Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Arsa
Asha yang begitu shok hanya dapat berlutut di taman itu penuh keheningan. Yang bersuara hanyalah Cinta yang terus menerus memanggil namanya.
Matanya yang sudah sembab itu, kini harus mengeluarkan air mata untuk yang kedua kalinya lagi.
Tangannya yang bergetar itu secara perlahan meraih handphonenya yang terbaring di tanah, dengan sedikit lecet yang baru terbentuk.
"Cinta, Arsa beneran meninggal? Dia ada di mana sekarang?" tanya Asha pelan diiringi tangisan.
"Aku gatau, Asha. Tapi gw liat tadi kecelakaannya parah banget." Asha semakin bergetar tangannya, sekejap rasa sesal memenuhi seluruh isi hatinya.
"Ini semuanya salah gw, Cin. Kalo aja gw gak egois gak mungkin.. Gak mungkin Arsa bakalan kecelakaan" ungkap Asha dengan tangisan yang semakin lebih nyaring.
Hatinya begitu sesak membayangkan separah apa kondisi Arsa sekarang. Ditambah dia menyesali dirinya yang selalu saja egois ingin Arsa terus menerus yang memahami dirinya.
Ia menyadari bahwa lelah yang ada dalam pada diri Arsa sekarang, adalah karena Asha yang tidak pernah mau mengalah.
"Asha, gak ada yang tau bencana kapan datangnya. Lebih baik lu datang ke rumah sakit sekarang" nasehat Cinta yang sedikit menyadarkan Asha.
Asha lalu mengelap air matanya dan mematikan telpon dari Cinta tanpa sepatah kata apapun lagi.
Asha bangkit dari berlututnya dan berjalan dengan cepat keluar dari taman. Menaiki motor merahnya, lalu melaju menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Asha langsung berjalan menuju resepsionis, bertanya di manakah pasien bernama Kian Arsa di rawat.
"Di UGD mbak," jawab resepsionis itu. Dan Asha langsung pergi begitu saja menuju UGD.
Saat Asha berada di lorong rumah sakit dan telah berdiri tepat di depan UGD, dia melihat Cinta sedang menunggu sembari berdiri di depan pintu UGD.
Selain Cinta, dia juga melihat laki-laki berpakaian jas lainnya yang tengah duduk sembari terus-menerus menghentakkan kakinya ke lantai.
"Asha..." ucap Cinta yang menyadari kedatangan Asha, dia lalu bergerak cepat menuju Asha.
Mereka berdua lalu berpelukan begitu erat. Asha dan Cinta ketika itu berusaha agar tidak menangis histeris.
"Gimana Arsa, Cin?" tanya Asha dengan rasa penasaran yang begitu meluap-luap.
Cinta melepas pelukan, lalu berbalik melihat ke pintu UGD. Dia berjalan ke depan ruangan tersebut.
"Kondisinya parah banget, Sha. Kepalanya penuh darah, motornya hancur lebur..." jawab Cinta dengan tangan yang reflek menyentuh jendela pintu UGD.
Seolah-olah Cinta dapat membaca apa yang selanjutnya akan ditanyakan oleh Asha, dia berbalik dengan cepat, lalu menatap tajam kepada pria berjas itu. Diikuti oleh Asha.
Pria paruh baya itu menyadari ditatap dengan penuh tanda tanya, ia lalu menggeleng dan memegang kepalanya sendiri dengan penuh rasa penyesalan.
"Maaf, aku gak bersalah kan? Aku benar-benar gak berniat menabraknya" ucap pria paruh baya itu dengan suara yang sangat pelan, seperti berbicara kepada dirinya sendiri.
Asha lalu berjalan ke arah pria paruh baya itu dengan hati yang kesal karena pria itu malah sibuk mengelak.
Asha lalu berdiri di depan pria paruh baya itu. Pria itu yang menyadari bayangan Asha menutup badannya, mendongakkan kepala.
Tiba-tiba Asha menggenggam erat dasi pria itu, menarik kerah bajunya hingga membuat pria paruh baya itu terkejut seketika.
Cinta pun tak kalah terkejutnya, ia ingin menghentikan Asha tetapi semuanya sudah terlambat.
"Kasih tau gw, om, Arsa kenapa!" pinta Asha dengan nada yang sangat mengancam.
Pria itu meneguk salivanya dan merasa begitu takut dengan tatapan Asha yang sangat tajam.
Dia tau bahwa gadis di depannya sama sekali tidak segan-segan dengannya. Namun, pria yang masih shock itu hanya dapat terdiam dan melihat Asha dengan tatapan hilang harapan.
Kring...
Hp Asha yang berdering nyaring memecah keheningan lorong rumah sakit yang begitu sunyi.
Membuat mereka bertiga semuanya melihat ke arah sumber suara.
Asha mengeluarkan hpnya itu dari tasnya, melihat bahwa yang meneleponnya ternyata adalah ibunya.
Asha sama sekali tak berniat untuk mengangkat telpon ibunya itu. Dia dengan tatapan sinis melempar hpnya itu ke tangan Cinta yang tengah memandanginya.
"Cinta, bilang aja kalo gw nginap di rumah lu dan udah tidur" pinta Asha kepada Cinta. Lalu kembali melihat ke arah pria itu.
Cinta menangkap hp Asha dengan sempurna, lalu mengangguk pelan mengabulkan permintaan Asha.
Ia lalu pergi dari hadapan Asha dan pria tersebut dengan langkah buru-buru.
Pria itu lagi-lagi menundukkan kepalanya dan terlihat tidak ingin mengatakan apa-apa.
Asha tak memahami bahwa pria itu juga sedang dilanda ketakutan dan penyesalan yang begitu besar.
"Aku baru cerai dengan istriku sebulan lalu, padahal kami punya satu anak perempuan yang masih kecil, namanya Naya" ungkap pria paruh baya itu dengan suara yang pelan.
Asha yang meskipun saat itu kesal, memutuskan untuk menahan amarahnya dan memilih untuk mendengar cerita pria tersebut.
"Aku sangat menyayangi Naya, dan selalu bekerja keras untuknya. Tapi, aku dipecat hari ini dan pembayaran mobil juga udah nunggak," Air mata pria itu turun secara perlahan, diikuti isakan tangis.
"Saat aku pikir Naya adalah tempat aku untuk menghilangkan beban, aku melihatnya dia memanggil pria lain dengan kata 'papa'."
Pria itu lalu menatap mata Asha dengan tatapan yang penuh kesedihan dan air mata yang membasahi seluruh wajahnya.
"Maaf, maafkan aku, nak. Aku melampiaskan kesedihanku dengan bermobil kencang, tetapi... Tapi aku malah menabraknya..."
"Berakhir sudah kehidupanku."
Mata Asha terbuka lebar, tanpa sadar ia mengambil beberapa langkah mundur. Menunduk, lalu duduk di kursi tunggu UGD.
Kedua tangannya menutupi wajahnya, dia benar-benar tidak tau sebenarnya siapa yang berhak untuk disalahkan.
Pada nyatanya, semua orang yang ada di ruangan saat ini: baik Dia, Arsa, dan pria itu, semuanya sama-sama mengalami masalah yang menyakitkan.
"Semua ini salahku..." kata Asha pelan, lalu akhirnya sunyi kembali menjadi raja yang hanya diiringi suara tangis pinta maaf dari pria itu.
Lagi-lagi Asha hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri untuk kesekian kalinya.
Dia tidak pernah menyangka bahwa dari masalah sekecil kecemburuan, sampai mempertaruhkan nyawa Arsa seperti ini.
Ia berpikir bahwa: andai saja masalah itu tidak pernah terjadi, tidak mungkin dua orang yang ada di sekitarnya sekarang kehilangan masa depan.
🌷🌷🌷🌷
'Gw di mana?' Batin Arsa dengan penuh tanda tanya. Ia merasa begitu berat untuk dapat membuka matanya.
