Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)
Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.
Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.
Full of love,
Author ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lambaian tangan dan kejutan
Kak Erick hanya bisa berkantor di Jakarta selama 2 minggu, setelah itu ia harus segera kembali ke Surabaya dan saat ini kami sudah tidak bertemu selama seminggu. Seminggu itu pula adalah waktu hari-hari terakhirku di semester itu.
Semenjak kak Erick menciumku di depan kak Kairi, ia seperti mulai menjauhiku. Tepat sebelum hari terakhir di kampus ia menemuiku untuk mengucapkan kata perpisahan.
"Hai Jen bisa bicara sebentar."
Aku berhenti dan memberinya kesempatan berbicara.
"Aku menyesal telah menyia-nyiakan kesempatan dulu, maafkan sikapku yang telah membuatmu kecewa Jen."
"Aku sudah lama memaafkan kakak."
"Aku mengerti posisiku sekarang, kamu ga akan pernah berpaling lagi padaku, hanya aku yang berhenti di tempat sedangkan kamu sudah melangkah jauh ke depan. Aku turut mendoakan kebahagiaanmu Jen."
"Terima kasih kak."
"Aku harap suatu saat nanti, jika kita bertemu lagi, kita bisa saling tersenyum untuk kebahagiaan masing-masing."
"Ya, aku harap kakak menemukan pendamping yang sesuai dengan harapan kakak."
"Terima kasih Jen, sampai bertemu lagi Jen."
"Sampai bertemu lagi kak.", kemudian aku pergi menuju parkiran mobil basement. Sesaat sebelum pintu lift menutup, aku melihat kak Kairi masih menatapku tersenyum dan melambaikan tangannya. Aku hanya tersenyum tanpa membalas lambaian tangannya. Ya, aku lega kini kami benar-benar sudah selesai dan mendoakan kebahagiaan masing-masing.
Aku berencana memberikan kejutan pada kak Erick, jadi disinilah aku berada di kantor, tepatnya 1 jam sebelum jam pulang kantor.
"Permisi kak, apa bisa saya menemui bapak Erick?", tanyaku pada resepsionis depan mencoba peruntunganku untuk dikenali dan diijinkan masuk.
"Apa kakak sudah ada janji sebelumnya? Kakak dari perusahaan apa?", ternyata aku belum beruntung. Aku memang hampir tidak pernah menginjakkan kaki di kantor. Baik saat papa masih ada ataupun setelahnya, semua urusan aku serahkan pada papa Erick. Jadi hanya beberapa orang saja di kantor yang mungkin mengenaliku, ternyata orang yang didepanku saat ini bukan salah satunya.
"Belum ada janji. Kalau begitu boleh saya menunggu disini saja?"
"Maaf sekali kakak, kalau kakak tidak memiliki kepentingan dengan perusahaan sebaiknya kakak menunggu di kantor depan."
Kantor depan, maksudnya kantor satpam? Tanyaku dalam hati. Khawatir diusir, aku memutuskan untuk menelepon kak Erick.
"Tunggu ya kak, saya telepon bapak Erick langsung kalau begitu."
Tut....tut...tut... aku berdoa kak Erick bisa mengangkat telepon.
"Babe ada apa?", biasanya jam telepon kami diatas jam 7 malam, jadi tidak heran ia terdengar bingung.
"Aku ada di bawah, bisa jemput aku?"
"Di bawah? Kamu di kantor?"
"Iya."
"Tunggu sebentar.", kemudian dia menutup teleponnya.
Wajah resepsionis itu berubah pucat.
"Maaf saya tidak tau siapa kakak."
"Ga apa-apa kak, saya bukan siapa-siapa kok, saya mengerti itu prosedur kantor, saya yang salah karena ga tau peraturannya."
Tidak lama aku melihat kak Erick berjalan ke arahku sambil tersenyum.
"Babe kok ga bilang datang sekarang?", ucapnya sambil menggenggam tanganku.
Wajah resepsionis itu semakin pucat.
"Iya mau kasih kejutan."
"Pak Erick maaf saya ga tau kalau kakak ini pacarnya bapak."
"Loh kamu ga tau Jeny Prayoga? Anaknya almarhum bapak Nathan Prayoga."
"Kak aku kan hampir ga pernah datang ke kantor, wajar mukaku ga dikenali."
"Lain kali coba diingat siapa dia.", ucap kak Erick.
"Maaf ya aku jadi merepotkan.", ucapku menenangkan karyawan itu.
"Ayo babe", ucap kak Erick sambil merangkulku mengajak naik menuju ruangannya.
Aku bisa merasakan tatapan para karyawan yang melihatku dirangkul oleh kak Erick, aku berjalan tersenyum kikuk berusaha menyapa mereka dengan senyumanku.
"Bu Jeny apa kabar, sudah lama kita ga bertemu."
"Kabar baik pak Anton, jangan panggil aku ibu panggil Jeny seperti biasa saja pak", ucapku malu sambil menyambut uluran jabatan tangannya.
"Loh sekarang kan bu Jeny statusnya calon istri pak Erick, bukan anak yang dulu bapak lihat pakai seragam smu.", ucapnya tersenyum bercanda.
"Kak Erick di kantor suka gossip juga ya pak.", ucapku menanggapinya tersenyum.
"Sudah saya ga mau dikurangi gajinya gangguin bu Jeny terus dari tadi, saya pulang dulu ya. Mari pak Erick saya duluan."
"Ya hati-hati pak.", ucap kak Erick.
"Pak Anton... terima kasih sudah bantu selama papa selama ini, terima kasih juga sudah bantu kak Erick yang masih butuh banyak belajar dari bapak."
"Ga usah sungkan, aku sama papamu sudah kaya keluarga. Saya duluan ya."
"Ya hati-hati pak", ucapku.
Sebelum masuk ke ruangan kak Erick aku melewati meja yang kutebak ini adalah sekretarisnya, ia ternyata berpenampilan sangat menarik, ia berdiri tersenyum padaku.
"Kalau kamu udah selesai, kamu sudah bisa pulang ya Nita.", ucap Erick.
"Ya, baik pak."
Kemudian Erick menutup pintu ruangannya, menarikku untuk duduk dipangkuannya.
"Sekretaris kamu seksi ya babe, ga heran papa sama papa kamu selalu pilih sekretaris yang sudah berkeluarga, sekarang aku ngerti alasannya."
"Ughhh senangnya lihat pacarku cemburu.", kemudian ia langsung melumat bibirku tanpa permisi.
"Udah ah, ini kantor babe", protesku melepaskan diri dari ciumannya.
"Kalau gitu ayo kita pulang.", ucapnya sambil mengedipkan mata padaku.