Kara seorang artis cantik yang mengalami kecelakaan dan masuk ke dalam novel kebencian memerankan seorang wanita bernama Aleca seorang istri yang di nikahi suaminya karena sebuah dendam.
Dengan jiwa tangguh dan pengalaman hidupnya sebagai pabrik figur, dia mengubah takdir istri yang teraniaya itu dengan kekuatan baru.
Matanya yang dulu bercahaya kini membara, Dan suaranya yang dulu lembut kini tegas. Dia siap melawan suaminya yang menindasnya, dan mengambil kembali kendali kehidupan yang layak untuk sang istri yang lemah.
"Aku sudah siap bermain!” katanya dengan senyum dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elzaluza2549, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Angkat Aleca
Aleca masuk dengan napas sedikit berat, menghampiri seorang wanita paruh baya yang katanya sebagai orang tua angkat Aleca.
"Hai tante Widya, sudah lama tidak bertemu ya," ujar Aleca sambil mendekat dan mencium tangan Bu Widya dengan hormat. Kemudian dia melihat Luiz yang sedang mengangguk padanya dengan tatapan yang sedikit minta tolong.
"Kabar kamu baik saja kan Aleca?" tanya Bu Widya dengan senyum hangat, sambil mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Aleca.
"Iya tante, alhamdulillah aku baik-baik saja. Maaf ya telat, jalanan benar-benar macet parah," jawab Aleca sambil mengambil tempat duduk di sebelah Luiz.
“Kok masih Tante sih manggil nya? harusnya kamu tidak perlu memanggil saya dengan Tante lagi Aleca saya ini kan sekarang ibu kamu harusnya kamu panggil saya ibu”
"Maafkan saya Bu... saya memang sudah menganggap Tante Widya sebagai ibu sebenarnya, tapi kadang masih terbiasa menyebutkan 'Tante' karena sudah begitu lama kita mengenal satu sama lain," ucap Aleca dengan suara yang sedikit bergetar.
Bu Widya mengusap tangan Aleca dengan lembut, wajahnya penuh kasih sayang. "Tidak apa-apa nak, ibu mengerti. Tapi mulai sekarang ya, panggil saja aku 'Ibu' ya? Kamu sudah menjadi anak kandungku sendiri semenjak kamu dan Ema bersahabat”
"Sudah tidak apa-apa nak. oh ya tadi baru saja ibu bertanya sama Luiz tentang pekerjaan kamu dan juga rencana punya anak," ucap Bu Widya dengan nada yang penuh perhatian.
Perlahan Aleca melihat ke arah Luiz lalu kembali menghadap Bu Widya,kenapa aku masih kerja padahal Luiz sudah punya perusahaan sendiri ya? Karena aku juga punya impian dan cita-cita sendiri Bu, ingin membuktikan kemampuan aku serta berkontribusi dalam dunia kerja. Bukan hanya bergantung pada pasangan saja"
Bu Widya mengangguk perlahan, seolah sedang memahami alasan yang diberikan Aleca. "Begitu ya nak, aku mengerti. Kalau tentang anak, apa kalian sudah membuat nya?"
"Pokoknya ibu tenang saja secepatnya kami akan memberikan cucu untuk ibu!"kata Luiz tiba-tiba merangkul Aleca untuk lebih mendekati nya.
“Aaaaakk....sakit...!”Luiz merasakan kakinya terasa sakit seperti di injak. Pelakunya siapa lagi kalau bukan Aleca.
“Loh, nak Luiz kamu kenapaa!?"Tanya Bu Widya.
“Keram, Bu kaki suami ku hanya keram biasa makanya dia menjerit tidak jelas”Tuding Aleca.
“Bisa-bisaanya dia berani berbuat pada ku di depan Bu Widya, pokoknya tunggu saja pembalasan ku nanti"Kata Luiz membatin.
Luiz mendengus pelan sambil menggosok kakinya. dia malah memaksakan senyumnya seolah apa yang di katakan Aleca itu benar apa adanya“Sama sekali tidak apa-apa Bu, memang sering saja kayak gitu kalau udah lama tidak bergerak," ujar Luiz sambil mencoba berdiri perlahan, seolah benar-benar sedang menghadapi masalah keram.
“Oh iya Bu,ibu sudah makan atau belum.”tanya Aleca mengalihkan topik lain.
“Sudah Aleca ibu sudah makan, oh yah maaf yah ibu gak bisa berlama-lama soalnya ibu ada urusan di rumah.
