Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 19: Negeri di Balik Kabut
Langkah kaki mereka menggema di dalam terowongan granit yang lembap. Udara di sini terasa berat, seolah-olah waktu telah membeku selama ratusan tahun. Di belakang mereka, suara ledakan gerbang Benteng Iron-Hold yang dihancurkan oleh tentara kaisar mulai memudar, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Elara berjalan di depan, cahaya perak dari reliknya memantul di dinding gua, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari.
Di sampingnya, Alaric tetap waspada. Meski tubuhnya dipenuhi luka dan kelelahan, matanya yang gelap terus memindai setiap sudut gelap terowongan. Di belakang mereka, Kael dan sisa ksatria setia bergerak tanpa suara, zirah mereka yang beradu terdengar seperti detak jantung sebuah organisasi yang sedang sekarat namun menolak untuk mati.
"Terowongan ini tidak ada dalam peta militer manapun," bisik Alaric, suaranya parau. "Bagaimana kau bisa tahu tentang jalan ini, Elara?"
"Cincin Valerius," Elara mengangkat tangannya yang mengenakan cincin perak tersebut. "Benda ini bukan sekadar perhiasan. Sejak aku memakainya, aku bisa merasakan 'aliran' energi di dalam dinding ini. Ini adalah jalur pelarian yang dibangun oleh Solis Invicta untuk situasi darurat. Mereka menyebutnya 'Nadi Sang Pengasingan'."
Rahasia di Balik Dinding Batu
Setelah berjalan hampir tiga jam, terowongan itu mulai melebar menjadi sebuah aula besar yang tersembunyi jauh di bawah pegunungan. Di tengah aula, terdapat sebuah kolam air jernih yang memancarkan cahaya biru neon. Di sekeliling kolam, berjajar rak-rak buku yang terbuat dari batu dan peti-peti kayu yang disegel dengan lambang matahari terbelah.
Elara berhenti di depan salah satu rak. Ia mengambil sebuah gulungan kuno dan membukanya. Matanya membelalak.
"Alaric, lihat ini," Elara menyerahkan gulungan itu. "Ini bukan hanya catatan logistik. Ini adalah daftar nama setiap bangsawan di kekaisaran yang memiliki hutang nyawa atau harta pada Solis Invicta. Dan lihat nama di urutan pertama."
Alaric membaca nama tersebut dan rahangnya mengeras. "Grand Duke Orpheus, panglima tertinggi yang memimpin pengepungan kita di Iron-Hold. Dia tidak datang atas perintah kaisar karena kewajiban... dia datang untuk menghapus jejak hutangnya sendiri."
"Seluruh sistem ini adalah sebuah kebohongan," Elara berkata dengan nada yang dipenuhi amarah yang dingin. "Kaisar hanyalah boneka yang ketakutan, dan para jenderalnya adalah para kriminal yang menyamar. Kita tidak sedang melarikan diri dari keadilan, Alaric. Kita sedang melarikan diri dari sebuah teater sirkus yang berdarah."
Tiba-tiba, suara gemericik air terdengar dari kolam di tengah ruangan. Dari dalam air, muncul sesosok wanita tua dengan rambut perak panjang yang menjuntai hingga ke lantai. Matanya putih sepenuhnya, tanpa pupil.
"Siapa yang berani masuk ke tempat peristirahatan terakhir para pengkhianat?" suara wanita itu terdengar seperti suara air yang jatuh ke batu.
Alaric segera menghunus pedangnya, namun Elara menahannya. "Tunggu. Dia tidak memiliki niat membunuh."
Elara melangkah maju, mengangkat cincin Valerius tinggi-tinggi. "Aku adalah Elara dari darah Lane. Aku membawa kunci dari pria yang menyebut dirinya Kaisar Barat."
Wanita tua itu berhenti, kepalanya miring seolah sedang mencium aroma udara. "Darah Lane... dan bau kematian yang baru saja lewat. Kau adalah gadis yang kembali dari tepian sungai, bukan?"
Sang Peramal Kehampaan
Wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai Sybil, penjaga perpustakaan bawah tanah sekaligus penyihir terakhir dari klan yang dulu memuja matahari sebelum Solis Invicta merusaknya.
"Valerius memang membawamu kembali, Elara Lane," Sybil berkata sambil mendekati Elara, tangannya yang kurus menyentuh pipi Elara. "Tapi dia melakukan kesalahan fatal. Dia pikir dia bisa mengendalikan 'Dendam Murni'. Dendam adalah api yang tidak bisa dipadamkan oleh si pemiliknya sendiri, apalagi oleh orang asing."
