NovelToon NovelToon
Exclusive My Executor

Exclusive My Executor

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mengubah Takdir
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

​Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.

Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".

​Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.

Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# Bab 03: Kepribadian Eksekutor

Reggiano berdiri mematung di balkon lantai 12 itu. Angin malam bertiup kencang, memainkan ujung jasnya, namun tanaman-tanaman di dalam pot itu tetap tegak, seolah-olah mereka memiliki gravitasi sendiri yang tidak terpengaruh oleh cuaca buruk kota ini.

​"Lantai dua belas..." gumamnya pelan. Matanya menyapu dinding luar gedung yang licin. Tidak ada tumpuan, tidak ada tali. Hanya dinding kaca dan beton yang mustahil dipanjat manusia biasa.

​Ia kembali masuk ke dalam, melihat Elena yang tampak jauh lebih hidup. Adiknya itu kini sedang sibuk menonton TV, sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak ia lakukan.

​"Kak, Nona Florence juga meninggalkan ini," Elena menunjuk ke sebuah wadah keramik kecil yang berisi sup krim jamur yang masih mengepul panas.

Aroma gurih mentega dan rempah-rempah segar langsung memenuhi ruangan, menyingkirkan sisa-sisa bau mesiu yang sedari tadi menempel di pakaian Reggiano.

​Reggiano mendekat, namun tangannya tetap waspada. Sebagai seorang eksekutor, menerima makanan dari orang asing adalah sebuah kesalahan fatal.

"Dia... hanya menitipkan ini, Elena? Dia tidak mengatakan hal lain?"

​Elena tampak berpikir sejenak sambil menuangkan sup ke mangkuk. "Dia hanya bilang kalau Kakak sering lupa makan karena terlalu sibuk 'membersihkan' kota. Dia bilang, sup ini bisa membantu menghangatkan hati yang mulai membeku."

​Reggiano terenyak. Membersihkan kota. Istilah itu sering digunakan di organisasinya sebagai keindahan untuk pembunuhan.

Apakah Seraphine menggunakan kata itu secara harfiah, atau dia memang tahu apa yang Reggiano lakukan di balik bayang-bayang?

​"Kau tidak memakan supnya, Kak?" tanya Elena, menarik Reggiano kembali ke realita.

​"Ah, iya. Aku akan makan setelah mandi," jawab Reggiano singkat.

​Setelah membersihkan diri dan mengganti jas mahalnya dengan kemeja rumah yang santai, Reggiano duduk di depan meja makan. Ia menatap sup krim itu dengan tatapan menyelidik. Ia mengambil sesendok kecil, mencicipinya dengan ragu.

​Seketika, rasa hangat yang luar biasa menjalar dari tenggorokannya ke seluruh tubuh. Itu bukan sekadar sup enak. Rasanya seperti... nostalgia dan Reggiano merasa seperti kembali ke masa kecilnya, sebelum ia dipaksa memegang senjata, sebelum dunianya berubah menjadi abu-abu.

​"Enak, kan?" Elena tersenyum, memperhatikan kakaknya yang terpaku.

​"Ya... sangat enak," jawab Reggiano jujur. Namun, di balik pengakuan itu, ia merasa terancam. Bagaimana mungkin seseorang bisa memberikan rasa aman hanya melalui semangkuk sup?

​Tengah malam tiba. Elena sudah kembali tidur dengan bunga melati misterius di samping bantalnya. Reggiano, yang masih belum bisa tidur, berjalan ke arah meja kerjanya. Ia membuka laci rahasia dan mengeluarkan ponsel pribadinya.

​Ia melihat pesan dari informannya, Vince, yang tadi sore mengirimkan data kosong tentang Seraphine. Reggiano mengetik sebuah perintah baru.

​"Cari tahu tentang 'Antonio Carlos' dan 'Cecilia Florence'. Pastikan di mana mereka dimakamkan."

​Nama-nama orang tua Seraphine yang tertera di laporan tadi adalah satu-satunya petunjuk nyata. Jika Seraphine bisa dibantu untuk hal ini, maka orang tuanya pasti meninggalkan jejak fisik di dunia ini.

​Reggiano kemudian berjalan ke jendela balkon. Ia memetik selembar daun dari tanaman yang ditinggalkan Seraphine. Ia memperhatikannya di bawah lampu meja. Struktur daunnya sangat sempurna, terlalu sempurna hingga tidak terlihat seperti akan layu.

​Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi. Bukan dari Vince, tapi dari nomor internal Organisasi.

​"Herbert. Besok pagi, pukul 07.00. Hadir di pusat. Ada laporan tentang kegagalan tim pengintai sore tadi. Mereka ditemukan dalam keadaan tidak sadar di depan Flower’s Patisserie. Kau satu-satunya yang ada di sana sebelum kejadian."

​Reggiano mematikan ponselnya. Ia memijat pangkal hidungnya. Masalah ini mulai membesar lebih cepat dari yang ia perkirakan. Organisasi mulai mencium bau "Aneh", dan jika mereka memutuskan untuk menyelidiki Seraphine dengan cara mereka yang kasar, Reggiano tahu kota ini tidak akan lagi terasa sama.

​Ia menatap kotak biskuit mawar di atas meja. Sebuah dilema besar mulai tumbuh di kepalanya: Apakah ia harus melindungi Seraphine dari organisasinya, atau justru melindungi organisasinya dari sesuatu yang tersembunyi di balik senyum wanita itu?

​Satu hal yang pasti, Reggiano mulai menyadari bahwa Seraphine Florence bukanlah mangsa. Dan mungkin, dia juga bukan sekadar teman.

......................

Pukul 06.00 pagi. Langit timur kota masih berupa gradasi ungu gelap dan biru kelabu. Embun pagi menempel di kacamata perak Reggiano saat ia keluar dari mobilnya. Kawasan pertokoan masih mati, lampu-lampu jalan berkedip sekarat, dan satu-satunya tanda kehidupan adalah cahaya remang yang memancar dari balik jendela kaca Flower’s Patisserie.

​Reggiano tidak datang untuk membeli roti. Ia datang sebagai seorang pria yang tahu bahwa badai besar dari Organisasi akan segera menghantam tempat ini.

Di balik jasnya, ia merasakan beban senjatanya, sebuah pengingat akan dunia nyata yang penuh kekerasan.

​Ia mencoba mendorong pintu toko. Ternyata tidak terkunci.

​Ting.

​Suara lonceng pintu terdengar sangat nyaring di tengah kesunyian pagi. Reggiano melangkah masuk dengan sangat pelan, hampir tanpa suara, mengikuti insting predatornya. Aroma pagi ini berbeda, bukan mentega atau kayu manis, melainkan bau hutan yang sangat basah dan wangi nektar yang manisnya hampir menusuk paru-paru.

​"Nona Florence?" panggilnya dengan suara rendah.

​Tidak ada jawaban.

Namun, dari balik lemari kue besar di sudut ruangan, terdengar suara bisikan. Reggiano berhenti, menyandarkan punggungnya pada pilar kayu, mencoba mendengarkan.

​"Sabar... sebentar lagi," suara Seraphine terdengar begitu lembut, namun sedikit kasar dan itu nada yang belum pernah Reggiano dengar sebelumnya.

"Dia akan datang lebih awal hari ini. Kau harus bersembunyi di bawah akar, jangan biarkan dia melihatmu. Dia belum siap."

​Reggiano mengerutkan kening.

Dia? Siapa yang dimaksud Seraphine? Apa Dirinya?

​Reggiano perlahan mengintip dari balik celah lemari kue. Ia bisa melihat bayangan Seraphine di dinding. Wanita itu sedang berlutut di lantai, tubuhnya condong ke arah sudut gelap di bawah etalase kaca yang biasanya berisi deretan macaron.

​"Makanlah yang banyak," bisik Seraphine lagi.

krrrkk... krrrkk...

Terdengar suara yang aneh, seperti suara kayu yang retak atau gesekan sisik di atas lantai keramik. Reggiano mencoba menyesuaikan matanya dengan kegelapan di balik lemari itu, namun ia tetap tidak bisa melihat apa pun selain kegelapan yang pekat, sebuah kegelapan yang seolah bergerak-gerak, menelan cahaya lampu toko.

​Tiba-tiba, suara gesekan itu berhenti.

​"Tuan Herbert," suara Seraphine mendadak kembali normal, ceria dan ringan. "Anda datang lebih awal dari burung merpati saya."

​Reggiano tersentak kecil, ia langsung berdiri tegak dan melangkah keluar dari balik pilar, berpura-pura baru saja masuk. Seraphine bangkit dari posisinya yang berlutut sambil menepuk-nepuk celemek nya yang sedikit berdebu. Wajahnya berseri-seri, sama sekali tidak menunjukkan jejak rahasia apa pun.

​"Nona Florence, pintunya terbuka, jadi saya masuk," ucap Reggiano, mencoba menetralkan detak jantungnya. Matanya tetap melirik ke sudut gelap di bawah lemari kue tadi, namun sekarang tempat itu tampak benar-benar kosong, hanya ada bayangan debu biasa.

​"Tentu saja, pintu ini selalu terbuka untuk anda," sahut Seraphine. Ia berjalan mendekati konter, membawa sebuket bunga lavender segar.

"Tapi anda terlihat sangat tegang. Apa ada sesuatu yang ingin anda bicarakan sebelum kota benar-benar bangun?"

​Reggiano menarik napas panjang. Ia melangkah maju hingga hanya terhalang konter kayu di antara mereka.

"Nona Florence, saya tidak punya banyak waktu. Saya datang untuk memberi peringatan."

​Seraphine berhenti menata bunga. Ia menatap Reggiano, menunggu.

​"Orang-orang... dari kantor saya. Mereka mulai bertanya-tanya tentang toko ini. Kejadian kemarin dengan burung-burung itu... itu menarik perhatian yang salah," Reggiano memilih katanya dengan sangat hati-hati.

"Saya menyarankan anda untuk menutup toko ini selama beberapa hari. Pergilah berlibur karena kota ini sedang tidak aman bagi orang baik seperti anda."

​Seraphine terdiam sebentar, lalu ia tersenyum, sebuah senyum yang membuat Reggiano merasa seperti anak kecil yang sedang berusaha menakuti-nakuti orang dewasa.

​"Seseorang seperti saya?" tanya Seraphine pelan. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Reggiano, aromanya yang memabukkan kini begitu dekat.

"Dan menurut anda, saya ini orang yang seperti apa, Tuan Herbert?"

​Reggiano menatap mata cokelat Seraphine yang dalam. Untuk sesaat, ia merasa seolah-olah lantai di bawah kakinya berubah menjadi tanah yang bergetar.

"Seseorang yang... terlalu baik untuk hancur karena masalah yang tidak ada hubungannya dengan anda."

​Seraphine meraih tangan Reggiano yang berada di atas konter. Sentuhannya hangat, namun kali ini ada getaran aneh yang menjalar, seolah-olah tanaman di seluruh toko ini sedang bernapas seirama dengan sentuhan itu.

​"Terima kasih atas kekhawatiran anda, Tuan Herbert. Itu adalah hal termanis yang saya dengar hari ini," bisiknya.

"Tapi jangan khawatirkan saya. Khawatirkan lah diri anda sendiri. Pagi ini, di tempat yang akan anda kunjungi... jangan minum kopi yang mereka tawarkan."

​Reggiano membeku. "Kopi?"

​"Kopi itu akan terasa sangat pahit, bukankah paling enak itu teh yang saya siapkan," ucap Seraphine sambil melepaskan tangannya. Ia kemudian berbalik, mengambil sebuah croissant hangat yang baru saja ia keluarkan dari oven kecil di belakang.

"Bawalah ini. Ini akan menetralisir rasa pahit itu."

​Reggiano menerima bungkusan kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia ingin bertanya lebih banyak tentang siapa yang ia ajak bicara di balik lemari, tentang bagaimana ia tahu soal kopi di markas tapi suara klakson mobil di luar mengingatkannya pada waktu.

​"Saya harus pergi," ucap Reggiano singkat.

​"Hati-hati, Tuan Herbert," sahut Seraphine saat Reggiano mencapai pintu.

​Reggiano berhenti sejenak, namun ia tidak menoleh.

Hati-hati itu... Seraphine mengucapkannya dengan nada yang begitu natural, seolah ia akan menghadapi hal besar.

​Saat pintu tertutup dan Reggiano berjalan menuju mobilnya, ia tidak menyadari bahwa di balik etalase kaca toko, di tempat Seraphine berlutut tadi, sebuah akar tanaman yang sangat tipis dan berwarna perak perlahan-lahan merambat masuk kembali ke dalam sela-sela lantai keramik, menghilang tanpa jejak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!