"Oh begitu Bu?" ucap Aleca dengan sedikit kecewa tapi tetap menjaga senyum, sambil segera berdiri untuk mengantar Bu Widya yang sudah berdiri.
Luiz juga ikut berdiri dan membantu mengambil tas Bu Widya. "Ya Bu, hati-hati di jalan. Kalau ada yang perlu bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi kami ya."
Bu Widya memeluk mereka berdua dengan pelukan hangat. "Semoga kalian selalu bahagia yah nak. Dan yang terakhir Bu Widya mencium kening Aleca.“Luiz tolong jaga putri ku ini dengan baik yah”
Setelah mengantar Bu Widya sampai ke pintu gerbang dan melihatnya pergi, Aleca langsung berbalik ke arah Luiz dengan tatapan yang terlihat menyuruh waspada. Luiz hanya bisa mengangkat bahu dengan senyum licik.“Kalau di depan ibu Widya jangan pernah syok akrab dengan ku, karena dari awal pernikahan kamu sudah membenci aku dan kita berdua tidak pernah seakrab ini"
“saya hanya berpura-pura saja di depan Bu Widya agar dia tidak khawatir. Kamu tahu kan bagaimana Bu Widya menyayangi kita berdua, dia tidak akan tega kalau tahu keadaan sebenarnya di antara kita!"Ucapnya menyeringai.
Aleca berdecak.“Mungkin kalau bukan karena Bu Widya maka aku tidak perlu membuang waktu untuk datang ke neraka ini lagi?"
“Tapi kamu datang ke sini lagi demi buku mu kan!? buku kecil itu sangat penting bagi kamu, makanya bukan hanya demi Bu Widya tapi kamu datang ke mari demi buku mu itu juga”
Aleca menghela nafas,lalu dia mengadakan tangannya.“Sekarang cepat Berikan buku itu pada ku!?
Luiz tersenyum miring lantas mencondongkan tubuhnya.Bara menjelajahi tatapan Aleca dengan mata yang tajam. "Kalau kamu ingin buku itu maka kamu harus melakukan suatu hal!?”
“Luiz kamu jangan main-main dengan saya yah!”
“Kamu harus tinggal di sini lagi.Maka akan saya berikan buku itu pada mu bagaimana!"
“Apa!”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mario melirik jam di tangan nya pukul 16.30"Sudah jam empat puluh lima belas sore..." bisik Mario pelan sambil menatap jarum jam di tangannya yang terpampang jelas. Ia menghela nafas perlahan, matanya kembali mengarah ke arah pintu masuk apartemen Aleca yang masih belum menunjukkan tanda-tanda ada gerakan dari dalam.
Kemudian Mario mengambil ponselnya di balik saku jas kerja nya, jarinya sudah berada di nomor kontak Aleca, tapi belum sampai pada langkah menekan tombol panggil.
Pintu lift terbuka perlahan dan Aleca melangkah keluar dengan langkah yang terlihat lemah seperti tengah menyimpan beban.
Sontak Mario berhenti bermain ponsel ketika meliha Aleca berjalan dengan lambat sambil menundukkan kepalanya.“Aleca, kamu kenapa. Dan apa yang terjadi dengan kamu?”
Aleca mengangkat dagunya dan terkejut ketika melihat Mario tengah berdiri di depan apartemen nya. kemudian Aleca mengingat kalau siang tadi Mario akan mengajaknya makan-makan di luar.
"Mario kamu sudah lama menunggu di sini. Mario Maaf aku benar-benar terlupa kalau kita sudah janjian makan sore bareng," ucapnya dengan nada menyesal, menundukkan kepala lagi. "Aku harusnya menghubungimu duluan, tapi ada beberapa hal yang harus aku selesaikan dan membuatku lupa waktu" Dia menarik napas perlahan, mencoba berdiri lebih tegap meskipun tubuhnya masih terasa lemah.
Mario terlihat Khawatir ia memegang lembut kedua bahu Aleca.“Aleca, kamu belum jawab pertanyaan ku.Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu?''
Aleca menghembuskan nafasnya sebelum menjawab apa yang sedari tadi mengganjal di hatinya. kemudian dia mengingat kata-kata Luiz.
“Aleca saya menilai desain yang kamu gambar di buku mu itu, merupakan desain yang mahal dan langkah. mungkin jika buku itu di jual pada orang lain, maka kamu akan kehilangan hal yang paling berharga dalam hidup mu. katakan Aleca, kamu lebih memilih kembali lagi ke sini atau buku milik mu itu jatuh kepada orang lain?”
smgt nulisnya di tunggu selalu up ny