"Apa yang harus kami lakukan?" tanya Alaric. "Ibu kota telah jatuh ke tangan mereka yang ingin kami mati. Kami tidak punya tempat untuk pergi."
Sybil tertawa pelan, sebuah suara yang kering. "Pergilah ke Negeri di Balik Kabut. Di pesisir Barat, ada sebuah pelabuhan yang tidak pernah terlihat oleh mata manusia biasa. Hanya mereka yang membawa darah Lane dan kunci Ravenhurst yang bisa melewati kabut pelindungnya. Di sana, kalian akan menemukan tentara yang sebenarnya—mereka yang dibuang oleh sejarah namun tetap setia pada sumpah lama."
Elara menatap Alaric. "Negeri di Balik Kabut... maksudmu Kepulauan Avalon yang hilang?"
"Tempat itu bukan hilang, Nona," Kael menimpali. "Hanya saja tidak ada yang pernah kembali setelah masuk ke sana."
"Karena mereka yang masuk ke sana menemukan kebebasan yang tidak ada di kekaisaran ini," Sybil kembali masuk ke dalam kolam. "Gunakan perahu perak yang ada di balik aula ini. Ikuti aliran air bawah tanah, dan jangan pernah menoleh ke belakang sampai kalian merasakan bau garam laut."
Pelarian Melalui Air
Di balik aula, mereka menemukan sebuah perahu kuno yang terbuat dari logam perak yang tidak berkarat. Perahu itu cukup besar untuk menampung sepuluh orang. Alaric dan Kael mulai mendayung, mengikuti arus sungai bawah tanah yang deras.
Selama perjalanan, Elara hanya diam. Ia menatap pantulan wajahnya di air yang gelap. Ia menyadari bahwa ia bukan lagi Elara yang ingin menikah dengan bangsawan kaya dan hidup tenang. Ia telah menjadi pusat dari konspirasi yang bisa menghancurkan sebuah peradaban.
"Alaric," panggil Elara pelan. "Jika kita sampai di sana... jika kita benar-benar membangun kekuatan baru... apakah kau akan tetap di sampingku meskipun aku harus menjadi sosok yang kau benci?"
Alaric berhenti mendayung sejenak. Ia menatap Elara dengan mata yang penuh pengabdian. "Elara, aku mencintaimu bukan karena kau seorang lady yang sempurna. Aku mencintaimu karena kau adalah satu-satunya orang yang berani menantang takdir yang busuk ini. Jika kau harus menjadi iblis untuk menghancurkan monster, maka aku akan menjadi bayanganmu yang paling gelap."
Menembus Kabut Avalon
Setelah berjam-jam melewati kegelapan, udara mulai berubah. Rasa lembap gua digantikan oleh bau segar laut dan aroma bunga lili liar. Di depan mereka, sebuah dinding kabut tebal berwarna putih mutiara menghalangi pandangan.
"Tahan napas kalian!" perintah Elara.
Saat perahu perak itu menyentuh kabut, relik di leher Elara dan pedang Alaric bersinar secara bersamaan. Kabut itu seolah-olah terbelah, memberikan jalan setapak di atas air yang tenang.
Di balik kabut, pemandangan yang menyambut mereka sangat luar biasa. Sebuah kepulauan dengan hutan hijau yang rimbun, bangunan-bangunan batu putih yang megah, dan sebuah pelabuhan yang dipenuhi dengan kapal-kapal perang yang memiliki desain yang jauh lebih maju daripada kapal kekaisaran.
Di dermaga, ratusan orang sudah berkumpul. Mereka mengenakan zirah gabungan antara gaya Lane dan Ravenhurst kuno. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria tua dengan bekas luka di wajahnya, memegang panji yang sudah lama dianggap punah: Matahari dan Serigala.
"Selamat datang di rumah, Grand Duke Alaric. Selamat datang, Nona Elara," pria tua itu berlutut. "Kami telah menunggu selama dua puluh tahun untuk hari ini."
Elara melangkah turun dari perahu, merasakan pasir putih di bawah kakinya. Ia menoleh ke arah Alaric dan tersenyum, sebuah senyuman yang penuh dengan janji kehancuran bagi musuh-musuh mereka di ibu kota.
"Mulai hari ini," suara Elara menggema di dermaga, "kekaisaran akan belajar bahwa mereka tidak hanya memburu dua orang buronan. Mereka sedang memicu kebangkitan raksasa yang akan menelan mereka semua."
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