, menciptakan kengerian yang bahkan tak bisa ia jelaskan.

Dan satu hal lagi: orang yang menyewa mereka—Roni—telah berbohong. Mengatakan Gerard mudah diatasi. Itu kebohongan terbesar yang pernah ia dengar.

"Roni bajingan!" desisnya sambil menepuk keras setir mobil. "Aku harus paksa dia jelasin semuanya!"

...*•*•*...

Di dalam mobilnya yang melaju tenang di jalanan sepi, Gerard memegangi bahu kanannya yang masih terasa sangat nyeri. Wajahnya meringis setiap kali mobil melewati jalan bergelombang. Tapi dari rasa sakit itu, ia juga merasakan sesuatu yang lain.

Aku memang sudah lebih kuat... Keraguan merangsak masuk. Tapi masih sangat kurang.

Si botak. Pria dengan tinggi lebih besar dan lebar tubuh yang mengerikan itu—bahkan tanpa bertarung, Gerard sudah merasakan tekanan luar biasa hanya dari tatapannya. Seperti berdiri di depan tembok besar yang sulit dihadapi. Setidaknya, untuk situasinya sekarang.

Ia ingin menjadi lebih kuat. Bersiap untuk masa depan yang ternyata lebih rumit dari dugaannya. Padahal ia hanya menginginkan kehidupan yang nyaman, tenang, dan damai—sama seperti impiannya selama ini.

Tapi...

"Mereka itu suruhan orang, ya?" gumam Gerard, setengah bertanya pada dirinya sendiri—dan Sistem yang langsung muncul di sampingnya.

[Mungkin saja, Tuan.]

[Mereka tidak memiliki niat buruk. Hanya ingin membawa Anda hidup-hidup.]

Suara itu menenangkan. Penjelasannya sesuai dugaan. Gerard mengangguk kecil, kewaspadaannya semakin menguat untuk variabel-variabel yang masih belum jelas.

"Aku sudah duga," ucapnya, suara kembali tenang. Tatapannya tajam menatap jalanan. "Mungkin ini berhubungan dengan penculikan Melinda?"

Itu alasan paling masuk akal.

Kehidupannya memang buruk dan penuh kesialan. Tapi musuh? Ia hampir tak punya. Namun dengan situasi akhir-akhir ini, mungkin dugaannya sudah meleset jauh. Musuhnya jauh lebih banyak.

Beruntung aku punya Sistem.

Kekhawatiran di wajahnya berubah menjadi senyuman tipis. Ia melirik ke panel yang masih melayang di sampingnya—sebuah peta navigasi dengan titik merah yang baru saja bergerak ke arah berbeda.

"Mereka sudah pergi, ya?" gumamnya.

Rasa syukur menyelinap di dada. Beruntung ia sempat menempelkan GPS—yang dibeli dari toko Sistem—ke bawah salah satu mobil mereka. Awalnya ia pikir rencana itu akan gagal. Tapi melihat mereka tak menyadarinya, ia bisa bernapas lega.

Tujuannya sekarang masih rumah orang tuanya. Tapi ia juga tak bisa mengabaikan mereka. Gerard merogoh dompet, mengeluarkan sebuah kartu nama hitam yang sudah lama ia simpan.

Anton Kusuma

CEO, Kusuma Digital Group

"Mungkin aku harus minta bantuannya..."

1
marsellhayon
secara cerita,ceritanya bagus hadiah dr sistem juga lbh masuk akal,gak terlalu berlebihan.
hanya alurnya aja yg terasa sangat lambat.
semoga bisa sampai tamat dan penulisnya tetap semangat./Smile/
DRAGO
👍
Loorney: Apapun yang kamu maksud, makasih udah komen!! Dukungan mu selama ini udah saya perhatikan, rasanya membahagiakan di saat saya sendiri dibuat stres sama keberlangsungan cerita.
total 1 replies
Loorney
Nulis buru-buru emang bikin kacau, update dulu baru revisi 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!