'Oh yaa... Asha. Gw harus ketemu dia sekarang. Dia pasti lagi nunggu gw' Arsa langsung teringat dengan janji pertemuannya dengan Asha.
Arsa berusaha membangunkan badannya, tetapi ia sama sekali tidak bisa bergerak.
Dalam bayang-bayang pandangannya dan samar-samar suara melengking yang terdengar di telinga, ia berusaha bangkit namun tak satupun anggota tubuhnya bisa ia gerakkan.
"Kok ramai banget?" Saat mata Arsa telag terbuka sedikit, ia melihat bayangan orang yang ramai-ramai mengelilinginya.
"Suara ambulan..." ucapnya pelan tatkala suara ambulan terdengar begitu menyeramkan di telinganya.
'Ohh yaa... Gw kecelakaan setelah mencoba menyelip mobil. Apakah gw sekarang bakalan mati?' tanya Arsa dalam pikirannya sendiri.
Ia tiba-tiba merasakan rasa kantuk menyerangnya begitu hebat, ia ingin melawannya, tapi pada akhirnya dia memasrahkan dirinya sendiri.
Yang indra perasanya bisa rasakan hanyalah di mana ia seperti tenggelam ke dalam lautan yang sangat dingin, dan begitu dalam.
'Mama...' panggil Arsa kepada sosok yang sudah lama tiada sejak ia kecil dahulu.
'Aku gamau mati dulu. Aku masih punya cita-cita yang harus aku wujudkan, dan...'
'Asha... Aku mau bilang sama dia kalau aku—' saat ia telah mengingat apa yang ingin dia katakan kepada Asha, tiba-tiba ia terhenti karena sesuatu seperti memeluknya begitu erat.
Arsa merasakan kehangatan yang begitu dalam, seperti sebuah kasih sayang yang sangat tulus.
Dia mengingat rasa hangat ini, ini adalah rasa hangat dari pelukan yang selama ini dia rindu-rindukan.
Yaitu, pelukan ibunya.
"Kamu pasti lelah, anakku sayang. Tidurlah, lupakan saja semua rasa sakit ini" ucap ibu Arsa itu dengan senyuman penuh kasih sayang.
Ibu arsa itu lalu melepaskan pelukannya, ia mendorong anaknya itu semakin jatuh ke dasar lautan.
Arsa semakin tenggelam begitu dalam hingga ia yang matanya terbuka, tak bisa melihat lagi permukaan.
"Ibu... Asha..." panggil Arsa dengan air mata yang mengalir.
🌷🌷🌷🌷
Saat Asha tengah merenungi kesalahannya, tiba-tiba seorang pria paruh baya lainnya muncul dari arah lorong bersama Cinta.
"Asha" panggil Cinta kepada Asha yang tak menyadari kehadiran dua orang baru itu.
Asha mendongakkan kepalanya, ia lalu melihat seorang pria paruh baya yang condong tua berdiri di samping Cinta.
Pria itu memiliki perawakan yang kekar, rambut yang rapi dan klimis, serta brewok. Tapi, yang paling menarik perhatiannya adalah pria itu yang mirip sekali dengan Arsa.
"Perkenalkan, dia ayahnya Arsa" ucap Cinta.
Pria itu lalu melihat tajam mata Asha, hingga membuat Asha merasa tidak nyaman dengan aura intimidasi itu dan mengalihkan pandangan.
Ayah Arsa itu lalu melihat ke pelaku yang menabrak anaknya dengan tatapan penuh amarah.
"Jadi... Dia yang menabrak Arsa?" tanya ayah Arsa dengan suaranya yang berat.
Cinta yang melihat suasana yang begitu tegang ini menyadari bahwa sebentar lagi sebuah masalah yang lebih besar akan segera muncul.
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷
Wehhh sebenarnya apa ya yang akan terjadi selanjutnya? Ayah Arsa yang tiba tiba muncul, lalu Arsa yang melihat ibunya? Wadehelnahhhh
Penasaran kan? Yuk lgsung tinggalin like dan juga vote. Stay tune yaaa 😁.
Follow ig author ya!
@Jaaparr.
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku