NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri

Kebangkitan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kebangkitan pecundang / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:47.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KI 32

“Raka, kenapa kamu mengancam Lina?” tanya Rani dengan nada marah.

Raka duduk sambil menatap roti bakar yang gosong buatan ibunya dan teh manis buatan bapaknya.

“Ngadu apa saja dia ke Ibu?” balas Raka dingin.

“Ini hanya masalah sepele, Raka. Kata Lina, dia sudah memberikan kamu banyak jalan, namun kamunya terlalu kaku,” tutur Rina sambil menatapnya lekat.

“Jalan apa, Bu? Jalan menuju kehancuran? Bilang sama dia kalau tidak mau kakaknya dilaporkan ke polisi, suruh cepat penuhi kewajibannya,” tegas Raka.

“Sudah, Ibu jangan ikut campur urusan pekerjaan Raka. Raka sudah dewasa, dia pasti bisa menyelesaikan masalah,” sela Pak Budi, tampak tak senang dengan istrinya yang selalu menekan Raka.

“Kenapa sih Bapak tidak senang kalau kita punya besan kaya? Lina itu dari keluarga berada. Raka harus berjuang sekuat mungkin. Lina itu banyak yang naksir, jangan sampai Raka disalip orang, Pak,” gerutu Rina sebal.

“Yang kaya orang tuanya, Bu. Kalau dia terus memberi masalah pada Raka, buat apa?” sahut Pak Budi datar.

“Masalah itu selalu ada, Pak, namanya juga orang hidup. Namun masalahnya, Raka ini terlalu polos. Kata Lina, dengan jabatan Raka sekarang, harusnya sudah punya rumah besar dan mobil banyak. Raka terlalu kaku dalam bekerja, Pak,” lanjut Rina panjang lebar.

“Ibu menyuruhku berbuat jahat, Bu. Menyuruh aku untuk tidak jujur,” cetus Raka keras.

“Raka, Raka… zaman sekarang siapa sih yang jujur? Semua orang juga korupsi. Yang tertangkap itu yang kebetulan apes saja. Tidak selamanya perusahaan akan berpihak pada kamu. Sedikit demi sedikit korupsi tidak apa-apa,” kilah Ibu Rina enteng.

“Dasar gila!” bentak Pak Budi sambil membanting sendoknya. “Jangan dengarkan Ibu kamu, Raka. Kamu bisa cepat mendapatkan jabatan ini karena kamu kerja keras dan jujur. Jangan sampai kamu hancurkan semua yang kamu dapatkan dengan kebohongan.”

Ibu Rina bangkit dengan muka cemberut. “Pantas saja kita miskin terus, Pak,” dengusnya lalu berlalu.

Raka keluar rumah menggunakan mobilnya. Ponselnya berdering. Lina yang menelepon.

“Raka, di mana kamu?” desak Lina.

“Aku mau ke kantor polisi,” jawab Raka berbohong.

“Kamu serius mau melaporkan kakakku ke polisi?” suara Lina terdengar tegang.

“Iyalah. Kakak kamu juga tidak serius menangani hal ini,” katanya mantap.

“Kamu keterlaluan, Raka,” semprot Lina kesal. “Baiklah, temui kakakku di Kafe Betaria jam sebelas siang.”

“Baiklah kalau begitu,” ujar Raka lega.

“Benar juga kata Bapak, ternyata mereka hanya perlu digertak,” gumamnya pelan.

Tepat jam sebelas siang Raka sudah ada di kafe. Maryono datang bersama seorang perempuan paruh baya dengan dandanan elegan.

“Jangan cemberut begitu dong, Adik Ipar. Masalah itu biasa di dalam pabrik,” sapa Maryono ramah, yang bagi Raka terlihat menjengkelkan.

Raka duduk dan menatap tajam Maryono.

“Saya merekomendasikan kamu karena kamu kakaknya Lina, tapi kamu malah mengecewakan saya. Saya tidak mau tahu, kamu harus mengganti filter dengan yang baru dan kualitas yang sesuai kontrak,” tekan Raka serius.

Maryono hanya tersenyum tipis.

“Itu masalah gampang. Ini ada Ibu Erlina. Dia adalah pemasok gula se-Jawa Timur. Jika kamu mau bikin MoU untuk memasukkan perusahaan Bu Erlina, maka saya akan mengganti filter hari ini juga,” jelas Maryono santai.

Raka tentu saja kesal. Seharusnya Maryono segera mengganti tanpa syarat apa pun.

“Apa yang akan membuat saya percaya kalau kamu akan segera mengganti filter itu?” tantang Raka.

Ibu Erlina menatap Raka lalu meyakinkan, “Tenang saja, Pak Raka. Saya akan transfer 260 juta ke rekening Anda, lalu Anda dan Maryono belanja sesuai spesifikasi dari pabrik.”

Sebenarnya ini transaksi aman, tetapi memasukkan perusahaan menjadi vendor harus melalui beberapa prosedur, dan dia sebagai GM harus bersikap netral agar objektif.

“Raka, tidak ada prosedur yang dilanggar, kan? Saya ini pertama kali masuk jadi vendor perusahaan tempat kamu bekerja, jadi wajarlah saya melakukan kesalahan. Yang terpenting saya mau tanggung jawab,” papar Maryono.

“Saya akan memberi Anda uang 30 juta per bulan selama kontrak saya berjalan. Barang yang saya kirimkan silakan cek kualitasnya. Asal Anda tahu, saya sudah memasok ke perusahaan pesaing Anda,” tambah Ibu Erlina mantap.

“Raka, mana ada penawaran sebagus ini? Semua GM juga melakukan ini. Ingat, untuk jadi GM kamu harus sekolah tinggi, belum lagi lembur tanpa hitungan. Tanggung jawab kamu besar, tapi penghasilan pas-pasan. Lebih baik kamu terima. Ibu Erlina ini pengusaha andal,” bujuk Maryono.

“Kenapa saya harus mengikuti kemauan kamu? Proyek pertama saja gagal, terus kamu ingin proyek baru?” sergah Raka.

“Kalau kamu lapor polisi, apa masalahnya beres? Saya paling dipenjara dua tahun. Dengan uang dan koneksi ayah saya, paling delapan bulan. Saya tinggal bilang saya pemula. Belum lagi saya ini warga asli sini dan anggota ormas. Saya gampang bangkit, Raka. Sedangkan kamu?” ancam Maryono gamblang.

Raka dalam dilema. Berurusan dengan polisi pasti menyita waktu dan tenaga. Ini ada peluang di depan mata, tentu saja tidak boleh disia-siakan.

“Baik, kalau begitu transfer dulu uang untuk beli filter kepada saya sekarang,” putus Raka.

“Baiklah, kalau begitu Anda tanda tangani permohonan saya,” pinta Ibu Erlina.

Raka membolak-balik proposal Ibu Erlina. Semua lengkap, memenuhi syarat administratif, tinggal uji kelayakan produk.

Raka pun menandatangani proposal itu.

Sementara itu, Miranda merasa senang karena hari ini sudah memegang uang Rp180.000. Pemesanan 60 bungkus sudah ia lunasi. Besok ia akan kembali mendapatkan tambahan Rp180.000. Namun, waktu untuk memungut rongsokan banyak tersita.

“Ah, empat jam hanya belajar cara memotong. Apakah ini sia-sia?” gumam Miranda sambil terus menarik gerobaknya.

Hujan terus turun. Sungai-sungai mulai meluap. Miranda turun ke jembatan karena banyak sampah menyangkut di sana. Dalam waktu singkat, gerobaknya mulai terisi penuh. Bajunya basah kusut. Ia terus melangkah menuju lapak Cak Roni.

“Miranda, mandi dulu sana,” tegur Rosidah ketika melihatnya basah kuyup.

Miranda langsung ke kamar mandi, lalu mandi, berwudu, dan menunaikan salat Asar. Setelah itu, ia menjemur pakaian basahnya.

“Cuma delapan kilogram, Mir? Tumben,” komentar Cak Roni sambil menyerahkan uang Rp12.000.

“Sekarang aku hanya bisa mulung dua jam, Cak,” jawab Miranda.

“Kenapa?” tanya Cak Roni.

Miranda pun menceritakan alasannya. Cak Roni dan Rosidah tersenyum mendengar keluh kesahnya.

“Apa yang dikatakan Ibu Salamah itu benar, Mir. Aku saja masih belajar membedakan kualitas besi dan menghitung cepat jumlahnya. Kerja keras saja tidak cukup, kita tetap perlu ilmu. Sepertinya Ibu Salamah punya niat baik untukmu,” nasihat Cak Roni.

“Tapi sayang sekali, Cak. Waktuku terbuang percuma hanya belajar hal-hal sepele,” keluh Miranda.

“Kamu kira tentara bisa langsung bertempur? Mereka belajar baris-berbaris dulu. Kamu harus berpikiran positif kalau mau jadi orang kaya dan pandai melihat peluang,” lanjut Cak Roni.

“Maksud Cak Roni bagaimana?” tanya Miranda heran.

“Lihat cuaca di luar,” ujar Cak Roni sambil menatap ke depan.

“Mendung gelap. Sebentar lagi hujan deras,” sahut Miranda.

“Apakah cuaca seperti itu ada peluang menghasilkan uang?” pancing Cak Roni.

“Lebih baik tidur di kamar, Cak. Sebentar lagi hujan deras.”

Cak Roni tersenyum lalu menunjuk sebuah kardus cokelat yang dililit lakban.

“Cuaca seperti ini, kamu bisa menghasilkan banyak uang dengan benda itu.”

Miranda menatap kardus tersebut. Ia teringat berita kasus narkoba.

“Apa jangan-jangan… aku disuruh jual…?”

1
nunik rahyuni
bagus..org sok sok an tu di ambung ambung j terus biar melayang...lama klamaan akhirnya jatuh 🤣🤣🤣🤣
Sunaryati
Lina sifat sombong dan kebencian kamu pada Miranda,jadi berkah dan keuntungan baginya.
Sunaryati
Pandai juga kalian mengelabuhi Lina
Sunaryati
Nah jadi orang itu jangan julid dengan orang lain rugi sendiri ,kan
nunik rahyuni
nah kua ini ni hadil didikan mu..manja teruuuus
nunik rahyuni
kapok..mudahan hbis modalnya jg buat niruti anaknya yg pekok tu alamat kere
Sunaryati
maksudku makian
Sunaryati
Dengan makin banyaknya makin dan hujatan Miranda makin kuat dan tangguh
nunik rahyuni
lanjuuut double triple up
nunik rahyuni
knp pula ketemu mak lampir dan keturunanya..😡😡😡bikin esmosi terus..rasa rasa mira ni kok susah baner mau hidup tenang..dan org2 tu kok pikiranya picik..apa g punya agama ya..tuhan sudah mengatur rejeki stiap orang..jgn iri melihat orang punya bnyk rejeki
nunik rahyuni
lanjuuut ...lanjuuut...
nunik rahyuni
tangkap sj mir sebagai gebrakan baru..tp kmu g usah muncul dlu biar di cover fstimah ..kmu ckup brada di blkg layar sebagai pamantau.....klo sdh tetkenal dan sukses mereka akan tau diapa di balik usaha sukses itu 👏👏👏dan boooom mreka akan kaget..shock dan pingsan melihat kesuksesanmu
Sunaryati
Terima saja,dan tawarkan tenda hajatan . Miranda janga muncul.Jika muncul pakai masker, sebaiknya tidak muncul sama sekali. tetapi bekerja di balik layar
Sunaryati
Suka
Sunaryati
Jalan menuju kesuksesan kalian sepertinya terbuka lebar
Sunaryati
Makin banyak anggota keluargamu Miranda ,semoga segera sukses
"C"
bagus novelnya
nunik rahyuni
tim marketing nya yg serba bisa 🤣🤣🤣
nunik rahyuni
waaah waaah ...aq jg jualan mie ayam jg lho..ayo mbak mir kita bagi resep🤣🤣🤣
Riss Taa
bagus...semangat berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!