NovelToon NovelToon
EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Dijodohkan Orang Tua / Roman-Angst Mafia
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: lirien

Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wanted

Di pabrik bawah tanah.

Mirea berjalan riang menyusuri lorong-lorong gelap sambil bersenandung pelan. Langkah kakinya ringan, seolah tempat itu bukan sarang kriminal, melainkan taman bermain. Beberapa lampu di langit-langit tampak sudah konslet, berkedip tak stabil, memercikkan cahaya merah yang membuat suasana semakin suram dan aneh.

Udara di sana lembap, bau besi dan oli bercampur menjadi satu.

Akhirnya, Mirea tiba di sebuah ruangan yang remang-remang. Di tengah ruangan itu, sudah berdiri Red Monarch dan Fang Yugala, dikelilingi beberapa anak buah mereka yang bersenjata.

Ya, Mirea diam-diam melarikan diri.

“Nih, lihat ini.”

Red Monarch mengangkat selembar kertas, lalu melemparkannya ke depan wajah Mirea.

Di sana terpampang jelas foto dirinya. Poster wanted.

“Kita dapat banyak orderan,” ujar Red sambil tersenyum lebar, lalu menunjuk tumpukan kertas lain di tangan Fang Yugala.

“Ini semua hadiah buat membunuh tunangan Tuan Kael,” lanjutnya, nadanya penuh semangat.

Mirea mengambil salah satu pamflet itu, menatap wajahnya sendiri di kertas dengan ekspresi datar.

“Bunuh aku?”

Ia mengangkat alis, lalu tersenyum kecil sembari mengambil pamflet dari tangan Red Monarch.

Red menyeringai tipis.

“Sejak Tuan Kael ngumumin pertunangan kalian, ada orang dari kota Zhenkai yang langsung hubungi aku. Mereka nyuruh aku buat beresin Nona Mirea.”

Ia lalu menarik beberapa tumpukan kertas dari tangan Fang Yugala dan mengibaskannya di udara, seolah itu cuma dokumen biasa.

Mirea menatap kertas di genggamannya sekarang. Di sana tertulis berbagai data palsu tentang dirinya, lengkap dengan nilai hadiah yang terus bertambah.

“Hm… ternyata kota Zhenkai nggak sekuat yang diceritakan,” ujarnya meremehkan.

“Sudah nyari aku sampai ke tempatku sendiri, tapi masih belum tahu identitasku yang sebenarnya.”

Ia membolak-balik poster wanted itu dengan santai, seperti sedang membaca brosur diskon.

Red mengambil kertas itu kembali, jemarinya menjepit sudut lembaran wanted yang masih kusut. “Jadi gimana?” tanya Red Monarch, menatapnya tajam.

“Orderan pembunuhan ini mau kita terima… atau enggak?” tanya Red Monarch, matanya menatap lurus ke arah Mirea.

Mirea memijat kepalanya sejenak, seolah benar-benar mempertimbangkan, lalu tersenyum kecil.

“Terima!” ujarnya tegas.

“Uang yang dikasih cuma-cuma, ngapain ditolak?” tambahnya, senyum jahil dan licik perlahan mengembang di wajahnya.

Fang di samping Red hanya bisa menatap heran tumpukan lembaran kertas itu. Jumlahnya terlalu banyak untuk dianggap kebetulan—dan yang lebih absurd, semuanya punya satu tujuan yang sama: membunuh Mirea.

“Lagi pula mereka juga nggak bisa nyentuh aku,” ujar Mirea santai sambil menyilangkan tangan, nada suaranya ringan seolah sedang membahas hal sepele.

“Anggap saja bonus akhir tahun buat teman-teman semuanya.”

Red mulai membuka lembaran-lembaran orderan itu satu per satu. Suara kertas yang bergesek terdengar di ruangan yang remang. Namun di tengah tumpukan itu, matanya berhenti pada satu kertas yang berbeda dari yang lain.

“Tunggu,” gumam Red, alisnya mengernyit.

Fang langsung menoleh.

“Orderan yang satu ini kayaknya agak aneh.”

Red baru hendak mengangkat kertas itu dan menunjukkannya pada Mirea, tapi Mirea lebih dulu menyela tanpa menoleh sedikit pun.

“Detail misinya nggak usah dilihat. Kamu urus saja.”

Ia mendorong kembali kertas itu ke arah Red dengan ujung jarinya, ekspresinya jelas menunjukkan ketidaktertarikan.

“Malas ribet.”

Sedangkan Red hanya bisa diam membeku, jemarinya masih mencengkeram lembaran orderan itu.

“Ayo, jangan karena aku kelihatan lemah lembut, kalian jadi kasihan kepadaku,” ujar Mirea, nadanya ringan tapi jelas seperti sedang mengetes reaksi mereka.

Red terdiam.

“Ini…” batinnya ragu, tatapannya tak lepas dari tulisan di kertas.

“Baiklah,” ujar Red akhirnya, masih menatap lembaran di tangannya.

“Tapi kenapa ada satu lagi orderan buat racuni dua orang?” batin Red lagi, kali ini lebih gelisah.

Ting.

Ponsel Fang tiba-tiba berbunyi. Ia merogoh sakunya, sementara Red masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Di balik ini, jangan-jangan ada dalang yang hebat?” batin Red, firasatnya semakin tidak enak.

Fang menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu mengangkat kepala.

“Bos,” panggil Fang, membuat Mirea menoleh pelan ke arahnya.

“Sudah waktunya pulang. Tiga bersaudara itu sudah cariin kamu,” ujar Fang sambil menunduk sopan.

“Ya sudah, aku pulang dulu,” ujarnya.

“Oh iya, kayaknya Kael sudah mulai curiga. Kalian berhati-hatilah,” tambah Mirea sambil berbalik pergi, langkahnya ringan seolah tak ada beban sama sekali.

“Baiklah, bos,” ujar Fang patuh.

“Selamat jalan, bos,” ucap Fang dan Red hampir bersamaan.

Serentak, anak buah di belakang mereka ikut menyahut,

“Selamat jalan, bos,” sambil menundukkan kepala dengan hormat.

Sosok Mirea pun perlahan menghilang di ujung lorong gelap, meninggalkan ruangan bawah tanah yang kembali sunyi.

......................

Keesokan Paginya

Sebuah mobil melaju kencang memasuki halaman rumah keluarga Rothwell. Hujan turun deras, membasahi seluruh pelataran, hingga mobil itu berhenti tepat di depan pintu utama.

Salah satu penjaga yang berjaga langsung membuka payung hitam dan bergegas menghampiri, lalu membukakan pintu mobil dengan sigap.

Noel yang masih tertidur di kamarnya menggeliat pelan.

“Siapa sih itu…” gumamnya kesal, lalu langsung terduduk karena suara riuh dari luar terdengar cukup jelas.

“Pagi-pagi sudah ganggu orang tidur,” ujarnya, lalu berdiri sambil mengucek mata dengan kasar. Ia kemudian membuka tirai kamarnya, menatap pemandangan dari atas lantai dua yang mengarah langsung ke area halaman rumah.

Dari lantai atas, lewat jendela kamar tidurnya, terlihat jelas pemandangan halaman rumah yang basah oleh hujan, dengan mobil hitam terparkir tepat di depan pintu kediaman.

Begitu matanya benar-benar terbuka, ekspresinya langsung berubah. Wajahnya menegang.

Ia sontak panik dan berteriak,

“Ibu! Ayah!”

Noel langsung berlari keluar kamar.

“Gawat!” teriaknya sambil berlari kencang di lorong.

“Ada orang mau rebut harta kita!” ujarnya lagi dengan nada panik.

...

Mirea menuruni tangga dan sontak terkejut mendapati seluruh keluarga, ayah, ibu, dan kakak-kakaknya, sudah duduk rapi di ruang tamu dengan pakaian formal.

“Astaga…” batinnya.

Terlihat ibu dan ayahnya masih sibuk membenarkan pakaian masing-masing, jelas terburu-buru entah bagaimana caranya agar tetap terlihat rapi.

“Ini mau wawancara atau ketemu calon menantu, sih?” batin Mirea heran.

Tak lama kemudian, Kaelion masuk ke dalam rumah diikuti dua bodyguard di belakangnya.

“Om,” sapanya sopan.

“Tante,” lanjutnya sambil tersenyum ramah.

“Kakak ipar sekalian,” katanya lagi.

Lalu senyumnya melebar. Pandangannya beralih dan berhenti tepat pada Mirea.

“Dan juga…”

“Tunangan aku.”

“Apa kabar semuanya?”

1
Mo Xiao Lam
oh ada gula aren di sini 🙏
Aksara: Ahaha ini lucu banget nih😭🌷
total 1 replies
Aria Sabila
👍😁
Aksara: Hallo lirelovrsss🌷
nantikan terus ya kelanjutan cerita serunya🫶🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!