Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.
Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.
Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.
Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.
Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penegak Hukum
“Tidak masalah… sungguh, tidak masalah…”
Pria berambut mohawk itu gemetar laksana daun kering diterpa badai. Tatapannya berulang kali mencuri pandang ke arah sosok di hadapannya—Fauzan Arfariza, pemuda yang barusan menjelma seperti palu takdir. Dengan tangan gemetar ia merogoh saku satu per satu, termasuk milik tiga rekannya yang masih tergeletak. Lembaran-lembaran uang kusut terkumpul di telapak tangannya, tak lebih dari empat atau lima juta Rupiah, namun baginya itulah harga kebebasan.
“Bapak… Kakak… ini semua yang kami punya,” ucapnya terputus-putus. “Bolehkah kami pergi sekarang?”
Fauzan menatap tumpukan uang itu dengan wajah datar. Sesungguhnya ia belum puas—bukan oleh jumlahnya, melainkan oleh rasa jengkel yang belum sepenuhnya padam. Namun sebelum kata-kata keluar dari bibirnya, seorang perempuan melangkah maju. Wajahnya sederhana, sorot matanya tegas namun hangat—Masni Mulyadi, ibunya.
“Anakku,” katanya lembut namun berwibawa, “cukupkan sampai di sini. Lepaskan mereka.”
Fauzan menarik napas panjang. Energi Vital di dadanya yang bergejolak perlahan mereda, seperti arus sungai yang menemukan muara. Ia mengangguk tipis. “Demi ibuku, urusan hari ini kita sudahi,” ujarnya dingin. “Sekarang enyahlah dari sini.”
Nada suaranya mendadak mengeras, bagai baja ditempa api. “Tapi ingat baik-baik. Jangan pernah lagi kalian datang ke kampung ini untuk memungut uang Keamanan. Jika aku melihat kalian sekali lagi, setiap perjumpaan akan berakhir dengan pelajaran yang sama. Mengerti?”
“Mengerti! Mengerti!” jawab mereka serempak, seperti narapidana yang baru saja menerima grasi. Dengan tergopoh-gopoh mereka bangkit, tertatih, lalu kabur meninggalkan tempat itu dalam keadaan memalukan.
Sorak kecil dan bisik syukur pun menyebar di antara para tetangga. Wajah-wajah yang selama ini tertunduk kini terangkat, mata-mata yang lelah kembali bercahaya.
“Anak muda, hebat sekali!” seru seseorang.
“Sudah lama kami menahan Energi Vital ini!” timpal yang lain.
“Bajingan-bajingan itu memang pantas diberi pelajaran!”
Pujian mengalir deras kepada Fauzan. Namun di balik kegembiraan itu, kegelisahan masih mengintai. Seorang pria paruh baya dari rumah sebelah melangkah maju—Irman Drajat, yang biasa dipanggil Paman Irman.
“Nak Fauzan,” katanya lirih namun tegas, “kau telah menimbulkan masalah besar. Orang-orang tadi tidak seberapa, tapi di belakang mereka ada Tony Ahda—orang yang menguasai ratusan preman. Menampar anak buahnya sama saja menampar wajahnya. Ia takkan membiarkannya berlalu. Pergilah cepat, sebelum bala bantuan datang.”
Mendengar itu, Masni Mulyadi tampak pucat. Ia menoleh cemas pada putranya. “Anakku, cepatlah pergi. Ibu akan menanggung semuanya di sini.”
Fauzan terkekeh kecil, senyum tenangnya seperti gunung yang tak goyah. “Ibu, bagaimana mungkin ibu menanggung ini semua?” katanya. “Mulai hari ini, biarkan anakmu yang berdiri di depan. Jangan khawatir. Mereka hanya gerombolan kasar, tak lebih.”
Paman Irman menggeleng, kekhawatirannya kian pekat. “Kau kuat, Nak Fauzan, Paman tahu. Tapi bisakah kau menghadapi sepuluh? Bagaimana dengan seratus? Anak buah Tony Ahda terkenal kejam. Dengarkan nasihat Paman—pergilah.”
Fauzan menghormati niat baik itu. Ia tersenyum, lalu berkata dengan keyakinan yang tak tergoyahkan, “Tenang. Hari ini aku memang pergi. Dan ibuku juga pindah bersama aku.”
Ia menoleh kepada Masni. “Ibu, ikut aku.”
“Ke mana?” Masni terkejut. “Berapa lama? Mengapa tidak kau saja yang pergi? Ibu bisa tinggal. Ibu hanya perempuan tua—mereka takkan berbuat apa-apa.”
Dalam benak Masni, putranya telah menantang Tony Ahda dan kini harus bersembunyi sementara. Ia tak tahu bahwa langkah yang diambil Fauzan bukan pelarian, melainkan awal dari penataan takdir.
“Ibu,” kata Fauzan lembut, “kita tidak lari. Ada hal penting yang harus ibu lakukan. Dan kita tidak akan kembali ke sini lagi.”
“Tidak kembali?” Masni tercekat. “Tapi sewa rumah kita masih setahun!”
“Tak perlu dipikirkan,” jawab Fauzan enteng. “Serahkan saja rumah ini pada Paman Irman.”
Ia tak lagi peduli pada beberapa juta Rupiah. Lagipula, selama bertahun-tahun Paman Irman telah banyak membantu ibunya. Fauzan menyerahkan uang yang tadi dikumpulkannya.
“Uang ini berasal dari keringat pahit para tetangga,” katanya lantang. “Bagikan kepada semua sebagai ganti rugi kecil.”
Paman Irman menolak, “Ini uangmu, Nak Fauzan. Kami tak pantas menerimanya. Dan soal rumah, biar Paman ganti sewanya.”
“Tak perlu,” Fauzan menyelipkan kunci rumah dan uang itu ke tangan Paman Irman. “Anggap saja titipan.”
Ia lalu menoleh. “Ibu, mari kita pergi.”
“Sebentar,” Masni menggeleng. “Ibu harus berkemas.”
“Apa yang perlu dikemas?” Fauzan tersenyum. “Baju-baju lama itu tak usah. Nanti kita beli yang baru.”
Masni menghela napas, sifat hematnya sulit dilepaskan. “Tidak bisa. Banyak yang harus dibawa. Kau belum beristri—punya uang bukan berarti boleh boros.”
Ia mengambil tas kanvas besar dan masuk ke rumah. Fauzan menunggu di luar. Rumah itu sempit, bahkan dua orang terasa berdesakan. Angin sore membawa debu dan kenangan.
Tak lama, ponsel Fauzan berdering.
“Kau di mana, Fauzan Arfariza?” suara di seberang terdengar tajam—Karaeng Fatimah.
“Aku di kampung kota,” jawabnya santai. “Ada apa?”
“Tentu ada urusan! Kirim lokasimu. Aku ke sana sekarang!”
“Baik.”
Ia mengirimkan lokasi tanpa ragu. Ia tahu gadis itu datang dengan bara amarah. Karaeng Fatimah baru saja menyelesaikan kasusnya. Setelah mengamankan kepala besi dan kelompoknya, ia menyadari bahwa dirinya dijadikan tameng. Semua keributan itu bermuara pada Fauzan.
Bagi orang lain, mungkin ia akan diam. Namun Fauzan adalah “Paman” paling menyebalkan—orang yang menyebabkan mobilnya remuk. Energi Vital di dadanya tak tertahankan. Ia melesat menuju kampung itu.
Mobil sportnya meraung seperti angin badai, namun jalanan buruk memaksanya berhenti. “Sialan,” gumamnya. “Tempat apa ini?”
Ia berjalan masuk dengan wajah merah padam. Dari kejauhan, Fauzan melihatnya dan nyaris tertawa.
“Hei, Fauzan!” bentaknya. “Kau harus jelaskan apa yang terjadi kemarin!”
Fauzan menyahut ringan, “Apa? Bukankah aku menyelamatkan kakekmu, lalu menjadi sejajar dengannya? Artinya aku sekarang pamanmu.”
“Berhenti bercanda!” Karaeng Fatimah mendesis. “Aku bicara soal preman-preman itu!”
“Oh, itu?” Fauzan mengangkat bahu. “Aku warga baik. Menolong orang itu kewajiban. Kau tak perlu berterima kasih.”
“Terima kasih katamu?” Ia mendidih. Jaket kulitnya menegaskan sosoknya yang tegas. “Mereka jelas mengejarmu, tapi aku yang menanggung akibatnya!”
Fauzan tersenyum nakal. “Kau salah. Aku tak menyuruh mereka merusak mobilmu, dan aku tak memintamu membelaku. Kau maju sendiri. Apa hubungannya denganku?”
“Kau… penjahat licik!”
Amarahnya tak menemukan muara. “Aku tak peduli. Kau ikut aku ke kantor. Kita jelaskan!”
“Tidak bisa,” jawab Fauzan tenang. “Aku tak melanggar hukum. Lagipula, hubungan kita istimewa. Aku pamanmu.”
Panggilan itu membuat api kian berkobar. Wajah Karaeng Fatimah memerah. “Kau ikut atau tidak? Jika tidak, aku borgol kau sekarang!”
Di bawah langit senja, ketegangan mengental. Tak seorang pun tahu bahwa pertemuan ini adalah awal dari gelombang besar—sebuah barisan akan dihimpun, dan kejahatan yang selama ini bersembunyi akan diadili.
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT