Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------
Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.
Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.
Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32
Lampu flash kamera masih membekas di penglihatan Arthur Ford saat ia melangkah menyusuri koridor marmer Gedung Putih yang dingin. Di telinganya, pujian dari para petinggi negara masih terngiang, kembali menobatkannya sebagai pahlawan selama tujuh tahun berturut-turut.
Namun, semua itu lenyap seketika seperti asap yang tertiup angin saat ia merasakan getaran di saku jas mahalnya.
Arthur merogoh ponsel pribadinya. Satu baris pesan singkat dari nomor yang seharusnya sudah terkubur bersama masa lalu muncul di layar.
[FROM: DON LORENZO]
"Selamat atas pidatonya, Arthur. Kau terlihat gagah di samping Presiden. Tapi apakah kau masih punya nyali yang sama seperti saat kau memintaku melenyapkan nyawa lima belas tahun lalu?"
Seketika Arthur terhuyung Langkahnya terhenti di tengah koridor yang sunyi. Dunia yang baru saja ia genggam dengan angkuh, kini terasa runtuh di bawah kakinya. Wajahnya pucat pasi.
"Tuan Direktur? Anda baik-baik saja?" tanya salah satu pengawal pribadinya yang menyadari perubahan drastis pada tuannya.
Arthur tidak menjawab. Ia mematikan layar ponselnya dengan tangan yang gemetar hebat, lalu bergegas menuju toilet terdekat. Begitu pintu tertutup, Arthur mencengkeram pinggiran wastafel.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin—sosok pahlawan negara yang sebenarnya adalah seorang pengecut dengan tangan yang berlumuran darah.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini sebuah panggilan masuk. Dengan napas yang tersengal, Arthur mengangkatnya.
"Halo, Arthur. Apa kau merindukan suara tangan kotormu?"
suara parau Lorenzo terdengar sangat nyata, diiringi suara denting koin kasino yang khas di latar belakang.
"Jangan tutup teleponnya, atau detik ini juga, semua bukti akan mendarat di meja kerja putra mahkota,dari pria yang kau habisi nyawa ya demi ambisimu."
"Apa maumu Lorenzo?
Suara tawa menggelegar terdengar di ujung telepon. "Aku hanya mengingatkanmu jika bara yang kau genggam, suatu saat akan membakar mu hingga kau menjadi abu tanpa sisa."
Arthur memutus sepihak panggilan itu, ia memejamkan mata rapat-rapat, keringat dingin membanjiri pelipisnya. Di jantung kekuasaan Amerika, sang Direktur CIA baru saja menyadari bahwa ia hanyalah seorang tawanan dari masa lalunya sendiri.
Hingga sampai di hotel Arthur Ford masih gemetar saat ia membuka pintu Presidential Suite-nya. Kesunyian ruangan itu justru terasa mencekik karena tak ada Alice di sampingnya yang biasanya menenangkan badai di kepalanya. Ia berjalan mondar-mandir, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang masih tak karuan.
"Lorenzo..." gumamnya, suaranya parau. "Lima belas tahun kau hidup dari uangku di meja judimu, dan sekarang kau berani menggigit tangan yang memberimu makan?"
Arthur menelpon Harry, asisten pribadinya yang paling taktis. Tak lama pintu terbuka, Harry masuk dengan langkah sigap. "Ada masalah, Sir?"
"Harry, periksa catatan rahasia pengeluaran kita. Apa aku pernah melewatkan sebulan saja tanpa mengirimkan 'upeti' ke kantong Lorenzo?" tanya Arthur dengan nada menuntut.
Harry membuka tabletnya, jemarinya bergerak cepat menelusuri mutasi perbankan sang direktur. "Tidak, Sir. Terakhir bulan lalu, satu juta dolar masuk ke rekening cangkangnya di Kepulauan Cayman secara rutin."
"Kurang ajar!" Rahang Arthur mengeras, matanya berkilat penuh amarah. Kesadaran bahwa ketenangannya mulai terusik oleh tikus Las Vegas itu membuatnya merasa terhina. "Kalau begitu, hubungi Ethan Alexander melalui jalur manapun. Katakan aku ingin bertemu. Buat janji temu dengannya secara pribadi!"
"Maaf sir, bukankah kita sudah sering berusaha menemui Ethan tapi selalu di pintu gerbang?" jawab Harry ragu.
"Itu urusanmu! Kali ini aku tidak mau tahu. Kau harus bisa membuat janji temu dengannya. Tidak mungkin dia terus menolakku jika kau menyebutkan bahwa aku adalah sahabat dekat ayahnya!" bentak Arthur.
"Akan saya usahakan, Sir."
"Aku butuh kepastian, Harry. Aku membayarmu bukan untuk mendengar janji palsu atau laporan kegagalan!" Bentak Arthur sebelum akhirnya sang asisten meninggalkan kamarnya.
***
Sementara itu, ribuan mil jauhnya, di sebuah ruang kerja yang temaram dan hanya diterangi cahaya dari monitor-monitor besar, seorang pria duduk dengan angkuh. Ia baru saja menerima laporan dari asistennya mengenai dua orang penting yang mencoba menembus protokol keamanannya di New York.
"Arthur belum menyerah juga ingin menemuiku?" Pria itu tertawa keras, sebuah tawa dingin yang sanggup membekukan udara di sekitarnya. "Dia ingin bertemu anak dari sahabat lamanya? Lucu sekali."
"Ada satu lagi yang menarik perhatian kami, Tuan,"
"Katakan."
"Pria bernama Don Lorenzo juga bersikeras ingin menemui Anda. Email-nya baru saja masuk melalui server kita di New York."
"Don Lorenzo?" Pria itu menyipitkan mata, mengetuk-ngetukan jemarinya di atas meja. "Aku seperti pernah mendengar nama itu, seperti tidak asing."
"Setelah saya telusuri, dia adalah mafia kelas kakap dari Las Vegas, Tuan. Catatan kriminalnya sangat kotor; mulai dari perjudian ilegal hingga perdagangan manusia dan prostitusi tingkat tinggi," lapor asistennya.
Pria itu tersenyum miring. "Selidiki lebih dalam tentang Don Lorenzo sebelum aku memutuskan untuk menemuinya. Cari tahu rahasia apa yang ia simpan hingga ia merasa berhak menemui seseorang yang bahkan publik pun hanya mengenal namanya saja tanpa tahu orangnya."
"Baik, Tuan."
Pria itu menyandarkan tubuhnya, menatap layar yang menampilkan wajah Arthur Ford yang sedang berpidato di TV. "Bergeraklah, Arthur. Bergeraklah lebih dekat menuju lubang jarumku. Aku sudah tidak sabar menyambut mu.”
***
Pagi yang dingin di Surrey. Di dalam ruang makan yang hangat oleh perapian, usia kehamilan Megan yang menginjak bulan ketiga mulai sedikit terlihat di balik gaun tidurnya. Ia melangkah malas menuju meja makan, di mana Bradley sudah duduk dengan tenang, baru saja menyiapkan segelas susu hangat untuknya.
Tanpa sepatah kata, begitu Megan sampai di depan gelas itu, ia menyapunya hingga jatuh ke lantai.
PRANG!
Pecahan kaca dan tumpahan susu putih mengenai sepatu kulit serta celana mahal yang dikenakan Bradley.
"Aku tidak sudi menyentuh apa pun dari tangan kotormu," desis Megan tajam.
Bradley terdiam sejenak, ia memilih menghela napas panjang untuk meredam iblis di kepalanya. "Bibi!" panggilnya lembut.
Bibi Martha segera datang dengan wajah cemas. "Ada apa, Tuan?"
"Buatkan susu baru untuk Megan. Pastikan dia meminumnya," perintah Bradley datar.
"Bukankah tadi Anda sudah membuatnya sendiri, Tuan?" tanyanya ragu, namun segera terdiam saat melihat kilat peringatan di mata Bradley dan gelas yang sudah pecah. "Baiklah, segera saya buatkan."
Megan tak peduli. Ia menarik piring berisi rendang, makanan Asia. Sejak tinggal bersama Bradley ia jadi sering menikmati makanan yang tak pernah ia makan sebelumnya. Meski ia membenci Bradley, lidahnya seolah tak bisa menolak rempah-rempah kuat itu.
"Apa kau menyukainya, Meg?" tanya Bradley, menatap Megan yang makan dengan lahap namun penuh kebencian.
Megan tak menjawab, ia terus mengunyah hingga Peter masuk dengan langkah terburu-buru. "Tuan, persiapan pesta pernikahan sudah sembilan puluh persen selesai. Seluruh undangan VIP sudah mengonfirmasi kehadiran."
"Kau dengar itu, Meg?" Bradley menyandarkan punggungnya, menatap Megan dengan senyum kemenangan. "Persiapkan dirimu. Besok kau akan resmi menjadi Nyonya Brown, dan bayi di rahimmu itu akan mewarisi seluruh kekuasaan serta kekayaanku."
"Terserah mau kau apakan anak itu saat lahir nanti, Brown! Aku tidak sudi menyentuhnya, apalagi memberinya ASI dari tubuhku sendiri!" balas Megan lantang.
BRAAAKKK!
Bradley menggebrak meja makan hingga alat makan berdenting nyaring. "Jaga bicaramu, Megan Ford!" raung Bradley, amarahnya memuncak mendengar penolakan Megan terhadap darah dagingnya sendiri.
Namun, sebelum amarah itu meledak lebih jauh, ponsel Bradley di atas meja bergetar. Sebuah nama muncul di layar, menyala terang dalam keheningan.
ALICE.
Mata Megan terpaku pada nama itu. Ia menatap layar, yang menampilkan foto Alice, lalu beralih menatap Bradley dan Peter yang mendadak membeku.
Kecurigaan besar langsung menghampiri benak Megan, seorang agen yang tak pernah kehilangan instingnya.
"Alice?" Megan tertawa sinis. "Sekretaris sang direktur , yang selalu kau sebut daun muda Ayahku ... ada hubungan apa kau dengan wanita itu, Brown? Apa kau juga sudah membelinya seperti kau membeli para pejabat di pelabuhan?"
NB. Tinggalkan jejak ya guys..Makasih.