Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Apa Rasta akan menyerah? Tidak! Dia tidak akan menyerah hanya karena ditolak satu kali. Rasta akan terus mengejar karena dia punya seribu cara untuk meyakinkan Viola lagi.
Rasta tahu, tidak mudah bagi Viola untuk menerimanya lagi. Tetapi Rasta yakin, suatu saat nanti mereka akan bersatu lagi. Pendar cinta yang dulu Rasta lihat di mata Viola, tidak sepenuhnya menghilang.
Meski Viola berusaha mati-matian menyembunyikannya, namun Rasta dapat melihat masih ada rasa yang tersisa untuknya. Mungkin Viola hanya ingin melihat Rasta lebih berjuang lagi, maka itu dia tidak langsung menerima Rasta.
Ya. Mungkin seperti itu, pikir Rasta.
Mereka bertiga check out dari hotel pagi-pagi sekali. Viola yang mendesak, karena dia harus cepat-cepat bersiap untuk berangkat ke restoran.
Rasta sudah bilang, Viola tidak perlu bekerja lagi. Viola cukup berada di rumah saja, menemani Vita seperti yang anak itu inginkan, dan Rasta yang akan menjamin semua biaya hidupnya sehari-hari. Rasta tidak akan membiarkan Viola, Vita, dan Sinta kekurangan uang.
Tetapi, bukan Viola namanya kalau nurut begitu saja. Viola tetep kekeuh harus berkerja, sebab tanggung jawab Rasta sekarang hanya terhadap Vita saja. Viola apalagi Sinta sudah bukan tanggung jawab Rasta lagi. Viola tidak mau menerima uang dari Rasta dalam bentuk apapun, kecuali itu untuk kebutuhannya Vita.
"Makanya kita nikah lagi, biar kamu nggak usah kerja. Kamu di rumah aja nemenin Vita, itu juga kan yang Vita mau." Rasta berkata santai. Mereka sedang dalam perjalanan pulang. Vita masih tertidur di pangkuannya Viola.
Viola menghela napas. "Thanks tawarannya, Ta." dia hanya merespon seperti itu.
"Aku serius, Vi."
"Dan aku juga serius sama jawabanku yang semalam." Viola membalas. Rasta diam, tidak menjawab apapun, dia tetep menyetir dengan tenang.
Mobil Rasta berhenti di depan. Dia turun lebih dulu, lalu membuka pintu di mana Viola duduk. Rasta mengambil Vita dari pangkuan mamanya, lalu menggendongnya hingga masuk ke dalam rumah.
"Kamu langsung pulang aja ya, Ta," suruh Viola setelah Rasta membaringkan Vita ke kamar tidurnya.
"Kamu mau berangkat ke resto, kan? Kenapa kita nggak bareng aja."
"Nggak. Aku mau berangkat sendiri aja."
Rasta menghela napas, pasrah, karena dia tidak bisa memaksa Viola. Atau Viola akan semakin membentangkan jarak lebih jauh daripada ini.
"Oke. Hati-hati ya nanti berangkatnya. Nanti siang aku mau ajak Vita ke resto boleh kan?" Rasta bertanya seraya menaikkan sebelah alisnya.
Viola terlihat kurang setuju. "Ntar anak-anak resto tau kalau aku mantan istri kamu. Nggak malu status dudanya terbongkar?" sindir Viola, dia tiba-tiba teringat perkataan Widia yang bilang bahwa semua karyawan restoran tidak ada yang tahu status Rasta sebagai duda. Mereka tahunya Rasta masih bujang ting-ting.
Rasta tergelak. "Ya biarin aja kalau mereka tau. Dunia justru harus tau kalau aku punya Vita..." Rasta tersenyum menyebalkan. "Dan kamu."
Viola memutar bola matanya. "ya terserah."
*
Setelah mengantarkan Viola dan Vita, Rasta pulang ke rumah. Baru saja mobil memasuki gerbang rumahnya, dada Rasta sudah ingin meledak lagi.
Kemarin cukup menenangkan bagi Rasta, karena dia menghabiskan waktu seharian hingga semalaman bersema Vita. Tetapi hari ini, Rasta tidak yakin dia bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Karena sekarang, Rasta benar-benar marah. Dan orang yang membuatnya marah bukanlah orang luar. Melainkan orang terdekatnya. Bahkan yang paling dekat dengan Rasta.
Rasta turun dari mobil, berjalan dengan langkah cepat, hingga ia membuka pintu rumahnya. Kebetulan, Liana sedang duduk di sofa dengan secangkir teh dan sepotong bolu di hadapannya.
"Rasta! Ya ampun, kamu ngagetin mama aja. Kamu ke mana aja dari kemarin malem nggak pulang? Mama hubungi nomer kamu juga nggak aktif. Mama telpon Gia, kata Gia kamu kemarin juga nggak datang ke resto. Kamu pergi ke mana, Ta?" Liana mencecar pertanyaan.
Wanita yang selalu menjaga penampilannya agar selalu terlihat elegan dan cantik itu, berjalan mendekati Rasta. Baru kemudian dia bisa melihat tatapan Rasta yang berbeda. Tatapan penuh kekecewaan.
"Ta? Ada apa?" Liana mengernyit.
"Kenapa, Ma?" Rasta bertanya dengan suara lirih dan hampa.
Liana semakin tidak mengerti. "Kenapa apanya, Ta? Kamu pulang-pulang kok jadi aneh sih?"
"Kenapa mama memisahkan aku sama Viola?"
Liana langsung terkejut. Sepasang matanya melebar penuh. Sangat tidak menyangka jika Rasta tiba-tiba akan menyebut nama wanita itu.
"Rasta ... Maksud kamu apa? Mama nggak ngerti."
Tangan Rasta terkepal. "Viola salah apa sama mama sampai-sampai mama menjebaknya hingga terlihat seolah dia sudah selingkuh di belakang aku dengan laki-laki lain?"
Liana yang tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan Rasta itu, semakin terkejut. Jantungnya berdetak kian kencang. Namun, dia tetap berpura-pura seolah tidak mengerti ucapan Rasta.
"Mama menjebak Viola? Kamu ngomong apa sih, Ta? Mama nggak ada jebak Viola, mama udah bilang malam itu mama mau nginep di rumah kamu, nemenin Viola, kasihan dia sendirian. Tapi begitu mama datang, mama malah lihat Viola lagi tidur sama laki-laki lain."
"Ceritanya nggak seperti itu!" sangkal Rasta, suaranya meninggi tanpa sadar. "Aku udah tau semuanya, mama nggak bisa mengelak lagi!"
Liana menggeleng. Dia mulai merasa takut.
"Laki-laki yang aku kira selingkuhannya Viola itu, namanya Yuda. Dia adalah laki-laki suruhannya Mama!" Rasta menambahkan. "Mama malam itu datang ke rumah, sengaja ngasih makanan yang udah dicampur sama obat tidur buat Viola. Terus mama merekayasa semuanya seolah-olah mama sudah memergoki Viola selingkuh. Iya, kan? begitu ceritanya?"
Liana tidak menyangka tiba-tiba Rasta tahu semua kenyataan itu. Namun, Liana tidak mengaku. Dia menggeleng, terus menyangkal semuanya.
"Mama nggak ngelakuin itu, Rasta! Kamu denger cerita itu dari mana?"
"Yuda sendiri yang cerita sama aku! Aku punya buktinya." Rasta mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan video yang Baim ambil secara diam-diam. Video pada saat Yuda menceritakan kebenaran itu kepada Rasta.
"Rasta .... " Liana kehilangan kata-kata setelah melihat video itu. Buktinya sudah kuat sekali. Ia tidak bisa menyangkal lagi, sebab Rasta tidak akan pernah memercayainya lagi.
Benar, waktu adalah saksi yang paling jujur. Seberapa rapatnya Liana menyembunyikan fakta itu, cepat atau lambat Rasta akan segera mengetahui segalanya.
Rasta menatap mamanya dengan tatapan kecewa bercampur luka. Kenyataan bahwa mama adalah orang yang sudah membuat pernikahannya dengan Viola hancur, membuat Rasta sangat sakit hati.
"Kenapa, Ma? Kenapa mama ngelakuin semua ini? Salah aku apa?"
Liana terisak. "Maafin mama, Ta," katanya tersedu-sedu.
"Mama tau nggak, dulu waktu aku menceraikan Viola, ternyata dia sedang hamil anak aku. Aku bukan hanya kehilangan Viola, Ma, tapi aku juga kehilangan moment di mana anak aku lahir. Dan aku hampir saja melewati masa kecilnya dia."
Liana tercengang. Dia tidak tahu jika pada saat itu, Viola sedang hamil.
"Vi-Viola sedang hamil?"
Wanita itu berhenti menangis sejenak, untuk kemudian terisak lebih hebat dari pada sebelumnya.
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu