NovelToon NovelToon
Aku Anak Yang Kau Jual

Aku Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat / Aliansi Pernikahan / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.

×××××××

"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"

"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.

"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."

Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Lain Sang Monster

Matahari pagi menembus celah-celah gorden otomatis di kamar Aira, membangunkan gadis itu dari tidur yang tidak nyenyak.

Selama bertahun-tahun, Aira terbiasa bangun karena suara teriakan ibunya yang menuntut kopi atau suara gaduh Aina yang sibuk memilih baju. Namun di sini, kesunyian adalah satu-satunya alarm. Kesunyian yang begitu pekat hingga Aira bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Ia bangkit dari tempat tidur raksasa itu, merasa asing dengan kelembutan sutra yang menyentuh kulitnya. Di atas meja rias, sudah tersedia berbagai perlengkapan mandi kelas atas dan sebuah kotak beludru hitam. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan mewah dan secarik kertas dengan tulisan tangan yang tajam dan tegas: “Gunakan ini. Kita sarapan dalam dua puluh menit. Jangan terlambat.”

Tanpa tanda tangan, namun Aira tahu siapa pemilik instruksi itu. Aristhide Malik tidak meminta, ia memerintah.

Dua puluh menit kemudian, Aira menuruni tangga menuju ruang makan. Ia mengenakan terusan sederhana berwarna hitam yang ia bawa dari rumahnya, menolak memakai pakaian mahal yang mungkin sudah disiapkan di lemari besar itu. Ia ingin mempertahankan satu-satunya hal yang masih ia miliki: identitasnya sendiri.

Di meja makan panjang yang terbuat dari kayu ek gelap, Aristhide sudah duduk di kepala meja. Ia sedang membaca koran digital di tabletnya sambil menyesap espresso. Saat Aira masuk, pria itu melirik jam tangannya.

"Satu menit lebih awal. Bagus," ujar Aristhide tanpa ekspresi.

ia memberi isyarat agar pelayan menyajikan makanan.

Sarapan berlangsung dalam keheningan yang menyesakkan. Hanya terdengar denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen. Aira memperhatikan Aristhide dari sudut matanya. Pria ini tampak begitu terkontrol, setiap gerakannya presisi, seolah-olah ia adalah mesin yang dirancang untuk kesempurnaan.

"Apa yang Anda harapkan dariku hari ini?" Aira akhirnya memecah keheningan. Ia tidak tahan dengan atmosfer yang statis itu.

Aristhide meletakkan tabletnya. "Hari ini, kau akan bertemu dengan pengacaraku. Ada beberapa dokumen yang perlu kau tinjau. Dokumen tentang aset-aset tersembunyi Bramantyo yang ia gunakan sebagai jaminan di bank lain tanpa sepengetahuan dewan komisaris."

Aira mengerutkan kening.

"Ayahku memang serakah, tapi dia cukup teliti dalam menyembunyikan jejak. Bagaimana Anda bisa tahu tentang itu?"

Aristhide menyandarkan punggungnya, menatap Aira dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Orang yang terdesak akan selalu meninggalkan celah, Aira. Dan ayahmu sudah terdesak selama bertahun-tahun. Dia hanya pandai menutupi lubang dengan menggali lubang yang lebih besar. Masalahnya, kali ini dia menggali di tanah milikku."

"Lalu apa peranku? Aku tidak tahu apa-apa tentang keuangan perusahaan," aku Aira jujur.

"Kau tidak perlu tahu tentang angka. Kau hanya perlu mengingat. Ingat setiap tamu yang datang ke rumahmu dalam dua tahun terakhir. Ingat setiap dokumen yang pernah kau lihat di meja kerjanya saat kau masuk diam-diam untuk mencari perhatiannya. Ingat setiap percakapan telepon yang ia lakukan saat ia mengira kau sedang tertidur di lantai atas." Aira terdiam.

Ia teringat betapa seringnya ia dianggap "transparan" di rumahnya sendiri. Karena ia dianggap tidak berguna, orang tuanya sering berbicara bebas di depannya, seolah-olah Aira adalah perabot ruangan yang tidak punya telinga.

"Anda memanfaatkanku karena mereka meremehkanku," gumam Aira pedih.

"Aku memanfaatkan fakta bahwa kau adalah orang yang paling mengenal mereka tanpa pernah mereka kenal," koreksi Aristhide. Ia berdiri, merapikan kemejanya.

"Satu lagi, Aira. Siang ini asistenku akan membawamu ke butik. Kita ada jamuan makan malam dengan beberapa kolega penting malam ini."

"Aku tidak butuh baju baru," tolak Aira cepat.

Aristhide berjalan mendekat, berhenti tepat di samping kursi Aira. Ia membungkuk, wajahnya begitu dekat hingga Aira bisa merasakan hembusan napasnya di pipinya.

"Kau butuh baju baru bukan untuk terlihat cantik. Kau butuhnya untuk terlihat seperti seseorang yang tidak bisa lagi mereka jangkau. Malam ini, ibumu dan Aina juga akan hadir. Aku ingin mereka melihat apa yang telah mereka buang dan menyesalinya setiap detik."

Aira merasakan gelombang emosi yang aneh. Ada rasa haus akan balas dendam yang mulai terpantik, namun ada juga rasa takut akan menjadi orang yang sama jahatnya dengan mereka.

Setelah Aristhide pergi, asisten pribadinya yang bernama Yudha menghampiri Aira.

Yudha adalah pria yang lebih ramah, meski tetap profesional.

"Nona Aira, mari saya antar. Tuan Aristhide sudah mengatur semuanya."

Selama di perjalanan menuju butik, Aira memberanikan diri bertanya pada Yudha.

"Sudah berapa lama Anda bekerja untuknya?"

"Sepuluh tahun, Nona," jawab Yudha sambil tetap fokus menyetir.

"Apakah dia selalu sedingin itu? Seperti... tidak punya perasaan?" Yudha terdiam sejenak, melirik Aira dari spion tengah.

"Tuan Aristhide bukan tidak punya perasaan, Nona. Dia hanya menguburnya terlalu dalam. Sejak ibunya meninggal, dia belajar bahwa perasaan adalah titik lemah yang akan dimanfaatkan musuh untuk menghancurkanmu. Dia tidak ingin dihancurkan lagi."

"Ibunya... Sofia Malik?" tanya Aira hati-hati.

Yudha mengangguk singkat.

"Kematian Nyonya Sofia adalah tragedi yang mengubah segalanya. Tuan Aristhide saat itu masih sangat muda, namun ia harus menyaksikan bagaimana kekaisaran keluarganya hampir runtuh karena dikhianati oleh orang-orang yang mereka percayai. Termasuk... Yah, Anda akan tahu pada waktunya." Kalimat gantung Yudha membuat Aira semakin penasaran.

Ada benang merah antara ibunda Aristhide dan keluarganya yang lebih dalam dari sekadar urut-piutang bisnis.

Di butik mewah di kawasan Senopati, Aira dipaksa mencoba belasan gaun. Para pelayan di sana memperlakukannya seperti ratu, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Namun, saat ia melihat bayangannya di cermin—mengenakan gaun sutra berwarna merah marun yang memeluk tubuhnya dengan sempurna—ia tidak melihat dirinya sendiri.

Ia melihat seorang wanita yang kuat, elegan, dan penuh rahasia.

Sore harinya, kembali di kediaman Malik, Aira memutuskan untuk menjelajahi rumah itu lebih jauh. Ia berjalan menuju sayap barat, tempat yang jarang dilalui pelayan. Di sana, ia menemukan sebuah pintu kecil yang sedikit terbuka. Itu adalah sebuah studio lukis.

Di dalamnya, terdapat kanvas-kanvas yang tertutup kain putih. Aira memberanikan diri membuka salah satunya. Itu adalah lukisan pemandangan laut yang sangat indah, namun goresannya tampak penuh amarah. Di sudut bawah, terdapat inisial: S.M.

"Sofia Malik," bisik Aira.

"Jangan sentuh itu." Suara bariton Aristhide membuat Aira melonjak kaget.

Pria itu berdiri di ambang pintu, matanya yang tadi dingin kini tampak berkilat dengan emosi yang tertahan—antara amarah dan kesedihan yang mendalam.

"Maaf, saya tidak bermaksud..."

"Keluar," perintah Aristhide pelan, namun nadanya tidak bisa dibantah.

Aira berjalan melewati Aristhide, namun ia berhenti sejenak.

"Dia pelukis yang hebat. Anda mewarisi tatapan matanya, tapi Anda tidak mewarisi cara dia melihat dunia dengan penuh warna. Anda hanya melihat dunia dalam hitam dan putih, Aristhide."

Aira segera pergi menuju kamarnya, meninggalkan Aristhide yang terpaku di dalam studio yang berdebu itu. Aristhide menatap lukisan ibunya, lalu menatap tangannya yang gemetar. Ucapan Aira menyentuh bagian dari dirinya yang sudah lama ia kunci rapat-rapat.

Malam itu, saat mereka bersiap untuk pergi ke acara makan malam, suasana jauh lebih tegang. Aira keluar dari kamarnya dengan gaun merah marun itu, rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya.

Aristhide yang sudah menunggu di lobi dengan tuksedo hitam, sempat terdiam selama beberapa detik saat melihat Aira menuruni tangga.

"Kau siap?" tanya Aristhide, suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya.

Aira menarik napas panjang, mengencangkan genggamannya pada tas kecilnya.

"Aku siap menghadapi mereka."

"Ingat, Aira," Aristhide mendekat dan menyodorkan lengannya untuk digandeng.

"Kau bukan lagi milik mereka. Kau adalah Malik sekarang, setidaknya di mata dunia. Bertindaklah seperti itu."

Saat mereka melangkah menuju mobil, Aira menyadari bahwa malam ini bukan hanya soal makan malam. Ini adalah deklarasi perang. Dan dia adalah bendera yang sedang dikibarkan Aristhide Malik di tengah medan tempur.

Bagaimana kelanjutan di jamuan makan malam tersebut? Tunggu BAB selanjut nya yah!!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!