NovelToon NovelToon
Paper Plane Memories

Paper Plane Memories

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Bullying dan Balas Dendam / Ibu Tiri / Balas Dendam / Romantis
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: SellaAf.

Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman

Leo hendak menyusul teman-temannya yang berada di lapangan, tiba-tiba matanya menangkap sosok gadis yang ia kenali. Tak mau kehilangan jejak, ia pun segera mengejarnya, melangkah panjang dengan tatapan lurus ke depan.

Brakkk!

Pintu toilet tertutup cukup kencang, membuat Aera kaget bukan main. Matanya terbelalak ketika mendapati Leo yang sudah berada di depannya, mereka benar-benar berada di dalam toilet yang sama.

Bagaimana bisa?

Sejak kapan pemuda itu berada di sana?

Jantung Aera berdetak kencang, takut jika ada murid lain yang melihat keberadaannya bersama Leo di dalam sana. Ia mundur satu langkah, memilih jarak aman karena pemuda di depannya itu benar-benar sulit ditebak.

"Muka kamu kenapa takut gitu?" Leo menarik sudut bibirnya ke atas, puas karena melihat Aera takut akan keberadaannya.

Aera sendiri langsung berdeham, kemudian menormalkan kembali raut wajahnya, tidak ingin terlihat lemah di depan siapapun.

"Lo ngapain ke sini? Lo tau kan kalau ini toilet perempuan?"

Leo memajukan tubuhnya, membuat Aera refleks mundur dan tubuhnya membentur dinding di belakangnya. Ia tidak bisa ke mana-mana lagi, mau berteriak pun rasanya tidak mungkin mengingat pemuda itu sudah membelinya dengan nominal yang tidak sedikit.

Ya, terdengar menyakitkan. Namun itu lah kenyataannya.

"Mau ketemu sama cewek aku," jawab Leo, begitu tenang.

"Silakan temui cewek Lo. Jangan ganggu G—"

"Aku. " sahutnya.

"Aku kamu, Aera." Belum selesai Aera mengucapkan kalimatnya Leo langsung memotong kalimatnya.

"Ckkkk!" decak Aera sebal,

“Ya udah silakan temui cewek kamu, jangan ganggu gu—eh maksudnya Aku." Aera yang hampir refleks dengan ucapannya itu ia langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangan nya.

“Aishhhh!!! ribet banget sih, udah lah sana pergi." Usir Aera sambil menunjuk ke arah pintu berharap pemuda tersebut keluar dari sana secepatnya.

Leo mengangkat dagu Aera dengan telunjuknya, sampai mata mereka beradu pandang." Kamu berani ngusir aku?"

Melihat tatapan yang Leo berikan, kini Aera tahu bahwa pemuda itu benar-benar berkamuflase dengan sangat baik. Karena jika di lihat dari wajahnya, Leo tidak seperti pemuda nakal yang sering ia temui, bahkan Leo terlihat seperti pemuda polos yang tidak mengerti apa-apa.

"Apa yang kamu mau?" Aera menurunkan nada bicaranya, ia terpaksa berpura-pura agar Leo bersikap baik padanya.

Leo tersenyum, merasa menang karena Aera terlihat tak berdaya di depannya. "Aku nggak suka diabaikan, aku juga nggak suka wajah jutek kamu ini." Ia mengusap pipi Aera dengan lembut, sementara tubuhnya terus ia dekatkan, mengunci pergerakan gadis di hadapannya.

"Aku lebih suka Aera yang dulu pertama kali kita ketemu, di mana Aera yang di juluki sebagai penggoda." Ucapnya lagi yang dibarengi dengan senyuman mistis.

Aera menghela nafas panjang ia merasa kalimat terakhir yang Pemuda itu ucapkan sangat menyakitkan untuknya membuat dirinya merasa tidak nyaman dan ingin sekali menampar wajah Leo detik itu juga.

Di tengah-tengah amarah yang ia tahan, tiba-tiba Aera meringis ketika lehernya terasa sakit, bahkan ia refleks mendorong bahu Leo. Namun karena ketakutan pemuda itu jauh lebih kuat, alhasil usaha Aera hanya berakhir sia-sia.

Sedangkan Leo sendiri justru semakin berani, tangannya tidak tinggal diam, perlahan tapi pasti ia mulai membuka kancing seragam Aera, berusaha untuk menyentuhnya lebih jauh lagi.

"Leonar, stop!" Hardik Aera,

Mendengar nama panjangnya di sebutkan oleh gadis itu untuk pertama kalinya, Leo tersenyum tipis, ntah kenapa ia justru senang, seakan menambah fantasi liarnya.

"Please, aku nggak mau ribut. Mending kamu keluar, kita bisa ketemu setelah pulang sekolah." Aera memohon, posisinya benar-benar tidak menguntungkan. Apalagi mereka berada di dalam toilet perempuan, siapa saja bisa mendengar dari arah luar.

Leo mengangkat sebelah alisnya, "Ulangi, kalimat terakhir yang kamu ucapkan tadi?"

Aera yang mendengar ucapan dari pemuda itu langsung berdecak sebal. "Pulang sekolah kita ketemu lagi."

"Serius? Kamu nggak akan mengingkari janji?" Tanyanya memastikan.

Aera hanya menganggukkan kepalanya bahwa apa yang di ucapkan nya itu benar. "Iya, gue enggak bakal kabur kok, Lo tenang aja."

Leo yang mendengar kata yang di ucapkan Aera langsung mencengkeram tangan Aera kuat, ia tidak suka ketika Aera mengucapkan kalimat Lo gue di depan dirinya.

Aera yang merasa tangannya di cengkeram kuat oleh Leo langsung meringis kesakitan, "Arghhh Leo, lepas tangan aku sakit."

"Mau di ulangi lagi, H-mmm?"

Aera refleks langsung menggelengkan kepalanya, "M-aaf, aku nggak akan mengulangi nya lagi. Aku minta maaf."

Leo yang mendengarnya merasa sangat puas, suara Aera ketika memohon benar-benar masuk ke dalam pikirannya, seolah menjadi nyanyian paling indah yang pernah ia dengar.

"Bagus, kali ini aku lepas–in." Ia mundur satu langkah, "Tapi ingat, kamu udah aku beli, dan lain kali aku nggak bakal lepas–in kamu."

Setelah Leo keluar, Aera langsung menutup pintu dan menguncinya. Ia menyenderkan punggung pada pintu sambil mendongak ke atas, ia menggerutui hidupnya,

"Andai saja pelacur itu tidak datang dalam keluarga gue, hidup gue nggak bakal seperti ini. Hiksss..." ucapnya dalam hati,

Tanpa ia sadari air matanya mengalir pelan. Aera memejamkan matanya, ia tidak tahu akan sampai kapan semua penderitaan ini berakhir.

1
SellaAf
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!