NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:193
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: DIBURU DALAM KEGELAPAN

#

Lima menit setelah data terupload, ponsel Pixel mulai berdering gila gilaan. Notifikasi masuk bertubi-tubi. Dari media yang minta konfirmasi. Dari orang random yang udah lihat data. Dari...

"Sial," bisik Pixel sambil natap layar dengan mata melebar. "Sial sial sial. Ini viral. Ini udah viral dalam lima menit."

"Bagus," kata Hendrawan. "Semakin cepat menyebar semakin sulit Adrian untuk tutup."

Tapi Pixel nggeleng. "Kalian gak ngerti. Ini terlalu cepat. Terlalu... terlalu sempurna. Seolah ada yang udah nungguin data ini. Seolah ada yang udah siapin infrastruktur untuk sebarkan secepat mungkin."

"Maksudmu?" Arjuna mendekat.

"Maksudku mungkin kita gak sendirian," jawab Pixel sambil scroll layarnya yang penuh notifikasi. "Mungkin ada pihak lain yang pengen Adrian jatuh. Pihak yang punya resource lebih gede dari kita."

"Atau," Sari ikut nimbrung, suaranya pelan tapi tegang. "Atau ini jebakan Adrian. Dia biarkan kita upload data. Biarkan data menyebar. Karena dia punya rencana lebih besar yang kita gak tau."

Sebelum ada yang bisa jawab, jendela apartemen pecah. Peluru masuk, mengenai dinding tepat di atas kepala Arjuna.

"TURUN!" Hendrawan berteriak sambil tarik pistol dari balik jaketnya. "Mereka udah nemuin kita!"

Arjuna jatuh ke lantai, tarik Sari ikut. Pixel gulung dengan laptopnya, sembunyi di balik sofa yang tipis itu gak akan ngelindungin dari peluru tapi setidaknya bikin dia gak kelihatan.

Tembakan lagi. Dan lagi. Jendela jadi pecah semua sekarang, kaca berserakan di mana-mana.

"Berapa orang?" teriak Arjuna ke Hendrawan yang udah di deket jendela, ngintip keluar dengan hati-hati.

"Lima. Mungkin lebih. Di gedung seberang. Sniper." Hendrawan tembak balik tapi cuma warning shot. "Kita harus keluar dari sini. Sekarang. Lewat tangga darurat di belakang."

"Tapi laptop!" Pixel megang laptopnya erat. "Semua data backup ada di sini! Kalau kita tinggalin..."

"Bawa laptopnya! Tapi kita HARUS GERAK SEKARANG!"

Mereka merangkak ke pintu belakang. Keluar ke koridor yang gelap. Lampu berkedip-kedip, ada yang udah mati. Tangga darurat di ujung koridor, pintu merah yang terlihat nggak pernah dibuka dalam bertahun-tahun.

Hendrawan buka pintu itu, check dulu sebelum kasih sinyal aman. "Jalan!"

Mereka turun tangga dengan cepat tapi hati-hati. Arjuna di depan, Sari di tengah, Pixel di belakangnya, dan Hendrawan paling belakang buat jaga kalau ada yang ngejar dari atas.

Lantai dua puluh. Sembilan belas. Delapan belas.

Kaki Arjuna udah mulai pegel tapi dia gak berani berhenti. Napasnya tersengal. Di belakangnya dia denger Sari yang juga napasnya gak teratur, tapi gadis itu gak ngeluh. Gak minta berhenti.

Lantai lima belas. Empat belas.

Pintu di lantai tiga belas terbuka. Dua orang berjas hitam keluar dengan pistol udah teracung.

"STOP!"

Arjuna gak berhenti. Malah dia percepat. Langsung loncat tiga anak tangga sekaligus, badan ngebanting ke dua orang itu. Mereka jatuh bertiga, pistol mereka terlempar.

"ARJUNA!" Sari berteriak.

Arjuna gulat dengan salah satu dari mereka. Tinju ke rahang. Kena. Tapi yang satunya udah bangun, mau narik pistol cadangan.

DOOOOR!

Hendrawan nembak dari atas. Kena bahu orang itu. Dia jatuh dengan teriak kesakitan.

"Jangan berhenti! Terus turun!" Hendrawan berteriak sambil lari lewatin Arjuna yang masih di lantai. "Aku akan tahan mereka!"

"Ayah tidak!" Arjuna mau balik tapi Hendrawan udah dorong dia keras.

"PERGI! Jaga Sari! Itu perintah!"

Mata mereka bertemu. Di mata ayahnya ada sesuatu yang bikin dada Arjuna sesak. Sesuatu yang terlihat seperti... seperti pamit.

"Ayah..." bisiknya.

"Pergi, anakku," Hendrawan tersenyum. Senyum yang sedih tapi juga bangga. "Ayah akan menyusul. Janji."

Lalu dia tutup pintu tangga di lantai tiga belas. Kunci dari dalam.

"AYAH! TIDAK! BUKA PINTUNYA!" Arjuna pukul pintu tapi gak terbuka. Dari dalam terdengar suara tembakan. Banyak. Teriak. Suara Hendrawan yang berteriak "LARI! LARI SEKARANG!"

"Arjuna kita harus pergi," Sari tarik tangannya, air mata di pipinya. "Kita harus pergi atau pengorbanannya sia-sia."

"Tapi itu ayahku..." suara Arjuna pecah.

"Aku tau," bisik Sari. "Aku tau. Tapi dia mau kita selamat. Mau kita lanjutin apa yang dia mulai."

Pixel udah di bawah, teriak "AYO! Mereka datang dari bawah juga!"

Arjuna rasakan sesuatu mati di dadanya. Tapi dia gak punya waktu untuk berkabung sekarang. Dia pegang tangan Sari, lari turun lagi. Terus turun meski setiap langkah terasa seperti khianati ayahnya yang lagi berjuang sendirian di atas.

Lantai lima. Empat. Tiga.

Lantai satu. Lobby. Tapi lobby udah penuh dengan bodyguard Adrian. Sepuluh orang. Mungkin lebih.

"Belakang!" Pixel nunjuk pintu ke arah basement. "Ke parkiran!"

Mereka lari ke sana. Pintu basement terbuka ke tangga lain yang turun ke bawah tanah. Gelap. Dingin. Bau bensin dan minyak.

Parkiran basement penuh mobil tapi kosong manusia. Lampu neon yang berkedip bikin suasana kayak film horor.

"Mobilnya mana?!" Arjuna ngeliatin sekeliling. Gak ada mobil yang mereka kenal.

"Di sana!" Sari nunjuk van putih di pojok. "Itu van cadangan Pak Hendrawan! Dia pernah tunjukin aku!"

Mereka lari ke van. Pixel langsung coba buka tapi terkunci.

"Kuncinya! Siapa yang pegang kunci!"

"Pak Hendrawan," jawab Arjuna. Lalu dia sadar. Ayahnya yang pegang kunci. Ayahnya yang sekarang entah hidup atau mati di lantai tiga belas.

"Sial," Pixel mulai otak-atik kunci dengan kawat yang dia ambil dari tasnya. "Beri aku tiga puluh detik..."

Pintu basement terbuka. Bodyguard masuk. Lima orang. Pistol teracung.

"KALIAN TIDAK KEMANA-MANA!"

Arjuna berdiri di depan Sari dan Pixel. Tangan kosong. Gak ada senjata. Gak ada apa-apa kecuali tubuhnya sendiri.

"Kalian mau kami?" teriaknya. "Ayo! Ambil!"

"Arjuna jangan..." Sari coba tarik dia tapi Arjuna lepas.

Bodyguard maju. Arjuna bersiap untuk fight yang dia tau gak akan dia menang.

Tapi tiba-tiba ada suara mesin mobil. Dari belakang bodyguard itu. Mobil sedan hitam melaju kencang. Nabrak dua bodyguard sampe terlempar. Yang lain loncat minggir.

Mobil berhenti. Pintu terbuka.

"NAIK! CEPAT!" suara familiar.

Bu Lastri.

Bu Lastri duduk di kemudi dengan wajah yang biasanya lembut sekarang terlihat keras. Tegas.

"Bu?!" Arjuna gak percaya tapi gak punya waktu untuk pertanyaan. Dia buka pintu belakang, dorong Sari masuk, Pixel ikut dengan laptopnya. Arjuna masuk terakhir.

Bu Lastri injek gas sebelum pintunya sempet tertutup. Mobil melaju dengan kecepatan gila keluar dari basement. Naik rampe curam, ban mencicit, hampir nabrak dinding tapi Bu Lastri stir dengan skill yang... yang terlatih. Ini bukan cara nyetir orang tua biasa.

"Bu Lastri sejak kapan bisa nyetir kayak gini?!" Pixel teriak sambil pegangan di handle atas.

"Nanti cerita!" Bu Lastri fokus ke jalan. Mereka udah keluar dari apartemen sekarang, masuk ke jalan raya yang mulai macet karena jam berangkat kerja.

Tapi itu gak hentikan pengejaran. Dua van hitam muncul dari belakang. Ngejar dengan kecepatan yang sama gila.

"Mereka masih ngejar!" Sari ngeliat dari kaca spion.

"Aku tau!" Bu Lastri belok keras ke kiri, nyelip di antara bus dan truk. Arjuna hampir kelempar dari kursi meski udah pake sabuk.

Mereka masuk ke jalan tol. Bu Lastri injek gas lebih kencang. Speedometer nunjukin seratus dua puluh. Seratus tiga puluh.

Van hitam masih ngejar. Salah satu van sejajar dengan mereka. Jendela terbuka. Ada orang dengan pistol.

"TURUN!" Arjuna dorong Sari turun pas tembakan datang. Kaca jendela samping pecah. Peluru masuk, nyangkut di kursi tepat dimana kepala Sari tadi ada.

"Kita gak bisa terus kayak gini!" Pixel teriak. "Bensin kita akan habis! Atau kita akan mati duluan!"

Bu Lastri gak jawab. Dia fokus menyetir. Belok kanan ke jalan keluar tol. Turun ke jalan yang lebih sempit. Masuk ke kawasan perumahan yang padat.

Van hitam masih ikut. Tapi di jalan sempit ini mereka gak bisa sejajar.

Bu Lastri masuk gang. Gang yang sempit banget, mobil hampir gak muat. Spion kiri copot karena gesek dinding. Tapi mereka terus aja.

Van hitam coba ikut tapi terlalu besar. Nyangkut.

"Berhasil!" Pixel teriak lega.

Tapi lega cuma bertahan lima detik karena van hitam yang satunya masih ngejar. Masuk dari jalan lain. Potong jalan mereka.

"AWAS!" Sari teriak.

Bu Lastri stir keras. Mobil melayang. Ban mencicit. Mereka hampir nabrak van itu tapi Bu Lastri sempet belok di detik terakhir. Malah van itu yang nabrak dinding dan terhenti.

Mereka keluar dari gang. Masuk ke jalan besar lagi. Tapi bensin udah di garis merah.

"Kita perlu tempat sembunyi," kata Bu Lastri. "Sekarang."

"Kemana?" tanya Arjuna.

"Aku tau tempat," jawab Bu Lastri. "Tempat yang bahkan Adrian gak akan pikir untuk cari."

Lima belas menit kemudian mereka sampe di daerah kumuh di pinggir kota. Daerah yang bahkan polisi jarang masuk karena terlalu berbahaya. Rumah-rumah dari kardus dan seng. Orang-orang dengan mata kosong yang liat mereka lewat tapi gak peduli.

Bu Lastri berhenti di depan rumah kayu kecil yang atapnya bocor. "Di sini."

"Di sini?" Pixel natap dengan ragu.

"Percaya sama Bu," Bu Lastri turun. "Ini tempat teraman sekarang. Karena ini tempat yang Adrian gak pernah mau kotor sepatunya untuk datang."

Mereka masuk. Rumah itu lebih buruk dari luar. Lantai tanah. Gak ada listrik. Gak ada air bersih. Cuma ada kasur tipis di sudut dan kompor minyak yang udah berkarat.

"Ini rumahku yang asli," kata Bu Lastri sambil tutup pintu. "Sebelum aku pindah ke rumah yang kalian kenal. Aku simpan tempat ini sebagai tempat darurat."

Mereka duduk di lantai. Napas masih tersengal. Jantung masih berdegup keras.

"Pak Hendrawan..." Arjuna akhirnya bilang. Suaranya serak. "Dia... dia..."

"Dia pengorbanan diri supaya kalian bisa kabur," Bu Lastri duduk di sebelahnya. Tangan tua itu pegang bahu Arjuna. "Dia tau apa yang dia lakukan. Dan dia akan bangga tau kalian selamat."

"Tapi aku ninggalin dia," bisik Arjuna. Air matanya mulai jatuh. "Aku ninggalin ayahku mati sendirian dan aku... aku lari kayak pengecut."

"Kau lari karena dia minta," kata Sari. Dia pegang tangan Arjuna. "Kau lari karena itu cara mu hormatin pengorbanannya. Bukan karena kau pengecut."

"Tapi rasanya kayak aku khianatin dia..."

"Kau gak khianatin siapa-siapa," Bu Lastri angkat dagu Arjuna, paksa dia natap matanya. "Kau bertahan hidup. Dan selama kau hidup, perjuangan dia belum berakhir. Kau mengerti?"

Arjuna gak bisa jawab. Cuma ngangguk sambil nangis. Nangis untuk ayah yang mungkin udah mati. Nangis untuk semua yang udah hilang. Nangis karena dia capek. Capek berkelahi. Capek kabur. Capek kehilangan orang yang dia sayang.

Pixel buka laptopnya. Layar retak tapi masih nyala. "Data masih aman," katanya pelan. "Dan... dan ada sesuatu yang aneh."

"Apa lagi," tanya Sari sambil usap matanya sendiri yang juga basah.

"File file yang kita upload... sebagian terenkripsi," Pixel scroll layarnya. "Aku gak sadar waktu upload tadi karena terburu-buru. Tapi sekarang aku lihat, ada file penting yang pake enkripsi yang... yang aku gak bisa buka."

"Enkripsi macam apa?"

"Enkripsi militer," jawab Pixel. "Level yang bahkan aku dengan virus AI ku gak bisa crack. Ini butuh kunci. Kunci fisik atau password yang sangat spesifik."

"Jadi data yang paling penting gak bisa kebaca?" Arjuna natap dengan putus asa. "Semua ini sia-sia?"

"Belum tentu," Pixel terus scroll. "Mungkin ada clue di file lain. Mungkin ada..."

Laptopnya mati tiba-tiba.

"Eh? Eh?!" Pixel pencet tombol power berkali-kali tapi gak nyala. "Baterainya abis. Dan kita gak ada charger."

"Sempurna," gumam Arjuna sambil jatuh telentang di lantai. "Kita kehilangan Pak Hendrawan. Kita diburu seluruh kota. Data kita terenkripsi. Dan sekarang laptop kita mati."

Hening. Semua duduk atau berbaring dalam kekalahan.

Sampai Sari tiba-tiba berdiri. "Tunggu."

"Tunggu apa?" tanya Pixel.

"Enkripsi," Sari natap mereka dengan mata yang mulai nyala lagi. "Pak Hendrawan bilang sesuatu ke aku dulu. Waktu dia masih ngajari aku di panti. Dia bilang 'kalau kau punya rahasia penting, sembunyiin di tempat yang paling obvious. Karena orang selalu nyari di tempat yang rumit'."

"Jadi maksudmu?" Arjuna duduk.

"Maksudku kuncinya mungkin gak serumit yang kita pikir," jawab Sari. "Mungkin passwordnya sesuatu yang simple. Sesuatu yang Pak Hendrawan tau kita akan tau."

"Kayak apa?"

"Kayak..." Sari mikir keras. "Kayak nama. Atau tanggal. Atau... atau tempat."

"Tempat," gumam Arjuna. Otaknya mulai jalan. "Desa Harapan Baru?"

"Terlalu panjang untuk password biasanya," kata Pixel. "Tapi bisa dicoba nanti kalau laptop udah nyala."

"Atau," Sari terus mikir. "Atau nama orang. Nama orang yang penting buat Pak Hendrawan. Nama..."

Mata mereka bertemu.

"Arjuna," bisik mereka berdua bersamaan.

"Tapi itu terlalu simple," Pixel menggeleng. "Enkripsi militer gak akan pake password simple kayak nama."

"Kecuali," kata Sari perlahan, "kecuali itu kombinasi. Nama plus tanggal. Nama plus tempat. Atau nama plus... plus sesuatu yang cuma kita yang tau."

"Kita harus coba," Arjuna berdiri. "Kita harus nyalain laptop itu. Sekarang."

"Dengan apa?" Pixel nunjuk sekelilingnya yang gak ada listrik. "Kita gak punya colokan. Gak punya charger. Gak ada apa-apa."

Bu Lastri berdiri. "Aku punya generator kecil. Di rumah sebelah. Punya tetanggaku. Aku bisa pinjam."

"Tapi apa itu aman?" tanya Sari. "Kalau Adrian punya orang di daerah ini juga..."

"Dia gak punya," Bu Lastri tersenyum. "Karena orang di sini gak bisa dibeli dengan uang. Mereka cuma bisa dibeli dengan kebaikan. Dan Bu udah lama bantu orang-orang di sini."

Dia keluar. Balik lima menit kemudian dengan generator kecil yang berisik dan kabel yang udah kusut.

Pixel set up laptop. Colok charger. Tunggu laptop nyala.

Layar hidup. Tapi muncul peringatan: "BATTERY CRITICAL. DATA AKAN DIHAPUS OTOMATIS DALAM 10 MENIT JIKA PASSWORD SALAH 3 KALI."

"Sial," bisik Pixel. "Ini fail-safe. Kalau kita salah tiga kali, semua data hilang."

"Jadi kita cuma punya tiga kali coba," kata Arjuna.

Mereka natap layar. Cursor berkedip di kolom password.

Tiga percobaan.

Tiga kesempatan untuk buka rahasia terbesar Adrian.

Atau kehilangan semuanya selamanya.

"Apa yang kita coba pertama?" tanya Pixel sambil tangan di atas keyboard, gemetar.

Arjuna natap Sari. Sari natap balik.

Dan di kepala mereka, mereka coba ingat semua yang Hendrawan pernah bilang. Semua petunjuk yang mungkin dia tinggalin.

Semua harapan terakhir mereka ada di tiga kata yang harus benar.

Atau semuanya berakhir di sini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!