NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri

Kebangkitan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kebangkitan pecundang / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KI 24

“Nunik!” teriak Miranda setengah berlari.

Ia menyusuri trotoar, menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok Nunik dan anaknya. Namun, tak ada siapa pun di sana. Lapak kecil yang tadi masih terlihat kini kosong.

“Nunik, ke mana kamu? Kenapa kamu menghilang?” ucap Miranda cemas.

Setelah sekian lama mencari dan tak menemukan hasil, ia akhirnya menyerah. Napasnya memburu. Keringat membasahi pelipisnya.

Mentari terbit malu-malu di ufuk timur. Folding gate salah satu ruko terbuka berderit. Seorang lelaki tua muncul sambil menguap.

“Hei, bawa roda kamu. Nanti sebentar lagi Satpol PP lewat. Gerobakmu bisa diangkut,” ucapnya ketus.

Miranda terdiam. Gerobak itu bukan miliknya.

“Cepatlah. Aku mau beres-beres,” desak lelaki tua itu.

Tak ada pilihan. Miranda memasukkan karung dan kardus ke dalam gerobak, lalu menariknya keluar dari area ruko.

“Nunik, di mana kamu?” gumamnya lirih.

Jam digital di papan reklame menunjukkan pukul 06.00. Miranda mempercepat langkah, setengah berlari sambil menarik gerobak yang rodanya berdecit pelan.

---

Sementara itu, di depan rumah Bu Salamah, suasana mulai tegang.

“Bu Salamah, dia tidak akan datang. Lebih baik berikan saja nasi uduk itu kepada saya,” ucap Mirna.

Bu Salamah terus memandang ke ujung gang, menanti Miranda yang tak kunjung terlihat.

“Lagian Ibu percaya saja omongan gembel,” sahut seorang perempuan paruh baya bermuka masam. Ia tadi ingin memesan nasi uduk, tetapi ditolak karena pesanan sudah habis.

“Bu, pesanan saya sepuluh dan Nani sepuluh sudah pas. Tenaga Ibu tidak terbuang sia-sia,” tambah Narti membujuk.

Bu Salamah tetap diam.

“Ayolah, Bu. Anggap saja uang lima puluh ribu dari gembel itu rezeki Ibu,” ujar Mirna tak sabar.

“Kalian kira aku mau memakan uang haram? Kalau dia tidak datang, aku akan mencarinya dan mengembalikan uangnya,” jawab Bu Salamah tegas.

“Ya sudah, sekarang berikan nasi uduk itu kepada kami,” desak Narti.

Bu Salamah menghela napas. “Tunggu lima menit lagi.”

Kedua perempuan itu tampak kesal. Padahal, selain murah, nasi uduk Bu Salamah memang terkenal enak. Banyak penjual lain, tetapi mereka sudah telanjur cocok dengan rasa masakannya.

Detik demi detik terasa lama.

“Sudah, Bu. Berikan saja kepada kami,” ujar Narti lagi.

Jam dinding menunjukkan pukul 06.09. Bu Salamah mulai meraih plastik berisi nasi uduk.

“Maaf, Bu. Saya terlambat!”

Semua menoleh. Miranda datang sambil mendorong gerobak.

“Ah, akhirnya kamu datang,” ucap Bu Salamah lega.

Miranda menepikan gerobak agar tidak menghalangi jalan, lalu menghampiri.

“Maaf, Bu. Saya bayar dulu tiga puluh lima ribu. Sisanya saya bayar setelah saya antar,” ucapnya penuh harap.

“Jangan percaya, Bu. Berikan saja sesuai uang yang dia kirim. Sisanya untuk kami,” sahut Marni.

“Benar. Kami ini tetangga Ibu. Harusnya Ibu lebih percaya kepada kami,” tambah Narti.

Miranda tertegun. Ini dagangan pertamanya. Masa harus gagal?

“Miranda,” panggil Bu Salamah.

Miranda mendongak. Ia sudah pasrah.

“Kenapa diam saja? Ini sudah pukul 06.12. Cepat antarkan nasi uduk ini,” ucap Bu Salamah sambil menyerahkan kantong plastik berisi nasi uduk dan minumannya.

Miranda nyaris tak percaya.

“Cepat, Mir,” desak Bu Salamah.

“Ibu keterlaluan! Lebih memilih gembel daripada kami!” bentak Narti.

“Miranda, cepat ambil dan berlari!” Suara Bu Salamah meninggi, mengabaikan protes mereka.

Miranda segera menerima pesanan itu dan berlari.

“Ibu akan menyesal! Dia tidak akan bayar!” teriak Mirna.

“Kalian ini cerewet sekali. Kalau mau pesan, biasakan sehari sebelumnya dan beri panjar,” jawab Bu Salamah ketus.

“Mana tahu anak-anak kami mendadak ingin nasi uduk Ibu,” balas Marni.

“Tunggu saja satu jam lagi. Masakan keduaku hampir matang,” kata Bu Salamah.

Mirna dan Narti merasa tersinggung. Mereka kesal karena kalah oleh seorang gelandangan.

“Dia tidak akan bayar. Ibu akan rugi,” sindir Marni.

“Kenapa kalian begitu yakin?” tanya Bu Salamah datar.

“Karena dia gembel. Perkataannya tidak bisa dipegang. Dia orang asing, sedangkan kami orang sini.”

“Kalau dia tidak bayar, aku yang rugi. Kenapa kalian yang repot?” sahut Bu Salamah sambil duduk karena lututnya mulai nyeri.

Mirna mendengus.

Tanpa banyak bicara, Bu Salamah membuka buku catatan.

“Minggu lalu kamu kurang bayar empat puluh ribu. Katamu dibayar kemarin, tapi sudah empat hari belum juga,” ucapnya tenang.

Wajah Marni langsung pucat.

“Mana ada? Aku sudah bayar,” elaknya.

“Aku selalu mencatat. Kalau masih menyangkal, akan kubilang pada suamimu,” ujar Bu Salamah.

“Jangan!” Marni panik. “Nanti sore aku bayar.”

“Keterlaluan. Demi membela gembel, Ibu membuka utang kami,” protes Narti.

“Sudah siang. Banyak yang harus kukerjakan. Pergilah,” tutup Bu Salamah.

Kedua perempuan itu akhirnya pergi sambil menggerutu.

“Kalian pandai menilai orang lain, tapi tidak mau melihat kesalahan sendiri,” gumam Bu Salamah sambil membalik halaman buku utangnya.

---

Sementara itu, Miranda terus berlari.

Ia tidak ingin usaha pertamanya gagal.

“Aku sudah mengeluarkan Rp85.000. Aku punya utang Rp25.000. Kalau gagal, aku akan kehilangan semuanya,” ucapnya dalam hati.

Tiba-tiba terdengar teriakan.

“Maling!”

Beberapa pria yang duduk di tepi jalan langsung berdiri dan ikut mengejar.

Miranda menoleh panik.

“Hah? Kenapa mereka mengejarku?”

Ia mempercepat langkah.

“Astaga, Tuhan… apalagi ini?” gumamnya getir.

Ia berlari sambil memeluk kantong plastik berisi nasi uduk erat-erat di dadanya.

1
nunik rahyuni
kok ikut tegang thor 🤣🤣 sdh ikut ngos ngosan lari tp di gantung /Sleep/
Sunaryati
Miranda kamu akan ada jalan menuju sukses karena menolong Dino dan ibunya
nunik rahyuni
duh jenenge kok podo...🤣🤣🤣 jenenge pasaran..😁
nunik rahyuni: /Joyful//Joyful//Joyful/ klo mau msh ada stok nama yg antik thor..nama bahari tu yg akiranya nik kya anik ...nanik..hanik..yanik .menik
total 2 replies
nunik rahyuni
Cerita yg bagus bikin nguras esmosi..mirip dg zaman q masih jahiliyah 😁😁😅
Sunaryati
Semoga langkahmu lancar, sepertinya pemilik ruko itu saudaramu Miranda
nunik rahyuni
lanjut kk ...makin seru
Asphia fia
itu mah Miranda dijadikan budak yg di byr Thor BKN istri
gemes bgt baca ceeitanya
nunik rahyuni
semangat terus berkarya 💪💪💪💪
nunik rahyuni
lanjut thorr double up klo boleh...suka j baca cerita rakyat jelata g selalu ceo coe atau oce / eco 🤣🤣🤣
nunik rahyuni
tega nya..mknya belajar lah menyanyangi diri sendiri
nunik rahyuni
sumpal mulutnya pake lap kompor mertua kya itu ..sayur nya tak kasih racun tikus ben innalillah
nunik rahyuni
awak capek kerja cm di kadih tempe kok ra pinter jadi orang to mir masak karo ngemplok sing enak enak yg lain kasih sisanya saja wong pemalas
santi damayanti: terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
nunik rahyuni
kok kya anak tk...sesayang sayang nya sm laki q emoh yen kokon kya itu..dia punya kaki punya tangan kok kya orang cacat
santi damayanti: terimakasih
total 1 replies
nunik rahyuni
tahanya smpai 10 th..aq j yg bru sebulan di ikuti mertua ja sdh mo tak racun😁
Sunaryati
Jadi kismin sebentar lagi karena dikuras calon istri
Sunaryati
Kau akan dipecat karena pengadaan mesin dan pekerjaan kamu kacau tidak ada yang beres setelah bercerai dengan Miranda. Semoga Miranda diperkerjakan di ruko tempat ia bermalam
santi damayanti: terimakasih sudah berkunjung dan membaca
total 3 replies
Sunaryati
Arka mengingat Miranda karena sudah tidak punya babu gratis
Sunaryati
Doa orang terdzolimi semoga segera terkabul
Sunaryati
Semangat Miranda kamu orang baik, semoga segera terentas dari kemiskinan
Sunaryati
Semoga langkahmu dilancarkan dan menemukan orang baik yang bisa membawa kesuksesan hidupmu dunia akherat, Nak Miranda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!